Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Penampilan Mbak Friss


__ADS_3

🌻Sabtu Pukul 09:00 Kediaman Dimas


"Ting Tong ...."


"Shifaa ... tolong buka pintu, Sayang," suara ibu tampak menggelegar memanggil sosok gadis kecilnya.


Tak lama Shifa sang gadis kecil berusia 10 tahun itu berlari kearah depan menjalankan titah sang bunda mempersilahkan sosok di balik pintu untuk masuk bersamanya.


"Masuk Mbak, Friss ...!!!"


"Mas Dimas mana??" tanya wanita itu pada sang gadis.


"Mas, kayaknya belum keluar kamar mbak, masih bobo," jawab sang gadis dengan polosnya.


"Oh ...."


"Siapa, Sayang??" terdengar suara ibu lagi.


"Mbak Friss, Buu ...."


"Persilahkan duduk d ruang tamu, yaa!"


" Mbak tunggu sini ya, aku panggilin mas," ujar sang gadis.


Ibu yang mendengar langsung menghambur ke ruang tamu, mencari sosok calon istri putra kesayangannya.


"Frisss," panggil ibu terhadap wanita yang sedari tadi sibuk menekan tombol ponselnya.


Fris seketika berdiri mendengar suara ibu memanggilnya.


Dilihatnya penampilan sang calon mantu tersebut dari atas kebawah ...


"Ohhh ...," sang bunda tiba-tiba menyentuh dadanya, tampak menahan sesuatu terlihat di matanya.


Ayah yang baru pulang bersepeda melihat terkasihnya berdiri tak stabil segera berlari memeluk sang bunda, menatap Fris sekilas dan kembali fokus pada keadaan sang pujaan hatinya.


"Ada apa dengan ibu, Friss??"


"Tidak tau Om, tiba-tiba ibu datang dan menyentuh dadanya," terlihat Friss juga tampak bingung dengan kejadian didepannya


"Oke jangan hawatir, ayah akan bawa ibu ke kamar, kau tunggu Dimas disini, yaa!!" ayah berusaha memenangkan sang gadis yang terlihat panik.


Ayah dengan cekatan menggendong ibu ke kamar membaringkannya di tempat tidur dan memberi obat yang di butuhkan sang terkasih.


Tak lama ibu terlihat membaik, ibu membuka mata mengangkat tubuhnya dan duduk di tepi ranjang, mendekati suami yang sedari tadi duduk menatapnya.


"Ayah lihat penampilan, Friss?? Ia sangat persis dengan ibunya. Ibu takut yahh ...." terdengar suara ibu lirih menuangkan yang ada dalam benaknya.


"Bagaimana jika Friss juga memiliki sifat ibunya??? ibu tidak bisa melihat Dimas terluka, Yah," ibu masih menuangkan rasanya.


Sang ayah menggenggam tangan ibu, menenangkannya.


"Ibu, jangan terlalu khawatir berlebih. Walau penampilan Friss seperti Rida tapi tidak berarti sifatnya jg sama."


"Ayah lihat pakaian yang di pakai Friss, pakaian mini yang sangat disuka ibunya dlu, dan Bram begitu tergila-gila pada Rida. Apa yang dilakukan wanita itu, Bram yang begitu gigih mencari nafkah untuknya dan Friss. Ia malah memadu kasih dengan pria lain ... Supirnya sendiri , "Menjijikan" emosi masih menguasai sang bunda. Ibu takut, Yah ...."


"Ayah ingat berapa kali Bram hendak mengakhiri hidupnya karna wanita itu yang telah begitu menyakitinya."


"Sudah Buu, ingat kondisimu ...."


°°Ibu masih menerawang mengingat kembali pristiwa 27 tahun silam. Ia, ayah Dimas dan Ayah Friss ada 3 orang sahabat sejak masih duduk di kampus. hingga kemudian datang sosok Rida, wanita cantik dan seksi yang membuat Bram ayah Friss begitu tergila-gila dengan parasnya. mereka menjadi kekasih akhirnya. Namun entah berapa kali bunda dan ayah Dimas memergoki Rida bermain api bersama lelaki lain.


Dan Bram beberapa kali hendak mengakhiri hidupnya walau akhirnya ia selalu menerima kesalahan Rida yang dengan sangat cerdik merayu Bram kembali dengan kata-katanya.


Ia dan Ayah Dimas menikah setelah lulus dan memperoleh Dimas sebagai bukti cinta mereka. Bram pun menikahi Rida dan memperoleh anak Friss.


Kehidupan berjalan normal hingga Dimas dan Friss berusia 7 tahun. Rida kembali pada sifatnya, ia kembali bermain api dan kali ini bersama Sopir suaminya. Bram tampak meradang saat itu, namun jiwa rapuhnya kembali, jabatan tinggi yang dimiliki Bram tidak berarti karna cintanya pada Rida telah menguasainya. Ia kembali berusaha mengakhiri hidupnya.


