Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Pingsan


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Pukul 04:05 kini, kuangkat tubuh dari pembaringanku. Segera kubersihkan tubuhku di toilet. baru setelahnya kubangunkan Mas Dimas untuk mengadu bersama pada Sang Kholiq. Baru setelahnya kulakukan sholat subuh menjadi penutupnya, sedang mas Dimas melaksanakan sholat di Masjid kini.


3 Hari berlalu sudah, kami berada di rumah kini. Mayra sudah kembali ceria seperti sedia kala, hanya kasa yang di rekat plester yang masih tersisa di atas pelipis dan lengan tangannya. Lecet di wajah dan kakipun sudah mulai mengering walau masih meninggalkan bekas, tapi lama kelamaan akan hilang menurut dokter yang menanganinya.


Walau sudah pulang ke rumah tapi pihak sekolah masih memberi keringanan untuk Mayra, untuk memulihkan tubuhnya maka Mayra sarankan di rumah dahulu beberapa hari kedepan.


Ayah dan ibupun sudah kembali ke Cikarang. Karena memang mereka memiliki kesibukan yang tak bisa di tunda. Ibu 2 tahun ini menjadi ketua di Yayasan Pengemban Amanah Illahi yang didirikannya bersama rekan-rekannya untuk membantu mereka yang memang hidup dengan kekurangan. Ayahpun sibuk dengan aktivitas bisnisnya.


Untuk mbak Friss setelah kejadian pengusiran oleh mas Dimas di Rumah Sakit tempo hari ia tak pernah muncul lagi, bahkan iapun sekarang sudah tidak diizinkan tinggal di rumah ibu di Cikarang. Entah dimana ia sekarang ...


Dan Bik Lasmi dan Mang Diman aku sudah memaafkan kekhilafan mereka. Setelah mas Dimas memberi pengarahan padaku, jika memang setiap yang terjadi tak lepas dari campur tangan sang pencipta, jika saat itu Mayra bersamakupun jika di takdirkan oleh Alloh hari itu, jam itu akan ada musibah terjadi, maka terjadilah. Dan kebetulan Bik Lasmi dan Mang Diman yang bersama Mayra siang itu.


●●●●


🌻Pukul 08:05, Mas Dimas memutuskan berangkat agak siang hari ini. Dan ia masih duduk di meja makan saat ini. Kutatap ia sedang memakan udang-udang yang telah dikumpulkannya, namun nasinya masih setengah kulihat.


"Kenapa tidak dihabiskan sarapannya Mas, apa nasi goreng buatanku pagi ini tidak enak?" tanyaku melihat hal yang tak biasa pagi ini.


Mas Dimas menatapku dan tersenyum,


"Enak Sayang, hanya tadi pagi setelah jooging mas sudah menyantap beberapa roti tawar jadi perut Mas sudah full saat ini, maaf Sayang, nasi gorengmu selalu enak."


"Enak tapi tidak habis," lirihku.


"Maaf, lain kali mas akan habiskan setiap sarapan yang Lyra beri," ujarnya sambil menanti senyum terukir di wajahku.


"Janji?"


"Janji Sayang ...." Dan aku pun tersenyum akhirnya mendengar penuturannya.


"Mayra mau nambah Nak?" tanyaku melihat sarapan nasi goreng telurnya telah tak tersisa. Mayra memang semenjak keluar dari Rumah Sakit kuperhatikan nafsu makannya kuat. Dia bisa makan 4x dalam sehari. Tapi tidak apa-apa, selama ia menikmatinya.


"Hmm, boleh sedikit saja tambahnya Bunda,"


"Iya Sayang ...." ujarku.


"Setelah sarapan belajar membaca ya Nak..!!!"


"Iya Bundaa."


"Mas, hari ini jangan ke Bekasi yaa!!, kontrol rukomu yang di Bandung saja, untuk yang di Bekasi biarlah Aldo yang mengecek. Aku hawatir dengan kesehatanmu Mas."


"Iya Sayangg, hari ini memang mas tidak kesana, mas kan kesana 3 hari sekali."


Akupun mengangguk tenang.


"Ingat, kau jangan kemana-mana ya, lakukan aktifitas di rumah saja. HPL (Hari Perkiraan Lahir) mu kan tinggal 1 pekan lagi itupun bisa maju atau mundur. Jika terasa mulas, langsung hubungi Mas..!!!" Entah sudah berapa kali Mas Dimas mengingatkanku hal yang sama. Bentuk perhatian yang sangat manis untukku.


"Iya Mas, tadi ibu Arini juga telepon memintaku segera menghubunginya jika aku sudah merasa mulas. Ia juga menyuruhku, mempersiapkan beberapa perlengkapan bayi dalam 1 tas kalau tiba-tiba kontraksi terjadi kita tinggal membawanya."


"Iya betul itu, Mas malah tidak berfikir sampai kesana. Sudah mas berangkat yaa, baik-baik di rumah," ucap lembut mas Dimas dan mencium kening serta perutku setelahnya.


"Mayra jaga Bunda yaa, Ayah berangkat kerja dulu." pamit mas Dimas pada Mayra saat ini, Mayra tampak menciumi wajah mas Dimas dibalas hal yang sama oleh Ayahnya.

__ADS_1


●●●●


🌻PUKUL 14:05


DREET ... DREETTT ...


"Halo, Assalamu'alaikum," ucap salamku pada nomer tak di kenal disana.


