
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Pemilik bakulan Keroprak Mas Gie yang kau ceritakan, Ia katanya seorang yang Bu-ta.
"Kakk ...."
"Maaf Lyra, mungkinkah Firgie tak bisa datang hari itu karena ia kecelakaan dan mengalami kebutaan??" ujar kak Fida tampak berhati-hati berbicara hal yang menyangkut masa laluku itu.
"Aku tidak ingin memikirkan ini Kak," dan aku merasa sesak saat ini.
"Aku bukan bermaksud menggoyahkanmu Ly, hanya saja jika semua benar kau harus membuang kebencianmu, karena jujur aku kasihan padanya jika yang terjadi betul yang ku fikirkan,"
"Berhenti membahas ini Kak, lagipula belum tentu pemilik yang buta yang di maksud sang karyawan adalah dia," lirihku.
"Kau tidak bisa menyebut namanya, jangan bilang kau belum menghilangkan dia sepenuhnya??"
"Kak, aku membencinya titik. Dan tidak ingin membahas ini," ujarku seketika terdiam setelahnya. Kutatap bayi-bayi lucuku buah cintaku bersama mas Dimas suamiku.
"Maafkan aku Lyra, aku tinggal sebentar ya. Aku ingin mempersiapkan meja makan,"
Akupun mengangguk.
Entah mengapa air mataku seketika menetes ... mungkinkah yang terjadi seperti itu? Kenapa harus berbohong?? Aku benci kebohongan ...
~~
"Sayang, apa sikembar rewel?? Kenapa kau tidak jua keluar??" Sepasang tangan seketika melingkar di leherku dari belakang dan kecupan di kepala didaratkannya kini.
Kuberi senyum yang sedikit kupaksakan sambil terus kutatap wajah yang telah duduk dihadapanku saat ini.
"Matamu berkaca, ada yang terjadi??" dan mas Dimas mampu membaca mataku.
"Tidak ada apa-apa Mas," kuberikan senyumku kembali hingga kulihat suamiku kini tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita keluar..!!! Fahmi juga ingin berbincang padamu."
Akupun mengangguk dan kini berjalan beriringan dengan suamiku yang terus merangkulkan tangannya di bahuku.
"Hemmm, duhh jadi iri, kita juga harus seperti itu Mi, seperti pasangan baru terus," mas Fahmi tampak menggoda kami seraya menganggukkan kepala pada Kak Fida istrinya.
"Apa sih Bi, sudah yuk kita langsung saja menuju meja makan. Mumpung bayi-bayi kita sedang tidur," ujar Kak Fida saat ini.
"Okee ... ayo kita makan..!!! Mayra, Irsya ayo sayang kita ke-meja makan," panggil mas Fahmi dan tak lama kedua bocah itu segera berlari kearah kami.
"Mbak Dinar, ayo..!!!" ajakku kini pada pengasuh bayiku yang masih duduk di tepi. Tampak dengan ragu ia mulai melangkahkan kakinya mengikuti kami.
Seperti biasa mas Fahmi pribadi yang senang berbincang dan menggoda memulai lagi gurauannya di meja makan,
"Awalnya aku bingung mengapa kalian memilih Bandung dan meninggalkan kediaman kalian disini, perlahan aku baru menyadari cuaca Bandung tampaknya sangat sejuk dan cocok untuk selalu bermesraan," ujar mas Fahmi santai sambil terus melahap makanan dalam piringnya.
"Biii, jangan selalu menggoda temanku," Kak Fida tampak agak risih pula dengan ucapan suaminya.
"Tidak ada yg menggoda Lyra, aku sedang bicara pada sahabatku. Bagaimana Dim? Apakah pernyataanku benar?"
"Pernyataan apa?" ucap Mas Dimas seolah tak memahaminya.
"Iya betul, di Bandung memang sejuk. Banyak pula tempat-tempat romantis dengan pemandangan alam yang asri, terlebih saat kita menikmati keindahan malam Bandung diatas motor bersama orang yang kita cintai, bukankah begitu Sayang?" ucap mas Dimas sambil meraih jemariku.
Seketika kutarik jemariku, dan melirik suamiku. Kedua sahabat sama saja, batinku.
