
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Semilir angin ..
Menambah syahdu menyambut sang mentari keluar dari peraduannya, tampak berbagai jiwa mulai sibuk menata pagi dengan berbagai semangat dan suka cita yang terus terpatri dalam diri. Siap berpeluh menggapai mimpi untuk kesejahteraan dimasa nanti hanya itu satu-satunya yang menjadi cambuk tuk tetap tegak berdiri.
🌻POV DIMAS
Lyra merasakan mulas pagi ini, menurut ibu calon bayi kami sedang berusaha mencari jalan menembus batas menuju dimensi baru untuknya.
Dan aku sungguh sangat panik, bukan karena statusku yang akan berubah menjadi ayah, karena memang aku sudah menjadi ayah saat bertemu Lyra-ku. Tapi memang semua yang Lyra rasakan pagi ini sungguh sesuatu yang baru untukku.
Persalinan normal, awalnya kuragu dan hawatir. Memang semua wanita banyak yang melaluinya tapi membayangkan Lyraku akan kesakitan tak tega rasanya. Apalagi bayang-bayang kehilangan, meninggalkan dan ditinggalkan selalu membuat diriku kacau. Sungguh tak ingin hal buruk terjadi pada wanita tercintaku yang saat ini sedang membawa mimpi kami dalam rahimnya.
Kutawarkan pilihan caesar pada Lyraku semalam, namun ia menjawab dengan bahasa yang sangat indah di penghujungnya, tak ingin ada batasan gerak dalam menjaga kedua bayi kami kelak karena memang persalinan caesar akan berimbas setelah persalinan. Sungguh kata-kata Lyra semalam sangat menyihirku, ucapan terima kasihpun rasanya tak cukup untuk membalas daya kerja otaknya yang ingin selalu memberikan cinta tanpa batas untuk kami. Dan rasa sakit diawal lebih dipilihnya saat ini.
Rasa mulas sedang dirasakan Lyraku, beberapa saat rasa sakitnya menghilang, dan beberapa saat kemudian ia datang lagi. Kubayangkan bayi kami sedang berjuang keras, ia beristirahat sejenak kemudian berusaha kembali dan seperti itu terus dicobanya guna menembus batas dalam rongga Lyra-ku. Rongga yang semalam baru saja kulewati untuk menengok kedua bayiku.
Ahh, nakal diri ini. Bahkan dalam keadaan spesial yang Lyraku lalui dengan kehamilan besarnya. Aku masih meminta hakku. Tapi Lyraku tak pernah sekalipun menolakku, dan ia menangkap meronanya wajahku saat ia mengijinkanku mengobrak abrik dirinya. Dan kami akhirnya melakukannya dengan keikhlasan dan perasaan cinta yang membuncah dengan harap mampu memuaskan walau dalam keadaan yang tak biasa. Percintaan yang di persaksikan kedua calon bayi kami. Ahh, nakal ....
Aku masih menunggu Lyraku berganti pakaian saat ini, hingga beberapa saat kemudian bidadari cantik dengan outfit gamis rayon model baby doll dipadu hijab bergo hitam bertali tampak membuat calon ibu ini sangat mempesona. Walau bidadari itu tak lama kemudian terlihat meringis merasakan sang bayi mulai berjuang kembali membobol rongganya. Lyra-ku kesakitan kulihat kini..
"Iya Sayang kita berangkat ke Rumah Sakit sekarang," hanya itu kata yang kurasa mampu menjadi tumpuannya, segera bertemu sang pahlawan yang memahami rasanya, Dr. Catrina, ya ia akan menjadi amunisi untuk Lyra-ku.
Dan kami di dalam Jazz silver saat ini. Dengan Mang Diman yang memegang kemudinya. Terus ku usap-usap pinggang Lyra-ku seolah sedang mengusap calon bayiku yang sedang berjuang disana. Ya, orang-orang terkasihku sedang berjuang. Lyra-ku dengan menahan sakit yang timbul tenggelam dengan mengatur nafas serta dzikir yang terus diucapkannya, juga putra-putriku yang sedang bersemangat tak sabar melihat kehidupan baru mereka yang tanpa mereka sadari memberi perih untuk bunda mereka.
●●●●
Pukul 08:00 saat ini dan Jazz Silver kami menepi di depan pintu besar bertulis UGD di sebuah Rumah Sakit yang cukup terkenal RSIA Sentra Duta Insani. Tampak seorang dokter berparas oriental cantik tanpa pewarna makeup menunggu kami dengan seragam dinas berwarna putihnya.
Tanpak pula seorang perawat yang tak begitu tinggi berusia 21 tahunan disisinya telah siap dengan sebuah kursi roda di hadapannya. Dan kami turun menghampiri keduanya saat ini. Sang peeawat segera menghampiri kami dan mempersilahkanku untuk duduk di kursi roda yang di bawanya. Setelah melihat anggukan di wajah mas Dimas-ku, akupun segera duduk dalam kursi tersebut.
"Biar saya yang mendorong istri saya," ucap mas Dimas pada perawat yang dengan sigap mengambil tas yang sebelumnya hendak diserahkan mang Diman pada mas Dimas-ku.
