
Lanjuutt yaa👋☺..
●Fans Rendi jangan kecewa yaa, Rendi belum jadi muncul. Mas Dimas gak mau minta bantuan Rendi😁😁
🌷🌷🌷
🌻POV DIMAS
"Mas akan kembali, dan menyelamatkan Mayra. Kau harus menjaga kondisimu dan kedua bayi kita..!!!"
●●●
"Apakah darah Bapak A?"
"Apakah darah Ibu A?"
"Permisi, ada yang memiliki darah A kah disini?"
"Maaf saya mengganggu, putri saya sedang membutuhkan tranfusi golongan darah A, bisakah Bapak membantu saya..!!!"
"Tolong, adalah yang sudi mendonorkan darahnya untuk putri saya??"
●●
Aku terus berjalan, melewati tiap koridor Rumah Sakit ... pasti masih ada hati yang terketuk.
Lagi-lagi kudekati para penunggu pasien, tempat tunggu antrian obat, ruang tunggu poli, serta setiap orang yang kutemui..
Namun masih belum ada yang merespon. Ada yang diam, atau pura-pura tak mendengar atau sedang sibuk dengan perihnya sendiri lantaran kerabat mereka juga sedang sakit.
Aku harus mendapatkan donor untuk Mayra. Tidak mungkin semua hati tertutup, pasti ada ... dan aku pasti menemukan sosok berjiwa sosial yang sudi menolongku..
°°Dan Akhhh ...
Kenapa disaat seperti ini dadaku harus sakit ...
Bismillah ...
Lantai 1 sudah. Okee ... sekarang lantai 2 ...
•
•
•
•
Hahh sudah 4 lantai kudatangi, masih belum kutemui sosok berjiwa sosial yang tergerak hatinya ...
Masih ada 1 lantai lagi. Ruang ICU tertera dalam keterangan disisi lift yang kunaiki.
Bismillah ...
"Permisi, ada yang memiliki darah A kah disini?"
"Maaf saya mengganggu, putri kecil saya sedang membutuhkan tranfusi golongan darah A, bisakah Mas membantu saya..!!!"
"Tolong, adalah yang sudi mendonorkan darahnya untuk putri saya??"
Selesai sudah kuhampiri ruang tunggu ICU saat ini, namun mereka tak jua terketuk hatinya..
Kududukkan diriku kini di suatu sudut dengan kursi kosongnya, kujatuhkan kepalaku bertumpu pada lutut dengan 1 lenganku sebagai sandaran dan 1 lenganku lagi menahan sesak di dadaku.
Bagaimana ini ya Robb ...
Bagaimana aku bisa menyelamatkan putriku,
Tolonglah hamba ya Robb ...
Hanya kemurahanMU yang mampu mempermudah usaha hamba ...
__ADS_1
Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan menyapu bahuku,
"Permisi Mas ...,"
"Iya," jawabku..
"Tadi sayup saya dengar dari dalam toilet, Mas mencari pendonor bergolongan darah A?"
"Iya betul Mas," jawabku antusias.
"Saya bergolongan darah A, saya siap mendonorkan darah saya."
Seketika kurangkul pria muda kisaran usia 20 tahun dengan logat jawanya tersebut. "Alhamdulillah, terima kasih Mas," ujarku.
"Maaf, perkenalkan saya Dimas,"
"Bumi."
•
•
Dan kami berjalan kini menuju ruang operasi berada, karena operasi baru bisa di lakukan setelah kami mendapat pendonor.
"Maaf, siapa yang sakit mas Dimas?"
"Putri saya, terserempet motor tadi siang usai pulang sekolah. Terdapat luka terbuka dibagian kepala yang mengeluarkan darah cukup banyak, sebelumnya terima kasih Bumi. Alhamdulillah saya bertemu orang berhati mulia sepertimu," lirihku dalam obrolan kami menuju ruang operasi berada.
"Santai Mas, kita makhluk sosial suatu saat kita pasti juga butuh uluran tangan orang lain."
Akupun mengangguk mengiyakan.
●●●
"Alhamdulillah kau sudah datang Dimas, Suster beberapa kali menanyakan pendonor untuk Mayra."
"Alhamdulillah Bu, Dimas sudah mendapatkan lelaki yang bersedia mendonorkan darahnya untuk menolong Mayra."
Mas Dimas langsung membawa pemuda tersebut ke ruangan yang di arahkan suster.
"Lyra mana Bu?" tanya mas Dimas tak menangkap kehadiranku.
"Lyra sedang ke kantin, cari camilan katanya."
"Ohh ..."
"Alhamdulillah, dimana kau bertemu pemuda baik tadi Dim?"
"Di lantai 5 ruang ICU Bu, namanya Bumi. Alhamdulillah Alloh mengirim penolong untuk Mayra."
