
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Sayang, penjual ketopraknya sedang libur, kita makan yang lain saja yaa," ucapku pada Mayraku saat ini.
"Bunda ... Mayla mau ketoplak titik, gak mau yang lain," celoteh Mayra.
Kuhampiri tukang ojek yang tengah mangkal di sudut gang kini,
"Permisi Pak, penjual ketoprak yang disini kemana ya Pak?" tanyaku.
"Oh, dulu emang ada mbak yang jual ketoprak disini tapi sudah 2 tahun ini ia tidak berjualan lagi. Jualan di kampung katanya," ujar sang tukang ojek.
"Oh begitu ya, terus yang jual ketoprak area sini dimana lagi ya Pak?" tanyaku kembali.
"Kira-kira 100 meter dari sini, ada Ruko Mbak. Berbaris penjual makanan disana. Nahh disana ada tuh yang jual ketoprak, enak mbak ketopraknya coba aja Mbak kesana, kayaknya sih setiap hari buka," ujar sang tukang ojek menjelaskan.
"Oh baiklah, terima kasih ya Pak," ujarku.
"Yang jual ketoprak adanya disana Sayang, Mayra gpp jalan lagi?" tanyaku pada gadis kecilku yang sangat menginginkan ketoprak saat ini.
"Iya gpp Bunda," ucapnya.
"Okee."
Kamipun menuju penjual ketoprak yang ditunjukkan tukang ojek tadi. Dengan tangan kiri yang membawa bungkusan mainan yang agak besar dan tangan kananku menggenggam gadis kecilku, aku melaju penuh semangat untuk menyenangkan putri kecilku. Yahh, aku memang harus terbiasa menyebut Mayra putriku kini.
Dan ruko yang disebutkan tukang ojek sudah didepan kami saat ini. Berbaris penjual makanan dihadapanku kini, langsung tertangkap mataku gambar ketoprak besar disana. Akupun menuju ke ruko tersebut yang terlihat ramai dipadati ojek online yang sedang mengantri.
Aku dan Mayraku di dalam ruko saat ini, bukan hanya dibagian luar, bagian dalam ruko juga tampak dipenuhi pembeli, mungkin karena berpapasan dengan jam makan siang, fikirku.
Aku memanggil seorang pelayan untuk mendekati meja kami,
"Pesan 2 ketopraknya ya Mas!" ujarku.
"Makan disini atau dibungkus Bu?" tanya sang pelayan.
"Mayra mau makan disini atau dirumah saja?" tanyaku pada putri kecilku.
"Makan disini Bunda, Mayla sudah lapal," jawabnya.
"Makan dsini 2 ya," ujarku pada sang pelayan.
"Tapi menunggu sebentar gpp Bu? Karena masih membuat orderan yang datang lebih dulu," ujar sang pelayan.
"Iya gpp."
"Kita tunggu ya Sayang, ujarku pada putri kecilku.
__ADS_1
Tampak putri kecilku mengangguk.
Agar putriku tidak bosan, aku mengajak Mayra bermain game edukasi diponselku saat ini, Mayra duduk tepat disebelahku. Dan aku merangkulkan tanganku di bahunya saat ini.
Kami sangat asik bermain, hingga sebuah suara ...
"Mbak Lyra ... "
Kuangkat kepalaku saat kusadari sebuah suara memanggilku. Dan aku terhenyak saat kulihat sosok yang memanggilku tersebut.
"Fikra ... " lirihku.
Ia lantas ikut duduk di mejaku saat ini.
"Mbak Lyra apa kabar?" tanyanya.
"M-bak ba-ik," jawabku terbata tak menyangka melihat sosoknya di tempat ini.
"Bunda ... ayo sekalang gililan Bunda nii, Bunda jangan ngoblol telus dong," celoteh Mayra kepadaku.
"I- ya Sayangg."
Kutatap Mayraku. Putri Mas Dimas bersamaku. Tidak, ini putriku juga, jangan sampai pertemuan dengan Fikra mengacaukan otakku. Tapi aku masih penasaran mengapa Mas-nya tidak hadir menemuiku hari itu. Haruskahku menanyakannya?
Kumainkan game sesuai yang diinginkan Mayra, dan kubuat kalah sekejap. Kemudian kuberikan kepada Mayra lagi ponsel di tanganku.
"I- ni putrimu Mbak?" tanya Fikra padaku.
Harus kujawab Iya atau Tidak, jika ku jawab Iya ... pasti Fikra heran, jika Bukan ... aku akan menyakiti Mayra yang mendengarnya. Setelah beberapa saat ...
"Oo, tapi ia terlihat sudah besar. Mbak tidak berbohong kan?" Fikra bertanya lagi memastikan, tampak ia melirik kejariku. Mungkinkah ia mencari tau aku sudah menikah atau belum? Entah, biarkanlah ...
