
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻12:30 MASIH RESEPSI PERNIKAHAN
Aku masih berada di pelaminan saat ini, dengan ditemani kedua orang tuaku juga kedua mertuaku, aku dengan keceriaan yang kutampakkan sedang menyalami tamu saat ini.
Hingga akhirnya aku menangkap bayang pria yang telah resmi menghalalkanku, ialah Mas Dimasku. Pria yang beberapa saat lalu izin hendak menjalankan ibadahnya pada Sang Pencipta kini ia tampak sedang berjalan keatas panggung mendekatiku.
Tak menunggu lama sosok pendampingku telah berdiri tepat dihadapanku, terlihat sebagian rambutnya basah tersapu air wudhu. Dan pemandangan seperti ini sungguh sangat kusukai, pria-ku terlihat berkali-kali lebih tampan dari sebelumnya, setidaknya begitulah menurutku.
"Heii, ada apa?" sapa mas Dimas mengaburkan ketertegunanku.
"Ohh, tidak ada apa-apa kok Mas," ujarku merasa telah tertangkap basah terus memperhatikan mas Dimasku.
"Sekarang giliranmu sholat, lakukanlah," ujar mas Dimas kearahku.
Dan akupun segera masuk ke ruangan yang telah disiapkan untuk sholat dan merias diri di bagian belakang altar saat ini.
Setelah beberapa saat, ibadah telah selesai kutunaikan. Aku menuju suamiku, tampak senyumnya mengembang menangkap kehadiranku.
"Kenapa begitu lama, Sayang?" ujar Mas Dimas.
"Mas, jangan panggil aku seperti itu, aku malu jika didengar yang lain," ucapku.
"Kenapa malu, kita sudah sah, bukan?" ujar mas Dimas yang membuatku kembali malu mendengar kata-katanya.
"Jawab! kau mampir kemana dulu tadi kenapa sholat lama sekali?" tanya mas Dimas kembali.
"Tadi orang salon meriasku kembali setelah sholat, Mas," jawabku atas tanyanya.
"Ohh, oke," gumam mas Dimas.
Tak lama Bude Riris kakak dari ibuku menghampiri dengan 2 piring nasi beserta lauk di tangannya. Ia menghampiriku dan mas Dimas saat ini.
"Pengantin gak boleh laper, ayo kalian makan mumpung lagi sepi. Nanti kalau tamu kalian dateng lagi malah gak bisa makan," ujar Bude Riris.
"Makasih Bude," ujarku sebelum Bude akhirnya berlalu.
"Budemu tau aja kalau mas lapar, mas senang Ly keluarga besarmu orang-orang yang menyenangkan dan mudah berbaur," terang mas Dimas ditengah makan kami.
"Alhamdulillah, keluarga besarmu juga ramah-ramah Mas. Lihat bude Harni, kakak ibumu, sejak tadi ia terus memfoto kita mas, kurasa foto kita sudah penuh di ponselnya saat ini," ujarku tampak dibalas gelak tawa mas Dimas.
"Kau ini bisa saja, mas jadi gemas ingin menciummu," jujur mas Dimas.
"Ishh, jaga bicaramu mas! Lihat ibumu sejak tadi memperhatikanmu. Jangan sampai ibu menjewermu didepan umum," bisikku.
__ADS_1
"Diam, jangan bicara lagi atau mas akan benar-benar akan menciummu," goda mas Dimas.
"Oh ... aku takut. Iya, aku ingat, dulu di resepsimu sebelumnya kau bahkan mencium istrimu dimuka umum. Tak tau malu," ujarku.
"Kau masih ingat rupanya, dan hal itu sangat mengganggumu bukan?" ujar mas Dimas menggodaku.
Dan aku terdiam tak ingin menjawab. Benar, memang saat itu aku marah dan cemburu melihat kalian, jawab dalam batinku.
"Tidak bisa menjawab, atau tidak mau mengakui?" gumam mas Dimas.
"Heii sebentar," Mas Dimas tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepadaku ...
