Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Dilema 1 》 Biaya Nikah


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻17:00 JEMBATAN KALIDERES


Sepoi angin sore menyibakkan dedaunan,


Matahari tenggelam meninggalkan sinaran,


Masih sangat lekat dalam ingatan,


Setiap debu yang menyapu jalanan,


Terlihat sosok dengan peluh kerinduan,


Berdiri mematung menunggu putri kesayangan,


Dengan pancaran mata yang penuh kehangatan...


Bapak..


Ia berdiri disana kini, menungguku yang sedang berjalan kearahnya..


Tangannya berkali-kali melambai, seakan sedang berseru di kejauhan ... Kemarilah Nakk Bapak disini ...


Akupun segera mempercepat langkahku ketika kumelihat bayangnya, tak sabar melepas rindu dan menatap Bapak dari dekat.


Dan kini Bapak sudah sangat dekat dari tempatku berdiri,


"Heiii.. sudah sampai kamu nak ..." ujar Bapak dengan gaya khasnya sambil membelai kepalaku.


Segera kukecup punggung tangan Bapak kini, tangan yang semakin terlihat legam sejak sebulan lalu aku melihatnya. Memang pekerjaan Bapak kini adalah seorang sopir angkot, pekerjaan yang bertarung melawan terik, menunggu setiap orang yang hendak berpergian melewati jalurnya, seseorang yang tidak pukau dengan semaraknya taxi/mobil online yang menjanjikan kenyamanan dengan fasilitas AC dan memberi kesan tingginya nilai sosial yang terbentuk ketika menaikinya.


Karena di perusahaan tempat Bapak bekerja sebelumnya semakin banyak muncul pegawai baru dengan pemikiran yang lebih terbuka, maka kalahlah pekerja-pekerja lama yang sudah beranjak tua seperti Bapak. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Walau banyak ketidakadilan yang ia rasa, tetap kutangkap Keikhlasan dan ketulusan dimata Bapak. Ialah Bapakku yang hebat ...


Tak menunggu lama Bapak segera melajukan motornya saat aku telah merasa nyaman duduk dibelakangnya. Motor Vario yang sudah membersamainya 5 tahun ini siap mengantarku menuju istana kecil kami.


Sepoi angin masih menyapu hijabku kini, tikungan demi tikungan dilewati motor Bapakku. Hingga setelah 15 menit perjalanan, sampailah kami di depan rumah yang cukup sederhana namun menyimpan berbagai cerita tentang masa kecilku.


Rumah yang sudah sedikit mengalami perbaikan dengan uang hasil kerja kerasku bekerja, kini tampak lebih nyaman dibanding sebelumnya.

__ADS_1



Segera kuucapkan salam ketika akan memasuki rumahku. Rumah tampak terlihat sepi dimuka, segera kulangkahkan kakiku ke dapur . Dan benar, ibu dan adikku Ersha sedang menyiapkan makanan disana.


Segera ku kecup punggung tangan ibu, kucium pipi kiri dan kanannya, iapun membalas dengan memelukku saat ini. Pelukan ibu yang hangat dan selalu kurindukan. Adiku Ersha tak mau kalah, iapun segera menyambar tanganku dan menciumnya.. Manisnya, adikku terlihat bertambah dewasa dan cukup cantik.


"Bagaimana kabarmu Ly?" tanya ibu setelah ia mendudukkan tubuhnya disisiku kini.


"Alhamdulilah Lyra baik bu," jawabku.


"Mandi dan beristiiratlah nak, sebentar lagi akan memasuki waktu maghrib. Setelah makan malam baru kita akan bicara," ucap Ibu, kubalas anggukan kepalaku ke arahnya.


🏡🏡


🌻18:35 BA'DA MAGHRIB


Tampak Bapak, Ibu, aku dan adikku Ersha sedang di ruang tamu saat ini. Kami berempat tampak kompak dengan piring di tangan kami, yahh ... kami memang sedang makan malam saat ini.


Kami memang tak memiliki ruang makan, kami biasa makan di ruang tamu sambil menonton TV bersama.


Tak berselang lama tampak suara motor masuk ke teras rumahku, adikku Sherly tampak baru pulang bekerja. Ia segera masuk dan mencium tangan ayah, ibu dan aku, baru setelahnya Ersha yang mencium tangan Sherly.


"Mbak kapan sampai?" ujarnya bertanya ke arahku.


"Tadi sore," jawabku.


"Iya," jawabku kembali.


"Bagaimana pekerjaanmu Sher?" tanyaku kemudian kearahnya.


"Alhamdulillah lancar Mbak," ucapnya sambil berlalu kekamar meletakkan tasnya dan segera ke dapur mengambil makan.


"Kamu memang sudah sholat maghrib Sher? kok langsung makan sih?" ujar Ibu.


