
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Dan disana, Fahmi terus menghimpit Fida ...
🌻Ayo sekarang jelaskan, mengapa kau mengintip kami tadi?
"Ayo kita bicara di kamar mas," pinta Fida.
"Baiklah."
Keduanya di kamar saat ini ...
"Mas, tentang temanmu, sebenarnya aku ...
Mas Fahmi tampak mendengarkan dengan seksama.
"Aku sudah mengenal dia sebelumnya," ucap Kak Fida.
"Dimas?" heran mas Fahmi.
"Iya, Dimas. Dimas Anggoro, tidak ada yg tidak mengenalnya dulu di PT."
"Kau bahkan tau nama panjangnya Sayang, ayo katakan apa kalian pernah berhubungan?"
"Ishh, kau ini mas. Jangan potong pembicaraanku, semua tidak seperti yang kau duga. Ini bukan tentangku, tapi tentang ...
"Tentang siapa?" mas fahmi penasaran.
"Tentang seseorang yang pernah dekat dengan Dimas."
"Kau mengenalnya? Siapa dia? Apakah ia sudah menikah? kulihat tadi Dimas masih mengharapkan gadis itu Sayang. Jika gadis itu masih sendiri, mungkin aku bisa mempersatukannya." ujar mas Fahmi.
"Kaupun mengenalnya Mas."
"Aku?? Mengenal mantan kekasih Dimas? Kau jangan bercanda Sayang," ucap Mas Fahmi.
"Kita sangat mengenalnya, iapun sangat akrab dengan putra kita."
"Ayolah, jangan membuat teka teki Fid," mas Fahmi tampak tak sabar dan enggan berfikir.
"Oke aku akan beri kau clue yang terakhir dan kupastikan kau akan bisa menebak siapa dia?"
"Oke, apa clue-nya?"
"Anak kita biasa memanggil gadis itu bunda."
"Lyra??" lirih Mas Fahmi menebak.
"Right. Lyra ... dialah kekasih sahabatmu Dimas." ujar Kak Fida.
"Kau tidak bercanda Sayang?"
__ADS_1
"Apa aku tampak seperti orang yang sedang bercanda Mas?" tanya Kak Fida.
"Maaf, karena aku sungguh tak menyangkanya Fid."
Kak Fida tampak tersenyum..
"Takdir apa ini? Dimas sahabatku, dan Lyra sahabatmu, diam-diam Dimas masih menyimpan Lyra dihatinya, dan Lyra ternyata sudah ada di sekitarnya tanpa ia ketahui."
"Semua tak terlepas dari skenario Alloh, Mas," ucap kak Fida.
"Aku marah padamu Fid, mengapa tidak memberitahuku saat Dimas masih disini tadi. Pasti langsung aku bangunkan Lyra, tak sabar rasanya melihat rona bahagia dari wajah Dimas saat melihat orang yang dirindukannya ada disini.," lirih mas Fahmi.
"Mass maaf, tapi aku tak sependapat denganmu."
"Maksudmu?"
"Akupun ingin mempertemukan mereka tapi aku ingin perlahan dan menjadi surprize untuk keduanya, aku ingin mereka tak hanya bertemu. Tapi aku ingin menta'arufi mereka, menyatukan mereka menuju kearah pernikahan. Bagaimana menurutmu Mas?"
"Fid, mengapa aku baru menyadari betapa pintarnya istriku. Oya, tapi Fid ...,
"Ada apa Mas??"
"Dimas sahabatku, tentu sangat mengharapkan Lyra. Tapi Lyra ... sepertinya sahabatmu itu kini menjaga jarak dengan pria, terlebih Dimas pernah menyakitinya, apa pendapatmu Fid?"
"Aku sangat tau hati Lyra. Walau ia terlihat tegar tapi ia kesepian. Dan baik Dimas atau Firgie, sesakit apapun luka yang pernah mereka torehkan, Lyra pernah menempatkan mereka berdua di hatinya. Jadi aku sangat yakin Lyra akan bahagia bersatu dengan Dimas ataupun Firgie," ujar Fida.
"Kau pernah mendengar kabar Firgie, Fid? dari ceritamu sebelumnya, Firgie orang yang tulus. Tapi aneh mengapa hari itu ia tidak datang atau memberi kabar pada Lyra."
"Itupun Mas yang aku bahkan Lyra pertanyakan hingga saat ini. Hanya Lyra menutup dan tak ingin membahasnya ...."
🌻Tiba-tiba terdengar suara ...
"Lyra ... Dia sudah bangun dan mencari kita. Ingat Mas!! Kita tidak boleh membuat Lyra curiga," lirih kak Fida.
"Iya Sayangg."