"Mas mau apa?" lirihku.
"Lihat! bulu matamu terjatuh, Sayang."
"Oh, kufikir ...."
"Kau berfikir mas akan menciummu kah?"
"Ish Mas," malu-ku.
"Mas juga tau Ly, dulu mas pernah tak tau malu karena saat itu mas terpaksa melakukannya. Tapi sekarang tidak akan terjadi hal seperti itu," ujar mas Dimas.
Mas Dimas mengambil piringku yang telah kosong, dan meletakkan bersama piringnya di bawah bangku.
"Oya, pengantin jangan terlalu banyak mengobrol yaa. Lihat para tamu memperhatikan kalian," bude Riris yang hendak pergi seketika berbalik kembali dan berbisik kepada kami.
Dan disana rombongan tetangga mulai tampak berdatangan, dan ditengah mereka terdapat wajah yang sejak tadi kami tunggu. Kedatangan Mas Fahmi, Kak Fida dan Irsya sudah kami nantikan sejak tadi, 2 orang yang berjasa mempertemukan kami kembali kini sedang berjalan menuju ke pelaminan saat ini.
"Alhamdulillah sah juga bro akhirnya, Barakalloh untuk kalian, smoga pernikahan ini langgeng dan hanya maut yang mampu memisahkan," do'a tulus Mas Fahmi yang segera kami aminkan saat ini. Dan keduanya berangkulan setelahnya.
"Terima kasih Fah, do'a yang sama untuk keluarga kalian," balas mas Dimas.
"Undaa, Ichaa tanen Undaa," ucap polos Irsya segera kusambut dengan menarik Irsya kedalam pelukanku, dan kugendong ia saat ini.
"Bunda juga kangen sekali dengan Irsya, maaf kemarin bunda jarang main karna rumah Irsya-kan sekarang jauh ... " ujarku sambil terus kulayangkan ciumanku pada bocah kecil yang pernah sangat dekat denganku tersebut.
"Sebentar lagi rumah Bunda juga akan dekat Irsya, nanti kalian bisa sering berkunjung," sela mas Dimas terhadap ucapanku.
"Barakalloh saudariku, senang rasanya melihat kalian, terbukti tidak ada yang tidak mungkin jika Alloh berkehendak. Walau waktu sempat memisahkan kalian, kini Alloh mempersatukannya," peluk Kak Fida kepadaku, lagi-lagi untaian katanya selalu mampu menyentuhku.
"Terima kasih selalu bersamaku selama ini, Kak," ujarku kepada sahabat yang sudah seperti Kakak untukku.
Kami berduapun tampak menangis, mengingat perjuanganku hingga memperoleh cinta kembali dan menemukan orang yang berani memperjuangkanku.
"Sudah Sayang, kau membuat mempelai wanita menangis. Hentikan tangisan kalian!! Oya, aku tak melihat Mayra Dim," ujar mas Fahmi kepada aku dan Kak Fida.
"Karena sejak pagi gadis kecilku itu sudah ikut sibuk, sekarang ia sudah tertidur Fah," jawab mas Dimas.
__ADS_1
"Baiklah kami turun, antrian sudah panjang ternyata di belakang," ujar mas Fahmi lagi.
Kamipun mengangguk bersamaan.
Kami terus menyalimi tamu saat ini, hingga di barisan belakang tampak keluarga kecil yang sangat manis. Sang wanita tampak mengenal mas Dimas, mereka saling tersenyum dikejauhan. Dan kini keluarga kecil itu sampai dihadapan kami.
"Selamat Mas, inikah wanita yang pernah kau ceritakan? Dan kini kau bersanding dengannya?" sang wanita tampak melipat tangan sebagai salamnya dan kini ia tampak berbincang dengan mas Dimasku.
Mas Dimaspun mengangguk.
