
*Cibitung 19:18
Sepoi angin terasa merasuk ke aliran darahku.
Malam yang terasa dingin dibanding malam-malam sebelumnya*.
Setidaknya itulah yang dirasa 2 sejoli diatas Satria merah yang saat ini dikemudikannya.
Dari kejauhan telah tampak gang kontrakanku berada. Kuminta Firgie menurunkanku disana. Dan ia mengiyakannya.
"Kau tak marah kan Gie, jika aku tidak menawarkanmu masuk kedalam?" tanyaku sesaat setelah turun dari motor Firgie.
"Tidak Ly, bisa mengantarkanmu dengan selamat sudah membuatku senang" ujarnya.
"Terima kasih... Semoga kelak aku bisa membalas segala kebaikanmu Gie," lirihku.
"Setelah kau bicara dengan mbakmu, segera kabari aku! Aku akan membantumu pindahan oke!" ujarnya lagi.
"Siap Gie.." jawabku.
"Aku pergi dulu Lyra! Assalamu'alaikum..
"Wa'alaikumussalam, hati-hati Gie!"
Tak berselang lama motor Firgie sudah tak terlihat. Lyrapun masuk ke gang kontrakannya menuju kontrakannya saat ini.
Dibukanya pengunci pintu dan tak lama pintupun terbuka. Lyra menatap sekeliling isi kontrakannya.
Terima kasih waktu.
Terlalu banyak hal yang terlukis di setiap sudut rumah ini.
Dan semua akan menjadi cerita indah yang tersimpan rapat di sudut hatiku.
Dengan bismillah.
Kuberharap akan banyak cerita-cerita baru menantiku kelak.
Selamat tinggal kenangan..
Kututup daun pintu perlahan.
Segera kubersihkan diriku.
Kulaksanakan kewajiban terhadap Robbku.
"Tok... Tok..."
Siapa ya?
Kulihat dari sisi jendelaku dan seperti dugaanku *Mas Dimas berdiri disana.
Kubuka kembali daun pintu yang membatasi kami.
Ia masih berdiri mematung dimuka kontrakanku.
Wajahnya terlihat letih dan kurang bersemangat.
__ADS_1
Kuikut berdiri disampingnya.
Keheningan tampak disana.
Seperti dugaanku selama aku disini engkau akan selalu bisa tiba-tiba hadir disini.
Kubiarkan hari ini kau datang mas.
Sebab esok tlah kubuat pembatas untuk kita.
Silahkan kau mencariku esok.
Karena aku akan bersembunyi darimu.
"Maaf, aku kesini lagi Lyra..." terdengar lirih ucapan Mas Dimas.
Aku mengangguk.
"Lyra, kau tenang saja mas tidak akan mengganggumu... Mas hanya minta 10 detik menatapmu untuk mengembalikan semangat mas" ujarnya lagi.
Tiba-tiba mas Dimas menghadapkan wajahnya di hadapanku. Dengan tangan ia menghitung 1-2-3-4-5-6-7-8-9-10 sambil terus menatapku..
Oke sudah.. Aku akan pulang Lyra.
"Mas, jaga kesehatanmu? Wajahmu terlihat sangat letih" ujarku.
"Sebenarnya aku sangat membutuhkan semangat hari ini, andai saja ada seseorang yang memelukku" lirihnya sambil menunduk.
"Kau tau aku takkan melakukannya lagi mas."
"Aku hanya bercanda Lyra."
Apa kau melihat aku diantar Firgie tadi mas, aku hanya menganggapnya teman mas. Hati ini masih milikmu, batinku.
****
Sabtu siang..
Aku dan mbak Susi sama-sama libur hari ini.
Kuhampiri mbak Susi yang sedang rebahan menonton televisi di depan.
"Mbak, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.." ujarku padanya.
"Ada apa Ly?" seketika mbak Susi bangun dari tidurnya dan duduk menghadapku.
