
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Masih Flash Back :
Diteras depan tampak 2 sabahat sedang berbincang meluapkan rindu.
"Jadi gimana, apa kabarmu 8 tahun ini Fah? selelah wisuda dulu aku benar-benar kehilangan kontakmu," ujar Dimas.
"Iya, aku pindah ke Jogya tempat nenekku. Nenekku sakit jadi ku putuskan menjaganya hingga pulih. Ponselku hilang di kereta, so semua kontak rekanku raib termasuk dirimu." jawabnya.
"Kau sendiri bagaimana? kulihat kau sudah sukses sekarang Dim," ujar Fahmi.
"Sukses ... haa.. (Dimas tersenyum). Terima kasih kalau begitu anggapanmu Fah?" ujar Dimas.
"Aku penasaran dengan Ibu Mayra, apa yang terjadi pada kalian? Kenapa sampai mengambil jalan perpisahan, bukankah kasihan putri kalian yang menjadi korban?."
"Andai ibunya berfikir seperti itu."
"Maksudmu?"
"Sungguh kau ingin mendengar kisahku Fah?"
"Jika kau tak keberatan," ucap Fahmi.
"Aku jadi teringat dikampus dulu, aku selalu tak bisa bohong padamu Fah." Dimas lagi-lagi tersenyum.
"Yaa, dan tak ada hal lain yang kau ceritakan selain ketidaknyamanan-mu pada wanita-wanita yang selalu mengejarmu dulu di kampus," Haa ... keduanya tertawa bersama saat ini.
"Yahh, kuakui memang tampang dan kepintaranmu sangat menjual Dim. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan sejak dulu. Kenapa kau tidak menanggapi mereka? Setidaknya kau bisa pilih 1 untuk menjadi kekasihmu, karna sampai lulus aku tahu kau bahkan tak pernah berkencan dengan siapapun," ucap Fahmi.
"Sejak dulu aku sudah tidak bisa memilih Fah."
"Maksudmu?"
"Aku memang tidak pembicarakan ini padamu dulu, sekarang aku akan menceritakannya. Kau tahu Fah, sejak SMA aku sudah ditunangkan, jadi untuk apa aku memberi harapan palsu pada mereka," ucap Dimas.
"Dengan ibu Mayra kah?"
Dimas tampak mengangguk.
"Lalu, lanjutkan ceritamu Bro," ujar Fahmi sangat penasaran.
"Keluargaku memliki hutang budi dengan keluarga ibu Mayra, karna ibu Mayra saat itu sangat mnyukaiku, akhirnya perjodohanpun ditetapkan."
"Oh Dimas, malangnya kau. Kukira di jaman sekarang sudah tak ada lagi perjodohan ternyata tidak untukmu."
"Begitulah."
"Tapi kau mencintai ibu Mayra kan?" Fahmi semakin menyelidik.
"Kau percaya, jika kukatakan, aku menikah tanpa mencintainya?" lirih Dimas.
"Benarkah seperti itu?"
"Itulah yang sesungguhnya, hatiku tidak pada ibu Mayra. Tapi sudah kuserahkan pada seorang gadis ... *Dimas menghentikan ucapannya,"
"Kau memiliki kekasih, walau kau tahu kau sudah ditunangkan? bagaimana bisa?"
Dimas mengangguk..
"Itulah kesalahan terbesarku Fah, aku menyakiti gadis yang kucintai."
"Lalu bagaimna pernikahan kalian? kenapa sampai berpisah?" ucap Fahmi.
"Setelah menikah kami pindah ke Bandung. Aku berusaha keras mencintai ibu Mayra saat itu dan kami menjalani pernikahan normal seperti yang lain. Hingga sampai ibu Mayra hamil dan kemudian melahirkan, semuanyapun masih normal. Ketika Mayra berusia 6 bulan, ibu Mayra meminta izin untuk bekerja kembali, bosan dengan rutinitas katanya. Iapun berjanji tidak meninggalkan perannya terhadap ibu dan istri, akhirnya akupun mengizinkannya."
__ADS_1
"Lalu ...."
"2 bulan bekerja ibu Mayra berubah, ia sering pulang malam, dan yang lebih membuatku marah. Hijab yang ia kenakan sudah dilepasnya. Memang ibu Mayra menggunakan hijab atas kemauanku bukan inginnya sendiri, dan pakaian yang dikenakannyapun kembali seperti sebelum aku menikahinya, ibu Mayra menyukai pakaian Sexi yang membuat bergidik kaum adam. Semakin aku menasehatinya nadanya semakin meninggi, entah apa yang merubah ibu Mayra saat itu."
"Apa yang merubahnya??" Fahmi semakin penasaran.
"Aku mulai mengintai istriku sendiri, dan betapa kaget ternyata di depan mataku istriku bergelayut mesra dengan rekan kerjanya. Mereka pergi setiap pulang kerja bersama."
"Dimas ...." lirih Fahmi tampak menepuk bahu sahabatnya untuk menyemangatinya.
"Dan pada malam itu aku benar-benar sudah sangat letih dengan kelakuan Wanita yang berstatus istriku itu. Kuikuti ia hingga masuk ke sebuah hotel bersama selingkuhannya, aku mendatangi kamarnya, pria itu yang membuka kamar dikiranya aku pelayan saat itu. Aku menghambur masuk ke dalam, dan syok sekali saat kudapati istriku diranjang hanya bertutup sebuah selimut ... " Dimas tampak menghentikan ceritanya.
"Ia memohon agar aku tak menceraikannya, tapi maaf dengan pemandangan yang telah kusaksikan, aku sudah sangat jijik menatap istriku."
