Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Menunggu Mas Dimas


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


"Izinkan aku melihat kondisi suamiku Sus," ucapku lirih menatap pintu kamar perawatan suamiku yang telah tertutup.


"Mohon maaf, sementara kami akan memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu Bu. Jadi untuk pihak keluarga tolong sabar menunggu diluar. Jika pasien sudah dapat ditemui, kami akan memanggil Ibu," ujar perawat sangat sopan padaku.


Mas Dimas memang sudah dipindahkan ke ruang ICCU saat ini. Setelah ia sadar beberapa saat lalu, dokter merasa perlu menempatkan mas Dimas disana untuk mengontrol lebih seksama kondisi jantung mas Dimas setiap saat.


Adikku Shifaa yang sejak tadi berdiri di sisiku, memeluk lenganku dan membawaku ke kursi ruang tunggu di sisi dinding kaca di depan kamar perawatan suamiku.


"Sejak kapan kau tiba Dek?" ujarku pada Shifaa yang dengan lekat terus menatapku.


"Saat mbak sedang sholat Isya tadi aku


datang mbak. Mbak ... kau harus kuat dan sabar atas ujian ini," ujar adikku.


Malu rasanya diri, adikku yang manis dalam sekejap ia menjadi sangat bijak dan dewasa. Kusapu wajahnya dan kuberikan senyumku pada adik suamiku tersebut.


Akupun mengangguk, "Terima kasih Dek. Oya, kau kesini bersama siapa?" tanyaku setelahnya.


"Aku bersama temanku Mbak."


"Teman? Mas kekasihmu itu??" tanyaku memastikan jawabku.


Kulihat Shifaa seketika mengangguk.


"Sebentar ya Mbak, aku akan mengajaknya kesini dan memperkenalkannya pada Mbak," ujar Shifaa dan seketika ia berjalan menjauh dariku.


Kubuang wajahku ke kaca besar di belakang kursi tempatku duduk saat ini. Kutatap hiruk pikuk manusia diluar rumah sakit di lantai bawah yang tampak jelas tertangkap mataku yang kini di lantai 3.


Sejenakku teringat malaikat-malaikat kecilku di rumah. 20:35 saat ini, apakah mereka sudah tertidur? tapi aku sungguh tak bisa meninggalkan mas Dimasku. Otakku terus berfikir, hingga sebuah suara mengaburkan fikirku,


"Mbak kenalkan ini temanku..!!" ujar Shifaa membungkukkan tubuhnya berbicara denganku.


Kualihkan pandanganku seketika pada tubuh seorang pria di sisi Shifa, kemeja flanel kotak berwarna hijau army tertangkap mataku, pandanganku semakin naik, mencari wajah lelaki yang telah membuat hati adikku senantiasa berbunga-bunga, tatapanku telah sampai ke dadanya, lehernya dan ...


Ohhh, wajah ini?? Apakah ini nyata atau hanya hayalku?? Tak mampu kumelepas sorot mata yang telah lama tak kulihat dan seketika seakan membawaku terbayang pada setiap kata dan hal yang ia pernah lakukan untukku hingga sesak tiba-tiba kurasa.


Aku masih menatapnya, hingga seorang perawat memanggilku.


"Keluarga Bapak Dimas,"


"Saya Mbak," ujarku seketika.


Akupun segera masuk ke ruang perawatan suamiku tanpa menghiraukan wajah yang beberapa saat lalu meresahkanku.





"Bu, karena tadi bapak belum sadar jadi makan malamnya terlewat, tolong disuapi suaminya, setelahnya berikan buah ini," sang perawat tampak menjelaskan kebutuhan mas Dimas dan segera kutanggapi dengan anggukanku...

__ADS_1


Kulangkahkan kakiku kini kesebuah ruang kotak besar dengan beberapa pasien yang terpasang pula berbagai selang di tubuh mereka, sekat gorden menjadi pembatas antara satu pasien dan pasien lainnya.


Akupun berjalan mendekati ranjang suamiku berada sesuai yang ditunjukkan perawat. Dan ia disana, dari kejauhan mas Dimas sudah menatapku yang berjalan kearahnya. Hingga kini kami telah begitu dekat, seketika mas Dimas tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku, akupun meraih tangan suamiku kini.


Aku menggenggam erat jemari suamiku, ingin bertanya banyak padanya tapi kuingat anjuran dokter dan suster untuk tidak boleh banyak bicara dengan pasien terlebih dahulu. Jadilah kini kami hanya saling bertatap dan saling memaksakan untuk tersenyum satu sama lain.


Kuambil nampan makanannya saat ini,


"Mas, makan dulu ya," lirihku.


Kujulurkan suapan pertamanku ke mulut mas Dimasku. Namun mas Dimas tak jua membuka mulutnya, "Mass, mas harus makan, tubuh Mas butuh nutrisi. Mas ingin kita berkumpul kembali di rumah bukan?" Bisikku lirih seraya kukecup pelipis mas Dimas saat ini.


"Mas Dimas hanya terdiam dan terus menatapku. Terlihat bulir air terus memaksa dari sudut matanya."


Aku yang menatapnya seketika kurangkum wajah suamiku kini dalam pelukku. Seraya kusapu air mata yang menetes di wajahnya.


"Jangan memikirkan apapun, fikirkanlah saja tentang kesembuhan Mas dan Mas harus tetap semangat untuk kami. Mas menyayangiku kan?"


