
βTerima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyraβ€β€
Lanjuutt yaaπβΊ..
π·π·π·
Lembayung Senja mulai masuk keperaduannya, 17:15 saat ini dan untuk kesekian kalinya ponselku lagi-lagi bergetar, tak lain nama Mas Dimas lagi-lagi yang tampak, lelaki ini raganya saja yang bekerja tetapi hatinya sepertinya tertinggal bersamaku. Kubuka pesan darinya kini,
π©"Sedang apa? Sudah pump ASI?"
π¨"Masih on proses Mass ...," jawabku.
π©"Buat stock yang banyak, agar si kembar tidak mengganggu makan malam kita nanti."
π¨"Hanya makan malam kan Mass? tentu tidak lama bukan?"
π©"Pump saja yang banyak.!!"
π¨"Diusahakan."
π©"Sikembar sedang apa?"
π¨"Diyara sedang bersama Mbak Dinar, Dirga bersama ibu Arini."
π©"Dan Mayra?"
π¨"Mayra menonton TV ini di sisiku."
π©"Oh, oke. Ya sudah Mas lanjut aktifitas Mas yaa."
π¨"Mas tunggu ... Mas jam berapa sampai rumah??"
π©"Jam 7 in syaa Alloh mas sampai."
π¨"Oke di tungguπ"
π©"ππππ"
*Tok ... Tok* ...
"*Ly ... Lyra* ...."
"Masuk saja Bu, nggak Lyra kunci kok," ujarku masih dengan aktifitas mempump-ASI ku.
Dan masuklah ibu ke kamarku kini.
Tampak ibu memposisikan duduknya di hadapanku saat ini, pandangannya tampak serius menatapku. Tampak jelas ada yang ia hawatirkan saat ini.
"Ada apa Bu?" tanyaku memulai obrolan kami.
"Ly, tadi ibu ngobrol sama mertuamu, katanya pacarnya Shifaa dulu kekasihmu memang benar?"
Akupun seketika mengangguk.
Aku memang tidak pernah menceritakan masalah pribadiku pada ibu. Termasuk kedekatanku pada Firgie saat itu.
"Kok ibu hawatir yaa, emang gak risih apa mantan pacar jadi adik ipar. Dimas juga tau?" dan ibu tampak terus melancarkan tanyanya kembali.
"Tau. Waktu mas Dimas nikah dengan istri pertamanya Lyra dateng sama Firgie,"
"Oalahh, kalau mereka sampai jadi pokoknya sebisa mungkin kamu jauh-jauh dari lelaki itu lho Ly," ucap ibu kemudian seraya terus memperhatikanku.
"Kami sudah seperti teman kok Bu."
"Tetap aja, takut adikmu dan Dimas salah paham kalau melihat kalian, yang namanya pernah berhubungan pasti banyak cerita yang dulu dilakuin bareng. Emang kamu gak keingetan apa?"
"Nggak kok Bu. Kan udah ada Mas Dimas di sisi Lyra."
"Bagus kalau begitu, tapi kamu harus bener-bener jaga perasaan Dimas, walau dia terlihat santai gak tau dihatinya jangan-jangan ia cemburu diam-diam," ujar Ibu kembali.
"Iya ibuku Sayang."
__ADS_1
"Kamu cuma makan malam kan nanti? Ko pump ASInya banyak banget, udah cukup itu,"
"Kata Mas Dimas pump-nya suruh agak banyakan, biar tenang pas kami keluar nanti."
"Oiyaa, kamu inget nasihat ibu ya Ly, kalau bisa jangan hamil lagi sebelum sikembar besar. Emang gampang kata mertuamu tinggal nambah pengasuh tapi tetep aja kamu kan ibunya, tetep kamu yang pasti capek. Kamu masih muda, ibu kasihan kalau kamu kecapean hidupmu cuma buat ngurus anak, emang gak ribet apa momong anak. Apalagi kalau sampai kembar lagi, gak kebanyang repotnya."