"Sepertinya kapan-kapan kita harus ke Bandung Fid, kita harus memastikan kesejukan cuaca Bandung, mungkin saja kita juga akan memperoleh bayi kembar juga sepulang dari sana," ucap mas Fahmi masih saja bergumam dan kak Fida dihadapannya tampak menggeleng-geleng kepala atas prilaku suaminya.
"Sahabatmu sepertinya semenjak tinggal di Bandung, tampak lebih pendiam Fid,"
Dan mas Dimas memperhatikanku kini.
"Aku biasa saja kok Mas," tandahku.
•
•
__ADS_1
•
Dak tak lama, masing-masing makanan dipiring dari kami tampak telah habis. Kamipun beranjak keruang tamu kembali. Mas Dimas tampak meminta izin untuk menjalankan ibadah zuhurnya, akupun meminta izin yang sama dan menjalankan ibadahku di kamar tamu tempat kedua malaikatku masih pulas terlelap.
●●●●
Pa ... Pa ... Paa ...
Ta ... Ta ... Taaa ...
Pukul 14:15 dan bayi-bayi kami tampak telah terjaga. Mereka merangkak kesana kemari, aku dan kak Fida ikut duduk lesehan diatas karpet bercengkrama sambil mengawasi anak-anak kami. Mayra dan Irsya ikut pula menggoda adik-adiknya.
Di teras, mas Dimas tampak bercengkrama dengan mas Fahmi, mereka bicara tentang pekerjaan, hobi, keluarga hingga flashback mengenai masa lalu keduanya yang tampak masih lekat seolah baru kemarin mereka lulus dari kampus yang membersamainya.
Hingga adzan Ashar berkumandang, keduanya izin ke Masjid. Mayra tampak telah pulas tertidur di karpet. Diyara, Dirga serta Salsa masih asik mondar mandir dan mengacak-acak mainan Irsya dan Irsya sedang serius menonton acara kartun kesukaannya.
Aku dan Mbak Dinar bergantian sholat pula saat ini. Dan tak lama para suami telah muncul dari balik pintu dengan rambut basah mereka.
"Kita pulang saat ini Sayang?" ujar mas Dimas seraya mengambil Diyara kepelukannya.
"Sayangnya Ayahh," ucap mas Dimas berceloteh terhadap putri kecilnya.
Akupun mengangguk dan kami lantas segera bersiap-siap. Kurapihkan perlengkapan baby kembarku, Mas Dimas tampak mengangkat Mayra lebih dulu ke mobil di jok tengah. Mbak Dinar kemudian duduk disisi Mayra sambil menggendong Dirga
Baru setelahnya aku dan mas Dimas masuk ke mobil setelah sebelumnya berpamitan dan saling berpelukan seraya saling mendoakan.
●●●●
🌻Home Sweet Homee ...
Dan kami menginjakkan kaki di rumah kami kembali setelah sekian lama. Semuanya tampak sama tak ada yang berubah. Memang Mas Dimas membayar seseorang untuk selalu membersihkan rumah kami, alhasil walau tak di tempati, rumah nampak bersih dan nyaman untuk disinggahi.
Mas Dimas segera menidurkan Mayra di kamarnya, aku dan baby kembarku juga seketika masuk ke kamar kami, dan mbak Dimar juga kuminta beristirahat di kamar bawah.
Kususui bayi kembarku bergantian hingga mereka tidur kembali kini. Dan akupun turut terkantuk setelahnya, serasa letih sangat tubuh ini. Segera kurebahkan diri di kasur setelah sebelumnya kuganti gamisku dengan daster rumahan yang sangat nyaman.
Tak menunggu lama mataku sangat berat, sayup kudengar suamiku memanggilku namun kantuk lebih menguasaiku. Hingga sebuah tangan kurasakan terus menghimpit tubuhku. Harum tubuh yang selalu menghipnotisku membuatku semakin menyamankan diriku, terdengar lirih degup jantung yang memompa dengan cepat laksana alunan musik yang memmbawaku semakin terhanyut dan menghilang dalam kantukku. Dan aku tak mengingat lagi yang terjadi setelahnya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