Merasa Sang Pencipta tak adil memberi takdir padanya. Kembali ayah dan bunda Dimas merangkul Bram, mengingatkan Sosok Friss yang masih butuh dirinya ... Friss yang tak berdosa ... gadis kecil yang tak tau menahu apapun apakah pantas memperoleh takdir seperti itu.


Akhirnya Bram berpisah dengan Rida.


Selang 2 tahun berlalu tersiar kabar Rida dan pria selingkuhannya tersebut mengalami kecelakaan dan keduanya meninggal ditempat. Brampun telah menata hidupnya kembali menjadikan Friss tujuan hidupnya ... memberi setiap yang Friss inginkan hingga kini Friss menjadi gadis yang manja.


●●●●

__ADS_1


"Ibu hawatir dengan Dimas, Yah, tindakan Bram dulu setiap kali Rida menyakitinya selalu berfikir kematian ingin menyudahi semua. Melihat penampilan Friss ibu takut ia berulah seperti ibunya dan Dimas akan rapuh seperti Bram."


"Buu, itu smua hanya bayangan dan kekhawatiran ibu semata. Friss anak baik, jangan karna pakaian yang ibu lihat jadi menyamakan ia dan ibunya, setiap orang tumbuh dengan sifatnya masing-masing, tidak ada yg sama persis Buu. Dan Dimas anak kita, apa ia pribadi yang lemah?? ayah rasa Dimas pria kuat. Apalagi Ibu membekalinya dengan ilmu agama sejak kecil. Ibu harus yakin Dimas akan mampu membimbing Friss, " ujar Ayah.


Ibu mencerna setiap kata yang diucap suaminya. Walau hatinya ada sedikit ragu, tapi ia memantapkan diri. Betul ... Dimas anaknya adalah pribadi yang kuat.


"Lalu bagaimana sekarang, Yah?? Friss pasti sedang bingung saat ini karna ibu tadi langsung lemah didepannya."


"Ibu sudah membaik, bukan?? ayo kita turun dan menemani Friss ...."


Ibu tampak mengangguk mengiyakan ajakan suaminya.


"Dimas masih belum keluar kah, Friss?" ayah bertanya pada Friss yang kini duduk di dekatnya.


"Belum Om, Tante tadi kenapa?" ujar Friss melihat ibu Dimas yg kini tampak telah membaik duduk disisinya.


"Ibu tidak apa-apa, maaf ya Sayang tadi Ibu membuatmu panik," jawab ibu yang duduk di sebelah Friss, matanya masih sesekali menatap pakaian yang dipakai Friss. Sedikit kehawatiran masih ada dihatinya, namun ibu segera membuang fikiran itu kembali.


"Iya, Bu ...." jawab Friss


"Oke, ibu akan ke atas melihat Dimas."


●●●●


"Astagfirulloh anak ini, kamu belum bangun juga??" ibu menggoyangkan bahu putra kesayangannya tersebut.


"Jam berapa memang ini, Buu??" Dimas tampak bangun, terganggu dengan prilaku ibunya.


"Setengah 10, Friss sudah diluar. Lekas mandi sana!!!"


"Hahh ... cepat sekali dia datang, padahal ia janji jam 10. Wanita itu mengganggu tidurku saja."


"Hayoo bangun ...," ibu kembali menggoyangkan tubuh kekar anaknya itu.


"Iya, Buuu."


"Oke Ibu tunggu di luar, jangan tidur lagi, Mas!!."


Ibu tampak menutup pintu dan meninggalkan sang putra dikamarnya.


Dimas yang telah terbangun, tampak senyum-senyum sendiri mengingat pelukan semalam antara dirinya dan Lyra, gadis yang manis, batinnya.


Dilihatnya ada pesan disana,


07.00πŸ™‡"Met Pagiiiii, semangatttt!!"


Dengan cepat Dimas membalasnya..


πŸ™‹"Pagi sayang ....😚😚"


πŸ™‡"Pasti baru bangun ya?"


πŸ™‹"Hee ... iya, Lyra lagi ngapain??"


πŸ™‡"Habis mandi lagi siap-siap."


πŸ™‹"Memang berangkat jam berapa nanti?"


πŸ™‡"Jam 10 lewat, janji sama yang lain jam 11.00."


πŸ™‹"Naik apa?"


πŸ™‡"Angkot aja ...."


πŸ™‹"Maaf ya, Sayangg, mas gak bisa anter kamu."


πŸ™‡"gpp😊..."


πŸ™‡"Kontrol ibu jam brp nanti?"


πŸ™‹"Hmm, jam 11.00" (maaf aku berbohong Ly ...)


πŸ™‹"Yauda mas juga mau mandi, hati-hati nanti ya!! Gausah cantik-cantik dandannyaπŸ˜‰!!!"


πŸ™‡"πŸ‘ŒπŸ‘Œ"

__ADS_1


πŸ™‹"πŸ˜™πŸ˜™"


πŸ™‡"😜😜😝"


πŸ™‹"😧"


Dimas tampak menuruni tangga saat ini. Kemeja kotak flanel panjang berwarna navy dan jeans hitam ia pilih menjadi outfitnya hari ini. Sepatu kets putih turut melengkapi penampilannya ...


