
*Flashback:
Di kamar mandi Lyra baru menyadari ada sobekan di pakaian yang baru saja ia tanggalkan, sobekan memanjang sekitar 20cm di bagian bahunya.
Ia ingat-ingat... Betul, saat Ia lari dari cengkraman Rendi tadi, Rendi sempat menangkap bahunya. Dan saat kuberlari, ia hanya mendapati robekan pakaianku. Karna rasa takut harus segera pergi aku tidak menyadarinya. Pantas di sepanjang jalan tadi banyak orang menoleh melihatku. Ahh.. auratku terlihat di hadapan orang banyak. Air mata menetes kembali disudut mataku. Sangat benci dengan diriku, kenapa aku mau ikut dengan Rendi kenapa tidak langsung ku telfon Firgie saat itu. Aku sangat ceroboh... Dan Firgie, berarti ia juga melihat sobekan ini. Karnanya saat terbangun tadi jaketnya telah menempel di bahuku.
Gie, makasih. Kau begitu melindungiku, batinku.
***
Lyra membolak balikkan tubuhnya di ranjang, matanya tak bisa terpejam. Wajah Firgie selalu mengikutinya, segala perhatian yang Firgie berikan terekam terus diotaknya. Bahkan ia tidak marah saat aku salah menyebutnya mas Dimas tadi.
Kenapa kau begitu baik Gie?
Dan malam ini, kenapa wajahmu tak pernah hilang diotakku?
Apa aku mulai jatuh cinta padamu Gie?
Ohh.. ini tidak boleh. Firgie, ia juga milik orang lain. Aku tidak boleh memikirkannya, aku harus melupakan rasaku. Ingat Lyra!! Firgie hanya menganggapmu teman, batinku.
***
2 Hari berlalu..
Mungkin aku terkesan tidak tau terima kasih. Sudah di tolong sekarang aku menghindari Firgie, pesan-pesannya ku balas singkat. Ia ingin main ke kossanpun kularang dengan berbagai alasanku.
Aku melakukannya untuk menjaga jarak darimu Gie, karna aku merasa hatiku telah salah menganggapmu lebih dari seorang teman. Gadis di Mall SS tempo hari, aku tidak boleh menyakitinya.
***
"Gimana dong ka, tinggal 2 minggu pernikahan mas Dimas dan aku belum tau akan datang dengan siapa..." bisikku pada ka'Fida di tengah aktifitas dengan produk di depan kami saat ini.
"Sama Firgie aja" jawab Ka Fida.
"Gak bisa ka dia udah ada cewe." Ujarku.
"Yakin tuh cewenya Firgie, mungkin sodaranya doang kali" ucap Ka Fida.
"Yakin ka, orang dia bergelayutan gitu.."
"Yaudah, terserah lo deh."
Kami melanjutkan aktifitas kami setelahya dengan keheningan.
****
Karena sedang tidak sholat, aku kembali ke line dari istirahat siangku lebih cepat.
Kulihat Mbak Dewi juga ada di line saat itu. Ia tampak serius di depan laptopnya.
Akupun menghampirinya...
"Mbak gak istirahat?" ujarku.
"Eh Lyra, mbak lagi puasa Ly. Kamu ko udah ke line aja? masih lama ini lho istirahatnya" tanyanya.
"Aku lagi gak sholat mbak" jawabku.
"Oh... Eh, gimana hubunganmu sama Firgie? Kalian masih sering komunikasikan?" tanya Mbak Dewi lagi tampak antusias di wajahnya.
"Masih sih mbak tapi..."
"Kenapa, kok gak di lanjut ngomongnya?" ujar Mbak Dew.
"Fir-gie, udah punya cewe mbak" lirihku.
"Masa sih, dia ngomong langsung ke kamu Ly?" mbak Dew tampak tak percaya.
"Aku ngeliatnya langsung mbak, ada cewe bergelayut gitu di tangan Firgie, Firgienya juga diem aja tuh" ujarku tampak menjelaskan.
__ADS_1
"Hmm, ko mbak ragu ya Ly. Kamu tanya langsung aja?"
"Nggak ah mbak, kalo jawabannya bener takut hatiku sakit" ujarku lagi.
"Lyraa, maaf mbak gak tau. Mbak fikir Firgie gak ada cewe makanya mbak kenalin ke kamu" lirih mbak Dew.
"Oya, mbak ada temen lagi. Udah mapan Ly, mbak kenalin ke kamu. Kamu mau gak?" ucap mbak Dewi lagi tiba-tiba.
Gimana yaa... setelah kejadian kemarin agak takut sebenarnya berjalan dengan orang asing. Tapi diakan temen mbak Dewi, kalo gak baik masa sih mbak Dew mau ngenalin ke aku. Aku juga kan memang lagi butuh cowo buat nemenin kondangan ke acara mas Dimas, batinku.
"Iya boleh mbak." Jawabku tiba-tiba.
"Oke mbak coba chat orangnya dulu ya."
"Wahh temen mbak langsung minta ketemu nanti sore. Kamu mau Ly?" ujar mbak Dew.
"Hahh, dimana mbak?" tanyaku.
"Nih mbak kasih nomernya kamu chat sendiri yaa! Namanya Ridho, dia udah permanen Ly. Orang palembang orangnya baik. Udah leader juga di PT nya." Tampak mbak Dewi menerangkan.
Tak lama bel masuk berbunyi.
"Yuk lanjut kerja! semangat Ly!" ujar mbak Dew.