Duhh ibu, gimana kalau ibu tau aku gak KB, karna mas Dimas nggak bolehin KB. Dijaga sendiri aja kata Mas, selama ini juga aman aja kok karena Mas konsisten gak dijadiin.
"Kenapa kok kamu bengong?" ucap ibu kembali.
"Gpp Bu."
"Ly ... Lyraa," tampak ibu Arini seketika masuk ke kamarku.
"Eh ada Mbak Fatia," Ibu Arini tampak kaget melihat kehadiran ibu dikamarku.
"Lyraa, ini Dirga sepertinya sudah haus. Padahal tadi sore sudah makan banyak. Kamu susuin dulu ya Nak," ujar ibu Arini menyerahkan Dirga kini kepangkuanku.
Kuciumi pipi embul lelaki kecilku saat ini, dan segera kuberikan ASI ku setelahnya. Tampak Dirga menyesap dengan sangat kuat saat ini.
"Dirga kalau nyusu kuat banget sih," ujar ibuku.
"Sama Dimas bayi dulu juga nyusunya kuat kok," tampak ibu Arini ikut menimpali.
"Kamu berangkat jam berapa nanti Lyra?" ucap ibu Arini kembali.
"Jam 7 mas jemput Bu."
"Ya sudah habis nyusuin Dirga kamu siap-siap sana. Ini ASImu ibu taruh di *cooler* yaa," dan tak lama ibu Arini sudah tak terlihat di kamarku.
"Ibu Arini kelihatannya saja tegas kok Bu, tapi baik banget aslinya dan semua makanan sudah Lyra pesan kok," ujarku membuang keresahan ibu.
"Alhamdulillah kalau begitu, oya Ly ... setelah pengajian paginya Ibu dan Bapak langsung pulang ya, yang acara sama karyawan Dimas, maaf ibu gak bisa ikut."
"Yahh, ko cepet banget sih Bu," lirihku.
"Bapak ada carteran, nganter ibu-ibu pengajian. Sayang kalau gak diambil, nanti mereka malah cari mobil yang lain dan keterusan gak pake mobil bapak gimana?"
"Uang dari Lyra tempo hari memang sudah habis Bu?"
"Masih Nok, uang dari kamu sama Dimas ibu langsung masukin Bank, ambil seperlunya. Nok, gimanapun kamu tuh udah berkeluarga, ibu gak enak kalau nyusahin kamu terus, gimanapun Bapak harus punya penghasilan sendiri juga. Ya sudah Dirga sudah pulas tuh. Kamu siap-siap sana. Ibu mau ke kamar siap-siap sholat maghrib."
"Iya Bu."
"Oya Ly ...."
"Ada apa Bu?"
"Dandan yang cantik, biar suamimu tidak berpaling." Dan ibu terlihat tersenyum disana.
Akupun menggeleng-geleng saat ini menanggapi ujaran ibu.
Adzan maghrib telah selesai kutunaikan, baby Dirga telah pulas di ranjangnya sedang Diyara menurut mbak Dinar tertidur di kamar Ibu Arini. Dan saatnya kurapihkan diriku, masih ada waktu 30 menit, kupoles tipis bagian wajahku. Dan beranjak ke lemari kaca tempat gamis-gamisku berkumpul setelahnya. Pakaian seperti apa yang harus kupakai, makan malam, dandan yang cantik ... agak risih dengan kata-kata seperti itu karena memang aku hampir tidak pernah makan malam formal dengan mas Dimas sebelumnya.
__ADS_1
Dan kini, aku masih terpaku dihadapan lemari kacaku. Beberapa gamis telah kubolak balik namun merasa belum menemukan gaun yang cocok.
Tok ... Tok ...
Seketika terdengar ketukan dari balik pintu kamarku. Dan tak lama terdengar pula suara wanita yang tak asing.
"Sayang ... Lyra .... "
"Iya Bu," kujawab seketika panggilan dari ibu Arini mertuaku dan segera kubuka pintu yang membatasi kami.
Dan seketika pula ibu suamiku tersebut terkaget melihatku masih dengan gamis rumahanku.
