Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Membuka Hati untuk Shifa


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Dan Cakrawala sore ini tampak rupawan,


Mentari malu sembunyi dalam cawan,


Bisik manja angin bersapa dedaunan,


Laksana teman yang memberi rasa aman,


Sang pujangga menepi hilangkan angan,


Guna hilangkan bayang sang mantan,


Dalam bingkai tulus seorang kawan ...




**Shifaa** ...



Sore yang indah, aku sedang tidak ada kelas hari ini. Kuhabiskan hariku mendekam di kamar. Bagaimana tidak, ponakan-ponakan lucuku sedang menginap di rumah ibu saat ini. Dan sepilah yang kurasa. Hingga tiba-tiba ponselku berbunyi dan aku sangat kaget menatap nama yang muncul disana ..



"*Assalamu'alaikum* ...." ujar sosok yang tak biasa menghubungiku lebih dulu itu.



Dan tak menunggu lama segera kujawablah salamnya, "Wa'alaikumsalam, apa hari ni mendung Mas? Apa kau sakit?" ujarku memburu tanya padanya.



"Apa sih gadis aneh, kau di rumahmu?" ujarnya.



"Memangnya kenapa kalau aku di rumah? Atau jangan-jangan Mas sedang ada di depan rumahku saat ini?" terkaku.



"Cepat keluar ... sebelum aku pergi lagi,"



"Hahh, jadi Mas benar-benar ada di luar?" dan akupun sangat terkaget saat ini.



"Cepat keluar..!!!"



"Baik, jangan kemana-mana ya Mas.!!" dengan segera kutarik hijab bergoku yang tergantung disisi lemari saat ini.



Kuangkat tanganku dan melambai pada sosok yang berada di dalam Yaris hitam tersebut, dan seketika pula aku sudah berada di sisi pintu mobilnya.



Dan ia membuka kaca jendela mobilnya saat ini, "Ayo masuk," ujarnya tenang tidak seperti saat di telepon beberapa saat lalu.



"Haii Maasss," sapaku setelah menyandarkan tubuhku di jok mobilnya.



"Ishhh, kau pasti belum mandi sejak pagi?" ujarnya seraya menatap piyama yang melekat di tubuhku.



"Ahhh Mas, aku kan hari ini libur."



"Jangan-jangan kau juga baru bangun tidur?"



"Hahh mana mungkin begitu, aku hanya bersantai merebahkan diri di kasur saja Mas," ujarku menyangkal ucapannya.



"Aku mau cari udara segar, mau ikut gak?"



"Mau, mau Mass," ujarku berbinar.



"Ya sudah sana cepat mandi dan bersiap,"



"Siappp, Mas tunggu di dalam saja yuk..!!" ajakku, merasa kasihan kalau Mas Firgie akan lama menungguku sendiri di mobil.


__ADS_1


"Disini saja."



"Ayolah Mass,"



"Tidak enak dengan Mas dan Mbakmu," ujarnya kemudian.



"Mas, Mbak dan ke 3 ponakanku sedang ke Bekasi ke rumah Ibu. Di rumah hanya ada aku dan Bik Lasmi. Ayolah Mass," aku masih membujuknya saat ini.



"Benar tidak apa-apa?"



"Benar Mas, ayo..!!! Kita teman bukan?? kalau Mas takut aku akan menyangka Mas memiliki rasa padaku," ujarku seraya tersenyum saat ini, dan disana ku lihat mas Firgie juga menyunggingkan senyumnya kearahku seraya menggelengkan kepalanya.



*Ohh, manisnya senyummu Mas*, batinku.



Segera ku keluar dan meminta Mang Diman membuka gerbang rumah saat ini, dan tak lama Yaris hitam telah terparkir dihalaman rumahku.



"Siapa Mbak?" mang Diman tampak heran.



"Teman Mang,"



Akupun segera mengajak mas Firgie ke ruang tamu. Dan disana Bik Lasmi dengan sorot mata menyelidik tampak mendekatiku, iapun berujar,



"Siapa dia Mbak?"



"Teman aku Bik, tolong buatkan minum ya bik..!! Tapi ingettt ...."



"Apa Mbak??" tanya Bik Lasmi dengan serius.



"Jangan di ganggu..!!!"




~~



Dan aku sedang memilih outfitku saat ini, celana bahan berwarna hitam bermodel pensil dengan tunik berwarna pink kupilih saat ini. Hijab senada berwarna pink kupadukan pula melengkapi penampilanku. Selanjutnya, kuberi pewarna tipis dibibirku agar tak terkesan berlebihan.



![](contribute/fiction/1187984/markdown/12519675/1612622607236.jpg)



*Apalagi yaa*??



Oiya, parfum hampir saja terlupa. Hahh, dan aku telah mengahbiskan 30 menit ternyata untuk bersiap. Semoga saja mas Firgie tidak bosan, batinku.



