
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Mass, jangan diajak ngobrol terus debaynya, keburu mataharinya tambah naik tuh ..."
"Apa Sayang, Dirga udah nantuk, nggak mau di jemur?? tapi untuk kesehatan Dirga Sayang. Tuh denger Bunda udah teriak-teriak, bunda belicik yaa... "
"Masss ..."
"Iya, iya ... siap Bunn," dan mas Dimas di balkon kini. Rutinitas pagi mentransfer vitamin D untuk putra-putri kami.
•
•
"Hmmm, harummm. Diyara udah cantik sekarang. Siap berjemur?? Yuk kita susul Ayah," ujarku setelah merapikan gadis kecilku. Hari ini memang Dirga bangun lebih dulu, jadi Dirga sudah lebih dulu berenang dan menyapa mentari.
"Haiii Dilga kamu udah kepanacan yaa, aku balu mau beljemul nihh," ucapku seolah menjadi dubber putri kecilku yang menyapa saudaranya.
"Aku enak dong, bental lagi aku mau bobo cama Ayah semalem akukan gak bica tidul," ujar mas Dimas menyahut menjadi dubber Dirga.
"Yee Ayah kan mau kelja, kamu bobo cendilian dih sono," ujarku.
"Kata ciapa? Aku mau bobo cama Bunda kok, aku udah haus mau mimik cucu ---- Dahh, ayo tukeran, Dirga udah haus ni," ujar mas Dimas setelah meletakkan telunjuknya ke pipi Dirga dan terus diikuti mulut Dirga yang ke kanan dan kiri mengikuti arah jari ayahnya yang usil.
"Muahhh ... Muahhh ... bye Sayang, ayah berjemur bersama Diyara dulu yaa," ucap mas Dimas kembali setelah kami sama-sama meletakkan baby twins di kasur untuk saling bertukar.
Capp ... Cappp ... Cappp ..
Terus kutatap wajah lucu menggemaskan lelaki kecilku yang tampak menikmati sarapan paginya. Entah berapa kali pula kecupan ku daratkan ke wajah imutnya.
Gemes dehhh Bundaa, lirihku sambil ku tautkan gigi atas dan bawahku karena tak tahan gemas melihat malaikat kecil dalam dekapanku.
10 menit berlalu, matanya telah terpejam namun kecapan bibirnya masih terus kurasa, sesekali ia berhenti dan kemudian seperti terkaget dan mulai menyesap kembali.
Hingga 10 menit kemudian, mulai kutarik keluar pucuk kantung ASI-ku, karena Mas Dimas sudah disisiku kini dengan Diyara yang siap meminta haknya pula.
"Yang kanan gak di Mik sih, udah full tuhh," ucap mas Dimas.
__ADS_1
"Iya yang kanan buat Diyara, sini Sayang..!!!" segera kuraih tubuh mungil Diyara kini setelah sebelumnya kuletakkan Dirga yang telah pulas di box bayinya.
"Hmm ... kayaknya enak nih, rasa apa sih cucu bunda?" mas Dimas terus mengoceh melihat Diyara yang terus mengedip-ngedipkan mata kearahnya dengan bibir mungilnya yang terus mengecap ASi-ku.
"Ayah Bunda, Mayra sudah siap," dan Mayra cantikku kini menghambur kearah kami dengan tas yang sudah merangkul tubuhnya.
"Hmmm cantiknya Ayah, coba sini ayah cium udah wangi belum?"
"Udah dong Ayah, Mayrakan udah mandi," celoteh Mayra.
Seketika mas Dimas menghujani wajah Mayra dengan kecupannya. "Humm, ternyata benar nih putri ayah udah mandi,"
"Ayahh, gelii ayah ... udahh lepasin Mayraa."
"Mass, udah ahh. Nanti kalau pada berisik Dirga bangun lagi," lirihku dan akhirnya mas Dimas melepaskan dekapannya pada Mayra.
Cup ... Cup ... Cup, dan Mayra tampak kini mencium lembut adik kecilnya. "Pipi dede halus, tangan dede juga kecil, Mayra gemes deh Bunda," ucap Mayra.
"Dulu Mayra waktu bayi juga menggemaskan seperti ini kok, iya kan Mass??" ujarku mengalihkan tanya pada Mas Dimas yang memang tau kondisi bayi Mayra.
"Betul sekali, dulu Mayra kecil sangat menggemaskan juga seperti dede Diyara dan Dirga."
"Apa Mayra juga suka Mimik susu seperti dede Yah?? Siapa yang kasih Mayra susu??"
Dan mas Dimas mulai menjawab, "Mayra kecil minum susunya sangat banyak sekali, ayah yang membuatkan Mayra susu menggunakan botol. Bibir Mayra juga sama seperti adik Cap ... cap ... cap, gemas sekali Ayah melihat Mayra."
"Oiyaa, Mayra-kan tidak ada Bunda. Coba bunda Lyra yang lahirin Mayra, pasti bunda Lyra juga kasih Mayra mimik susu seperti pada adik," celoteh Mayra tampak raut wajah kecewa disana.
