Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Sudah Tak Kuat


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


●Tolong jangan bosen, please ... pleasee😘


●Menuju ending😊


●Lanjuutt yaa👋☺..


🌷🌷🌷


Bunda tunggu, i-bu mem-buka mata ...


Kuhampiri segera mbak Friss yang tampak menghentak-hentakkan tubuhnya dengan mata yang terbuka dan terus menatap keatas. Kutekan seketika tombol panggilan darurat dokter di belakang ranjang mbak Friss. Dan tak lama seorang dokter dan seorang perawat tampak masuk kini.


"Tolong keluar dulu ya Bu," ucap seorang perawat kearahku dan Mayra dan kamipun seketika keluar.


Mas Dimas yang sedang memangku Dirga segera menghampiri tatkala dilihatnya aku dan Mayra keluar dari ruangan mbak Friss.


"Ada apa Sayang, mengapa dokter dan perawat tiba-tiba masuk kedalam?" tanya mas dimas dengan wajah serius.


"Mbak Friss sadar Mass, ia membuka matanya tadi," antusiasku.


"Benarkah?"


Akupun mengangguk.


"Alhamdulillah," seketika mas Dimas meraih kepalaku dan mengecup keningku.




Beberapa saat berlalu, dan kami masih menunggu dokter yang masih memeriksa kondisi mbak Friss didalam ruangan di hadapan kami. Hingga tiba-tiba pintu terbuka, seorang dokter keluar dan seorang perawat memanggil sebuah nama.


"Ada anggota keluarga pasien bernama Mayra, kah?"


Seketika mas Dimas mengangkat tangannya dan berujar, "Ini Mayra putri pasien Sus."


"Adik Mayra bisa masuk bertemu ibunya," ucap sang perawat seraya menatap Mayra.


Mayra tampak menatapku kini, "Bunda tidak ikut masuk?" lirihnya.


"Ibu Frista ingin bertemu Mayra dahulu, nanti Bunda akan masuk setelahnya," ujarku menyapu kepala Mayra.


Mayrapun mengangguk dan mengikuti perawat masuk kedalam.



🌻**Mayra** ... (*bahasa anak kecil yaa😊*)



Setelah memakai pakaian astronot kembali, Mayra mengikuti perawat masuk ke ruang tempat ibu Frista berada. Seperti saat Mayra masuk tadi ada banyak selang dan alat di tubuh ibu Frista. Mayra takut sebetulnya masuk sendiri, tapi ini ibu Mayra, ibu yang melahirkan Mayra. Jadi Mayra tidak boleh takut.



Mata ibu Frista terus melihat keatas saat Mayra masuk, Mayra pun menggenggam tangan ibu. Ibu menengok memperhatikan Mayra, dan Mayra melihat ibu Frista tersenyum. Benar kata bunda Lyra, senyum Mayra seperti senyum ibu Frista, sangat manis. Kini, tangan ibu Frista ingin memegang wajah Mayra, walau Mayra agak takut tapi Mayra ingat kata Bunda kalau ibu Frista sembuh, adik Diyara akan ditemukan, jadi Mayra biarkan ibu menyentuh wajah Mayra.


__ADS_1


Walau banyak perban putih di tangan ibu, tapi Tangan ibu sangat halus seperti tangan Bunda. Mayra genggam tangan ibu saat ini, dan ibu mulai membuka mulutnya, "May-ra," lirih ibu Frista memanggil Mayra.



"Iya Ibu, Mayra disini," Mayra beranikan menjawab ucapan ibu Frista.



Ibu Frista terus tersenyum dan menangis kini, ibu kemudian bicara lagi, "Put-riku ya-ng can-tik," ucap ibu dan menangis lagi.



Mayra hapus air mata ibu. Dan ibu kembali bicara, "Ma-na Bun-da Ly-ra?"



"Bunda diluar, ibu mau bicara dengan Bunda?" tanya Mayra sambil menyapu wajah ibu.



Dan ibu Frista mengangguk. Mayrapun segera memanggil bunda ...



🌻Lyra ...


Putriku tampak keluar masih dengan pakaian astronotnya saat ini, "Ada apa Sayang?" tanyaku seketika.


"Ibu Frista cari Bunda," celoteh Mayraku. Dan kamipun segera beranjak masuk.


Kutatap wajah wanita yang terbaring tak berdaya ini lagi, Frista ... sosok masa lalu suamiku. Tunangan suamiku kala itu, saat aku pertama mengenal mas Dimasku. Bahkan kehadiranku sejak dulu meresahkannya, lelaki yang dicintainya terpaut hatinya padaku.


