Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Perjalanan Pulang


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻Setelah rasa sakit yang mas pernah beri, mungkin hatimu saat ini sudah bukan milik mas lagi. Tapi mas melihat luka dimatamu, entah apa yang telah Firgie lakukan padamu. Tapi mas berjanji akan mengobati lukamu Ly, yang terpenting kamu berada disisi Mas, itu sudah membuat mas senang, batin mas Dimas.


🏡🏡🏡


🌻13:30 MOBIL MAS DIMAS


Mataku terpana menatap pemandangan disepanjang jalan yang kami lewati saat ini. Berbagai macam orang dengan berbagai aktivitas dan profesi tertangkap mataku. Setiap orang berpeluh mengumpul rupiah demi memenuhi kebutuhan hidupnya.


Hingga kemudian kurasakan terhempasnya kekanan dan kekiri kepala gadis kecil yang duduk dalam pangkuanku, segera kubalikkan tubuhnya dan kudekap erat tubuh mungil tersebut.


Wajahnya berada dalam rangkulan tanganku kini, terlihat sangat polos tanpa dosa, walau masih kecil, kecantikannya sudah sangat terpancar. Semakin kutatap semakin kumerasa gemas ingin menciumnya. Beberapa kali ku kecup pipi halusnya, sangat lembut seperti masmellow kurasa. Tanpa kusadari mata sang ayah sejak tadi mengamatiku.


"Kenapa kau peduli pada putriku Ly?"


"Entah, aku juga tak tau mas, awalnya ... aku hanya kasihan karna ia berkali berkata tidak punya bunda, dan hari itu ia meminta izin memanggilku bunda mengikuti Irsya memanggilku, dan entah mengapa putrimu selalu mengakraban diri padaku, ia sering meneleponku, awalnya aku merasa aneh dan bingung membahas apa, hingga terlintas mengajarinya do'a-do'a. Lama kelamaan aku sering merindukan celoteh polosnya."


Dimas tampak mendengarkan dengan seksama disana.


"Semua sejak kami berkunjung kerumah Irsya, padahal sebelumnya Mayra tak pernah begitu. Karena memang aku membatasinya dengan dunia luar juga saat di Bandung. Di Bandung Mayra anak yang manis dan selalu bahagia walau tanpa Ibu. Sejak malam itu aku ke rumah Irsya dan ia melihat keluarga yang utuh plus seorang bunda disana, ia mulai sering menanyakan dimana ibunya."


"Jadi mas menyesal sudah berkunjung kerumah mas Fahmi?" tanyaku.


"Tentu tidak, jika tidak kesana mungkin mas tidak akan menemukanmu," terlihat senyum mengembang dibibir Mas Dimas saat ini.


"Jujur didalam otakku, aku tak berani membayangkan tentangmu Ly, mas fikir kau pasti telah menikah dan memiliki hidup yang bahagia, walau hati mas sering mencarimu?" terdengar lirih setiap ucapan mas Dimas.


"4 Tahun ini aku menyibukkan diriku mas, berkumpul dengan rekanku di kajian adalah semangatku. Aku membatasi diri dengan lawan jenis," lirihku.


"Jadi kau pernah bersama laki-laki itu selama 2 tahunkah?" mas Dimas mulai menerka-nerka.


"Aku mengangguk perlahan," mas Dimas tampak menatapku dalam.


"Jadi, mengapa kau berpisah dengannya saat itu?." Mas Dimas seakan mendapat celah untuk membahas tentang Firgie, tapi maaf mas, aku belum ingin membuka ini, batinku.


Aku kembali memilih diam mendengar tanya mas Dimas.


"Masih belum mau menjawab?"


Akupun menggeleng perlahan.


"Okelah." Terlihat mas Dimas menyalakan tape radio mobilnya, langsung terdengar lagu Agnes Monika sedang diputar saat ini ...


●Bagaimana caranya untuk..


Agar kau mengerti bahwa, aku rindu?


Bagaimana caranya untuk..


Agar kau mengerti bahwa, aku cinta?


Masihkah mungkin hatimu berkenan


Menerima hatiku untukmu?


