Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Merasa Panas


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


🌻LANJUT POV DIMAS


Kuarahkan kakiku ke kamar yang tertutup disana. Rasa Dag Dig Dug memenuhiku, bagaimana kondisi Lyraku .... Apa Rendi sudah berhasil melancarkan aksinya? Awas saja jika itu sampai terjadi ...


Dan terbukalah pintu di hadapanku kini ...


Akupun tenang melihat pakaian Lyraku masih terlihat lengkap, kupeluk dan kukecup sejadinya istriku tersebut.


Kubisikkan permohonan maafku di telinganya karena sempat lalai menjaganya tadi.


Rasa syukur segera kupanjatkan pada Robbku karena telah menjaga Lyra-ku. Namun mengapa ia nampak lemas tanpa daya, obat bius apa yang pria beja*t itu berikan pada istriku.


Segera kurengkuh tubuh istriku kini dan segera bergegas keluar. "Awas jika kau berani menampakkan batang hidungmu lagi di hadapan kami Ren," ancamku saat melewati pria yang sudah tanpa daya dengan setengah kesadaran itu.


"Heiii kaau yang meengirim istrimuu paadakuu Dimaas ...," celoteh Rendi dalam pengaruh alkoholnya.


●●●


🌻Aku diparkiran saat ini, tepatnya didalam mobilku.


Dan Lyra-ku tampak masih dalam tidurnya. Kenapa kau belum bangun juga Sayang, batinku.


Kupasangkan seat belt kini di tubuhnya. Akupun segera bergegas mengarahkan lajuku ke kediaman kami.


Ditengah perjalanan tampak Lyraku mulai terbangun, ia mengeliatkan tubuhnya ...


Matanya terbuka dan seketika menatapku.


"Mass ... panas Mass ...."


"Kau kenapa Sayang?" bingung aku melihat tingkah Lyraku saat ini. Ia tampak berusaha melepaskan hijabnya dengan kesadaran yang tidak sepenuhnya.


"Heii, jangan dilepas!! Kau kenapa?" kutepikan mobilku sejenak menenangkan Lyra-ku.


Lyraku terlihat sangat gelisah dan terus menggerakkan tubuhnya tak beraturan. Ia melepas seat belt-nya dan seketika menghambur memelukku. Akupun membalas pelukannya.


"Kau baik-baik saja kan?" bisikku.


"Mass ... panass ...," ia seketika merangkum bibirku dengan penuh emosi tidak seperti biasanya. Kenapa Lyraku bersikap seperti ini, apa ini akibat minuman yang ia minum. Obat apa yang sebenarnya dicampur Rendi didalamnya. Kulepaskan bibir Lyra-ku.


"Sudah Sayang, kembali ketempatmu oke!!" kuraih tubuh Lyraku dan kuposisikan ke tempat duduknya, segera kupasangkan seatbelt setelahnya. Dan ia lagi-lagi mengarahkan bibirnya padaku. Setelah beberapa saat, aku melepasnya.


"Kita pulang dulu yaa ...," lirihku sambil kubelai kepalanya dan ku kecup keningnya.


Ia tampak tenang kini, akupun dengan cepat melajukan mobilku. Hingga tiba di tengah perjalanan Lyra kembali meracau tak menentu.


"Mass ... panass sekali Mas," Lyra lagi-lagi berusaha melepaskan hijabnya.


"Istigfar Sayang ...," dan Lyraku mengangguk.


"Astagfiullohh ... tapi masih panas Mass."


"Istigfar lagi ...," ujarku kembali sambil kugenggam tangan Lyraku.


Lyrapun segera melafazkan istigfar kembali namun tubuhnya masih terus menggeliat ...


"Mas akan ngebut biar cepat sampai rumah yaa, Lyra pejamkan mata sambil terus istigfar, oke!!"


Lyraku kembali mengangguk. Tampak bibirnya terus berkomat kamit melafazkan dzikir.


Hingga beberapa saat kemudian sampailah kami di rumah. Aku segera membopong Lyra kedalam.


"Mass ... panasss sekali Mass,"


"Iya, tahan Sayang."


"Ibu kenapa Pak?" Bik Lasmi tampak heran aku menggendong Lyra.


"Kakinya lagi pegel Bik, Mayra sudah tidur?"


"Sudah Pak,"


"Yasudah Bibik istirahatlah!!,"


"Iya Pak."


●●●●


🌻Kurebahkan Lyraku di ranjang kini.


Kulihat Lyraku seketika membuka hijabnya. Ia berjalan kearahku dan terus memburuku dengan kecupannya.


"Sayang ...," ujarku kewalahan membalasnya.

__ADS_1


"Mass ... Panass Sekali ...."


Biasanya Lyraku selalu merasa kedinginan tapi mengapa ia terus merasa panas.


"Sebentar Mas dinginkan AC nya yaa,"


Dan Lyraku mengangguk ...


Kuturunkan Suhu AC menjadi 18°, kubuka seluruh jendela agar panas yang dialami istriku hilang tersapu dinginnya malam Bandung, namun semua seakan tak berpengaruh.


Ia kembali mendekatiku lagi, terus memelukku.


"Masih Panas Mas ...." lirihnya lagi.


Iapun seketika membuka 1 persatu kancing tunik yang dipakainya.


"Sayang udara ini sudah sangat dingin, nanti kau sakit," berkali kumenjelaskan tapi Lyraku terus dengan aksinya.


Sial, mungkinkah yang diberikan Rendi semacam Obat Perangsang. Lyraku yang biasa pemalu jadi tidak terkontrol malam ini. Lampu bahkan belum kumatikan. Untung aku berhasil menemukanmu Sayang, entah apa yang terjadi jika Mas tadi terlambat atau tak menemukanmu ...


