
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Kau sangat aneh hari ini Lyra, Kau terlihat takut dan panik. Kaupun menyingkirkan batas yang sering kau katakan untuk mengingatkanku. Kau mencengkram lenganku, kau memelukku, kau juga terus menggenggam tanganku.
Apa sebetulnya yang membuatmu takut berada di rumahku??
●●●●
🌻1 BULAN KEMUDIAN
Hari berganti tak terasa sebulan tlah berlalu dari terakhir Lyra ke rumah Dimas hari itu.
Persiapan pernikahan 70% telah selesai. Setidaknya 3x Dimas dan Lyra bertemu setelah malam itu, saat mengantar pindahan rumah Mas Fahmi, saat keluarga Dimas main ke Tangerang dan terakhir saat Mas Dimas mengajak foto pre-wedding sepekan yang lalu.
Setiap kegiatan tidak dilakukan berdua selalu ada pihak ketiga diantara mereka. Saat foto pre-wedding pun mereka melakukan foto masing-masing di tempat berbeda diikuti Mayra sang putri tercinta.
Dimana Rendi? Aktivitas bisnis membuat ia sebulan ini sibuk. Ia sedang di Bali dalam acara pembukaan kantor cabang baru Dealer mobilnya.
Lyra bernafas lega untuk itu, walau sampai saat ini ia belum menceritakan tentang Rendi pada Mas Dimas dikarenakan aktivitasnya yang sibuk mempersiapkan pernikahannya, Lyrapun masih bekerja pula saat ini.
🌻SABTU PAGI KOSSAN LYRA
"Jam berapa mas kesini nanti?" kukirim pesanku pada mas Dimas.
"15 Menit lagi mas berangkat, Jam 9 kira-kira mas sampai tempatmu."
"Memang mas mau ajak aku kemana?" balasku.
"Lihat saja nanti."
"Mayra sedang apa sekarang?" balasku.
"Sedang bersiap dibantu Mbak Indah. Oya, pengajuan resign sudah kau serahkan Ly?"
"Sudah Mas," tulisku.
"Terima kasih Lyra, kau mau melepaskan pekerjaanmu untuk fokus di rumah nanti."
"Iya Mas, tentunya aku akan mengikuti keinginan mas, suamiku," balasku kembali.
"Oya, undangan sudah jadi kah?" tanya mas Dimas.
"Sudah Mas, ini 100pcs yang Mas minta untuk keluarga dan rekan Mas juga sudah dikirim Sherly, itu tidak kurang Mas?"
"Tidak, hanya keluarga dan teman dekat yang Mas undang di acara resepsi di Tangerang nanti," balas mas Dimas.
"Oh, Baiklah. Aku bersiap dulu ya Mas."
"Oke.. Assalamu'alaikum bunda Lyra," balas mas Dimas.
"Jangan menggodaku Mass, Wa'alaikumussalam ...."
__ADS_1
Aku-pun segera bersiap setelahnya.
🌻25 MENIT KEMUDIAN
"Tok ... Tok ...."
"Assalamu'alaikum Bunda,"
"Haii.. Wa'alaikumusalam Sayangg," ujarku setelah kubuka pintu yang membatasi kami.
Mayra seperti biasa mencium tanganku, sedang aku senang menciumi wajah imutnya.
"Masuk dulu Mas, ayo Sayangg!!"
"Oya, ini undangan kita Mas ...." ujarku seraya memberikan 2 tumpuk undangan dengan model yang berbeda.
"Sesuai request-mu 60 pcs undangan formal yang cream ini untuk sanak saudaramu, sedang 40 pcs sisanya Undangan berbentuk gaun untuk teman-temanmu," ucapku.
"Okee, aku suka semuanya, cantik seperti calon mempelai wanitanya," mas Dimas belakangan memang nakal senang sekali menggodaku. Ia lantas memasukkan undangan-undangan tersebut ke paper bag.
"Kita langsung berangkat oke!!" ujar Mas Dimas menatap satu persatu kearahku dan Mayra.
"Yeaa, Mayra senang jalan-jalan bersama Bunda," ucap Mayra dengan polosnya.
"Bunda bagaimana siap pergi bersama ayah?"
Aku hanya bisa menggeleng-geleng mendengar celoteh mas Dimas, baru setelahnya kutersenyum dan mengangguk.
"Ini mobil siapa Mas?" heranku melihat Honda Jazz silver terparkir dimuka kossanku.
"Mobilku ayo masuk."
