
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻FLASHBACK
Seorang pria tampak dengan cekatan memasukkan Avanza putihnya kedalam parkiran sebuah Mall saat ini.
Central Mall, tempat yang di datanginya kini. Seorang klien yang akan bermitra dengannya, mengajak bertemu di Mall ini. Dan sang putri terus merengek untuk ikut dengannya. Dengan di dampingi Mbak Indah sang pengasuh, pria tersebut akhirnya meng-iyakan keinginan sang putri dengan mengizinkannya ikut ke Mall saat ini.
Setelah 30 menit perjalanan melewati tol dari Cikarang ke Bekasi Barat, pria tersebut sampai ke tempat yang dituju.
Ia membuka pintu mobilnya, dan seketika menggendong sang putri dalam dekapannya. Walau sudah menginjak 5 tahun, saat-saat merengkuh tubuh putrinya, adalah saat yang paling pria itu sukai, dimana tak ada batasan antara tubuhnya dan tubuh sang putri. Seakan terlontar, anak ini adalah kesayanganku, putriku, milikku yang berharga. Akan slalu kudekap dan takkan kubiarkan ia merasa kekurangan kasih sayang. Dan kalian tidak boleh mengusik putriku.
"Ayah, tulunkan Mayla, Mayla sudah besal dan bisa jalan sendili," ucap sang gadis terhadap ayahnya.
"Ohh, putri ayah sudah merasa besar rupanya," ujar sang ayah.
"Ayahh, Mayla malu sudah besal masih di gendong," ucap sang putri lagi.
"Hmm, begitu ya? Oke gadis cantik ayah, maafkan ayah ya Sayang terkadang ayah lupa kalau putri ayah yang cantik ini sudah mulai besar, " pria bernama Dimas itu seketika menurunkan sang putri.
Mereka berdiri tepat di depan sebuah Cafe saat ini, Rainbow Cafe tertulis nama itu disana. Tempat yang akan menjadi pertemuan Dimas dan kliennya.
"Mbak, kau harus benar-benar memperhatikan Mayra. Aku ada urusan di dalam, kau boleh mengajak berkeliling Mayra. Tapi ingat!! jangan jauh-jauh dari Cafe ini, kau mengerti?" ujar Dimas.
"Mengerti Pak."
"Peganglah ini, jika Mayra minta di belikan sesuatu." Dimas tampak memberi sejumlah uang pada sang pengasuh.
"Terima kasih Pak," ucap sang pengasuh.
Dimaspun segera berlalu kedalam Cafe saat ini.
Mbak Indah mulai berkeliling dengan Mayra, Mayra mengajaknya terus berjalan, banyaknya pernak-pernik dan setiap hal yang memanjakan mata membuat mereka terus menelusuri Mall tersebut. Membuat sang pengasuh lupa akan pesan sang majikan untuk tidak berjalan jauh dan cukup disekitar Cafe saja.
Meraka berhenti si sebuah toko Es Krim.
"Mayra mau Es Krim?" tanya sang pengasuh.
Gadis itupun mengangguk.
Mbak Indah tampak sedang mengantri kini, dan Mayra dengan sifat penasarannya membuatnya terus berjalan hingga semakin jauh jaraknya dengan sang pengasuh.
Hingga disuatu sudut ia berhenti.
"Mbak ... Mbak Indah," beberapa kali ia memanggil sang pengasuh, iapun tersadar tak ada mbak indah kini disisinya.
Ia panik, rasa bingung dan takut menyelimutinya. Aku dimana, Ayah, Mbak Indah kalian dimana?? benak Mayra.
Hingga kemudiaan sebuah panggilan menenangkan hatinya. Sebab ia tak sendiri lagi, ada orang yang dikenalnya saat ini.
●●●●
🌻Wangi tubuh gadis ini, aku sangat tak asing. Seperti wangi seseorang ....
Wangi parfum sang ayah memang menempel pada tubuh Mayra saat ini, dan Lyra masih mengingat wangi ini. Wangi yang sama yang pernah ia rasakan dulu, sudah sangat lama sekali. Tapi wangi ini ... pernah dimiliki seorang lawan jenis yang mengambil pelukan pertamanya saat itu. Seorang pria pertama yang pernah mengisi hatinya.
