
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Mentari merona mengukir wajah ceria,
Tarian dedaunan berbisik menggoda,
Legukan air berseru hilangkan dahaga,
Membuang peluh hadirkan bahagia,
Itulah kini yang terasa,
Bagi jiwa-jiwa perindu cinta,
Bagi hati yang saling mendamba,
Langkah pasti berbalut harap manja,
Hanya satu yang tersisa,
Yaitu restu sang mertua..
Agar semua berjalan sesuai rencana..
(Semenjak menulis kisah Lyra thor jadi merasa puitis😃😃)
🏡🏡🏡
🌻06:00 KEDIAMAN DIMAS
Setelah sholat subuh tampak Dimas tak bisa tidur kembali, fikirannya berkelana membayangkan hari ini ia akan bertemu Lyra, gadis masa lalu yang selalu menjadi pemilik hatinya.
Tinggal beberapa langkah lagi, bersabarlah Dimas, perjuanganmu belum berakhir ... Kau ingatkan perkataan Lyra semalam, "Bapak dan Ibu tidak menyatakan khusus menerima mas, tapi mereka ingin bertemu mas dahulu," mudahkan niat baik hamba ya Robb, dan bukakan hati kedua orang tua Lyra untuk menerima hamba, batin Dimas.
Mandi sudah dilakukan Dimas, dan kini Dimas masih terlihat bingung dengan outfit yang akan dikenakannya. Kemeja batik, kemeja polos, kotak-kotak atau koko yaa??
Ahh, tanya Fahmi saja, *Menelepon Fahmi ...
"Hai Bro ada apa? Jangan katakan kau sudah tak sabar bertemu calon istrimu," ujar Fahmi.
"Fah, menurutmu sebaiknya aku memakai kemeja batik, kotak-kotak, kemeja polos atau koko ya? Mana yang menurutmu cocok untukku?" tanya Dimas.
"Ayolah Dim, kau sudah tampan sejak lahir. Apapun yang kau pakai pasti akan cocok untukmu, kecuali 1..."
"Apa itu?" menanggapi serius ucapan Fahmi.
"Daster ibumu Bro," jawab Fahmi dengan gelak tawa.
"Sial, kau menggodaku Fah."
"Ayolah Dim.. lekas bersiap dan datanglah kerumahku, ingat jam 7 kita berangkat oke!!" ucap Fahmi mengingatkan.
"Tentu Bro, byee," Dimas menutup teleponnya.
Hmm, okelah kemeja kotak flanel ini kurasa pas, tidak terlalu formal namun terkesan rapi, batin Dimas.
Saat Dimas sedang merapikan rambutnya di cermin, dilihatnya pantulan sang putri yang sedang duduk di ranjang menatapnya.
"Ayah mau kemana pagi-pagi, bukankah ini hali libul?" celoteh Mayra melihat sang ayah telah terlihat tampan di pagi hari seperti ini.
"Ayah mau kerumah bunda, Mayra harus doakan ayah, agar Bunda Lyra bisa menjadi Bunda Mayra, oke!!" jujur Dimas yang membuat sang putri bingung tak memahaminya.
"Ayah mau ke lumah bunda Lyla?" tanya Mayra memastikan.
Dimaspun mengangguk.
"Apa ayah sudah terlihat tampan sayang?" tanya Dimas pada Mayra.
"Ayahku yang paling tampan," ucap Mayra berbinar.
"Ayah, Mayla mau ikut kelumah Bunda, boleh kan yahh?" ucap polos Mayra.
__ADS_1
"Hari ini ayah dulu yang kerumah Bunda, Mayra di rumah saja bersama Uti dan Anti Shifa. okee?" ujar Dimas.
"Mayla mau ikut ayahh, Mayla janji tidak nakal, ayah sayang Mayla kan? Boleh ya ayahh?" ucap Mayra lagi tampak wajah merajuk menggemaskan disana. Dimaspun bingung, ia paling tidak bisa menolak keinginan sang putri jika sudah menampilkan wajah menggemaskan seperti itu. B**agaimana ini, apa tidak masalah mengajak Mayra? *coba aku tanya Fahmi dulu ...
"Bro, putriku meminta ikut, bagaimana ini? ia terus merengek saat ini," ucap Dimas.
"Wahh gimana yaa, "gimana Fid?"" tampak Mas fahmi bertanya pada sang istri, iapun bingung ...
"Bagaimana?" tanya Dimas.