Dr. Catrina mengarahkan kami ke ruang periksa setelah sebelumnya mas Dimas izin mampir ke loket pendaftaran terlebih dahulu.
kutarik nafasku dan membuangnya kembali seperti cara yang ibu ajarkan seraya ku lantunkan dzikir saat kontraksi semakin sering kurasa.
LÀ ILÀHA ILLALLOH ...
LÀ ILÀHA ILLALLOH ...
__ADS_1
LÀ ILÀHA ILLALLOH ...
terus dan berulang lirih nyaris tak terdengar.
Dan kami telah sampai di ruang periksa saat ini, seorang perawat seketika memintaku menimbang bobot tubuhku dan memeriksa tensiku setelahnya ...
"BB 79kg, tensi bagus 110/90 Dok," ujar sang perawat pada Dr. Catrina.
Dr. Catrina memintaku segera berbaring di tempat pemeriksaan setelahnya.
"Sejak jam berapa Mom mulai merasakan kontraksi?" tanya Dokter sebelum memeriksaku.
"Pukul 06:20 setelah kami melakukan joging Dok," mas Dimas menjawab tanya Dr. Catrina dengan mantap sambil terus menatapku yang sesekali meringis menahan mulasku.
"Apa sudah ada bercak di pakaian dalam Mom?" Dokter mengarahkan tanyanya padaku saat ini.
"Ada sedikit kecoklatan Dok," dan kulihat Dr. Catrina mengangguk.
Dr. Catrina mengarahkan stetoskop kini ke dadaku, kusingkapkan hijabku kini. Kulihat ia tampak tersenyum sambil melirik mas Dimas, mas Dimaspun seketika terlihat malu dan menggaruk kepalanya.
"Oke kita cek apakah sudah ada pembukaan ya Mom..!!" dan akupun mengangguk.
Seorang perawat tampak membantuku membuka pakaian dalam bagian bawahku, kutatap Mas Dimas yang berdiri disisiku, ia tampak mengangguk dengan genggaman yang tak dilepasnya. Perawat menekuk kakiku dan melebarkan perlahan.
Dan "Ahhh ...," lirihku tak benar-benar tau yang barusaja dokter lakukan padaku hanya rasa ketidaknyamanan yang kurasa sesaat tadi
"Oke sudah pembukaan 4, rambut bayi sudah terlihat. Untuk persalinan pertama bisa 4-5 jam kedepan Insya Alloh baby akan siap dilahirkan. Tapi bisa juga lebih cepat tergantung ajakan dari baby Mom dan Dad, terlebih jalan sepertinya sudah ditunjukkan Dad semalam bukan??
Dan Ohh, mungkinkah Dokter tau yang kami lakukan semalam?? batinku.
"Sambil menunggu bertambahnya pembukaan, perawat akan mengarahkan Mom dan Dad ke ruang perawatan, segera tekan tombol diatas ranjang jika Mom Lyra merasakan kontraksi yang semakin sakit dan sering, mengerti?"
"Mengerti Dok," tampak Mas dimas menjawab mantap.
"Apa Mom sudah sarapan?"
"Belum Dok."
"Tolong diisi perutnyanya ya Mom karena nanti dibutuhkan tenaga besar untuk membantu si kecil keluar, apalagi 2 bayi yang akan Mom lahirkan,"
Akupun mengangguk.
•
•
__ADS_1
Suster segera memberiku pakaian pasien saat kami tiba di ruang perawatan, iapun keluar setelahnya.
Mas Dimas dengan telaten membantuku mengganti pakaian, pakaian dengan model terusan full kancing sebawah lutut yang melebar bagian bawahnya kupakai saat ini. Lengan pendeknya cukup membuatku nyaman dan tidak membuatku gerah. Dan mas dimas terus mengusap pinggangku setelahnya.
"Lyra mau makan apa?"
"Tidak lapar Mas,"
"Kau harus makan Sayang, ingatkan kata dokter tadi nanti kau butuh tenaga besar untuk mengeluarkan kedua bayi kita."
"Mual Mas untuk makan," lirihku.
"Tapi nanti Lyra lemas saat persalinan."
"Aku kuat Mas ...."
"Sayang ..., Oke mas carikan biskuit yaa?"
Dan akupun mengangguk.
"Jangan lama-lama ya Mas."
"Iya Sayang," ucap mas Dimas seraya mengecup keningku sebelum akhirnya berlalu.
•
•
Kulangkahkan kakiku memutari ruangan perawatanku saat ini, sesekali aku berhenti saat kurasa sakit yang tak tertahan, segera kuatur nafasku kembali ... kemudian kuberjalan lagi melemaskan otot-otot kakiku sambil terus kusapu perutku dan tak henti ku sebut nama indahnya, nama Sang Penciptaku.
ALLOH ...
ALLOH ...
ALLAHU RABBI LAA USYRIKU BIHI SYAI`AN
( Allah adalah Rabbku yang aku tidak sekutukan dengan apapun )
Hingga tiba-tiba pintu kamarku terbuka ...
Dan aku terpana melihat kedatangan sosok dihadapanku kini ...
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1