Keduanya-pun keluar dari kamar saat ini.
●●●●●
🌻21: 50
KEDIAMAN DIMAS
Seorang pria tampak masuk ke rumah besar dengan menggendong putrinya yang tertidur.
"Dimas," panggil seorang ibu yang sejak tadi menunggu kehadiran putra dan cucunya yang belum juga kembali.
"Ibu disini? kenapa belum tidur?" sapa Dimas.
"Letakkan putrimu di kamar dan kembalilah kemari, ibu ingin bicara!!" tegas ibu.
"Baik Bu."
Setelah membaringkan Mayra di kamar Dimas kembali ke ruang tamu menemui ibunya. Mereka duduk bersandingan saat ini.
__ADS_1
"Dimas, tatap Ibu. Apa kau marah pada Ibumu Nak?" lirih ibu.
"Apa yang Ibu bicarakan?" ujar Dimas.
"Dimas, atas jalan hidupmu yang telah kami tulis, kami ... ayah dan ibu mohon maaf Nak," lirih ibu kembali.
"Kenapa ibu berfikir seperti itu? Dimas tidak marah dengan Ibu dan Ayah. Semua yang terjadi tak terlepas atas kehendak Alloh. Awalnya dulu memang dimas tak menerima, tapi setelah pernikahan itu, Dimas sudah ikhlaskan takdir Dimas dan berusaha menjadi suami yang baik. Walau ternyata Dimas gagal mempertahankannya," ujar Dimas.
"Lalu kenapa kau jarang mengunjungi kami Nak?" tanya ibu.
"Terlalu banyak kenangan di rumah ini Bu, itulah sebab aku jarang berkunjung sebelumnya."
"Oh, terima kasih Nak. Maaf ibu meragukanmu."
"Dimas, tentang Mayra. Ibu merindukan cucu ibu Nak, Ia terlalu dekat denganmu. Semenjak datang, ia hanya menghabiskan waktunya di kamarmu. Tak bisakah kau mendekatkan nenek ini pada cucunya," pinta ibu.
Dimas memeluk ibunya.
"Maaf Dimas tidak menyadari ini Bu, besok Dimas akan ke Bandung mengecek usaha Dimas. Dimas titipkan Mayra pada ibu besok."
"Terima kasih Sayang," ujar ibu sambil mencium putranya.
"Dimas sudah dewasa Bu, ibu jangan mencium Dimas. Dimas akan malu jika Mayra melihat."
"Oh, Sayang.. Kau benar-benar seorang ayah saat ini." tampak ibu mengacak rambut putranya.
"Ini sudah malam. Ibu tidurlah!!"
"Kau juga selamat beristirahat sayang."
Ibu segera menuju kamarnya.
Setelah menjalankan sholat Isya, Dimas membaringkan tubuhnya disisi sang putri. Ia selalu merasa haru menatap wajah polos putrinya. Usia yang masih harus merasakan banyak kasih sayang Ibunya, tapi ia tak mendapatkannya.
Kau harus hidup dengan bahagia sayang, walau kau hanya mempunyai seorang Ayah. Tapi ayah tidak akan membiarkanmu merasa kesepian. Kau putri Ayah, selamanya akan menjadi putri tercantik dan tersayang Ayah. Ayah tidak akan membiarkanmu menangis. Hidup Ayah hanya untukmu, Mayra-ku ...., lirih Dimas.
"Ly ... Lyra, maafkan Mas Ly ... tolong maafkan Mas!!! Jangan pergi Lyra... "
"Ayah ... bangun Ayah ... " panggil Mayra kepada Dimas yang terus mengigau dalam tidurnya.
Dan seperti itulah Dimas setiap malam ... Walau raga mengikhlaskan takdirnya. Tapi rasa bersalahnya selalu membuncah pada sang gadis yang pernah disakitinya.
Dan Mayra sudah sangat hafal pada kebiasaan ayahnya tersebut. Ia hafal setiap kata yang terlontar dalam tidur sang ayah. Kata-kata Dimas seakan kaset yang terus diputar dan membekas diotak Mayra.
Mayra seperti biasa akan berusaha membangunkan sang ayah dan memberi ayahnya minum, baru kemudian mereka kembali tertidur.
●●●●
🌻22:45
Lyra masih mendengarkan Nasyid di kamarnya kini, rangkaian kata yang sangat dalam dengan lantunan nada yang selalu menyesakkan dadanya, bulir2 air seakan teman yang selalu hadir ditiap malam Lyra.
Fikirannya selalu melayang, membuka setiap luka yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Akankah ada kebahagiaan untukku, lirih Lyra.
__ADS_1
●●●●
🌻Happy reading❤❤