"Kemana Avanza putih yang biasanya?" tanyaku
"Mobil itu butuh banyak perbaikan Ly, akhirnya kujual dan kubeli ini, kau suka?" mas Dimas tampak menjelaskan di tengah perjalanan kami.
"Aku suka apapun yang mas suka," gumamku.
Mobil-pun melaju kini, hingga 15 menit berlalu sampailah kami di suatu butik.
"Untuk apa kita kesini Mas?" heranku.
"Ayo turunlah dulu!" pinta mas Dimas tampak penuh teka-teki kurasa Mas Dimas hari ini. Akupun turun bersama Mayra mengikuti langkah Mas Dimas didepan kami.
"Selamat Siang Pak Dimas," seorang resepsionis tampak menyapa Mas Dimas saat ini.
"Pesananku kemarin sudah bisa kuambil bukan?"
"Tentu Pak. Silahkan masuk kedalam Bunda Shanti sudah menunggu di dalam," ujar sang Resepsionis.
"Oh, inikah calon istrimu Dim? Cantik sekali. Ini gaun yang Kau pesan, maaf siapa nama calon istrimu Dim?"
__ADS_1
"Kenalkan ini Lyra calon istriku Shan. Oya Ly, ini Shanti temanku SMAku, ia designer di butik ini." ujar Mas Dimas dan kamipun saling berjabat tangan setelahnya.
"Oke, Lyra bisa mencoba gaunnya di ruang ganti terlebih dahulu. jika kurang besar/kekecilan akan saya perbaiki, maklum Dimas bersikeras membuat gaun ini sebagai surprize katanya, bahkan kami membuatnya hanya berpatokan fotomu saja," ujar mbak Shanti sang designer.
Aku menatap Mas Dimas saat ini, ia hanya tersenyum.
"Baiklah mbak." Akupun masuk keruang ganti saat ini.
"Aku ikut Bundaaa!!" panggil Mayra.
"Mayra dengan ayah dulu ya Sayang," ujar Mas Dimas menghentikan Mayra yang hendak masuk. Mayra akhirnya duduk dipangkuan sang ayah kini.
Beberapa saat kemudian aku tampak malu-malu keluar dari ruang ganti ...
"Ma syaa Alloh, cantiknya calon istriku," ujar Mas Dimas lagi-lagi menggodaku.
"Alhamdulillah, sangat pas di pakai Lyra, Lyra merasa nyaman kah dengan gaun yang dikenakan kini?" tanya mbak Shanti kepadaku.
"Nyaman Mbak." ujarku.
Dan Mas Dimas tertegun menatapku disana.
"Mass, jangan menatapku seperti itu," ujarku tak nyaman dengan tatapan mas Dimas, terlebih dengan Hijab yang di hanging seperti ini.
Mas Dimas Seketika tersenyum tanda puas dengan gaun yang kupakai.
"Wahh, Bunda cantik sekali," ujar Mayra yang baru saja mengangkat kepala dari ponsel yang dipegangnya. Ia terlihat kaget melihatku menggunakan gaun seperti itu.
Setelah semua urusan di Butik beres, kami beranjak ke mobil kembali. Kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 11:00.
"Mas, terima kasih atas gaunnya," ujarku.
"Kau menyukainya?"
Aku mengangguk.
"Alhamdulillah, Mas ingin kau pakai gaun itu saat Akad nanti," pinta mas Dimas.
"Tentu Mas, Mass ... seharusnya kau membiarkanku membeli sendiri gaunku, atau memakai gaun akad sewaan aku juga tak masalah," ucapku merasa mas Dimas telah banyak mengeluarkan uang untukku. Terlebih kemarin saat orang tua mas Dimas kerumah mereka juga memberi lagi nominal yang sama seperti yang mas Dimas beri sebelumnya. Keluargaku sampai terhenyak saat itu.
Kau dan keluargamu sangat baik Mas, semoga Alloh mengganti setiap kebaikan yang kalian beri untuk kami. Semoga kelak aku bisa menjadi istri yang menyenangkanmu, batinku.
"Heii kau melamun Ly, jangan berfikir terlalu berat. Aku senang melakukannya okee!. Mas hanya ingin memastikan gaun yang kau gunakan nanti," ujar mas Dimas. Kulihat matanya masih menatapku ...
"Hentikan tatapanmu Mass," lirihku.
"Aku belum melihat senyummu sejak di butik tadi," ucap mas Dimas.
Akupun tersenyum setelahnya.
"Ohh, alangkah kurang bersyukurnya jika mas tidak menjaga bidadari sepertimu."
"Ishh.. kau mass ... " maluku mendengarnya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