Mbak Frista, wanita yang sebetulnya baik kurasa ... entah siapa yang harus disalahkan, tapi memang takdir tak berpihak padanya. Ia dinikahi pria yang diharapkannya tapi tak mencintainya, bahkan pria pujaan yang telah menjadi suaminya kerap memanggil nama wanita lain dalam tidurnya. Hingga kejadian kelam membuatnya hamil dengan pria lain, ia terpelosok jauh pada hubungan terlarang pula setelahnya. Entah sebab merana hatinya yang jelas salah prilakunya.


Mbak Frista, kusapu kepala wanita yang pernah menjadi istri suamiku tersebut. Ia tampak terus menatapku dan tersenyum, "Ly-la," lirih suaranya memanggil namaku dengan pelo/cadel.


Kuberi senyumanku kini padanya.


"Ma-af ...." kata singkat yang tampak dengan susah payah berhasil diucapkannya saat ini.


"Jangan banyak bicara Mbak, pulihkan dulu kondisimu," lirihku yang sebetulnya sangat tidak sabar bertanya perihal putriku yang pernah berada dalam dekapannya.


"Put-li-mu can-tik," kembali terucap kata-kata yang terdengar mulai tak jelas tapi aku memahaminya.


"Putriku," seketika kumenangis. Haruskah kutanyakan keberadaan putriku saat ini, bagaimana jika kondisi mbak friss kembali menurun?


"Istirahatlah Mbak, aku membawa Mayramu. Kau harus pulih untuk putrimu," kusatukan tangan Mayraku pada mbak Friss saat ini. Air mata terlihat terus mengalir dari sudut matanya.


"A-ku ti-dak ku-at ...." dan ia terus memaksa bicara.


"Hentikan kata-kata seperti itu Mbak," lirihku kembali.


"Di-ya-la,"


"Mbakk ... "


"Pan-ti Ca-ha-ya Me-di-na,"


"Mbak apa maksud ucapanmu? Diyaraku di panti, kah?" ujarku.

__ADS_1


Terlihat anggukan dan diiringi nafas yang tersengal ...


"Mbakk kau harus bertahan Mbak, Mbakkk ...."


"Ibuuu ...."


"Ti-tip May-la," lirih mbak Friss dengan nafas yang tak beraturan, dan kotak pendeteksi detak jantungnya mulai terdengar cepat ...


Kutekan tombol panggilan dokter ...


Kubisikkan terus nama Robbku, dan kalimat-kalimat dzikir ditelinganya. Kutuntun ia lafaz syahadat, terlihat lidahnya bergerak, berusaha mengikuti syahadatku. Hingga tiba-tiba kotak disisinya berbunyi nyaring ... tuuuuuttttttt .... Bertepatan dengan kedatangan dokter dan beberapa perawat.


"Tunggu diluar Buuu!!"


Kuhampiri mas Dimas yang tampak bingung melihat lemahku.


"Ada apa lagi?"


"Mbak Friss sepertinya se-ka-rat Ma-sss ... "


"Haaahhh."


Tak lama dokter keluar dan tampak menggelengkan kepalanya.


"Maaf, kami sudah berusaha namun Tuhan punya rencana lain," ujarnya kemudian berlalu.






Lantunan do'a dibacakan kini oleh Ustad Al-Baihaki Iman Masjid di perumahan kami mengiringi kepergian mbak Frista. Pengajian diadakan dirumah, dan dihadiri tetangga sekitar setelah rangkaian pemakaman dilakukan tadi siang.





Mayra terus memelukku erat dipembaringanku, ibu yang beberapa hari lalu baru diketahuinya telah meningalkannya. Kukecup kepalanya dan terus kutatap mata polos yang tampak berkaca namun tak berderai, tangisnya telah mereda. Ia cukup dewasa untuk tau bahwa ia masih memiliki kami yang selama ini hidup bersamanya.


Mayraku tertidur akhirnya,


Beberapa saat berlalu mas Dimas tampak masuk ke kamar. Ia mendekatiku kini,


"Orang suruhan Mas sudah menemukan lokasi panti CAHAYA MEDINA, besok pagi kita kesana," ujar mas Dimas seraya menatapku dalam.


"Sekarang saja Mass," lirihku


Dan tampak jam di dinding menunjukkan pukul 21:40.


"Ini sudah malam, Sayang ... tidurlah yang nyenyak, in syaa Alloh besok kita akan bertemu Diyara."


Masss ....


Seketika ingin kutersenyum walau kegetiran masih menyelimutiku, ya ... sebelum Diyara benar-benar dalam pelukanku ...

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2