Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Terkaan Shifaa


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


●Menuju ending😊


●Lanjuutt yaa👋☺


🌷🌷🌷


Ada apa dengan istriku, belum lama ia marah, dan kini ia terlihat tersenyum, tapi biarkanlah ... walau hanya boleh menatapmu dikejauhan, paling tidak Mas masih bisa melihat senyummu, batin Dimas.



🌻***Dimas*** ...



**Pukul 16:05**



"Mass dimana?" suara adik perempuanku diujung terfon yang tampak panik mengagetkanku.



"Masih di Dago, ada apa tumben telfon Mas," ujarku lagi.



"Bisa pulang sekarang gak?"



"Sebentar lagi ya, memang ada apa?" tanyaku seraya setengah otakku sibuk dengan angka-angka di laptopku.



"Mbak sakit," tegas Shifa.



"Mbak Lyra??"



"Ya iya, masak mbak Dinar," dan terkekeh Shifa atas tanya Masnya.



"Sakit apa?"



"Emang aku dokter. Mana aku tau, mbak muntah-muntah terus badannya sampai lemes, hamil kali," ceplos Shifaa sekena diotaknya.



"Hahh benarkah. Alhamdulillah ...."



"Jangan seneng dulu Mas belum tentu, aku cuma nebak soalnya lihat mbak muntah-muntah inget mas waktu muntah-muntah pas mbak hamil," terang Shifaa.



"Oke mas pulang sekarang."



"Katanya belum bisa pulang?"



"Udah bisa sekarang," terkekeh Dimas.



*Dasar, kalau soal mbak Lyra pasti cepet. Kalau aku yang minta tolong banyak deh alasannya*, batin Shifaa.


__ADS_1


🌻Lyra ...


Entah mengapa hari ini aku terus mual terhadap bau apapun, dan makanan susah sekali masuk ketubuhku. Selalu berbalik lagi yang membuat tubuhku sangat lemah kini.


Pukul 16:30, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan terkagetku melihat sosok yang telah kembali dan berdiri mematung disana.


"Mass, kau sudah pulang?" lirihku heran.


Dan kulihat mas Dimas mendekatiku kini,


Oupph ... seketika muallah aku saat parfum mas Dimas tercium hidungku. Akupun seketika masuk ke kamar mandi, merasa sangat mual seperti akan ada yang keluar. Walau nyatanya hanya air liur yang tampak dilantai.


"Sayangg, kau tidak apa-apa?"


Kudorong seketika tubuh mas Dimas dengan tanganku, karena mulutku masih mual.


"Sayang ...," dan mas Dimas sangat kaget melihat reaksiku.


"Bau parfum, Mas, jangan dekat-dekat!!"


Dan Mas Dimas sepertinya memahami maksud ucapanku, seketika ia menjauh tampak mendekati lemari dan mengganti pakaian tanpa pafrum di sana. Dan mas Dimas mendekatiku lagi yang telah berdiri di muka kamar mandi saat ini.


"Mas sudah ganti baju tidak ada bau parfum lagi," ucap mas Dimas dengan penuh semangat seraya berusaha merangkul bahuku.


"Mass, bau tubuh Mass. Mas mandi dulu sana," ujarku.


"Benarkah? tidak bau kok," lirih terdengar suara mas Dimas setelah beberapa kali mengendus aroma tubuhnya. Tapi ia tetap masuk ke kamar mandi dan terdengar membersihkan diri disana.


Kubaringkan tubuhku namun tiba-tiba ketukan terus terdengar dari balik pintu disertai tangisan Dirga.


Segera kuberanjak membuka pintu dan kuraih Dirga dalam pelukanku, sepertinya ia mengantuk, batinku. Mbak Dinarpun segera pergi setelahnya.


Dengan bersandar disisi ranjang, kususui kini Dirga dalam pelukanku, walau lemas tubuhku akibat mual yang kurasa seharian ini. Tapi hak Dirga harus tetap diberikan. Dan usianya yang bertambah besar membuat hisapannya semakin kuat bahkan ia kerap menggigit kini, sebab gusinya gatal atau ia sedang gemas.


Dan beberapa waktu belakangan ini entah mengapa pucuk ASIku seakan sensitif, membuatku harus menahan sakit saat Dirga menyesapnya.


Kulihat mas Dimas keluar kamar mandi saat ini, dengan celana boxer dan kaos berwarna merah di tubuhnya, ia tampak berusaha mendekatiku lagi.