"Sabar Sayang ... kita berdo'a dulu ya," Lyra mengangguk ... namun setelah do'a selesai di lafazkan, seketika Lyra meracau. Ia tampak menjadi komando dalam hubungan kami malam ini ...


Beberapa saat berlalu ...





Sudah berkali-kali kami melafadzkan do'a saat benihku kembali kusiram ke rahimnya. Namun Lyraku hanya berjeda sesaat, dan segera memintaku melakukannya lagi ...


"Sudah tidurlah Sayang ...,"


"Tidak bisa tidur Mas, tubuhku masih panas. Kita lakukan lagi Mas ...,"


"Kau bisa sakit jika terus melakukannya Sayang," hawatirku pada tubuhnya saat ini namun wajahnya terus memelas dan memohon tanpa letih.


Dan akhirnya aku mengiyakan kembali ...





Kukecup keningnya dan kubelai kepalanya sambil terus kulafazkan zikir ditelinganya. Hingga akhirnya Lyraku tertidur dalam dekapanku.


Ohh ... akhirnya,


Kutatap jam pukul 02:15 saat ini.


Kau sungguh luar biasa malam ini Sayang ...


Dan akhirnya aku bisa beristirahat ...


Kurang ajar Kau Ren, awas saja kalau kita sampai bertemu lagi ...


Berapa banyak obat yang kau beri pada lyraku ...


Untungnya ia menyalurkannya bersamaku suaminya ...


●●●●


🌻Ahhh ...


Pukul 05:10 ...


Aku kehilangan subuh berjamaahku,


Dan Lyra-ku ...


Alarm tubuhnya tidak bekerja hari ini.


Tentu saja, pasti ia sangat letih dan mengantuk setelah semalam ...


Ahh Lyra-ku ...


Walau aku menikmati dan menyukai aksimu semalam,


Namun aku lebih menyukai apa adanya dirimu Sayang ...


"Sayang ... Lyra ... ayo bangun sayang ...,"


Kutelusuri setiap inci wajahnya agar ia terbangun dan benar saja, ia sudah sangat hapal caraku membangunkannya.


"Jam berapa ini Mas?"


"Jam 05:10,"

__ADS_1


"Hahh ...."


Lyraku tersentak dan segera berusaha mengangkat tubuhnya ...


"Ada apa Sayang??"


"Entah mengapa tubuhku sangat letih dan sakit smua Mas ...."


Hahh, apa Lyra tidak sadar dengan prilakunya semalam??


"Mas mau apa?" ujarnya saat aku membopong tubuhnya.


"Mas akan bantu bawa Lyra ke bathup,"


"Malu Mass ...."


"Semalam bahkan kau tak malu Sayang,"


"Semalam, ada apa semalam Mas? Ahh Mas ...," lirihnya sambil berusaha menutup beberapa bagian tubuhnya.


"Tidak perlu ditutup, mas sudah hapal semua yang kau miliki."


"Mas," Lyra tampak menenggelamkan wajahnya kedadaku, malu dengan yang kulakukan pagi ini.


"Mas, mengapa tubuhmu ada tanda memerah?"


"Tidak apa-apa. Ada nyamuk besar semalam,"


"Nyamuk besar?"


"Mas bercanda kok, sudah abaikan ...."




7 menit, aktivitas mandi kami selesai.


Kamipun segera berpakaian dan menjalankan ibadah subuh kami yang kesiangan dengan berjamaah.


Karna letih dan kantuk masih menguasai, kamipun merebahkan diri kembali.


●●●●


🌻PUKUL 07:30


Mas Dimas sudah rapi dengan celana jeans dan sweater melekat di tubuhnya. Tak lupa Syal dipakai pula dilehernya hari ini. Bukan karena cuaca yang dingin tapi ada tanda memerah yang harus ia sembunyikan dari yang lain.


"Sayang, Mas berangkat dlu ya," bisik mas Dimas ditelingaku saat ini.


"Jam berapa ini Mas?" lirihku.


"Setengah 8,"


"Hari ini kau istirahatlah, jangan keluar rumah. Nanti mas akan pulang di jam makan siang," ujar mas Dimasku.


"Mas sudah sarapan?"


"Sudah, ingat jangan kemana-mana ya!! Kalau ada kebutuhan yang harus kau beli, suruhlah Bik Lasmi atau Mang Diman yang membelinya, paham?" ucap Dimas dengan sungguh-sungguh dilanjut dengan mencium lembut keningku.


Akupun mengangguk, kuraih tangan mas Dimas dan kukecup punggung tangannya, sebelum akhirnya bayang mas Dimas perlahan telah menghilang dibalik pintu.


Aku yang merasa letih dan mengantuk segera melanjutkan tidurku kembali.


●●●●


"Ayahh mana Bunda?" tanya Mayra yang masih menghabiskan sarapannya saat ini.


"Bunda tidur di kamar sebelah. Mayra main saja dengan Bik Lasmi dulu ya, biar Bunda beristirahat," ujar mas Dimas.


"Apa Bunda sakit?"


"Tidak, bunda semalam gak bisa tidur jadi sekarang mengantuk." ujarku.


"Bik, kalau jam 9 ibu blm keluar kamar. Tolong antar sarapan ke kamar ya!"


"Iya Pak."


"Baik Ayah berangkat sayang, Assalamu'alaikumm,"


Mas Dimas berpamitan dengan mengecup kening sang putri kini.


"Wa'alaikumsalam. Bye Ayah."


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_1


__ADS_2