
Lanjuutt yaa๐โบ..
โJangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy readingโคโค
๐ท๐ท๐ท
"Kau ingin mengajak Friss ikut kah?"
"Mass, mbak Friss sedang sakit, dia pasti akan kesepian di rumah," ujarku menjawab tanya mas Dimas.
"Tapi Sayang ...."
Dan tampak mbak Friss mematung mendengar obrolan kami.
"Kita lanjutkan bicara diatas setelah makan," tegas mas Dimas setelah melirik kearah Friss.
โข
โข
"Kenapa kau selalu memikirkan wanita itu Sayang?"
"Mas, aku melihat hari ini ia tulus pada Mayra. Dan kurasa ia tidak seburuk yang kita kira selama ini," ujarku mantap dengan penilaian mataku.
"Lyra, mas takut ia membuat masalah disana. Bagaimana-pun, maaf ... kami juga pernah tinggal disana."
"Jadi Mas takut tergoda dengan mbak Friss?? dan masih mengingat saat bersamanya?"
Seketika mas Dimas memelukku, "Tidak seperti itu, Mas sudah memilikimu, tidak lagi terlintas wanita lain. Hanya saja ia tau seluk beluk rumah di Cikarang. Mas hawatir ia melukaimu," bisik mas Dimas di telingaku.
Dan aku hanya terdiam.
"Baiklah, besok kita akan mengajaknya, sesuai keinginanmu. Kau senang??" tanya mas Dimas mengangkat daguku.
Akupun mengangguk. Entah yang kulakukan benar atau salah, segalanya seakan samar, tapi aku sangat kasihan pada mbak Friss.
"Sekarang tersenyumlah."
Mas Dimas mencium bibirku setelah aku menampakkan senyumku.
"Jangan marah lagi, hanya karena wanita itu, paham??" ujarnya setelah aktivitasnya selesai.
"Akupun mengangguk."
โโโโ
Cuaca semakin terik namun Jazz Silver yang mengantar mbak Friss ke Rumah Sakit belum juga tiba di rumah.
Menurut mbak Friss jam 11 ia akan sampai, dan ini sudah 11:10 tapi ia belum terlihat. Dan Mas Dimas, tampak rasa kesal memenuhi wajahnya.
"Mana? belum sampai juga wanita itu?"
"Sabar Mas, mungkin ia masih di jalan," ujarku menenangkan mas Dimas.
โข
โข
11:20 akhirnya yang di tunggu tiba.
"Maaf Lyra, tadi sangat macet," ujarnya setelah turun dari mobil.
"Ambil tasmu segera, kami akan segera berangkat," tegas mas Dimas.
Seketika Mas Dimas memasukkan 1 koper besar milik kami ke bagasi.
"Ayo kalian masuk,!!!"
Aku dan Mayra seketika masuk mengikuti perintah mas Dimas yang terlihat gusar.
"Masukkan segera tasmu ke bagasi Friss..!!!" teriak mas Dimas saat dilihatnya mbak Friss telah keluar dari rumah.
"Turun dan bantulah ia Mas," lirihku.
__ADS_1
"Aku tak melihat ia seperti orang sakit, ia bisa melakukannya sendiri," ujar mas Dimas yang membuatku geleng-geleng kepala.
Dan masuklah mbak Friss ke jok tengah mobil kami, "Bunda, Mayra duduk bersama tante Frista saja supaya Bunda dan adik bayi tidak sempit," ujar Mayra.
"Dede, kakak duduk dibelakang yaa!! Dede jangan nakal di perut Bunda. Kita mau ke rumah Uti, rumahnya jauh, Dede bobo aja di perut bunda ya ... " celoteh kepolosan Mayra membuatku gemas, demikian pula mas Dimas yang terlihat tersenyum melihat kelakuan putrinya. Kekakuan mas Dimas mencair seketika.
"Oke kita berangkat ya, bagaimana do'a naik kendaraan Mayra, ayah lupa,"
Dan Mayrapun menjawab,
ุณูุจูุญูุงูู ุงูููุฐููู ุณูุฎููุฑูููููุง ููุฐูุง ููู ูุงูููููุงูููู ู ูููุฑููููููู ููุงููููุข ุงูููู ุฑูุจููููุง ููู ูููููููุจููููู
Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun.
