
Seperti hari-hari sebelumnya aku selalu bersemangat dalam bekerja. Setiap produk kulalap habis, jika kulihat teman-temanku stage bagian dalam terlihat mulai letih dan pergerakan mereka lambat. Kini aku akan menjelma menjadi Mbak Dewi..
"Ayo... Ayo Semangat!! Jangan biarkan stage setelah kalian kosong teman-teman!!" ujarku ikut menyemangati rekan-rekanku.
Mbak Dewi yang sering melihatku, tampak tersenyum dan melanjutkan aktifitasnya yang lain.
Pukul 11:50 saat ini..
"Sebentar lagi kita makan teman-teman.. Semangatt!!!" ujarku.
Tak lama seorang delivery pengantar part berdiri di sebelahku. Aku agak kaget dengan kehadirannya sebab dia bukan pengantar part di line kami seperti biasanya. Dia adalah Mbak Heni, delivery yang dulu sering membantu mas Dimas menyampaikan pesan-pesan untukku. Ada apa mbak Heni mencariku? batinku.
Kulihat ia menelipkan sebuah kertas dibawah mejaku, seperti yang sering ia lakukan dulu. Kubaca lipatan kertas itu perlahan. *Tunggu aku nanti di kantin tempat disudut jendela, tolong datang Lyra! ada yang hendak ku sampaikan..." segera ku buang kertas kecil tersebut di tong sampah bawah mejaku.
"Ada apa Lyra?" Ka' Fid ternyata melihat semuanya.
"Ka, nanti aku tidak makan bersamamu ya!" ujarku.
"Kau tidak sedang ada masalah dengan delivery tadi kan Ly? Kenapa ia memberi pesan kepadamu?" tanya ka'Fid tampak penasaran.
"Nanti aku ceritakan setelah bertemu dengannya ya Ka', jujur aku juga bingung mengapa ia datang mencariku" ujarku.
**
"Sebenarnya aku sudah punya nomer ponselmu Ly, tapi aku ingin bertemu denganmu langsung Lyra. Memastikan kau datang tepatnya dan terima kasih kau mau datang kesini." Ujar mbak Heni memulai perbincangan denganku.
"Kita bicara sambil makan ya Ly, maklum kalau di line kita tidak bisa bicara banyak soalnya" tambah mbak Heni lagi.
"Ada apa mbak mencariku?" tanyaku.
"Lyra, kau pasti sudah dengar Dimas sedang sakit."
Aku menganggguk.
"Lyra, hanya kau yang bisa menyembuhkan Dimas. Tolong kau jenguk Dimas ya Ly!" lirihnya.
"Kenapa aku? Bukankah sudah ada mbak Fris di sisi mas Dimas sekarang. Maaf sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaanmu mbak, aku tidak ada urusan dengan segala hal tentang mas Dimas lagi" lirihku.
"Lyra... Hanya kau yang bisa menolong Dimas" tegas mbak Heni.
"Maaf, kenapa mbak Heni ikut sibuk mencariku? Apa mas Dimas yang menyuruhmu?" tanyaku.
"Dimas teman sekolahku Lyra, kami bersahabat sejak SMA. Keluarga kami juga saling mengenal karena dulu Dimas sering main kerumahku, lebih tepatnya menceritakan yang ia alami dalam keluarganya kepadaku. Aku melihat banyak perubahan dari Dimas semenjak mengenalmu. Dimas yang dulu kaku, kurang semangat hidupnya karna perjodohan itu. Ia sangat berubah semenjak melihatmu. Walau ku sadari hubungan kalian memang salah, dan aku ikut mendukungnya saat itu. Lyra... Dimas sangat kehilanganmu, ia membutuhkanmu saat ini!" tampak keseriusan saat mbak Heni menceritakan semua padaku, matanya pun
berkaca pasti mereka sahabat yang sangat dekat. Tapi mengapa harus aku?.
"Mbak... tetap aku tidak bisa, maaf" lirihku.
"Temui Dimas sebentar saja Ly. Tolong! Agar Dimas sadar dari tidurnya" ujar mbak Heni.
"Apalagi tinggal menghitung hari pernikahannya, tolong Ly!! Kau tidak hanya menolong Dimas, tapi menyelamatkan keluarganya" tambah mbak Heni.
"Aku masih tidak mengerti mbak? Bangun dari tidurnya? Menyelamatkan keluarganya? Apa maksud semuanya? tanyaku heran.
"Semenjak berpisah darimu, Dimas kembali pada pribadi sebelumnya, bahkan lebih buruk. Ia tidur semaunya, ia sering pergi di malam hari dan dini hari baru kembali. Dimas jadi perokok. Ia juga sering melalaikan makannya. Hingga badannya lemah dan 2 hari ini ia kehilangan kesadarannya. Bibirnya hanya menyebutmu Lyra tapi raganya tertidur seakan enggan untuk bangun. Begitu kondisi Dimas Lyra." ujar Mbak Heni.
Tak terasa air mata mengalir dari mataku. Mas Dimas memang sering berada di sekitar kontrakanku sebelum ku pindah. kufikir kepindahanku akan merubah kebiasaanmu itu. Tapi kau masih juga pulang larut, kau kemana saja selama ini hingga dini hari baru pulang mas? Kenapa juga kau melalaikan makanmu? Bukankah kau berjanji kita akan hidup dengan baik. Dan merokok, kau bahkan tidak suka asapnya dulu. Kenapa kau jadi pribadi yang berbeda? Apa semua karna aku? Apa yang harus kulakukan saat ini? Jika aku menemuimu, bagaimana perasaan Firgie, sungguh banyak hal dalam benakku kini.