Cintaku sedalam samudera


Setinggi langit di angkasa kepadamu


Cintaku sebesar dunia


Seluas jagad raya ini kepadamu


Kepadamu…


●●●●


"Ganti mas!!."

__ADS_1


" Tidak, Dengarkanlah!! Anggaplah lagu ini luapan hati mas untukmu.


"Mass ... "


"Kau berjanji membuka hatimu kan? resapilah setiap rasa mas padamu melalui lirik lagu ini!!"


Aku mulai mendengar setiap kata dan bait lirik lagu yang penuh emosi tersebut, dan kutatap mas Dimas setelahnya."


"Kau boleh menatap mas sepuasmu," ucap mas Dimas.


"Astagfirulloh," lirihku saat tersadar tatapanku pada mas Dimas adalah kesalahan.


"Mengapa selalu beristigfar menatap calon suami sendiri."


"Karna masih calon, aku pasti akan membuka hatiku setelah mas benar-benar jadi suamiku, akan kujawab setiap tanya mas setelah hubungan kita sah," kuberi senyumku pada mas Dimas saat ini.


"Aahhh, harusnya hari ini juga tadi aku minta di nikahkan oleh Bapak," gumam mas Dimas.


"Ishh kau ini Mass," ucapku sambil mengerucutkan bibirku.


Iapun mengganti channel radionya saat ini, tangannya memutar-mutar mencari siaran yang pas, hingga sebuah nasyid terdengar kini ...


●Ayah ibu merestui


Menyarung cincin di jari


Dengan rahmat dari Ilahi


Cinta kita pun bersemi


Sebelum diijabkabulkan


Syariat tetap membataskan


Pelajari ilmu rumahtangga


Agar kita lebih bersedia


Menuju hari yang bahgia


Ku tahu kau menyintaiku oh kasih


Bersabarlah sayang


Saat indah kan menjelma jua


Kita akan disatukan


Dengan ikatan pernikahan oh kasih


Di sana kita bina


Tugu cinta mahligai bahgia


Semoga cinta kita


Di dalam redha Ilahi


Berdoalah selalu


Moga jodoh berpanjangan


( Inteam-Kasih Kekasih )


●●●●


Kuhadapkan tubuhku kearah jendela, kututup mataku, berusaha kuresapi setiap lirik yang kudengar.. kata-kata yang indah, mengapa begitu pas setiap katanya dengan situasiku, gumamku dalam hati.


"Lagu yang begitu pas dengan situasi kita Ly."


Aku menoleh dan mengangguk, ternyata mas Dimas juga berfikir yang sama, batinku.


"Sebelum ijab Kabul syariat masih membatasi kita," ujar mas Dimas.

__ADS_1


Aku mengangguk, kuhadapkan kembali wajahku ke jendela, hingga beberapa saat rasa kantuk telah menguasaiku, akupun ikut terlelap bersama dekapan sang mimpi ...


🏡🏡🏡


🌻Pukul 15:05


POV Mas Dimas


"Ly ... Lyra ...," panggilku kembali setelah beberapa kali kupanggil wanita yang akan menjadi istriku ini, tapi ia masih di selimuti lelap.


Kami berada di SBPU daerah Kalimalang kini, beberapa saat lalu Fahmi mengirim pesan bahwa Irsya terus merengek tak tahan hendak buang air kecil, maka kami memutuskan berhenti sejenak di SPBU ini sekaligus melaksanakan sholat Ashar yang sebentar lagi akan masuk waktunya ...


Fahmi dan Fida telah turun dari mobil beberapa saat lalu, dan aku disini masih sibuk membangunkan 2 wanita tercintaku yang baru kuketahui sama-sama mudah tertidur rupanya.


Bagaimana caraku membangunkannya?? jika ku tepuk bahunya, kutakut ia akan marah. Wanita yang pernah sangat dekat denganku ini, jangankan kusentuh, aku melihat berlama saja kata istigfar terus diucapkannya, lalu bagaimana aku membangunkannya, batinku.


*Semakin ia tak terbangun, aku semakin ingin menatapnya, yahh.. mumpung ia tak menyadarinya. Wajah cantik ini, dulu pernah menjadi milikku walau sesaat. Dan setelah perjalanan panjang kami, ia akhirnya akan menjadi milikku kembali selamanya. Harum tubuhnya masih sama, bahkan dekapannya dahulu aku masih mampu merasakannya.