Artinya : โMaha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. Padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali. โ
Kami seluruh penghuni mobil seketika mengamininya.
โโโโ
๐ปPOV FRISTA
Dan lagi-lagi aku memasuki ruangan ini.
Dr. Arif nama yang tertera di meja saat ini. Dokter yang beberapa bulan terakhir menangani penyakitku.
"Selamat siang Ibu Frista,"
"Siang Dok, bagaimana kondisi saya saat ini Dok?" penuh tanya dan kepanikan terlihat dari jemari yang terus saling mengelus 1 sama lain dan tak sadar kulakukan.
"Oke akan saya bacakan hasil rontgen terbaru ibu, setelah kemoterapi yang ibu lakukan sepekan lalu."
Dan akupun telah siap mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan Dokter Arif dengan seksama.
"Saya sungguh tercengang dan bahagia, melihat hasil yang sungguh diluar prediksi. Sebulan ini kemo berjalan baik, pasti dikarenakan fikiran positif dan keikhlasan ibu dengan penyakit yang dialami. Hasil rontgen dengan jelas memperlihatkan kondisi sel kanker yang benar-benar telah bersih dari payudara ibu. Dan dengan ini ibu saya nyatakan sehat."
"Benarkah Dok??"
"Baik dok."
"Ada yang ingin ibu tanyakan kah??"
"Adakah cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan keindahan payudara saya Dok?"
"Pada kasus seperti ibu, beberapa wanita memutusan me-rekonstruksi payudaranya dengan memasang implan. Tapi tentunya resiko selalu ada. Dan untuk beberapa bulan ini saya sarankan jangan lakukan pembedahan apapun dahulu. Kita masih terus memantau dan memastikan di 2 bulan kedepan dengan melakukan rontgen kembali."
"Oh 2 bulan ya Dok? baiklah saya akan menunggu."
"Kalau begitu saya pamit Dok. Terima kasih banyak telah sabar menangani saya."
"Tentu Bu. Jangan lupa tetap jaga pola makan ibu selalu."
"Baik Dok."
Dengan rona bahagia akupun keluar dari ruang Dokter Arif. Bayangan harapan memenuhi otakku, dengan kesembuhanku, aku bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama putriku. Putri yang belakangan ini mulai memenuhi hatiku, kepolosannya, keceriaannya. Aku ingin selalu didekatnya. Dan untuk itu, Lyra atau siapapun tidak boleh tau kesembuhanku, atau aku pasti akan diminta keluar dari rumah itu. Mayra ... akan ibu lakukan apapun untuk membuatmu dekat dengan ibu selalu.
โข
โข
Akhirnya aku sampai di rumah kini, mata mas Dimas seakan siap menerkamku, karena sebabku perjalanannya harus mundur. Ya kami akan ke Cikarang, setelah Lyra berhasil merubah keputusannya, akhirnya aku diperbolehkan ikut dengan mereka, ikut kerumah dimana aku dan mas Dimas pernah menghabiskan waktu bersama. Dan akupun pernah menjadi bagian dari rumah itu.
Apa kabar tante Arini, om Arya, adik Shifaa. Sungguh aku sangat rindu dengan kalian.
Dan aku menatap wanita berhijab yang kini duduk di jok depan disisi mas Dimasku. Lyra ... wanita ini sebetulnya sangat baik dan selalu memikirkanku, tapi ia memiliki segalanya dan aku tidak menyukainya.
Dan Mayra ... kini ia duduk disampingku, ia sangat dekat denganku. Wajah polos ini, aku sangat menyukainya, dan hatiku pun mulai menyayanginya.
โโโโ
๐ป 3 JAM KEMUDIAN
Rumah dengan dominasi warna putih dan pagar tingginya sudah dihadapan kami saat ini. Pak Supri seketika membuka pagar saat dilihat mobil anak majikannya disana.
__ADS_1
"Sehat Pak?" Sapa mas Dimas saat mobil dengan kaca terbuka menangkap bayang Pak Surpri yang tengah berdiri disisi mobilnya.
"Alhamdulillah Mas, jawab pak supri sambil sedikit berteriak.