Sebenarnya Mayra ada bunda saat itu Nak, tapi ayah enggan menceritakan wanita itu pada Mayra, Mayra memperoleh ASi sampai 6 bulan hingga wanita itu memilih bekerja lagi saat itu, batin Dimas.
"Kok pada diem sihh, sini Sayang ... bunda Sayang Mayra, walau bunda gak kasih Asi ke Mayra tapi cinta bunda sama besarnya ke Mayra dan adik2 bayi," ujarku seraya meraih tubuh Mayra dengan sebelah tanganku. Aku memeluk dan menciumnya kini dibalas pula dengan kecupan yang dihujani Mayra di wajahku.
"Mayra sayang Bunda," ucapnya.
"Iya Sayang, Bunda tau," jawabku.
"Permisi Pak, Bu ...."
Bik Lasmi tampak datang kini dengan nampan berisi 3 piring nasi goreng disana, yahh memang sebulan ini, semenjak kelahiran baby twins, kami kerap melakukan sarapan di kamar. Karena aktifitas yang full bersama baby twins di pagi hari, akhirnya kami merubah kebiasaan kami guna mengurangi gerak jika harus naik turun ke ruang makan di lantai bawah.
"Mayra nasi goreng telur," celoteh Mayra seketika mengambil piring dan mulai melahap sarapannya.
Dan seperti biasa mas Dimas akan menyuapiku diselingi memakan sarapan dipiringnya sendiri.
__ADS_1
"A Sayang ...," dan akupun seketika membuka lebar mulutku, karena memang menyusui dan merawat 2 bayi cukup menguras tenagaku. Sehingga porsi makan dan intensitas makanku cukup banyak dan sering.
"Yeaa Mayra juara 1, Mayra langsung berangkat ke sekolah ya Yahh, Bundd."
"Coba cek Mas, Mang Diman udah siap atau belum? Sekalian bilangin Bik Lasmi jangan sampai ninggalin Mayra sampai kegiatan belajar dimulai."
"Kakak, sekolah dulu ya dek. Nanti pulang sekolah kita main, cup.. cup..," celoteh Mayra seraya mencium kedua pipi Diyara, baru setelahnya ia ke box bayi dan mencium Dirga.
"Iya Sayang, cup," mas Dimas seketika meninggalkan kamar bersama Mayra setelah sebelumnya mengecup kepalaku.
•
•
"Udah berangkat?" tanyaku saat mas Dimas masuk ke kamar dan segera merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Sudah."
Semenjak kehadiran si kecil mas Dimas memang mengecek ruko agak siang, jam 11 ia baru berangkat, karena istirahat malam kami memang tidak menentu. Jika baby twins tidak rewel aku bisa bangun sendiri dan memberi ASI kepada baby twins setiap 2 jam sekali bergantian. Tapi kondisi seperti ini sangat jarang. Karena faktanya jika salah satu terbangun, bayi yang satu akan ikut terbangun pula.
Dan aku akan sangat bingung saat baby twins meminta ASI bersamaan, karena untuk menyusui bersamaan dengan kepala yang memang belum kuat dan butuh penyangga, tidak bisa kulakukan sendiri terlebih sambil menahan kantuk yang akan malah beresiko bagi kedua bayi kami. Untuk itu dengan kehadiran mas Dimas, ia akan sangat membantuku menyangga kepala bayi kami. Dan jadilah kami sering merasa sangat letih dan mengantuk.
Tapi beberapa hari kedepan, sepertinya kami akan sangat tertolong. Karena Bapak dan Ibu Tangerang akan menginap disini, jadi lebih meringankanku dan mas Dimas yang harus mengurus beberapa ruko miliknya pula.
Aku menidurkan Diyara ke box saat ini, karena beberapa saat lalu ia telah melepaskan pucuk ASi-ku.
"Sayang, sini ...!!!"
"Apa sih Mas?" jawabku sambil merapihkan seprei yang tampak banyak kerutan dan belum sempat kupegang. Baru setelahnya aku menghampirinya.
"Sini ...!!! Mumpung baby twins pulas tertidur, ayo kita tidur juga..!!!"
"Aku ingin membereskan kamar Mass," ujarku.
"Nanti saja, kau pasti mengantukkan?" dan mas Dimas menahan jemariku kini. Menggeser tubuhnya dan menarik lenganku setelahnya, hingga jatuhlah tubuh ini di kasur yang sangat nyaman kurasa.
"Mass, padahal aku mau melakukan pekerjaan yang lain."
"Semalaman kau sudah kurang tidur, biar Bik Lasmi yang membereskan yang lain. Kita gunakan waktu yang ada untuk beristirahat."
Seketika mas Dimas menarik kepalaku ke dadanya dan mengunci rapat tubuhku, hingga akhirnya harum parfumnya menghipnotisku dan tak menunggu lama akupun ikut terlelap dibuai sang mimpi.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