"Mbak, kau pasti tau banyak hal yang terjadi padaku akhir-akhir ini" ujarku lagi dengan sangat hati-hati.
"Iya, lalu?" tampak penasaran diwajahnya.
"Kau akan membantuku melupakan segala yang terjadi padaku kan mbak?."
"Tentu Lyra... Apa yang bisa mbak bantu untukmu?"
"Mbak, beberapa kali mas Dimas masih sering kemari. Dan aku hawatir ia akan terus melakukannya selama aku masih disini mbakk."
"Lalu?"
__ADS_1
"Mbak, jika aku ingin pindah dari sini apa kau akan mengizinkannya?"
"Hahh.. Pindah? Jangan berfikir seperti itu Ly!!" mbak Susi tampak kaget mendengar ucapanku.
"Mbak, tapi hanya ini jalan agar mas Dimas tidak bisa menemuiku lagi mbak?" ujarku.
"Lyra, kau itu amanahku. Mbak gak tenang kalau kau jauh dariku Ly."
"Mbak, aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik. Aku juga akan sering berkunjung kesini. Boleh ya mbak!" lirihku memohon padanya.
"Mbak, mbak tau sosok yang saat itu menjadi perbincangan tetangga, sosok asing yang selalu memantau kontrakan berpakaian serba hitam dengan kupluk di kepalanya, itu ternyata Mas Dimas mbak?"
"Apa? Tapi menurut tetangga itu tengah malem Ly?" Mbak Susi tampak kaget mendengar yang kukatakan.
"Iya itu Mas Dimas mbak, sekali iya pernah kesini tengah malam dan iya mengakuinya."
"Ya ampun Lyra, segitunya kah kelakuan mas Dimasmu?"
Aku mengangguk. "Ia akan segera menikah mbak, tapi ia melakukan hal bodoh dan tak bermanfaat seperti itu, aku sedih mbak. Tolong izinkan aku menghilang darinya mbak!."
"Lyra... Memang dimana kossan yang akan kau tempati?"
"Dibelakang Mall XX Bekasi Timur mbak."
"Darimana kau tau tempat itu? Bagaimana lingkungan disana? Bebaskah? Bersih atau tidak?"
"Dari seorang teman mbak, lingkungannya baik dekat Mushola, tempatnya bersih dan disana di berlakukan jam malam sampai jam 10 mbak, jadi tidak bebas" ujarku menjelaskan.
"Apa kau benar-benar sudah mantap Ly? Bagaimana jika kau kesepian?."
"In syaa Alloh Lyra mantap mbak, dan disana Lyra juga akan berkenalan dengan banyak teman. Jadi gak akan kesepian.."
"Lyra... Baiklah jika itu keputusanmu. Kapan kau pindah? Mbak akan mengantarmu kesana!"
"Nanti Lyra kabari teman dlu yang akan bantu pindahan lyra. Makasih banyak ya mbak" aku menghambur memeluk mbakku.
"Lyra.. kalau kau tidak betah disana. pintu rumah ini akan selalu terbuka menunggumu pulang" bisiknya.
****
Kuambil ponselku..
"Gie, alhamdulillah mbakku sudah mengizinkan."
Kukirim pesan ke ponselnya.
"Benarkah, oke nanti malam aku kesana ya! Kau benahi saja barang-barangmu! Kira-kira banyak tidak barangmu? Aku akan mencarikan mobil untuk mengangkutnya" ujar firgie bersemangat.
"Gie.. tidak usah membawa mobil. Aku cukup membawa pakaian dalam tasku saja. Barang-barang di rumahku semua milik mbakku. Lagipula disana sudah ada ranjang dan lemari kan? Paling nanti aku cari Magiccom saja di daerah sana.."
"Okelah.. sampai bertemu nanti malam ya Ly! Assaalmu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam" jawabku mengakhiri panggilan dengannya.
****
*Tak pernah bosan Thor meminta support dari kalian😊
__ADS_1
Please rate, vote, like and komen ya😉
# Happy reading😍