Kami segera masuk kedalam dan mencari bayang penghuni rumah ini, dan akhirnya kami melihat ibu yang sedang membantu mbok Rumi di dapur.
Assalamu'alaikum Utiii," salam Mayra sambil berlari menuju sang nenek.
"Mayraa," utipun mulai menampakkan wajah harunya saat bertatap dengan cucu kesayangannya. Tangannya segera dibukanya untuk menangkap tubuh sang cucu yang menghambur kearahnya.
"Cantiknya Uti, akhirnya datang juga. Uti kangen sekali dengan kalian," lirih Uti haru tak terasa air mata mulai menetes di pipinya.
"Jangan menangis dong Bu," ucap putra kesayangannya yang kini tengah berjalan mendekat kearahnya.
"Tunggu, tunggu..!!! Ibu cuci tangan dulu Nak."
"Bagaimana kabarmu Dimas? Ibu kira kalian sudah lupa dengan rumah ini?" lirih ibu smbil memeluk putra kesayangannya.
"Tentu tidak lupa Bu," Ujar Dimas menyeka air mata dari pipi sang ibu.
"Oiya, mana Lyra?"
"Ibuu," panggilku sambil berjalan kearahnya.
"Ohh, menantu ibu yang cantik. Jadi ini hasil perbuatan Dimas. Menantu ibu yang langsing sampai dibuat berisi kini," ujar ibu terus menggoda sambil memeluk dan kemudian menciumku.
"Lyra sekarang gemuk ya bu, Lyra sudah naik 8kg Bu," lirihku tak bisa pula menahan haru bertemu ibu yang sangat bijak di mataku tersebut.
"Tidak apa-apa gemuk. Wanita hamil itu auranya keluar dan terlihat cantik, dan semakin gemuk semakin seksi, iyakan Dimas?" ujar ibu seketika melempar tanya kepada mas Dimas yang membuatku malu.
"Ibu memang paling pintar, bahkan semua isi otak Dimas, ibu pun tau," jawab mas Dimas sambil memeluk ibu Arini dan melirik kearahku.
"Berhenti..!!! anak nakal. Oya, bukankah kandunganmu baru 6 bulan? Kenapa ibu melihat perut Lyra besar sekali. Seperti sudah bulannya," ujar ibu heran.
"Apa Dimas lupa memberitahu Ibu? in Syaa Alloh ada 2 bayi mungil di perut Lyra buu,"
"Benarkah Sayang??" ibu tampak memastikan.
Dan akupun mengangguk.
Ibu seketika memelukku lagi, "Menantuku yang cantik, terima kasih Sayang," akupun tersenyum menanggapi perkataan ibu.
"Adik Mayra satu ada monas satu tidak ada monas Utiii," celoteh Mayra tiba-tiba.
"Apa maksudnya Dimas?" ibu kembali heran dengan celoteh Mayra.
"Mayra sempat ikut saat Lyra memeriksa kandungannya Bu, dan itu adalah kata-kata yang dokter sampaikan sebulan lalu, bahwa 1 bayi kemungkinan laki-laki dan 1 bayi adalah perempuan. Begitu ibuku Sayang ...."
"Sepasang bayi laki-laki dan perempuan. Ahh betapa Alloh melimpahkan barokah yang banyak untuk kalian nak. Ibu sangat senang, dan tak sabar ingin menggendong cucu kembar ibu." Ibu mengusap-usap perutku kini.
"Kalian pasti letih setelah perjalanan, naiklah ke kamar dan beristirahatlah..!!! Oya, Kalian sudah sholat?"
"Sudah tadi mampir masjid di perjalanan Bu," ujarku.
"Baiklah istirahatlah kalau begitu di kamar, ibu akan lanjutkan membuat puding ini dahulu."
"Bu, ada 1 orang lagi yang datang bersama kami," lirihku.
"Siapa Sayang??"
"Itu ...." tunjukku pada mbak Frista yang berdiri mematung sejak tadi di sudut.
"Frista??"
"Lyra, Dimas, ikut ibu ke ruang tamu..!!!"
โข
โข
๐ท๐ท๐ท
๐ปHappy readingโคโค
__ADS_1