"Heii, apa ini Sayang, kau belum bersiap? Kau tak dengarkah suara mobil suamimu telah tiba?"
"Bingung gaun mana yang harus Lyra pakai Bu," lirihku.
"Duduklah..!!!"
Dan seketika ibu membolak-balik gamis dalam lemari kacaku. "Ini, pakai ini. Ini pasti cantik kau pakai ...."
Sebuah gaun berwarna coksu berpadu brokat dijulurkan ibu saat ini kehadapanku. Akupun seketika masuk ke kamar mandi dan menggantinya.
"Cantik, cocok sekali. Sekarang duduklah..!!!"
"Apalagi Bu?"
"Riasan wajahmu terlalu tipis Sayang, lihat alat makeupmu.!! Hanya ini yang kau miliki? Mengapa warna pucat semua yang kau miliki, kau tunggulah disini dan jangan kemana-mana sampai ibu kembali..!!!"
β’
β’
Tak lama berselang, ibu kembali membawa sebuah kotak ditangannya.
"Kau akan pergi bersama suamimu, sekali-kali tampil berwarna itu perlu. Walau sudah memiliki anak 2, saat pergi berdua dengan suamimu, jadikan seolah kau seorang gadis yang baru lulus SMA, kau harus memperlihatkan kecantikanmu agar tidak ada yang berani menggoda suamimu dibelakangmu, walau ibu yakin Dimas tak mungkin melirik wanita lain selainmu. Tapi Dimas pasti senang melihatmu tampil berbeda."
Dan akupun mengangguk mendengar setiap kata dari bibir ibu seraya pasrah dengan setiap hal yang ibu poles kewajahku saat ini.
"Nahh, selesai ... menantuku yang cantik,"
"Sekarang kau rapihkan hijabmu..!!! Ibu tunggu kau dibawah, ingatt!!! jangan ada yang kau hapus!!"
Dan kulihat tampilanku kini di cermin. Ohhh, ibu ... warna merah terang mewarnai bibirku kini, eyeliner yang begitu jelas, blush on juga disapu ibu kepipiku, walau tipis, tetap aku risih tampil berwarna seperti ini. Tapi ibu akan marah jikaku menghapusnya. Nanti saja aku hapus di mobil, ahh ... Mas Dimas, apa ia akan suka dengan tampilanku seperti ini??
Dengan ragu kulangkahkan kakiku kini ke lantai bawah ... namun tak ada sosok mas Dimas kulihat, dimana suamiku??
"Kau sudah turun Nak? ternyata yang datang tadi bukan Dimas, melainkan Aldo yang diminta Dimas menjemputmu, sana lekas berangkat tidak perlu memikirkan anak-anakmu di rumah, ibuku tampak mengangguk dikejauhan.
"Dimana suamiku Al?" tanyaku dalam perjalananku bersama Aldo kini.
"Mas masih bernegosiasi dengan rekan bisnisnya Mbak, oleh karenanya memintaku menjemput Mbak."
15 Menit perjalanan sampailah kami ke gedung bertingkat mewah dengan lampu menerang di sekitarnya "GRAND DE ZUHRA HOTEL."
"Kenapa kita ke hotel Al?"
"Ini alamat yang mas Dimas berikan Mbak, mari ikut denganku Mbak, aku akan mengantar Mbak ke tempat mas Dimas berada."
Dan kuikutilah sejauh langkah Aldo terus membawaku. Kuberada di ruang kotak yang menuju lantai 5 saat ini, hingga pintu lift seketika terbuka.
Sebuah kamar dengan nomer 305 dihadapanku.
*Sebuah kamar*?? batinku.
"Silahkan masuk Mbak, Mas sudah menunggu di dalam ...."
Kubuka seketika pintu dihadapanku yang tak terkunci, hingga pintu seketika menutup dengan sendirinya..
Namun tanpa warna, hanya gelap menyelimutiku ...
*Mas Dimass* ...
*Kau benar disinikah*??
π·π·π·
__ADS_1
π»Happy readingβ€β€