"Ini Putriku," jawabku kembali. Iya aku membuat jawaban yang benar. Jika kujawab bukan, aku harus menjelaskan segalanya, dan aku nggan melakukannya.
Tampak Fikra mengangguk.
"Mbak sudah pesan?" tanyanya lagi.
"Sudah, ka- u bekerja disini kah Fik?" tanyaku, entah seperti apa hubunganku dengan Mas-nya, tapi aku pernah mengenalnya dan harus bersikap baik pula pada adiknya.
"Aku membantu Mas Firgie mengelola bisnis ini mbak." ujarnya.
DEG
Jantungku mulai tak beraturan mendengar namanya disebut. Jadi Bisnis ini milik-nya ... segera ku tatap poster dengan gambar ketoprak berukuran besar didinding saat ini, dan tertulis jelas disana BAKULAN MAS GIE, tulisan yang sejak tadi tak kuhiraukan karna hanya berfokus pada gambar besar itu saja. Usaha ini milik Fir-gie, aku merasa salah masuk kesini. Aku merasa sesak di tempat ini. Tapi aku sudah tak bisa lagi keluar, bahkan pesananku belum datang.
"Mbak Lyra kenapa?" tanya Fikra memastikan apa aku terpengaruh setelah mengetahui tempat ini milik Mas-nya.
"Tidak apa-apa," lirihku.
"Mungkin Mbak ingin bertemu Mas Firgie, ia ada disini mbak," ucapan Fikra laksana petir untukku, bagaimana aku bisa bertemu dengan mas-nya sementara aku sudah terikat dengan Mas Dimas, dan Mayrapun kini bersamaku. Tapi ada rasa penasaran, mengapa ia tak datang hari itu??
__ADS_1
"Mbak ... Gimana? Mau bertemu Mas Firgie?" Fikra bertanya lagi.
"A- ku ....
Belum lagi kulanjutkan, kulirik Mayraku ...
"Aku akan menjaga gadis kecil ini, kalau Mbak mau bertemu Mas Firgie," ujar Fikra seolah tau, aku memang tak bisa meninggalkan Mayraku sendiri.
"Dimana memang Mas-mu?" kuberanikan diri bertanya.
"Kalau Mbak bersedia, aku akan mengantar Mbak kepada Mas Firgie," ujarnya kembali.
"Benar ia ada disini? Kau tidak bohong?" lirihku.
"Untuk apa aku berbohong ... " tegas Fikra.
"Ba- ik, tolong jaga putriku," rasaku telah mengalahkan logikaku. Aku hanya ingin mendengar alasan Firgie tak datang hari itu, tak ada maksud apapun, terlebih hal yang akan menyakiti Mas Dimasku.
●●●●
🌻Tampak di depan Bakulan Mas Gie, seseorang sedang menelepon saat ini.
"Halo, ada kabar apa Bang?" ujar suara dibalik telpon yang dipegang sang pria kekar bertopi tersebut.
"Ane, ngelihat Mbak Lyra mengobrol dengan seorang pria Mas," ujar sang pria kekar yang tidak lain adalah Bang Arman pria suruhan Dimas.
"Pria?? Coba kirim fotonya!"
Tak lama gambarpun di terima, tampak disana Lyra sedang berbicara serius dengan sosok yang sama sekali tak dikenal Dimas. Ia bertubuh Tinggi, berbadan sedang, tampan tapi agak berjerawat di wajahnya. *Siapa pria yang berbicara dengan Lyraku?? Aku tidak tau bagaimana Lyra 7 tahun ini, apa ada sosok lain selain aku dan Firgie di kehidupan Lyra? Dimas pun menangkap dalam gambar, gadis kecilnya sedang bermain ponsel disana.
Lyra-ku tak mungkin bertemu pria lain di belakangku, terlebih ia sedang membawa putriku, batin Dimas kembali.
"Bang, tolong pantau terus calon istriku!!"
"Mas Boss, sekarang Mbak Lyra naik kelantai atas bersama pria itu," ujar Bang Arman.
"Dimana gadis kecil yang bersamanya?" panik Dimas.
"Ia bersama seorang pelayan di lantai bawah Mas Boss," tutur Bang Arman.
Lyra membiarkan Mayraku bersama seorang pelayan restoran?? mengapa Lyra bisa begitu ceroboh? Lyra orang yang selalu menjaga dirinya, dia sangat takut kepada Robbnya. Lalu mengapa ia kelantai atas bersama seorang pria?? Apa yang terjadi sebetulnya.
Tenang Dimas ... jangan berfikir buruk, bisik sisi baik Dimas.
"Bang, kirim alamat sekarang!! Aku akan kesana!!"
"Oke Mas Bos."
"Kau tetap disana awasi gadis kecil yang bersama calon istriku tadi, dia putriku. Pastikan kondisinya aman sampai aku datang," tegas Mas Dimas.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤
🌻Yang nunggu Bab selanjutnya jangan lupa komen yaa😊😊