"Masss ...."


"Apa lagi?"


"Hahh, jadi mas harus ganti?"


Kuanggukan kepalaku, "Itu Mas, yang warna keunguan aku suka, soft," lirihku.


Ungu, inikah kaos waktu acara gathering dengan karyawan shop, karna kebanyakan karyawanku perempuan, akhirnya vooting wanita unggul dan kami harus menggunakan warna ungu hari itu, batinku teringat histori kaos ungu ini di lemariku.


"Kau tidak salah, kaos lain saja yaa?"


"Aku maunya mas pakai kaos ungu itu titik, atau aku akan menangis," ujarku.


"Oke .... oke, jangan menangis." Dan mas Dimas akhirnya menggunakan kaos berwarna ungu tersebut.


Ia tampak memperhatikanku menyusui Dirga saat ini.


"Kenapa meringis seperti itu?" heran mas Dimas.


"Sakit Mas," lirihku.


"Biasanya tidak kan?" ujar mas Dimas.


"Sejak semingguan ini sepertinya, payudar*ku sakit saat di mik Dirga ... eh Mas, kenapa pegang-pegang," heranku dengan yang dilakukan suamiku.


"Hanya semastikan sesuatu," ucap mas Dimas kini dan tiba-tiba menahan kepalaku dan mengecupnya.


"Masss ...."


"Setelah ini kita ke dokter!"


"Tapi aku tidak apa-apa Maas, hanya masuk angin saja," lirihku.


"Mas tidak sedang minta pendapatmu Sayang, mas memberi perintah, tanpa alasan, dan kau harus menurut, oke!!"


"Kenapa Mas jadi otoriter sih."


"Tolong jangan menolak, ini perhatian seorang suami pada istrinya," ujar mas Dimas kini.


"Baiklah," ucapku akhirnya.

__ADS_1


Maaf Mas berbohong, yang betul ... perhatian seorang ayah pada kemungkinan calon bayinya, batin mas Dimas.


"Mas tapi kita ajak Dirga ya?" ujarku kembali.


"Dirga biar di rumah bersama Shifaa."


"Tapi aku tidak punya stock ASI, kalau di pump alat sering sakit sekarang. Bagaimana jika Dirga haus?" lirihku.


"Baiklah kita bawa Dirga."




🌻***Dimas*** ...



Dan akhirnya Lyra mau kuajak ke dokter, entah mengapa kumerasa terkaan Shifaa benar, Lyra berbeda, emosinya tidak stabil, ia sering mual, payudar\*nya kencang, sensitif dan lebih berisi.



Dengan menggunakan kaos ungu sesuai keinginan Lyra, kami berdiri memasuki Rumah Sakit saat ini. Dirga masih tampak pulas dalam gendongan depanku.



Dan Rumah Sakit Daerah Bandung menjadi tujuanku, seperti halnya Dirga dan Diyara yang diperiksakan disini, aku ingin jika benar dugaanku Lyra hamil, bayiku nanti juga diperiksa dan dilahirkan disini seperti kakak-kakaknya.



Ruangan dengan plat ***Catrina, spOg*** di hadapan kami saat ini. Dan sejak datang Lyra tampak heran dan terus bertanya padaku.



"Mass, dokter Catrina kan dokter kandungan. Mengapa kita kesini?" ujar Lyraku entah sudah berapa kali ia menanyakan hal yang sama.



"Mass ... kau tidak ber-fikir aku se-dang ha-mil, kan?" tanya Lyraku kini.



"Bukan tidak mungkin bukan?" jawab menohok kuterima.



Mungkinkah seperti itu, iya aku memang bulan ini belum datang bulan, aku mual, ada perubahan pula di tubuhku. Ahh jika benar bayi ini hadir, mengapa ia harus ada disaat seperti ini, aku belum siap rasanya mengandung kembali, batinku.



"Kenapa termenung, jangan memikirkan banyak hal. Kita jalani ketetapan yang digariskan Alloh untuk kehidupan kita."



"Tapi Mass, sebulan lebih kita tak berhubungan," lirihku.



"Kau lupa, setelah mas kembali dari Malaysia, kita beberapa kali melakukannya, hingga kejadian di hotel itu. Bisa saja bukan?" lirih mas Dimas.



Setelah kufikirkan, kuhembuskan nafas panjangku, dan akupun mengangguk.



*Lyra Fariska* ...



Dan suster memanggilku kini.



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2