Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Melepaskan Diri


__ADS_3

Walau tampak ragu, Lyra masih terus mengikuti Rendi saat ini.


Rendi tampak mengambil motor besar yang terparkir cantik dipelataran Kafe.


"Yuk naik...!!" pinta Rendi padaku.


Tanpa kata aku segera naik di belakangnya.


"Dimana tempat tinggalmu Lyra?" tanya Rendi mencairkan keheningan antara kami.


"Aku di Bekasi Timur Ren." Jawabku dengan sedikit berteriak, sebab angin malam itu sungguh sedang bersama-sama keluar dari peraduannya. Terus menari-nari di sekitar kami saat ini.


Beberapa kali Rendi menekan remnya secara mendadak, untungnya aku dengan sigap mampu menahan beban tubuhku dengan bantuan tangan kecilku yang berpaut dengan besi disisi kanan dan kiri motornya.


Rendi mengendarai motor dengan sangat cepat, membuat angin merasuk penuh ketubuhku yang hanya terbalut tunik viscose tipis saat ini. Bibirku mulai bergetar menahan dingin yang teramat sadis menyerangku.


Kulihat sekitarku, sungguh pemandangan malam yang sangat asing dimataku. "Dimana ini?" batinku. Sudah sekian lama berjalan, entah berapa banyak lampu merah kami lewati belum jua ada tanda-tanda tempat yang ku kenal.


"Re-n, ki-ta lewat ma-na ini?masih jaa-uh yaa?" tanyaku sedikit terbata menahan getaran hawa dingin ditubuhku.


"Lo tenang aja Ly, bentar lagi kita sampe ko!" ujar Rendi berusaha menenangkanku.


Aku berusaha mempercayainya, bagaimana tidak keputusan pulang bersamanya sudah terlanjur kuambil.


Kembali kami berhenti di sebuah lampu merah dengan hitungan mundur yang masih sangat jauh menuju 0. Tampak Rendi menengok dan menatap wajahku dengan jendela helm yang dibukanya. Tatapan itu, sungguh aku tak menyukainya. Kupalingkan wajahku ke arah berlawanan menjauhi tatapan tersebut. Ia kembali menghadap depan, namun jemarinya tampak mengusap-usap lututku. Segera ku hempas tangan itu, sangat tidak nyaman. Semoga cepat sampai... lirihku.


Laju motor kembali dengan lincah membawa kami. Melewati berbagai pertokoan hingga akhirnya berbelok di suatu persimpangan dengan pemandangan lampu yang sedikit meremang, pohon-pohon besar berdiri di sekitarnya. Dan parahnya, aku masih belum tau daerah mana ini...


Rendi tiba-tiba menghentikan motornya. Dibawah sebuah pohon besar dengan sedikit pengendara yang melalui jalan disisi kami. Bahkan nyaris tak ada kendaraan melintas, pemandangan sawah mulai sedikit demi sedikit kupahami. Rendi turun dan tampak duduk menyamping diatas motornya.


"Kenapa berhenti disini? dimana ini?" tanyaku pada Rendi yang mulai menghisap gulungan rokok dijarinya. Aku ikut duduk menyamping disisinya.


"Disini dulu ya Ly!! Dingin, biar kuhabiskan rokok ini" ujarnya sambil sesekali dengan sengaja menyemburkan asap rokok tepat diwajahku.


Sangat tidak nyaman, batinku bergejolak.


Hawa dingin malam semakin menyerangku. Kusilangkan kedua tanganku memeluk tubuhku.


Rendi terus menatapku, tampak rokok ditangannya tak jua habis.


"Senang bertemu denganmu Lyra" ujarnya memulai obrolan denganku.


"Kau sangat cantik" ujarnya lagi tak kutanggapi, karna memang aku sibuk melawan hawa dingin disekujur tubuhku.


Tangan kirinya mulai menyapu bagian atas lututku, kutepis tangannya seketika.


"An-tar aku pu-lang Ren!!" hawa dingin menggetarkan bibirku saat ini.


Ia terlihat membuang sisa rokok ditangan kanannya, menginjak paksa dengan sepatunya.


Kemudian tangannya mulai merengkuh bahuku, menarik paksa bahuku dan menempelkan di bahunya tak berjarak.

__ADS_1


Kugoyangkan bahuku untuk melepas tangannya. "Lepas Ren!! Aku mau pulang!!" ujarku.


Matanya masih terus menatapku, Rangkulan tangannya semakin erat kurasa. Aku berusaha membuka jemari yang menempel di bahuku sekuat tenaga dengan kedua tanganku. Iya mengeratkan lagi tangannya, menarik bahuku tepat didepan dadanya. Kedua tangannya tampak merangkul pundakku dari belakang. Sangat sulit kulepas..


Nampak tangannya sangat dekat saat ini didepan bibirku. Kuserang ia dengan kedua sikuku dan kugigit tangannya sekuat tenagaku. Rasakan, batinku.


"Ahhh...."


Segera kuberlari sekencang yang kubisa saat tangan besar itu terlepas dari tubuhku.. Aku hanya mengikuti arah kakiku, tanpa tau dimana aku berada... Rasa takut mulai menyelimutiku, saat kulihat 2 pasang kaki panjang berlari pula mengejarku. "Tunggu aku Ly!! Kau pasti bisa kutangkap!!"


Suara teriakannya semakin membuatku takut. Hawa dingin tak ingin pula melepaskanku...


Kakiku mulai letih berlari, kudengar langkah kaki yang semakin mendekat. Aku kembali berusaha berlari... tapi kakiku sangat sakit langkahku semakin melemah, dan lak lama sepasang tangan menangkapku. Tangan yang tampak kebiruan kulihat disana.