Seakan mimpi rasanya, wanita yang selalu dalam anganku, kini tinggal menunggu waktu akan benar-benar menjadi istriku. Menurut sahabatku Fahmi, Ia telah terbalut hidayah kini, akupun merasakannya, ia lebih tertutup dan terkesan banyak menutupi sesuatu. Mungkin itulah caranya menjaga diri dari hal yang tak disukai RobbNYA dan aku memakluminya. ialah Lyra-ku..


Masih kutatap 2 wajah cantik di hadapanku. Dan Putriku Mayra, setelah sekian lama ia merindukan dekapan seorang ibu, kini ia memperolehnya ... Lyra tampak tak membatasi jaraknya dengan Mayraku, aku melihat ia memperlakukan Mayra seperti seorang ibu kandung memperlakukan putrinya. Itu hal yang harus banyak ku syukuri pada Robbku. Dia memberi wanita yang kudamba juga sekaligus memberi ibu untuk putriku.


Dan aku ... Dimas Anggoro akan memastikan semua terjadi, pernikahanku dengan Lyraku harus terlaksana, bahkan jika orang tuaku menentangnya sekalipun.


Aku masih tenggelam dalam bahasa batinku, hingga sebuah suara ketukan menyadarkanku ...


Tok ... Tok ....


"Oops ada Fahmi dari balik pintu mobilku, sejak kapan ia disana?" gumamku.


Segera kubuka kaca mobilku kini,


"Apa kalian tidak sholat Ashar? ini sudah masuk waktu ashar bro," ujarnya.


"Apa sudah adzan?" tanyaku pada sahabat kuliahku tersebut.


"Baru saja adzan berhenti berkumandang, apa kau tidak dengar? Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Fahmi tampak heran dan penasaran.


Kumundurkan tubuhku, baru sosok Lyra dan Mayra yang tertidur tampak oleh Fahmi.


"Sejak tadi aku bingung bagaimana membangunkan 2 wanita ini Fah, aku tentu tidak boleh menyentuhnya bukan," ujarku berkilah.


"Dasar kau, awas saja kau berbuat macam-macam pada sahabat istriku," ujar Fahmi.


"Ia juga calon istriku Fah," ucapku tak mau kalah merasa memilikinya.


"Ingat baru calon Dim!!," ujarnya dengan tawa seakan meledekku.


"Mass, kita dimana?" wanitaku tampak telah bangun kini.


"Okelah, aku tunggu sholat berjamaah di Musholla Dim," ucap Fahmi kemudian akhirnya meninggalkan kami.


"Ini di SPBU Ly, kita sholat ashar disini dulu yaa," ujarku.


"Dimana Kak Fida?" tanyanya lagi seakan memastikan mereka masih pulang beriringan.


"Fida sudah turun lebih dulu ke Mushola, tadi kau tertidur dan aku bingung membangunkanmu, untungnya kau sudah bangun kini," ujarku seakan tak berdosa telah meng-explore wajahnya tadi. Maafkan mas, Lyra, batinku.


"Sayang, bangun Nak," kulihat wanitaku sedang membangunkan putri kecilku, ia terus menciumi putriku hingga akhirnya Mayraku terbangun."


Ohh, Lyraa.. kenapa aku yang berkhayal di posisi putriku saat ini, istigfar Dimas ... segera kupalingkan wajahku dari wanitaku, sebelum aku menghayal lebih jauh.


"Bundaa ... " Mayraku terdengar telah terbangun.


"Oke, semua sudah bangun ayo kita ke Mushola!!" ajakku pada kedua wanitaku.


"Ayo Nak, nanti tante Fida dan Irsya terlalu lama menunggu kita," kudengar suara Lyraku kini.


ku tengok kembali kedua wanitaku, tampak Lyra sedang memasangkan sepatu putri kecilku.


Dan kami berjalan beriringan kini menuju Mushola ...


🌷🌷🌷

__ADS_1


🌻Happy reading❤❤


🌻Maaf baru sempat up😃😃


__ADS_2