***
Saat ini aku berada di bus jemputan menuju Tambun. Lelaki bernama Ridho itu mengajak bertemu sore ini di sebuah tempat yang sudah ia kirim lokasinya.
Dengan perlahan aku memasuki sebuah tempat makan di sebuah pertokoan di Tambun. Tampak seorang laki-laki melambai saat melihat aku membuka pintu rumah makan tersebut, akupun menghampirinya.
"Lyra kan?" ujarnya.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Kenalkan aku Ridho"
"Lyra" ujarku dan kami saling berjabat tangan.
"Boleh ka." Kuperhatikan laki-laki yang duduk di hadapanku. Sosok bertinggi 170cm, hidungnya mancung, tampan sih. Dari gesturenya ia lelaki yang mudah dekat dengan orang lain, dewasa dan terkesan ngemong.
"Ada apa melihat seperti itu?" ia menyadari aku memperhatikannya.
"Gpp ka. Ka Ridho teman mbak Dew dimana?" tanyaku padanya.
"Dulu kami tetangga sebelum aku ambil rumah di daerah Cikarang" jawabnya.
"Oh.. ka Ridho kerja dimana?"
"Di PT. XY, kawasan Jababeka."
Tiba-tiba pelayan datang membawa makanan. Ka Ridho sudah pesan makanan rupanya. batinku.
"Aku pesen makanan seafood, kamu suka kan?" ujarnya.
*Sebenarnya aku kurang suka.. tapi yasudahlah.
"Iya suka ka*."
"Ko makannya sedikit sih?" ujar Ka Ridho melihatku sudah meletakkan sendokku dipiring.
"Aku sudah kenyang ka"ujarku.
Ka Ridho melanjutkan makannya dan aku menyeruput es jeruk di depanku sambil memperhatikannya.
Ia tampak santai menyantap makanan di depannya hingga habis, ia bukan tipikal orang yang jaim ternyata.
"Jadi aku deh yang kenyang sendiri" ujarnya setelah makanan dipiringnya habis sambil tersenyum kepadaku.
"Mau jalan kemana kita?" tanyanya.
__ADS_1
"Terserah kaka" ujarku.
"Main ke tempat temanku aja yuk!"
Kamipun main ke tempat teman Ka Ridho yang ternyata sudah berkeluarga. Ka Ridho tampak asik bercengkrama dengan temannya. Sedang aku bercengkrama dengan istri dari teman Ka Ridho. Kedua pasangan itu menggoda hubungan aku dan ka Ridho. *Kapan sebar undangan katanya, padahal diluar pengetahuan mereka hari ini kami baru bertemu.. haduuhhh, batinku. Memang sih usia Ka Ridho sudah cukup menikah, ia 28 tahun tapi aku bahkan belum mengenalnya.
Jam 19.00 saat ini.
Dreettt...drett... Ponselku lagi-lagi bergetar.
"Aku di kossanmu, ko belum pulang? Kau lagi dimana Ly?" Kubaca pesan dari Firgie.
Tak lama ponselku bergetar lagi... Firgie menelepon.
*Duhh, bagaimana ini? gak memungkinkan aku mengangkat telfon di depan orang sekitarku.
Akupun menekan tombol reject saat itu.
"Maafkan aku gie" lirih dalam hatiku.
Segera ku balas pesannya.
"Aku lagi keluar samaa temen."
"Kemana? samaa laki-laki atau perempuan? Aku jemput sekarang!" tampak balasan dari Firgie.
"Sa-ma la-ki - laki." Ujarku tak pandai berbohong.
"Dimana? Aku jemput!" balas Firgie lagi.
"Gausah, udah mau pulang ini" ujarku.
"Aku tunggu di kossan."
Duhhh... perasaan apa ini seperti sedang tertangkap berselingkuh, tapi Firgie kan bukan siapa-siapaku. Ada rasa takut dalam diriku. Takut Firgie marah...
"Ka, pulang yuk udah malem!" ajakku pada Ka Ridho yang masih asik mengobrol.
"Oh.okee... kami pulang dlu ya." Ujar Ka Ridho pada sepasang suami istri di hadapan kami.
Pukul 19.25
"Aku turun disini aja ka!" ketika motor Ka Ridho sudah sampai gang kossanku.
"Ko disini? dimana kossanmu?"
"Masih masuk kedalam ka, jalannya kecil pakai kendaraaan harus memutar. Gpp disini aja" ujarku.
"Oh yaudah, hati-hati ya Lyra!" ujarnya kmudian berlalu meninggalkanku.
Diperjalanan menuju kossan, dag dig dug kurasa.. Firgie masih disana gak ya? Aku harus bicara apa? batinku.
Setelah beberapa lama bangunan kossan sudah tertangkap mataku.
Dengan perasaan "Dag.. Dig.. Dug" perlahan kudorong gerbang besi di hadapanku.
Firgie tampak berdiri di depan pintu kamarku. Ia menatapku yang sedang membuka gerbang saat ini. Kuperhatikan tatapannya, tatapan yang berbeda dari biasanya... Tampak kemarahan... Atau kepanikan... Atau Kecemburuan disana...
Aku tak bisa memahaminya...
Yang aku tau, aku sangat takut melihat tatapan itu, takut karena merasa bersalah bergejolak di hatiku saat ini...
****
#Jangan lupa Jempolnya diklik ya😊
Kalau suka kasih komen, rate dan vote untuk thor😉
Salam Cinta❤dari Thor...
__ADS_1
#Happy reading😍