"Ia mulai berubah dan berusaha mengambil hatiku kembali, dengan mempertimbangkan Mayra yang masih butuh tangan seorang ibu. Aku memberinya kesempatan, walau aku sudah tak bisa seranjang dengannya. Selang 3 bulan, ia kembali lagi berulah dan ternyata selama itu ia masih berkomunikasi dengan selingkuhannya di belakangku. Dan maaf, aku sudah tidak bisa memaafkannya. Kuputuskan untuk menceraikannya."
"Maaf aku membuka lukamu Dim," ujar Fahmi.
"Tidak apa-apa. Luka itu sudah mengering kau tenang saja," ucap Dimas sambil tersenyum.
"Kau percaya karma Fah?"
"Kenapa kau tiba-tiba membahas itu?."
"Sering ku berfikir, apa semua yang terjadi padaku, karena aku pernah menyakiti hati seorang gadis sebelumnya," lirih Dimas.
"Memang siapa wanita yang pernah kau sakiti?"
"Seorang teman kerjaku dulu di PT, aku menjalin hubungan dengannya walau saat itu kutahu hubungan kami tak mungkin. Karna aku sudah di tunangkan."
"Dimana gadis itu sekarang?"
"Entah, mungkin ia sudah berbahagia saat ini."
"Kau masih memikirkannnya?"
"Kau tahu Fah, aku benar-benar berani menjalin hubungan hanya dengannya, ia benar-benar sudah menarik hatiku sejak pertama kali bertemu, gadis itu sangat polos. Dan segalanya mengalir begitu saja."
Dimas tersenyum.
"Kenapa kau tidak mencarinya? mungkin saja ia juga belum menikah. Dan kalian bisa bersatu."
"Angan-angan yang indah," Dimas kembali tersenyum.
"Aku tidak berani mengusiknya kembali setelah rasa sakit yang ku tinggalkan Fah." ujar Dimas.
"Tapi andai gadis itu masih sendiri, kau masih ingin bersamanya kah?"
Dimas hanya tersenyum,
"Aku bahkan tidak tahu dimana ia berada saat ini."
"Ya, kau betul kita tidak boleh berangan-angan ... Oya, setelah kau pindah ke Bekasi bagaimana bisnismu di Bandung?"
"Ada orang kepercayaanku disana yang mengurusnya. Akupun sedang berencana membuka beberapa outlet di Bekasi."
"Apa produkmu memang?"
"Aku penjual roti saat ini Fam, aneka roti manis, bolu talas juga milk tea, yang tersebar di beberapa outlet di Bandung."
"Wahh keren temanku benar-benar pengusaha muda, lalu kemana ilmu Tehnik Industri yang kau pelajari dulu di kampus?"
"Haaa ... entah?" keduanya sama-sama tersenyum saat ini.
"Kau sendiri apa pekerjaanmu Fah?"
"Aku masih kuli di perusahaan korea, aku menjadi IT di PTnya."
"Itupun bagus teman ..."
__ADS_1
"Oya, bisa kulihat brosur perumahan yang kau beritahu tempo hari di telepon Fah."
"Oke tunggu sebentar kuambilkan."
●●
"Heiii, istriku, apa yang kau lakukan disini?" ucap Fahmi berbisik memergoki sang istri yang sedang berdiri di balik jendela.
Iapun menarik lengan istrinya kedalam.
"Ayo jujur apa yang kau lakukan disana tadi? jangan bilang kau menguping pembicaraan kami Fid," selidik Fahmi.
"Heee, maafkan aku mas."
"Apa yang ingin kau ketahui sebetulnya, ayo katakan? Apa kau mulai curiga pada suamimu Sayang?" goda Fahmi.
"Ishh, kau ini mas. Nanti setelah temanmu pulang aku akan memberitahumu sesuatu."
"Okelah, aku lanjut menemani Dimas ya!"
"Oya, jangan mengintip lagi! itu tidak bagus, oke!!"
"Iya Mass," lirih kak Fida.
Setelah mengambil brosur segera kembali ke teras.
Setelah beberapa saat melihat..
"Aku menyukai design dan pola rumahnya, setidaknya tidak banyak perombakan kedepannya," ujar Dimas.
"Kau kabari saja waktu luangmu, aku akan mengajakmu meninjau lokasi," ucap Fahmi.
"Oya, sudah jam berapa ini?? kita asik berbincang sampai lupa waktu."
"Baru jam 9 Dim" ujar Fahmi.
"Kita lanjut mengobrol lain kali, rumah orang tuaku di Cikarang, lumayan perjalanan kami. Apalagi aku bersama Mayra, udara malam akan tidak baik untuknya. Terima kasih untuk malam ini Fah, aku senang keluargamu sangat hangat."
"Aku yang berterima kasih orang sibuk sepertimu bisa main ke tempatku," ucap Fahmi.
"Huss, kau bisa saja."
"Sebentar aku panggilkan Mayra-mu."
Beberapa saat kemudian..
Mayra tampak keluar bersama Fida dan Irsya ...
"Apa kita sudah halus pulang ayah?" ucap Mayra.
"Iya, sayang. Ini sudah malam, lain kali kita bisa main lagi."
"Benal ya Ayah."
"Iya Nak, ayo berpamitan dengan om dan tante."
Mayrapun mencium tangan Tante Fida dan Om Fahmi. Diikuti Irsya yang mencium tangan Om Dimas..
"Byee Mayla," ucap Irsya.
"Byeee Isyaaa," ucap Mayra sambil melambaikan tangannya.
Merekapun naik ke mobil dan tak lama bayang tamu merekapun telah menghilang..
Dan disana, Fahmi terus menghimpit Fida ...
🌻Ayo sekarang jelaskan, mengapa kau mengintip kami tadi?
●●●●
__ADS_1
Happy Reading❤❤