
🌻Cibitung Pukul 05.00
Babe jemputan telah sampai. Diberhentikannya bis yang ia kemudikan berhenti tepat di depanku berdiri.
Kulangkahkan kakiku masuk kedalam bis. Didalam bis tampak berbagai aktifitas tertangkap mataku, ada yang sudah terlelap dengan pulas, ada sedang mendengarkan lagu dengan handsfree di telinganya, ada yang asik berbincang dengan rekan di sebelahnya dan ada pula yang sedang menikmati pemandangan pagi melalui kaca jendela disisinya.
Biasanya aku termasuk yang terlelap dengan pulasnya. Namun pagi ini mataku tak mengantuk sedikitpun, berbagai hal memenuhi otakku.
Bagaimana jika di PT nanti aku berpapasan dengan mas Dimas? Apa yang harus kulakukan? Apakah lebih baik aku berpura tak melihatnya, tapi aku sungguh ingin melihatnya. Apakah ia masih tampak sedih? Atau malah sudah dengan mudah melupakanku? Mas Dimas ... tau kah kau aku disini terluka? Terluka melupakanmu, batinku
Kutersihir dengan hayal tentangmu, sampai bis jemputan ternyata telah sampai di pelataran PT kami.
🌻Pukul 05.40 saat ini ...
Bis jemputan telah berhenti, satu persatu dari kami turun. Bersegera menuju loker untuk mengganti seragam, ke kantin untuk sarapan. Baru setelahnya kami menuju line masing-masing menjalankan aktifitas produksi.
Tampak didepanku, Mbak Retno berdiri. Ia adalah leader pengganti Mbak Dewi yang sedang cuti saat ini. Mbak Retno tampak cekatan memimpin meeting pagi ini. Walau pertemuan dengan kami adalah yang pertama. Tak ada kata canggung untuknya. Ia menjelaskan planning produksi hari ini, mengingatkan kami untuk tetap fokus dalam bekerja, tidak banyak mengobrol dan tetap harus memakai jig serta mematuhi rule saat mengerjakan produk nanti.
Hingga di tengah meeting kami tiba-tiba terdengar dari pengeras suara memberitahukan bahwa seluruh Stage Inspector diminta berkumpul di Centre (tempat berkumpul para atasan biasanya untuk meeting). Sementara untuk member yang lain tetap dalam barisan meeting bersama leader line masing-masing. Diberitahukan pula agar setiap leader menjaga semua member untuk tidak berisik dan tetap tenang.
Mendengar Stage kami dipanggil, aku, Kak Fida dan Imas segera maju dan bergerak menuju Centre. Tampak di depan kami para Senior Leader, manager serta engineering berkumpul disana..
Spontan mataku terarah pada 3 orang laki-laki yang berdiri menggunakan topi putih disana. Dan benar saja ada Mas Dimas diantaranya. Mata mas Dimas terlihat menelusuri seluruh member stage Inspector yang berbaris beberapa meter dari tempatnya berdiri, hingga mata itu akhirnya menangkap kehadiranku disana. Matanya menatapku dari kejauhan. seakan berbicara, aku menemukanmu Lyra. Kutundukkan segera wajahku, takkan kubiarkan gejolak hati ini menguasaiku.
Seorang Senior Leader terlihat maju kedepan, memimpin meeting kami. Ia tampak dengan wibawanya menjelaskan alasan dikumpulkannya kami. Ia menjelaskan pula tentang permasalahan yang sedang terjadi bahwa kemarin dari pihak managemen mendapatkan email dari customer berupa kritik terhadap produk yang ia beli ternyata saat digunakan terdengar bunyi yang sangat berisik, akhirnya produk di datangkan. Setelah di cek ternyata bagian sisi gear ada sedikit patah, yang membuat motor mesin bersuara saat berputar.
"Kita tidak tahu bagaimana gear dalam produk bisa patah. Tapi tugas kita disini adalah memastikan bahwa produk yang kita buat tidak ada kerusakan sebelum di packing," ujar Mbak Rahma selaku Senior Leader di departemen kami.
__ADS_1
"Kalian lihat didepan kalian sudah ada 3 table, kami akan memanggil 3 orang dari setiap line untuk menuju table-table didepan disana. Disana kalian akan di ajarkan oleh para engineering mengenai penambahan pengecekan di stage kalian.Tolong benar-benar kalian perhatikan saat engineering sedang menerangkan! Kalian mengerti?" ujar mbak Rahma lagi.
"Mengerti mbak, " jawab kami serempak.
Duhhh ... jangan sampai Mas Dimas yang mentraining line kami, batinku.