"Sudah tadi Sherly mampir di masjid di pinggir jalan Bu," jawabnya sambil berjalan kearah kami, ke ruang tamu tepatnya.


"Oh, yasudah," ucap ibu tenang karena seletih apapun anaknya tetap ingat kewajibannya pada sang pencipta.


Terdengar seruan adzan Isya kini, dan makanan di piring kami tampak telah habis. Kami segera ke dapur meletakkan piring kotor kami..


"Buk, Pak ... nanti habis sholat Lyra mau bicara," ujarku pada kedua orangtaku yang ditanggapi keheranan di wajah mereka.


"Oh, iya Ly," jawab ibu setelahnya.

__ADS_1


🏡🏡


🌻19:25 BA'DA ISYA


Bapak dan ibu tampak sudah berada di ruang tamu saat ini. Akupun segera duduk dihadapan mereka.


Aduuh, jantungku sangat tidak beraturan saat ini, mudahkan hamba ya Robb, batinku.


"Buk, Pak, besok ada teman Lyra yang mau main ke rumah ..." ujarku memulai obrolan kami.


"Lho siapa? apa laki-laki?" ujar Ibu dengan penasaran.


Aku mengangguk, sambil terus kutatap keduanya. Mencermati bagaimana reaksi mereka tepatnya.


"Main ya mainlah," ujar Bapak singkat.


"Masalahnya In syaa Alloh lelaki ini serius dengan Lyra buk, Pak ..." ucapku lagi sambil menahan dag dig dug yang kurasa.


"Ada yang serius bagus dong Ly, masalahnya dimana?" ujar Ibu sambil terus menerka setiap kata-kataku.


"Di- a mau menikahi Lyra, apa Bapak Ibu sudah siap kalau Lyra menikah," ujarku menutupi khawatirku.


Bapak dan Ibu tampak saling menatap, hingga akhirnya ibu bicara, "Ly, ibu sih seneng kalau ada yang serius ke kamu karena usiamu juga sudah cukup. Tapi kalau untuk segera menikah, Bapak dan Ibu jujur belum punya modal untuk menikahkan kamu Nok (panggilan sayang orang tua terhadap anaknya suku Jawa) menikah itu kan juga biayanya gak sedikit. Apalagi kita pihak perempuan yang menjadi tuan rumah."


"Lyra ada sedikit tabungan Buk," ujarku.


"Berapa coba? menikah itu biayanya banyak Nok. Kita juga gak tau calonmu itu bantu kita berapa?" lirih Ibu.


"Lyra punya 7 juta Buk," ujarku.


"YaAlloh Nok, segitu ya kurang banyak, itu kemarin anaknya bude Har, ibuk tanya nikah sampe 40juta lho Nok, itu dia kebantu dibawain suaminya 20juta, sama tukang Rias masih sodara bisa dibayar belakangan, tukang masak juga pakai ibu-ibu paguyuban yang masih sodara, bayarnya juga belakangan, belum yang lain-lain seperti dokumentasi, sovenir, dan keluarga calon suamimu ibuk juga harus tau kalangan seperti apa, jangan sampe ya malu-maluin besan, terus mereka datang saat hari H saja atau sebelumnya, kalau sebelumnya sudah datang ya Ibuk harus nyewa kontrakan sebelah untuk keluarga suamimu, rumah kita kan pasti sudah repot ... " ujar ibu terus berbicara tanpa jeda dan Bapak disana hanya terdiam sambil menatapku.


"Oh, menikah itu ternyata ribet ya buk," lirihku tampak sedikit raut kebimbangan akan kelanjutan mimpiku.


"Iya nok, kalo dia memang serius coba kamu tanya dia siap bantu berapa, nanti ditambah tabunganmu, biar Ibuk dan Bapak bisa ada gambaran berapa kurangnya," ucap Ibu.


Tiba-tiba Bapak mendekat padaku dan terus membelai kepalaku..


"Maafkan Bapak ya Nok, harusnya dengan usiamu sekarang Bapak harus punya modal jika tiba-tiba kamu sudah ada yang serius, tapi ini Bapak kerjanya sekarang narik angkot ya dapet buat makan hari-hari aja. Kalau kamu dan Sherly gak bantu ya gak tau deh gimana hidup kami mana keperluan yang tiba-tiba selalu ada aja.." lirih Bapak.


Tampak sekali kepedihan dimata Bapak, dan aku sungguh tak ingin keperluanku menjadikan beban mereka. Sepertinya tak tahan air mataku hendak keluar dari persembunyiannya.. Tapi harus kutahan tak boleh menagis di depan mereka.


🌻Mas Dimas, apa pantas aku menanyakan masalah bawaanmu nanti untukku, apa memang belum waktunya aku menikah?? Ini baru masalah biaya nikah belum lagi aku bicara tentang status mas Dimas ... Bagaimana ini ya Robb ...

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy Reading❤❤


__ADS_2