Tampak di bawah ayah, ibu dan Friss duduk manis di ruang tamu bercengkrama disana.


Shifa adik Dimas sedang bermain barbie di ruang TV sambil sesekali menghampiri ayah dan ibu di ruang tamu.


"Akhirnya turun juga kamu, Mas ...," ujar ibu.


Dimas yang baru sampai di ruang tamu tercengang melihat penampilan Friss yang tak biasa dimatanya.


Sebuah Dress diatas lutut berwarna softpink dengan bagian bahu yang dibiarkan terbuka saat ini terpasang di tubuh tinggi Friss. Tampak tonjolan-tonjolan tubuhnya sangat jelas terlihat.


Dimas sesaat menundukkan pandangannya pada pakaian yang di gunakan Friss. Ia fokus memandang wajahnya.


"Pakaian apa itu?? ganti pakaianmu, Friss?" ujar Dimas tegas tampak ketidaknyamanan dimatanya.


"Dimas ... Apa salahnya dengan dress yang kupakai??" lirih Friss.


Ibu dan ayah saling berpandangan mengamati drama dihadapan mereka, tampak ibu gelisah putranya merasa ketidaknyamanan yang sejak awal telah dirasa ibunya, namun terpaksa disembunyikan menghargai gadis itu.


Ayah yang membaca raut wajah ibu, mengambil tangan ibu dan menggenggamnya mengajak untuk berpura-pura tak melihat mereka. Dan seakan mengisyaratkan "Biarkan mereka menyelesaikannya."


"Kau akan pergi ke acara di pagi hari dengan banyak tamu menggunakan pakaian seperti ini, kah?" ujar Dimas lagi.


"Apa kau tidak melihat cantiknya dress ini, Mas?" ujar Friss.


"Jika kau tidak menggantinya, aku tidak akan mengantarmu"


"Dimas ...." tampak mata Friss mulai berkaca. merasa Dimas tak menghargai dress yang dipilihnya.


Ibu yang tak tahan melihat Friss hampir menangis mendekati dan merangkul gadis itu ... membuang idealisnya.


"Dimas, biarkan kali ini saja Friss menggunakan pakaian yang di pilihnya," ujar ibu.


"Ibuu, hahh ... yasudah. Shifaa, tolong ambil kunci mobil mas di kamar!!" Tampak Dimas menahan kesalnya.


"Kamu mau bawa mobil?" tanya ayah heran, karna melihat hal tidak biasa dari putranya, biasanya sangat jarang Dimas mau membawa mobil kecuali acara bersama keluarganya. Motor gede selalu menjadi favorit nya, biasanya ...


"Dengan pakaian yang di pakai Friss seperti itu apa bisa Dimas membiarkan banyak mata dijalan melihat nya seperti itu," jawab Dimas.


Ibu dan Ayah tampak saling melirik dan tersenyum mendengar jawaban yang di sampaikan putranya, begitu juga Friss yang mendengarnya. Merasa Dimas ingin menjaganya ....


Tak lama Dimas dan friss pun berlalu.


Shifaa tiba-tiba keluar dari kamarnya menggunakan rok pendek dan kaos tanpa lengan berjalan hendak menuju keluar.


"Shifaa mau kemana dengan pakaian seperti itu?" ibu berteriak menahan putri kecilnya.


"Shifaa mau main kerumah Dinda, Buu."


"Ganti dulu pakaianmu, pakai celana panjang dan kaos yang benar!!!"


"Tapi buu, Shifaa kan hanya ke rumah Dinda?"


"Ganti ya nak ... kau kan perempuan, ini aurat kemana-mana, kau kan tau ibu gak suka pakaian seperti itu dipakai keluar rumah," ibu menasehati shifaa.


"Tadi mbak Friss boleh bu pakai baju yang pendek," ujar Shifaa tak mau kalah.


"Shifaa ... dengarkan ibumu, Sayangg," ayah menimpali.


"Huhhh ... Ayah dan Ibu gak adil😑," gerutu Shifaa sambil memonyongkan bibir mungilnya sebelum akhirnya masuk ke kamar.


"Huhhh ... Ayah, bagaimana ini? Semoga Dimas kelak mampu mendidik Friss lebih baik sesuai agama kita," lirih ibu.


"Amiin, kita doakan ya, Buu ... tapi ayah senang setidaknya Dimas mau menemani Friss hari ini dan seperti yang kita lihat tadi Dimas berusaha menjaga Friss dari pandangan orang di luar, bukankah itu suatu bentuk perhatian," ujar ayah.


"iyaa ... aamiin, Yah."


●●●●

__ADS_1


🌻Bantu komen dan like ya... biar author tambah semangat up nyaπŸ˜ŠπŸ˜‰


🌻happy reading❀❀


__ADS_2