Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Main Kerumah Firgie


__ADS_3

1 Tahun kemudian


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pukul 16.10


"Udah dimana Sayang..."


"Bentar lagi aku sampe Gie.."


Dan tak lama..


"Heiii" Lyra mengagetkan Firgie dan muncul dari belakang.


"Eh.. nakal ya. Tadi kau bilang akan muncul dari arah Mall."


"Sengaja.. ingin buat kau kagett" ujar Lyra senyum terus mengembang di bibirnya.


"Bagaimana acara line tadi?" tanya Firgie antusias.


"Rame, banyak yang hadir. Maaf aku membuatmu lama menunggu ya sayang..." ujar Lyra manja sambil memainkan jemari Firgie.


"Untukmu menunggu sampai seribu tahun pasti kulakukan" jawab Firgie.


"Ishh.. mulai deh gombalnya..."


"Kau jadi main ke rumahku hari ini kan Ly?" tanya Firgie serius pada Lyra, yang telah beberapa kali menolak ajakannya untuk bertemu keluarga Firgie.


"Mm.. gimana ya Gie.. aku malu.." lirihku.


"Malu kenapa?" tanya Firgie lembut sambil mengelus bahu Lyra.


"Aku kan wanita, kayaknya main ke rumah pria. Gimana gitu..."


"Tapi ibu ingin mengenalmu Lyra, ia sudah sering meminta padaku.." desak Firgie.


"Apa ibu akan menjewerku karena sering membuat anaknya jarang di rumah?" ujarku.


"Ihh.. kau ini. Ibuku sangat baik sayang. Mau ya?" ujar Firgie tampak tatapan pengharapan disana.


"Hmm.. okelah." Jawabku.


"Tapi antar aku ke kossan dulu ya, ingin ganti pakaianku."


"Kenapa harus ganti, ini sudah cantik." ujarnya sambil terus menatapku.


"Tunggu sebentar..." tiba-tiba Firgie menahanku ketika hendak naik ke motor.


Ia menyentuh dahiku, "Ada beberapa rambutmu yang keluar sayang." Firgie dengan sangat hati-hati memasukkan beberapa helai rambut yang keluar tersebut, memasukkan dan menyembunyikannya dalam hijabku. Setelahnya merapikan keseluruhan hijabku.


"Dahh cantik..." ujarnya.


Ahhh Gie.. perhatian2 kecil seperti ini yang membuat hatiku akhirnya luluh padamu sayang, batinku.


"Ayo naik ko malah bengong sih?" ucap Firgie membuyarkan lamunanku.


"Oh i- ya, maaf" lirihku sambil tak bisa ku sembunyikan senyum yang ingin terus mengembang melihat sosok di hadapanku.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Rumah sederhana dengan gaya minimalis tampak di hadapanku kini.

__ADS_1


Seorang ibu yang sedang duduk di teras tampak berdiri dan kaget melihat kedatangan putranya yang tak sendiri saat itu.


Dengan hati berdebar aku turun dari satria merah yang kunaiki.


Kutatap seorang ibu yang sejak kedatanganku tak jua melepas tatapannya padaku. Ku anggukan kepalaku dan memberi senyum terbaikku padanya sambil menunggu Firgie yang masih membuka helm dan jaketnya.


"Ayo sayang!" Firgie menggenggam tanganku, membawaku mendekati ibunya yang sejak tadi memperhatikanku.


Duh.. detak jantung ku berdetak tak beraturan.. Kueratkan genggaman tangan Firgie, Firgie yang menyadari seketika menoleh kearahku dan memberi senyum untukku. Menenangkanku lebih tepatnya.


"Ayo..." ajaknya kembali.


Tak lama kamipun sudah berada tepat di hadapan sang ibu.


"Assalamu'alaikum" ujarku pada sang ibu. Sambil kuulurkan tannganku ke hadapannya.


"Wa'alaikumussalam" jawab sang ibu. Sambil membalas uluran tanganku.


Kukecup punggung tangan sang ibu sebagai salam penghormatan untuknya. Firgie pun melakukan hal yang sama setelahnya..


"Ayo kita masuk ke dalam!" ujar sang ibu.


Kami sudah duduk di sofa ruang tamu saat ini.


Firgie seketika masuk ke dalam meninggalkanku dan ibu. Tak lama Firgie kembali dengan sebuah nampan berisi 2 gelas berisi air berwarna merah di tangannya. Ia meletakkan gelas gelas keatas meja setelahnya dan duduk di sisi sang ibu.


Tampak Firgie begitu cekatan melakukannya, seolah tak ingin sang ibu merasa letih. Ia bertindak sebagai anak tertua, melakukan hal yang biasa di lakukan wanita tanpa rasa risih.


Firgie.. akan tidak bersyukur jika aku tidak menghargai orang sebaikmu, ku tatap Firgie dan ku berikan senyum untuknya.


"Ayo diminum Lyra!!" ujar sang ibu.