"Iya Alhamdulillah, Alloh melihat kerasnya usahamu Nak. Dim, masalah Friss ...."
"Stop Bu!!! Dimas tidak ingin membicarakan wanita itu..!! Kalau ibu masih tetap ingin menampung Friss di rumah kita. Dimas tidak akan menginjakkan kaki Dimas lagi disana."
Dan ibu hanya bisa membuang nafas mendengar penuturan putranya yang merasa tersayat kembali dengan kenyataan yang sungguh diluar nalarnya.
"Dimas, kondisimu baik kan? ibu lihat kau terus menyentuh dadamu sejak tadi,"
Dan mas Dimas hanya tersenyum.
"Dimas baik Buu."
Terlihat disana pemuda bernama Bumi telah keluar dari ruang transfusi darah.
"Saya langsung saja Mas, masih ada hal yang harus saya lakukan," ujar sang pemuda tampak santun dari bahasa tubuhnya.
"Terima kasih banyak Bum."
"Sama-sama Mas, mari Buk. Assalamu'alaikumm ...."
"Wa'alaikumsalamm ...."
__ADS_1
Sudah ganteng, sopan pula, fikir dalam benak ibu.
"Kau sudah datang Mas??" aku yang baru dari kantin merasa bahagia menangkap wajah suamiku kembali.
"Kau lapar? sini duduk ... beli apa ini, baby twins ayah makan roti dulu sementara yaa, ayo buka mulutmu..!! Mas ingin menyuapi Dirga dan Diyara."
"Tunggu, bagaimana dengan pendonor untuk Mayra mas??"
"Tenang Sayang, Mas sudah dapat orangnya. Sekarang Mayra sedang ditangani. Mayra insya Alloh akan sembuh."
"Mas, aku takut. Bagaimana jika ..."
"Heiii stop!! Jangan bicara mendahului takdir, dan jangan pula menangis ... Lyra percaya Mas kan, Mas akan lakukan apapun untuk kesembuhan Mayra. Sekarang buka mulutmu, kasihan putra-putri kita menahan lapar. A, buka mulutmu yang besar sayang..!!!."
"Aku akan makan sendiri saja Mas, malu dilihat Ibu."
"Kenapa malu.. Ayo makan ...."
Dan akupun akhirnya membuka mulutku, menerima suap demi suapan roti yang diarahkan mas Dimas kemulutku. Dan sudah 2 roti masuk kemulutku. "Sudah kenyang Mas," lirihku.
"Yakin??"
Akupun mengangguk.
"Masih 1 roti aku suapi Mas,"
"Tidak, buat Lyra lagi nanti, mas belum lapar," ujar mas Dimas seraya tersenyum kearahku.
Dan kulihat mas Dimas terus mondar mandir di depan ruang operasi saat ini. Sedang ibu mengambil posisi duduk disisiku dengan tangannya terus menyapu bahuku.
1 jam berlalu ...
•
•
•
Tampak beberapa suster mendorong ranjang Mayra keluar ruang operasi menuju ruang perawatan.
"Mayra ...." panggilku lirih.
"Sabar Lyra ...." ujar ibu seraya menyapu bahuku.
Kamipun mengikuti kemana Mayra diarahkan.
Ruangan kelas 1 menjadi ruang perawatan untuk Mayra. Namun kami belum diizinkan masuk.
Hingga seorang perawat tampak keluar dari ruangan, "Kondisi pasien masih belum sadar, bisa masuk 2 orang secara bergantian, jangan berisik dan membuat gaduh, segera tekan tombol diatas ranjang jika terjadi sesuatu pada pasien."
Dan kamipun mengangguk mendengar pernyataan sang perawat. Aku dan Mas Dimas masuk lebih dulu saat ini.
Dan tangisku seketika tumpah menatap putri kecilku terbaring tak berdaya dengan kepala dan tangan yang tampak di perban, terdapat pula beberapa luka lecet di wajah dan kakinya.
"Mass ...," lirihku seketika mas Dimas memelukku.
"Jangan menangis, kita do'akan Mayra cepat pulih yaa..!!!"
Akupun mengangguk.
Kami duduk di kursi di sisi ranjang Mayra saat ini, kugenggam tangan mungil putri kecilku.
"Sayang, Maafkan Bunda tadi tidak menjemput Mayra. Maaf Sayang ... Bunda sekarang disini Nak, disisi Mayra, ada ayah dan adik bayi juga. Mayra harus cepat pulih. Mayra mau main bersama adik bayi lagi kan?" bisikku sambil terus kukecup wajah putri kecilku. Dan mas Dimas terus mengusap bahuku.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
🌻Yang mau kenal dengan mas Bumi ada di sini yaa😊
__ADS_1