Satu persatu line di panggil kedepan. Hingga tiba giliran line kami akhirnya diminta maju.
"Line 60. Kalian maju ke table Pak Dimas!!" ujar mbak Rahma.
Ya Alloh ... mengapa yang terjadi justru kebalikan dari yang diharapkan? batinku.
Dengan tenang dan cekatan mas Dimas di hadapanku mempraktekkan dan menjelaskan penambahan cek yang harus kami lakukan.
Melihatnya saat ini Mas Dimas terlihat pintar dan berwibawa, sangat berbeda dengan kondisi malam itu di rumahku, saat itu ia sangat rapuh. Astagfirulloh ... lagi-lagi aku memikirkannya, batinku.
Setelah selesai menjelaskan, Mas Dimas meminta satu persatu dari kami mempraktekan yang telah ia ajari. Hingga tiba saatku, Mas Dimas berada tepat di belakangku kini, memperhatikan yang kulakukan. Dengan berusaha tenang kupraktekan setiap detail yang mas Dimas ajarkan.
"Okee .... Kalian smua sudah benar, sebelum saya akhiri. Apa ada yang masih bingung dan ingin di tanyakan?" tanya Mas Dimas dengan sesekali melirik padaku.
"Jika tidak ada, kalian bisa kembali ke line dan melanjutkan produksi," ucapnya kembali mengakhiri pertemuan kami.
🌻Pukul 12.00 Jam makan siang.
Setelah bel istirahat berbunyi, aku dan Kak Fida segera menuju kantin. Setelah mengambil nampan berisi makanan, kak Fida yang berjalan di depanku segera mendapat tempat duduk kosong untuk kami. Kamipun duduk dan langsung melahap makanan kami.
Tiba-tiba pandanganku terhenti saat kudapati 2 sosok yang sedang makan bersama. Mas Dimas dan Mbak Friss mereka duduk tepat 3 meter didepan kami saat itu. Harus nya aku bahagia karena itu berarti mas Dimas mulai membuka hati untuk mbak Friss namun sebaliknya dadaku terasa sesak melihat keduanya. Kak Fida yang menyadari keterpakuanku segera menelusuri arah pandangku, dan ia langsung mengerti ...
__ADS_1
"Gak usah dilihat lagi!!" ujar kak Fida tiba-tiba.
Kak Fida ... kenapa ia berbicara bgitu? apa Ia tau? Padahal aku belum pernah menceritakan tentangku dan Mas Dimas padanya, batinku.
"Iya gw tau," ujarnya lagi tiba-tiba seolah menjawab tanya yang kubisikkan dalam hatiku.
"Maksud Kakak?" tanyaku heran.
"Iya gw tau hubungan loe sama Pak Dimas," ujar kak Fida terang-terangan kearahku.
"Sejak kapan kak Fida tau??" tanyaku lagi.
"Sejak lo mulai sering cari alasan gak makan siang bareng gw, dan gak sengaja gw juga ngelihat lo sama Pak Dimas di kantin Ly," ujar kak Fida.
"Waktu itu Kak Fida semangat banget nyuruh aku biar mau dikenalin sama Firgie. Apa jangan-jangan saat itu kak Fida udah tau hubungan Mas Dimas dan mbak Friss?" tanyaku serius.
"Gw semangat nyuruh lo, karna menurut gw Pak Dimas itu levelnya jauh dari kita Ly, gw takut lo terluka. Gw sama kayak lo baru tau di pesta kemaren kalo ternyata dia udah tunangan sama mbak Friss. Gw kira sebelumnya mbak Friss yang ngejar dia. Ternyata sama aja kayak cowo lain, buaya. Udah punya cewe masih deketin lo Ly," jawab kak Fida penuh emosi.
"Tapi Kak, Mas Dimas gak seperti itu. Dia juga Kor ...."
"Ngpain sih lo Ly masih belain tuh cowo, udah disakitin juga. Noh lo liat, cowo yang lo bela dia lagi asik sama mbak Friss," ujar kak Fida memotong ucapanku.
"Kak ... mas Dimas gak begitu."
"Udah ah Ly gw duluan mau sholat," ujar Kak Fida berlalu meninggalkanku.
Bagaimana aku menjelaskan padamu kak kalau Mas Dimas juga korban. Dan kami sama-sama terluka. Kak Fida semoga suatu saat kesalahpahaman ini berlalu. Bagaimanapun aku juga tak ingin mas Dimas disudutkan, batinku.
__ADS_1
●●●●
🌻Happy reading❤❤