"Kata istriku, "ya sudah, bawa saja,"" ucap Fahmi.
"Begitukah? okelah kalau begitu." Tutup panggilan Dimas.
🏡🏡
"Bagaimana ayah, apa Mayla boleh ikut?"
"Hmm, okelah. Ayo kita mandi dan bersiap sekarang sayangg," tutur Dimas saat ini.
🌻06:30 》 Tampak keduanya telah siap di ruamg tamu.
"Mau kemana ini cucu Uti pagi-pagi sudah cantik? ayah juga sudah ganteng," ujar ibu penasaran menggoda putranya.
"Tolong do'akan Dimas, agar Alloh mempermudah yang akan Dimas lakukan hari ini ya Buu," ujar Dimas.
"Bagaimana ibu akan mendo'akan, sedang ibu saja tidak tahu apa yang akan kamu lakukan," ujar Ibu Arini menanggapi penuturan Dimas sebelumnya.
"I-bu, sebenarnya pagi ini Dimas akan kerumah seseorang," ucap Dimas tak pandai berbohong kepada ibunya.
"Kerumah Siapa?" Kaget ibu.
"Ada deh Bu, semoga Dimas pulang nanti membawa kabar baik untuk Ibu," ucap Dimas penuh misteri.
"Ohh sayang.. tentu, ibu pasti mendoakan kebahagiaanmu selalu Nak," tulus sang ibu sambil merangkul putranya.
"Mayra akan turut bersamamu juga kah?"
"Iya Bu," ucap Dimas.
"Baiklah, jaga makanan anakmu disana ya!!" ujar Ibu mengingatkan.
🏡🏡🏡
🌻07:05 KEDIAMAN FAHMI
"Jika sudah siap semua, ayo kita berangkat?" ujar Fahmi.
Ucapan Fahmipun dibalas anggukan dan sorak bahagia dari putra putri mereka kini..
🌻Setelah berjibaku di jalan kurang lebih hampir 2,5 jam, mereka sudah memasuki daerah Tangerang kini. Dimas terus membaca Map alamat yang dikirimkan Lyra keponselnya.
Dan tak lama ...
Sesuai titik alamat yang di kirim Lyra, harusnya alamat yang dituju berada disekitar sini, batin Dimas.
Dimas memarkirkan mobilnya ketepi dan diikuti Mas fahmi. Ia keluar dari mobil dan menelepon Lyra saat ini?
"Assalamu'alaikum Ly ..."
"Iya Mas,"
"Aku sudah berada di titik alamat yang kau beri, yang manakah rumahmu Ly? bisakah kau keluar sejenak," ujar Dimas.
"Baik, aku keluar Mas," ucapku.
Aku beranjak keluar gang sambil menengok kekanan dan kekiri mencari mobil mas Dimas dan mas Fahmi berada. Dan akhirnya aku menemukan kehadiran mereka. Akupun menghampiri mereka kini.
Aku melihat mata mas Dimas yang juga sedang menatap kearahku. Oh malunya, seperti ingin kusembunyikan wajah ini rasanya ...
"Lyra," sapa mas Dimas.
"Iya Mass," kuberikan senyum terbaikku kepada Mas Dimas, orang yang sedang memperjuangkanku.
"Dimana rumahmu Ly?" tanya mas Fahmi.
__ADS_1
"Masuk gang itu Mas, sudah dekat kok," ujarku.
"Yasudah kita langsung ketempat Lyra ya Dim," tanya mas Fahmi yang seketika membuyarkan lamunan mas Dimas yang masih fokus memperhatikanku.
"Dim, jaga matamu ..." lirih Mas Fahmi.
"Oh, maaf Fah,"
Aku menyapa sesaat Kak Fida yang sedang duduk di dalam mobil, ia tampak sedang memangku Irsya yang tertidur. Kamipun bercipika cipiki saat itu,
"Makasih ya Kak, sudah sampai ke tempatku," ujarku.
"Duhh, sayang unda ikut juga nih," ujarku membelai kepala Irsya yang tertidur.
"Sudah ayo langsung ke tempatmu Ly," ujar mas Fahmi kearahku.
"Kau naiklah kemobilku, arahkan jalan kami," ucap Mas Fahmi.
Akupun segera naik ke jok tengah mobil mas Fahmi. Mobil mas Fahmi lebih dahulu masuk ke gang rumahku dan diikuti mobil mas Dimas di belakangnya.