__ADS_1
"Gimana Ly, kau mau kan menemui Dimas?"
Aku masih terdiam...
Hingga sesaat ku mulai bertanya lagi.
"Apa mbak Friss mengetahui segalanya? Jika aku menemui mas Dimas, bukankah akan menyakiti hati mbak Friss?" ujarku.
"Friss hanya tau Dimas sakit, seminggu ini memang calon pasangan tidak boleh bertemu begitu kepercayaannya. Jika kau setuju, aku dan tante Arini akan mengatur dan menjaga agar mbak Friss tidak mengetahuinya, kau mau kan Lyra?"
"Tante Arini? Siapa dia?"
"Dia ibu mas Dimas, dia yang menyuruhku berbicara denganmu Ly. Kau tau sendiri akibat jika pernikahan ini sampai gagal. Akan berpengaruh pada keluarga Dimas. Dan keluarga mereka bukan tipe yang suka mengingkari janji."
"Mbak, hatiku sungguh tersentuh dengan keadaan mas dimas. Tapi saat ini, aku juga sudah membuka hatiku untuk yang lain mbak. Aku juga harus menjaga perasaannya. Aku akan mempertimbangkannya dulu mbak" ujarku.
"Tolong jangan terlalu lama kau mempertimbangkannya ya Ly, karna waktu mereka tidak banyak. Mas Dimas harus ada di pernikahan itu. Kau mengerti kan?" ucap mbak Heni dan aku pun mengangguk.
"Baik, aku harus pergi mbak. Aku belum sholat zuhur" ujarku.
Mbak Heni menggenggam tanganku sebelum ku berlalu. "Tolong ya Lyra!!" mohonnya.
Dan akupun pergi.
***
Aku di loker hendak pulang kini. Aku masih terus memikirkan perkataan Mbak Heni. Dan masih bingung pula apa yang harus ku perbuat.
Kuraih ponsel di sakuku..
👨"Nanti di tempat biasa ya sayangg!"
Segera ku balas,
👩"Maaf ya Gie, aku ingin langsung pulang hari ini!"
👨"Kau ada masalah Lyra!"
👩"Tidak, ingin langsung pulang saja."
👨"Nanti malam aku ketempatmu ya!"
👩"Iya."
👨"Hati-hati ya sayangg😙"
👩"Makasih ya Gie🙏❤"
***
Di bus jemputan tiba-tiba ponselku berdering.
Tampak panggilan dari nomer yang tak ku kenal.
Setelah awalnya ragu, akhirnya ku angkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum, benar ini dengan Lyra?" tampak suara seorang wanita dari ujung sana.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, benar. Maaf saya bicara dengan siapa?" ujarku.
"Saya Arini, ibunda Dimas" ujar wanita itu.
"Oh tan- te... maaf, ada yang bisa sa- ya ban- tu kahh?" ujarku terbata tak menyangka ibu mas Dimas akan menghubunginya.
"Lyra, kamu sudah pulang kerja kan? Bisa kita bertemu?" ujar wanita itu.
"Bi- sa tante..." ujarku. Entah mengapa aku tidak bisa menolak ajakan seorang ibu apalagi memang aku sudah membatalkan janji dengan Firgie tadi.
"Dimana rumahmu Lyra? biar tante cari lokasi yang dekat dengan rumahmu?" ujar wanita itu lagi.
"Aku di Bekasi Timur tante, dekat Mall XX" jawabku.
"Oke, nanti tante sharelok lokasi tante ya. Terima kasih sebelumnya Lyra. Maaf pula telah mengganggumu. Assalamu'alaikum" ujarnya.
"Wa'alaikum salam" dan sesaat kemudian panggilanpun telah di hentikan.
Pukul 16.20 Kuturun diMall XX.
Segera menuju Mushola di basmaent Mall tersebut, sebelum beranjak ke lokasi yang di kirim Ibu Mas Dimas.
Ku tatap sebuah Restoran besar di depanku, kupastikan kembali ini adalah lokasi yang dikirim tante Arini.
Pelahan kubuka pintu restoran tersebut. Tempat makan yang sangat luas dengan hiasan lampu-lampu cantik yang menggantung. Tempat yang hanya di masuki orang-orang dengan kalangan tertentu menurutku. Bahkan akupun sungkan memasukinya, saat aku sudah berada di dalam seorang pelayan menghampiriku.
"Ada janji dengan siapa mbak?" tampak pelayan yang sangat sopan, batinku.
"Ibu Arini" jawabku.
"Silahkan ikuti saya mbak" ujar pelayan itu kembali dan akupun mengikuti langkahnya.
Suatu ruangan tertutup tampak di depanku kini.
"Silahkan masuk mbak, Ibu Arini menunggu di dalam" ujar pelayan tersebut hingga akhirnya ia berlalu meninggalkanku.
Rasa Dag Dig dug menyelimutiku..
Hingga akhirnya kuputuskan membuka pintu yang menghalangi kami..
Tok.. tok...
Kugeser perlahan ke sisi kanan pintu di depanku.
Tampak seorang wanita duduk disana dan seketika memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah...
Lalu Ia tersenyum, "masuklah Lyra..."
*****
#Salam Cinta selalu dari Thor❤
Dukung selalu karya Thor, kasih Like, rate dan vote kalau kalian suka cerita Thor☺
Jangan lupa juga beri komentar membangun untuk karya Thor yaaa🙏🙏
#Happy Reading😍
__ADS_1