Kulihat saat ini mas Dimas mengangguk, kucoba menyuapinya lagi, dan alhamdulillah mas Dimas menerima suapanku. 3 suap ia makan dan ia tak ingin lagi. Kini kusuapi Mas Dimas buah. Dan ia tampak bersemangat memakan buah saat ini. Setelah selesai makan, tampak perawat menghampiriku dan memberiku obat yang harus mas Dimas minum. Mas Dimaspun menerima obat yang kuberi. Hingga aku kini duduk di kursi disisi ranjang mas Dimasku.


"Sayanggg," lirih mas memanggilku dan meraih jemariku.


"Iya Mass," jawabku.


"Ly-ra sudah makan?" tanyanya.


Bahkan dalam sakitnya ia masih memikirkanku, yang sejujurnya memang aku belum makan sejak sore kedatanganku tadi.


"Aku sudah makan Mas," bohongku. Mas Dimas tampak terdiam, hingga keluar air dari sudut matanya kembali.


"Mass," lirihku seraya membasuh air matanya kembali.


"Sayang, dengan siapa anak-anak kita," ucapnya.


"Bersama Bik Lasmi dan Mbak Dinar," jawabku.


"Kau pulanglah jaga anak-anak, mas biar disini bersama Aldo," lirih suara mas Dimas sambil sesekali menarik nafasnya panjang.


"Aku sudah punya stok ASI, nanti biar kusuruh Shifaa yang pulang."


"Sayang,"


"Hmmm??"


"Terima kasih," akupun mengangguk kutatap mas Dimas yang tampak terdiam dan membuang wajahnya dari wajahku.


Ia seakan tak ingin menatapku, Kusapu dahinya yang tampak terus berkeringat dengan sekujur tubuh yang dingin.


"Mas kenapa? tanyaku seraya mengecup kening mas Dimas yang tak jua menatapku. Hanya tetesan air yang lagi-lagi keluar dari sudut matanya.


"Mas, jangan banyak memikirkan apapun, sekarang kau tidurlah..!!!"


Seketika mas Dimas menatapku.


"Sayang,"


"Hmm?"

__ADS_1


"Apa i-a ada disini?"


"Ia siapa??" jawabku bingung dengan sosok yang dimaksud mas Dimasku.


Tiba-tiba perawat tampak menghampiriku,


"Maaf Bu, sudah waktunya pasien istirahat, Ibu bisa tunggu diluar."


"Baik sebentar lagi saya akan keluar Sus," lirihku kulihat suster mengangguk dan meninggalkanku.


Kutatap kini wajah mas Dimas yang tampak menatapku dalam setelah mendengar suster menyuruhku keluar. Ia tampak menggenggam tanganku erat, dan tak lama ia berujar ...


"Lyra akan menunggu Mas bukan?"


Akupun mengangguk seraya menahan tangisku, "Aku akan diluar, mas tidur yang nyenyak yaa, jangan fikirkan macam-macam. Aku akan selalu bersama Mas," bisikku seraya mengecup keningnya.


Mas Dimas tampak mengangguk dan tak lama akupun keluar meninggalkannya bersama beberapa pasien penyakit jantung dan beberapa suster jaga di ruangan itu. Tampak pula beberapa orang juga berlalu keluar bersamaan denganku, meninggalkan keluarganya yang juga sedang berjuang melawan penyakit yang sama dengan mas Dimasku.





Kududuk kembali ditempatku duduk sebelumnya, kulihat Shifa sudah tak ada disana, hanya ada Aldo di tepi yang tampak terdiam. Akupun menghampiri Aldo saat ini,


"Al, Shifaa kemana?"


"Iya pulang Mbak, katanya biar mbak disini dan ia yang menjaga anak-anak dirumah,"


"Al, kau pulanglah ke rumah Mbak, jaga orang rumah, mbak hawatir karena mang Diman juga stanbye dibawah, tidak ada laki-laki di rumah."


"Mbak tidak apa-apa sendiri?" ujarnya.


"Tidak apa-apa, mbak akan menghubungimu jika terjadi sesuatu. Disinipun kita hanya bisa menunggu diluar," lirihku.


"Baiklah Mbak,"


"Oya Al, suruh mang Diman pulang dan bawakan selimut kesini."


"Iya Mbak," ujar Aldo sebelum akhirnya ia berlalu.


Kutatap sekelilingku kini, tampak beberapa orang yang telah memposisikan dirinya tidur di bangku ruang tunggu guna menunggu saudara mereka di dalam ICU pula. Televisi yang terus menyala laksana pengantar tidur yang tak membuatku terkantuk.


Kubuka ponselku tampak pesan dari Ibu Arini yang baru bisa kesini besok pagi lantaran Cikarang yang sedang diguyur hujan lebat. Terdapat pula pesan dari Shifaa yang mengabarkan ia pulang diantarkan kekasihnya untuk menjaga anak-anak di rumah.


Tiba-tiba aku teringat sosok yang dikenalkan Shifaa beberapa saat lalu. Apakah sosok yang kulihat tadi nyata, bukankah tadi seperti---


"Lyraa ... " Dan seseorang tiba-tiba memanggilku dan duduk disisiku ...




Beberapa saat kami terdiam ...


Jadi benar ka-u di-sini ...

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2