Firgie tak lama mengambil gelas di hadapannya, meminumnya kemudian menganggukkan kepalanya sambil menatapku. Seakan menyuruhku untuk mengambil gelas di hadapanku juga. Akupun seakan tersihir mengikuti perilakunya.


"Iyya buu" jawabku.


"Berapa usiamu nak?" tanya ibu padaku.


"20 tahun buu."


"Kau asli mana nak?" tanya ibu lagi.


"Aku keturunan jawa tapi sudah lama menetap di Jakarta bu" jawabku.


"Lyra disini merantau bu, jadi dia ngekost" ujar Firgie menambahkan.


"Owh.. Lyra, ibu senang bertemu denganmu. Sebenarnya Firgie sudah lama cerita punya teman wanita, makanya ibu mendesak ingin bertemu. Apa kau keberatan nak bertemu dengan ibu?"


"Tidak bu."


"Ibu penasaran... Siapa wanita yang sering di datangi anak ini? (tampak ibu mencubit hidung putranya dan di balas senyuman oleh Firgie sambil melirik Lyra malu) Tapi ibu tenang setelah bertemu. Kau terlihat anak yang baik nak.."


Aku masih menunduk sambil sesekali menatap dan tersenyum pada ibu.


Tiba-tiba datang dari arah luar seorang pemuda dengan perawakan lebih tinggi dari Firgie, wajah yang serupa namun banyak bekas jerawat disana.


"Ehh ada tamu nih.." ujar pemuda itu.


"Lyra, kenalkan ini Fikra adik Firgie" ujar ibu.


Aku mengangguk dan tersenyum padanya sebagai salam perkenalan.

__ADS_1


"Nih cewe lo mas, pinter lo milih mas.." ujar Fikra.


"Diem lo Fik, udah masuk sono mandi dah bau tuh badan..." tampak Firgie menggoda sang adik.


Tak lama Fikrapun berlalu.


Setelahnya dari dalam kamar keluar bocah kecil nan cantik tiba-tiba tidur di pangkuan sang ibu.


"Ini Yasmin, adik terkecil Firgie, Lyra.." ujar ibu sambil mengelus kepala sang anak.


"Ihh ni anak kok tidur lagi sih, pindah ke kamar lagi sana!" ujar sang ibu pada putrinya..


Firgie tak lama mendekati adiknya..


"Ayoo Cantikk... Bangun gak, mas kelitikin nii..." terlihat Firgie sangat iseng mengganggu Yasmin adiknya.


"Udah mass... udahhh... mas nakal..." rintih Yasmin kemudian bangun dari tidurnya dan duduk di sisi sang ibu. Ia tampak kaget melihat ada sosok asing di hadapannya. Ia bersembunyi pada tubuh sang ibu menutupi malunya.


"Ihh.. Fitrah ko ngumpet sihh.." ledek Firgie.


"Aku bukan Fitrah aku Yasmin" ujar sang adik kesal sambil memajukan bibirnya sangat lucu.


"Ihh bibirnya kok dimanyunin sih.. mas cium nihh.." Firgie tampak masih menggoda sang adik.


"Ibuu, mas Firgie nii nakal.." lirih Yasmin.


"Udah dong Giee...." ujar ibu seketika menghentikan gurauan putranya.


"Yas.. kenalin nih temen mas, namanya mbak Lyra. Ayo salim" ujar Firgie.


Yasminpun mengulurkan tangannya.. aku menyambut tangan kecil tersebut. Tampak ia kemudian mengecup punggung tanganku. Karna malu ia segera berlari ke dalam dan terdengar menyalakan TV disana..


Tak lama kemudian, datang kembali dari arah luar seorang anak laki-laki berusia sekitar 11 tahun membawa layangan di tangannya.. iya berlari menuju dapur tak menghiraukan ada tamu saat ini..


"Duhh.. anak itu. Itu adik Firgie no.3 namanya Firraz, Lyra" ujar ibu.


Firrazpun tak lama muncul dan kaget juga ada tamu ternyata. Ia ingin beranjak keluar lagi tapi ibu menahannya.


"Sini sebentar mau kemana lagi sih" ujar sang ibu pada Firraz.


"Salim dulu sama mbak Lyra, temen mas Firgie" ujar ibu.


"Pacar mas Firgie ya bu?" ujar Firraz spontan.


"Ihh.. ni anak ngomongnya. Ini temen mas Firgie, anak kecil gak boleh ngomong begitu yaa!!" tampak ibu menyentil hidung Firraz.


Firraz pun langsung menyodorkan tangannya dan salim pada Lyra..


"Mbak Lyra cantik" ujar Firraz berkata malu-malu kemudian menghambur keluar kembali.


"Duhh.. anak itu.. maaf ya Lyra" ujar ibu.


"Lyra.. kamu pasti heran ya adik Firgie banyak?" tambah ibu lagi..


"Nggak ko bu.. malah enak rame bu.." ujarku.


"Iya sih emang rame, tapi ya gitu klo udah ngumpul pada godain adiknya ibu yang pusing.." gumam ibu.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


#Mohon dukungannya selalu ya all readers❀

__ADS_1


#Happy reading😍


__ADS_2