"Aku terharu dengan perjuangan cinta kalian, sebagaimana aku pernah merasakannya pula. Selamat Mas, semoga ini menjadi pernikahanmu yang terakhir dan hanya dapat dipisahkan oleh maut," ujar sang wanita kearahku dan mas dimas, sebelum akhirnya ia kemudian bersalaman dan memelukku sangat hangat.
Tampak pula sang suami sangat ramah tersenyum kepada kami, ia tampak manis menggendong putra kecil dengan wajah yang tak membuang sedikitpun ketampanan sang ayah.
Merekapun tampak turun saat ini.
Aku yang merasa asing menanyakan sosok wanita tersebut kepada mas Dimasku.
"Siapa Dia Mas? Sangat cantik dan anggun?" ujarku.
"Namanya Nara, kami bertemu 2 tahun lalu tak sengaja di rumah sakit. Waktu itu aku sedang menunggu Ibu yang sedang menjalani operasi pemasangan ring di pembuluh jantungnya. Dan aku bertemu dengan wanita tersebut. Saat itu suaminya sedang koma akibat kecelakaan, dan iapun baru saja melahirkan. Wanita yang kuat dan hebat. Ia terus menunggu suaminya saat tak sadarkan diri, Ia sempat bercerita bahwa suaminya kini adalah orang yang pernah menghancurkan mimpinya," ujar mas Dimas yang tiba-tiba terdiam.
"Maksud Mas?" ucapku semakin penasaran dengan kisah wanita tersebut.
"Iya harusnya menikah dengan sahabat suaminya, tapi sang suami merenggut kehormatan Nara menjelang pernikahannya, Iapun harus menjalani takdir bersama pria yang telah menodainya. Ia tidak bisa menghindar, sebab janin sudah tumbuh di rahimnya saat itu. Dan semua akibat hubungan yang sama sekali tak diinginkannya."
"Siapa yang salah disana Mas?" tanyaku ingin mendengar pendapat Mas Dimas atas hal yang menimpa wanita bernama Nara tersebut.
"Saat mendengar awal kisah Nara, jujur aku mempersalahkan Yoga, orang yang menodainya.Tapi kemudian, saat Nara bercerita tentang penyesalan sang suami, ketulusan serta kesabarannya dalam merebut hatinya, akupun ikut tersentuh. Kurasa, Cinta yang membutakan Yoga hingga melakukan hal bodoh saat itu tak bisa di salahkan. Cintanya pada Nara tak pernah salah, prilakunya untuk mendapatkannya-lah yang salah. Tapi ia telah mendapat balasan dengan kecelakaan tersebut. Dibalik balasan yang justru telah membalikkan hati Nara untuk tulus memaafkan dan menerima sang suami setelahnya, begitulah ceritanya Sayang," jelas Mas Dimas.
"Ternyata banyak perjuangan cinta lain, selain kisah kita ya Mas," ucapku.
"Yap. Cerita Nara pula, yang membuatku saat itu berfikir, bahwa tak ada yang tidak mungkin terjadi. Dan di sudut hatiku, aku berharap selalu suatu saat akan menemukanmu kembali, walau fikiran buruk kerap muncul menghentikan harapku, kehawatiran jika kau telah berbahagia bersama yang lain. Dan nyatanya semua tidak terjadi, kau dengan perjuangan hidupmu masih sendiri dan waktu mempertemukan kita kembali, Lyra," mas Dimas tiba-tiba meraih pinggangku, hendak memelukku.
"Sadarlah Mas, kita dimuka umum," lirihku.
"Ohh, maaf. Mas hampir saja lupa kehadiran yang lain. Bagaimana tidak, menatap wajahmu selalu mengalihkan segala hal disekitar mas," ujar mas dimas berdalih kini.
"Gombal," lirihku.
Mas dimas seketika tersenyum ...
🌷🌷🌷
🌻Bab ini masih berisi colab yaa.. Saat ini Colab antara takdir Cinta Lyra dengan Cinta Nara Karya Sahabat NWA Aisha Bella, Thor yang satu ini juga lebih senior dari Bubu. Kalian bisa ikut mampir ke karya beliau😊
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1