"Mbak Lyra, Ini aku Aldo. Mas Dimas pingsan. Kami sudah membawanya ke SENTRA HOSPITAL."


"Ba- ik aku a-kan segera kesana,"


"Mang Dimann!!!"


"Saya Buk," berlari tiba-tiba menghampiri majikannya yang tampak berteriak memanggilnya beberapa saat lalu.


"Siapkan mobil sekarang Mang, kita ke Rumah Sakit ...."


"Ba- ik Buk," seketika Mang Diman keluar memanaskan mobil.


"Bik, tolong titip Mayra. Ia sedang tidur diatas. Saya keluar sebentar."


"Ibu mau kemana? kata Bapak, Ibu gak boleh keluar."


"Saya harus ke Rumah Sakit Bik,"


"Ibu sudah mulas?" panik bik Lasmi.


"Belum. Bukan saya Bik, tapi Mas Dimas ... ia pingsan dan ada di Rumah Sakit saat ini."


"Bapak?? Ohh, iya Bu. Hati-hati di jalan ya bu."


"Terima kasih Bik."


Setelah berganti pakaian aku segera menuju Rumah sakit saat ini.


"Bagaimana kondisi Bapak?" tanya seorang Dokter pada Mas Dimas saat dilihatnya sang pasien mulai membuka matanya.


"Saya dimana ini?"


"Anda di Rumah Sakit, seorang lelaki tadi membawa Bapak kesini. Ia sedang mengurus administrasi saat ini.


"Bapak pasti tau kondisi Bapak .......


"Permisi, ada pasien bernama Dimas di dalam kah Sus?"


Ruang UGD menjadi tujuanku kini sesuai informasi Aldo, Mas Dimas ada di ruangan ini.


"Iya benar ada. Anda?"


"Saya istrinya," lirihku.


"Bapak alhamdulillah sudah sadar, tinggal menghabiskan infusnya saja dan segera boleh pulang. Mari ikut saya Bu ...."


Sebuah tirai di buka suster saat ini, memang untuk ruang UGD tiap pasien hanya di batasi tirai. Jika kondisi bisa di tangani, dengan tebusan obat pasien sudah bisa dibawa pulang, sebaliknya jika ternyata ada kondisi parah, maka kamar perawatan menjadi tujuan pasien selanjutnya. Dan Mas Dimas alhamdulillah termasuk yang sudah boleh pulang.


Kutatap manik mata yang seketika terkejut melihat kehadiranku. Dan aku langsung menghambur mendekatinya.


"Mass ...."

__ADS_1


"Kau disini? Siapa yang memberitahumu?"


"Aku yang menelepon mbak Lyra, Mas," Aldo yang seketika tiba langsung menjawab tanya mas Dimas.


"Kau? Ahh, ya sudah. Tingalkan kami..!!!" seketika Aldo dan perawat yang mengantarku meningalkan kami.


"Mas, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau pingsan?" lirihku penuh tanya mengenai hal yang dirasanya seraya kugenggam erat jemari tangannya.


"Mas tidak apa-apa, sebentar lagi mas juga boleh pulang."


"Kau tidak bohong?"


Kutatap Mas Dimas menggeleng perlahan.


"Pasti ini karena mas sarapan sedikit tadi pagi, dan siangnya pasti Mas telat makan, atau karena Mas sering tidur terlalu larut, atau pula karna Mas terlalu letih mondar-mandir Bekasi-Bandung," terkaku tak berjeda.


"Kau sudah seperti dokter Sayang."


"Mas, ayo katakan, bagian mana yang sakit?"


"Mas tidak merasa sakit apapun saat ini," lirih mas Dimas.


"Aku serius Mas!!!"


"Mas juga serius, karna kau sudah datang. Kau adalah obat Mas," ujar mas Dimas sambil mengecup tanganku.


"Mas, kenapa tanganmu berkeringat?"


"Itu pasti pengaruh obat yang bekerja Sayang,"


"Ohh, iya bisa jadi."


"Permisi Maaf mengganggu," seorang perawat tampak membuka tirai dan mendekati kami. "Kantong infus sudah habis, Bapak sudah bisa pulang, ini obat Bapak harus dihabiskan ya Pak, jangan lupa Bapak tidak boleh terlalu letih, tidak boleh olah raga berat, porsi makan tidak boleh terlalu banyak, dan kalau bisa sementara Bapak jangan menyetir sendiri dulu ya Bu,"


"Kenapa hanya telat makan, banyak sekali pantangan untuk suami saya Dok?"


"Ohh, saya hanya menyampaikan pesan Dokter Buu,"


"Sudah jangan banyak berfikir, ayo kita bersiap pulang..!!!"


Dan kami keluar dari ruang UGD saat ini, tampak di depan pintu Aldo berdiri mematung menunggu.


"Sudah siap pulang Mas?" tanyanya seketika.


"Kau bawa mobilku saja, aku pulang bersama istriku, lanjutkan ke pengecekan ruko Dago. Harusnya aku hari ini kesana."


"Iya Mas."


"2 Hari ini aku akan di rumah, kabari aku jika ada sesuatu terjadi. Setiap laporan kirim ke emailku seperti biasa."


"Siap Mas."


Dan kamipun melangkahkan kaki saat ini ke teras Rumah Sakit dimana Mang Diman sudah berdiri dan bersiap memapah mas Dimas.


"Heii apa ini, aku masih bisa berjalan sendiri ...."


🌷🌷🌷


🌻Happy reading

__ADS_1


__ADS_2