"Itu rumahku Mas," tunjukku pada rumah sederhana berjarak 2 meter dari mobil mas Fahmi saat ini, Mas Fahmipun segera mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya agar tidak mengganggu aktifitas jalan. Diikuti Mas Dimas yang melakukan hal yang sama.
Tinggal di perumahan warga dengan tata letak yang saling berhimpitan dan dengan tingkat sensitifitas yang tinggi. Melihat kedatangan 2 mobil kerumahku, membuat beberapa tetangga penasaran terhadap siapa yang sedang datang ketempatku. Namun aku tak menggubris mereka, aku mempersilahkan mas Dimas dan keluarga Kak Fida masuk saat ini.
Dan ibuku, iapun tampak terkejut saat dilihatnya 2 mobil telah terparkir di sebrang rumahku.
"Itu mobil calonmu yang dateng Nok?" tanya ibu kearahku.
Akupun mengangguk.
"Ohh," ujar Ibu. Entah apa di otak ibu saat ini.
Mas Dimas, Mas Fahmi dan Kak Fida yang melihat Bapak dan Ibu mematung di depan pintu, segera mendekati mereka dan mencium tangan mereka bergantian.
Ibu yang melihat Kak Fida sedang menggendong Irsya, seketika mempersilahkan Kak Fida menidurkan Irsya di kamarku.
Tampak pula Mas Dimas dan mas Fahmi berbalik ke mobil dan kembali lagi dengan tangan penuh bingkisan berjalan masuk ke rumahku,
"Apaan sih Mas bawa-bawaan segala," ujarku pada Mas Fahmi yang mulai masuk kerumahku.
"Bukan aku yang memikirkan hal seperti ini, Dimas yang mempersiapkannya, akupun baru tau ternyata mobilnya dipenuhi bawaan," ujar Mas Fahmi. Ibu yang melihat segera mengarahkan mereka untuk meletakkan yang di bawanya ke dapur. Setelah meletakkan yang di bawanya ke dapur mas Fahmi tampak kembali lagi ke mobil mas Dimas mengambil barang yang lain lagi.
Aku seketika menatap mas Dimas yang sedang membawa bingkisan masuk, ia tersenyum menatapku. Ohh mas, mengapa kau begitu baik dan harus repot-repot seperti ini, batinku.
Dan Bapak dan Ibu lagi-lagi terheran,
"Ly, temanmu hari ini baru main sajakan dan belum melamar? kenapa bawa barang banyak seperti ini," tanya ibu memastikan.
"Kemarin sih bilangnya mau kenal keluarga Lyra saja bu."
Ibu seketika menatap dapurnya yang telah dipenuhi aneka bolu dan kue, parcel buah-buahan, ada pula perlengkapan kamar mandi seperti, detergen, sabun, sampo, dll. Juga perlengkapan dapur seperti minyak sayur, gula, beras, kopi dan teh. dalam beberapa bungkusan plastik Alfi Mart tersebut.
*Duhh anak ini pasti bukan dari keluarga sembarangan, main saja bawaannya sudah sebanyak ini, pasti ia benar-benar ingin mengambil hatiku*, batin Ibu.
Saat ini semua sudah dipersilahkan duduk di ruang tamu oleh Bapak, para laki-laki plus ibu duduk di sofa atas sedang aku dan Kak Fida duduk di karpet lesehan di lantai.
"Dim, Mayra masih di mobil bukan?" ucap Kak Fida menyadarkan Dimas akan anaknya yang sedang tertidur di jok tengah mobilnya.
"Permisi Pak Buk," ujar Dimas sebelum berdiri dan berlalu kearah mobilnya.
Tak lama ia kembali lagi dengan menggendong Mayra di bahunya, aku langsung berdiri.
"Taruh di kamarku saja Mas, ada Irsya juga disana," ujarku mengarahkan mas Dimas ke kamarku.
"Mas, terima kasih ...." lirihku setelah mas Dimas menidurkan Mayra. Tampak ia lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum kearahku kemudian segera berlalu ke ruang tamu kembali.
Ibu berbisik dalam hatinya, "Putrinya di bawa juga rupanya dan sudah besar pula ternyata."
●Apakah Ibunda Lyra akan luluh pada Dimas dan tidak mempermasalahkan statusnya?
🌷🌷🌷
🌻Ditunggu kelanjutannya lagi yaa😊
__ADS_1
🌻Jangan lupa komen dan likenya😃
🌻Happy reading❤❤