Kulangkahkan kakiku ke lantai bawah saat ini, kucari keberadaan mas Firgie, ternyata ia sedang mengobrol dengan mang Diman di teras. Segera kupasang sepatu ketsku sebelum akhirnya ku kagetkan mas Firgie saat ini dari belakang,



"Heiii,"



"Oppsss.. Shifaa, mengagetkan saja untung mas tidak punya penyakit jantung," ujarnya.



"Habis mas serius sekali mengobrol dengan mang Diman, lagi pada ngobrolin apa sih??" tanyaku ingin tahu.



"Bukan apa-apa mas hanya suka dengan bunga-bunga yang berjejer cantik di taman rumahmu,"



"Ohh, itu tanamannya mbakku, dia suka bunga berwarna-warni. Rumah terkesan hidup katanya," ucapku menjelaskan sambil sesekali kutengok wajahku ke kaca mobil mas Firgie dan memastikan lipatan hijabku tidak miring.



"Oya, aku juga sependapat dengan mbakmu. Aku suka dengan rumah yang penuh bunga, lukisan atau hiasan lain. Membuat rumah bernyawa. Oya, kau sudah siap bukan? ayo kita berangkat..!!"

__ADS_1



"Permisi Mang," ujar Firgie kemudian.



●●●●



**🌻Kawasan Pluncut 16:40**



**Firgie** ...



Dan aku mendatangi tempat ini kembali, suasana sore dengan panorama alam yang tampak jelas. Terlihat mentari perlahan bergerak kearah barat, bersiap menuju singgasana malamnya. Ditempat berlawanan sang bulan tampak tersenyum siap mengemban tugas dari sang pencipta. Keduanya saling berkolaborasi memberi nyawa bagi kehidupan.



Aku telah memarkirkan Yarisku, tak menunggu aba-abaku gadis yang bersamaku telah keluar dengan sendirinya. Kulihat matanya sangat merona menatap keindahan dihadapannya saat ini.



"Masss ini tempat yang sangat indahh, aku sangat menyukainya," kebahagiaan tergambar jelas disana, dan entah mengapa aku menyukainya. Gadis ini sangat apa adanya.



"Ayo jalan..!!!"



"Mass kita selfi dulu Mas," dan lagi-lagi gadis ini dengan tingkah kekanakannya seketika memanggil seseorang yang melintas untuk memfoto kami berdua. *Klik* ...



"Ayo kita lanjut jalan lagi Mas," ujarnya. Dan aku hanya mampu menggeleng-geleng kepala saat ini.



Kami memilih tenda lesehan saat ini. Setelah memesan makanan, tak lama hidanganpun tiba, mie kuah tom yam dan orange juice tersaji di hadapan kami.



"Apa yang kau cari dalam hidup Shif?" entah mengapa aku ingin tahu pandangan gadis di hadapanku mengenai kehidupan.



"Hmm, aku ingin bahagia Mas, menjalani hal-hal yang membuatku nyaman dan merasa bahagia," jawabnya polos tanpa beban kudengar.



Gadis ini, ia belum banyak mengenal hidup, bagaimana saat kebahagian terkadang harus terlepas, dan tidak yang kita mau bisa terwujud. Tapi aku senang, setidaknya aku tau ia gadis yang simple dan tidak banyak menuntut."



"Kenapa sih Mas tiba-tiba bertanya dengan wajah serius begitu," ujarnya kembali.



"Mengapa kau berhijab? bukankah sedang tren sekarang pakaian-pakaian modis dan tidak membuat gerah?"



"Karena kata ibu, ini aturan agamaku. Sejak kecil ibu akan marah kalau aku keluar menggunakan pakaian pendek. Apalagi setelah dewasa, katanya hijab akan menjagaku." Jawaban yang bagus, berarti ia dibesarkan oleh keluarga yang mengerti agama.



"Kenapa kau menyukaiku?"



"Karena Mas dewasa dan mandiri, persis seperti Mas-ku. Masku juga lebih tua dari mbakku, dan Masku sangat mencintai mbakku, dengan kedewasaannya masku sangat penyayang pada istri dan anak-anaknya. Masku tidak mudah marah menghadapi masalah, ia sangat tenang. Dan Mas Firgie kufikir akan mampu membimbingku jadi lebih baik."



"Ayo kita menjalaninya,"



"Maksud Mas??" dan gadis dihadapanku tampak heran dengan ungkapanku.



"Kita menjalaninya, aku dan kamu."



"Mas menembakku? Mas ingin kita bersama? Iya kah??"



"Iya."



Entahlah, mungkin karena aku berhadapan dengan gadis yang sangat apa adanya dan mudah mengumbar perasaannya, hingga aku terbawa ikut mengalir bicara padanya.



Akupun tak tau sejujurnya, salah atau benar yang kuucapkan padanya saat ini. Yang aku tahu, aku harus membuka hatiku untuk sosok lain. Sudah cukup memikirkan sesuatu yang telah bahagia dengan yang lain. Aku harus bisa menata hatiku kembali.



🌷🌷🌷

__ADS_1



🌻Happy reading❤❤


__ADS_2