Kedua tangan besar semakin erat mendekapku dari belakang, menarik tubuhku kesebuah pohon besar yang tampak mematung melihat ketidakberdayaanku...


*YaRobb, tolong hamba!! Mas Dimass... Firgie... Toloonggg!!!!..... batinku.


"Lepaskan aku Ren!!!" lirihku.


"Kau lihat tanganku!! Kau harus membayarnya Lyra!!" terdengar suara dengan nada penuh emosi disana.


Kurasakan wajahnya menempel saat ini di bahu belakangku., "Aku menyukai parfum yang kau pakai Lyra..." bisiknya.


"Hentikan Ren! Apa yang kau lakukan! Aku akan berteriak!" ujarku.


"Silahkan Lyra... Kau bisa berteriak yang kencang.. lihat siapa yang akan mendengar.." bisiknya lagi di telingaku.


Dan ia malah menangkap kedua tanganku kebelakang, mengunci dengan genggaman tangan kirinya. Dan tangan kanannya kembali mendekap leherku...


"Tolong lepaskan Renn... Kumohon!!!"


"Awalnya aku hanya ingin bermain2 kecil denganmu, tapi kau melukaiku! Dan aku tidak menyukainya!!" bisiknya lagi disertai tatapan yang seolah siap menerkamku...


Air mata mulai menetes di pelupuk mataku. Bagaimana keluar dari situasi ini?? batinku.


"Ternyata tenagamu sangat kuat Lyra!!" berkali-kali ia mengecup bahu belakangku.


"Hentikan Ren!!!" emosiku memuncak, air mataku terus menetes.


"Cantikk... aku jadi penasaran dengan wajah cantikmu tanpa kain penutup ini..." Ujarnya lagi.


Seketika ia menarik jarum pentul dibawah leherku...


Kugoyangkan tubuhku kembali, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri darinya. Hingga tiba2 aku melihat kearah bawah, sepasang kaki panjang berada dekat sekali dengan kakiku.


Langsung kuambil kesempatan itu.


Kuinjak sekuat tenaga kaki tersebut. Berkali2 kuinjak terus kedua telapak kakinya dengan sepatu kets ku...


Dan akhirnya tangannya terlepas..

__ADS_1


Ia meringis kesakitan, dihentak-hentakannya kakinya.


Alhamdulillah, gumamku.


Aku hendak berlari tapi satu tangannya ternyata lebih cepat menangkap bahuku, aku terus berusaha berlari... Hingga akhirnya, ia memperoleh potongan kain dari bahuku.


Pakaianku yang berbahan katun viscose tipis dengan mudah ia rusak. Dengan menggenggam hijab tanpa peniti di leherku... Aku berlari sekuat tenaga, kulihat dari kejauhan ia sudah tidak mengejarku. Ia berlari berbalik arah mungkin menyadari motornya yang semakin jauh ia tinggal.


Aku terus berlari, berusaha menuju bayang2 lampu terang di ujung sana.


Kuabaikan letih dan dinginnya malam, aku harus berlari, khawatir Rendi akan muncul dengan motornya dan kembali mengejarku. Aku harus pergi jauh dari sini, mencari keramaian... Lirihku.


Dan sampai akhirnya aku dengan persimpangan, tampak banyak pertokoan berjejer disana, banyak orang pula berlalu lalang.


"Alhamdulillah... Aku tidak sendiri lagi" batinku.


Aku masih terus berjalan, semakin menjauh dari tempat mengerikan tadi.


Dan setelah sekian lama berjalan kuputuskan berhenti, karna kufikir Rendi akan sulit menemukanku sejauh dan seramai ini.


Kududukkan diriku disebuah taman di tengah kota. Kududuk di balik sebuah pohon, bersembunyi tepatnya. Otakku masih membayangkan kejadian buruk yang baru saja kualami, air mataku kembali menetes, dan kini bertambah deras... *Mengapa hal seperti ini harus terjadi padaku? Apa salahku Ya Robb?...


Tiba-tiba ku teringat ponselku. Dan langsung ku nyalakan. Pukul 21:10 tertera disana. Rupanya hampir 1 jam aku berada di situasi mengerikan tadi. Kulihat ada banyak panggilan muncul di layar ponselku, Ka'Fida, Mbak Susi dan Firgie. Mungkinkah mereka hawatir padaku saat ini?.


Dan sekarang, aku harus meminta pertolongan pada siapa? Baru 4 nama dalam kontak nomer baruku ini Ibu, Mbak Susi, Ka' Fida dan Firgie.


Hanya Firgie yang memungkinkan bisa menjemputku. Langsung ku telfon Firgie. Dan Ia mengangkatnya...


"Gie..." tangisku kembali tak terbendung berfikir pertolongan sudah didepanku.


Tampak kudengar suara khawatir seseorang dari ujung sana...


"Kau dimana Lyra?"


*****


Saat ini, aku mencari tempat yang akan mudah Firgie lihat saat datang nanti. Tapi tak boleh jauh dari taman posisiku semula, itu yang dikatakan Firgie.


Sebuah Cofee Shop dengan kursi dan meja kotak dimuka toko yang telah tutup menjadi pilihanku. Kududukkan diriku disana, kusandarkan kepala di meja di depanku. Otakku masih mengingat kejadian yang menimpaku. Letih sekujur tubuhku saat ini dan mataku tiba2 tak mampu menahan desiran angin yang melambai. Ku terkantuk... Dan tertidur...


****


#Salam Cinta❤ dari thor...


Jangan lupa vote, rate dan beri komen untuk karya ini....


Jangan cuma di baca aja yaa!!!


Klik tombol like 👍 okee😉


#Happy reading😍

__ADS_1


__ADS_2