Seketika Lyra melepas pekukannya pada Mayra.
"Aku suka bunda Lyla," ucap sang gadis kemudian.
"Mayla kamu dangan lama-lama peluk Unda atu, Unda lyla kan Undaa atu," celoteh Irsya.
"Iya Isyaa, tapi sekalang bunda kamu bunda aku juga," senyum bahagia Mayra.
__ADS_1
"Oke, sekarang kalian mau apa?"
"Ichaa mu es klim Undaa," celoteh Irsya.
"Mayla juga suka Es klim Bunda," ujar Mayra tak mau kalah dengan Irsya.
Dan merekapun menuju penjual Es Krim saat ini, Mayra dan Irsya tampak saling bergelayut di tangan kanan dan kiri Lyra.
Duhhh, mengapa aku jadi aneh dengan perasaan seperti ini, aku seperti sudah benar-benar memiliki anak, padahal menikahpun belum. Ingin tertawa rasanya saat ini, tapi aku senang melihat kegembiraan di mata mereka.
Tiba-tiba terlintas ucapan Kak Fida, "Kau masih sendiri Lyra, jika ada pemuda yang menyukaimu, ia pasti akan kabur karna disangkanya Irsya benar-benar anakmu."
Ya Robb, bahkan sekarang aku menggenggam 2 anak bersamaku, biarkanlah ... bukankah jodoh Engkau yang menentukan bukan pandangan mata manusia, gumamku dalam hati.
"Yeaaa, kita sudah sampai tempat Es klim," ujar Mayra.
"Atu dulu Undaa ..." ucap Irsya.
"Aku dulu Bund ...." pinta Mayra.
"Atu ...
"Akuu ...
"Heiii, bunda tidak jadi belikan kalian Es krim kalau tidak ada yang mengalah."
"Ichaa, saja yang duluan Bunda," ucap Mayra tiba-tiba.
Keduanya sedang memakan Es krim saat ini, tampak pipi keduanya bercecer EsKrim. Lyra segera mengambil tisu basah dari dalam tasnya, dan membersihkan pipi keduanya dengan sangat lembut.
Anak ini, entah siapa anak ini? bahkan aku tidak tau asal usulnya? wajahnya cantik, ia juga baik, kedua orang tuanya sudah sangat baik merawatnya. Dan aku dalam 1 hari sudah menjadi bunda untuknya ... Lyra, Lyra ... ada-ada saja yanng terjadi dalam hidupmu.
Tak bisa berhenti tersenyum sepertinya wajah ini mengamati kedua bocah menggemaskan di hadapanku.
Hingga seseorang tampak menghampiri kami dari kejauhan ...
"Mbak siapanya Mayra," tanyaku.
"Kenalkan saya Indah, pengasuhnya Bu," ujar wanita tersebut.
"Saya sangat panik Bu, untung saja saya menemukan Non, sejak tadi ayahnya sudah telepon dan saya terus mencari alasan. Terima kasih ya Bu, sudah bantu menjaga Mayra," ujar sang pengasuh kembali.
"Mbak, ini Bunda Mayla," celoteh Mayra yang di sambut keheranan di wajah sang pengasuh.
"Ini Unda atu tapi sekalang Unda Mayla duga," lagi-lagi Irsya tak mau kalah dan mbak Indahpun segera memahami dengan fikirnya sendiri.
Ponsel sang pengasuh kini berdering, sang ayah disana semakin panik putri dan pengasuhnya tak kunjung datang.
"Iya Pak?"
"Kau dimana? Mayra baik-baik saja bukan?" tanya sang ayah.
"Non masih makan Es Krim Pak," ujarnya.
"Berikan ponselnya pada mayra," tegas sang ayah berusaha memastikan kondisi putrinya.
Mbak Indah segera me loudspeaker panggilan tersebut karna tangan Mayra tak bisa memegang ponsel, es krim di tangannya masih belum habis juga.
"Haii ayah ... " sapa Mayra.
"Sayanggg ...."
Deg* Suara ini sangat tak asing, kata sayang ini ... aku pernah mendengar yang serupa. Kenapa jadi sesak seperti ini jantungku. Kembali kudengar pembicaraan Mayra dengan sosok ayah diponsel tersebut.
"Ayah tenang mendengar suaramu nak, kau dimana? jangan jauh-jauh dari ayah sayang, kau kan tau ayah tak bisa jauh darimu."
Semakin jelas mendengar suara di hadapanku, semakin sesak rasanya. Akupun berdiri dan menjauh dari mereka. Tak ingin mendengar suara itu. Jantungku tak bersahabat dengan suara itu.
__ADS_1
"Bental lagi ya ayah, Mayla akan ke tempat ayah setelah Es Klim Mayla habis."
"Oke ayah tunggu, cepat ya nak!! Ayah sayang Mayra." Padahal aku sudah berdiri menjauh tapi aku masih menangkap suara dari telepon itu, siapa pemilik suara ini?? berusaha mengingat ...
Tak berselang lama,
"Bunda, Mayla pamit. Mayla sayang Bunda," tubuh sang gadis memeluk kakiku kini, akupun berjongkok menyeimbangi tubuhnya. Iapun spontan langsung memelukku. Duhhh wangi tubuh anak inipun membuatku sesak. Kulepaskan pelukan Mayra.
"Sampai bertemu lagi sayang," ujarku.
"Iya bunda, aku akan ajak ayah membawaku ke lumah Isyaa saat aku kangen bunda," celoteh Marya.
"Kau telepon atu saja kalau tangen Unda atu. Da pa pa kok, bolehkan Unda?" Irsya kembali berguman.
Akupun tersenyum.
"Aku gak punya hp Isyaa,"
"Itu Mbak tamu puna," ucap Irsya sambil menunjuk pada mbak Indah.
"Oh, boleh-boleh," segera mbak Indah dengan cekatan ingin menyimpan nomer Irsya.
"Berapa nomer hp adek ganteng?" tanya sang pengasuh kearah Irsya.
"Atu duga dak tau nomer Ami atu," polos Irsya.
"Yahh gimana sih kamu Isyaa," kecewa Mayra.
"Tamu cimpen nomel Undaa aja sana, Unda atu duga puna hp, iyakan Unda?"
Akupun lagi-lagi tersenyum dan mengangguk.
"Berapa nomer Ibu?" tanya Mbak Indah.
Akupun akhirnya menyebutkan nomer ponselku yang segera di simpan oleh sang pengasuh.
"Bye Isyaa, bye Bunda ... " bayang Mayra semakin menjauh dari kami.
Aku masih sibuk dengan fikirku. Kududukkan tubuhku disisi Irsya yang masih menikmati es krim di tangannya.
Suara itu? Wangi parfum itu? aku sangat mengenalnya? siapa laki-laki di telfon tadi? Ia adalah ayah Mayra, mungkinkah ayah Mayra adalah ...
Kembali kuingat nama Mayra, Mayra Khansa Putri Angyoyo. Angyoyo ... sesakku kembali saat mulai kusadari, Anggoro. Dimas Anggoro. Nama belakang yang sama, apakah mungkin Mas Di- mas a- yah Mayra?
Aku harus memastikannya,
Irsyapun tampak sudah selesai memakan es krim di tangannya ...
"Irsya, ayo ikut bunda sekarang nak?" ujarku.
"Temana Undaa, tanan Ichaa lentet. Ayo tuti tangan dulu Undaa," pinta Irsya.
"Sini berikan tangan Irsya," aku segera mengelap tangan Irsya dengan tisu basah yang kupunya.
Segera kugendong Irsya dan berjalan kearah Mayra dan pengasuhnya tadi menjauh.
Dimana mereka? Kuputari terus arah keluar Mall dan sekitar keduanya berada tadi. Tapi aku tak menemukan bayang mereka.
Mungkin aku hanya terbawa perasaanku. Bodohnya aku, ini hanya kebetulan. Tidak mungkin Mayra putri Mas Dimas. Karena mas Dimas tinggal di Bandung. Sadarlah Lyra ... apakah kau hendak terhempas kemasa lalumu kembali? kusandarkan tubuhku ke tembok masih dengan menggendong Irsya.
Astagfirulloh ... Kumohon ampunan padamu Ya Robbku atas segala kelemahanku ...
●●●●
🌻Dan di basemen tampak seorang ayah menggendong putrinya diikuti sang pengasuh, mereka menuju mobil sang ayah berada kini.
●●●●
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