
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻19:15 KEDIAMAN DIMAS
Sebuah Ayla Silver tampak memasuki kawasan perumahan elit di daerah Cikarang saat ini.
"Kau yakin ini rumah Dimas, Mas?" tampak kak Fida tercengang melihat rumah megah dihadapannya.
"Sesuai Map sih benar, aku sudah lama tak kesini, aku hanya ingat rumah Dimas besar berwarna putih," ujar mas Fahmi.
"Benar Mas, Kak, ini rumah mas Dimas," terang-ku pada 2 sejoli yang masih tampak ragu dan menerka-nerka. Mereka tampak kaget mendengar kata yang keluar dari bibirku.
"Ka-u pernah kerumah Dimas sebelumnya kah?" heran kak Fida darimana aku mengetahuinya.
Akupun mengangguk. Dan kedua sejoli tampak kembali terhenyak saatku menuturkan jawabku.
"Kapan kau kemari Ly, kau tak pernah cerita padaku?" tanya kak Fida.
"Sudah lama Kak, mungkin aku lupa menceritakannya padamu," ujarku.
"Sudah, yang penting Lyra yakin ini rumah Dimas, aku akan masuk kedalam kalau begitu."
Seorang security tampak bertanya pada pada Fahmi saat mobil kami tepat di depan gerbang rumah besar tersebut.
"Maaf cari siapa?" ujar Pak satpam.
"Saya Fahmi, rekan Dimas," ujar mas Fahmi.
"Oh mas Fahmi, monggo silahkan masuk," sang satpam segera menekan tombol dan terbukalah gerbang rumah besar tersebut.
Bismillah ... batinku, sebelum akhirnya kami berempat turun dari mobil. Kami memang berempat kini, aku, kak Fida, mas Fahmi dan Irsya tampak beriringan menuju pintu utama rumah Mas Dimas Anggoro, calon suamiku.
Awalnya mas Dimas bersikeras ingin menjemputku, tapi aku tak kalah tegas mempertahankan prinsipku,
"Kalau hanya berdua aku tidak mau semobil dengan Mas," ucapku pada mas Dimas.
__ADS_1
Dan mau gimana lagi mengajak Mayra dimalam hari dalam jarak jauh sangat beresiko, akhirnya mas Dimas menyerah dan membiarku semobil bersama keluarga mas Fahmi saat ini.
Agak timpang sebetulnya membandingkan keluargaku dan keluarga mas Dimas, kata pepatah bagai bumi dan langit, tapi mas Dimas terlihat sangat serius sekali, sampai sudah memberi cek pula. Aku jadi teringat cek itu. Setelah cek diberikan, bagaimana jika restu tak di dapat. huhh ... entahlah, kupasrahkan apapun yang terjadi pada diriku.
kami berada dimuka pintu besar berwarna putih saat ini. Semua masih tampak seperti saat 7 tahun lalu aku kemari, pagar yang sama, taman yang sama, pelataran mobil yang sama, lalu bagaimana sikap orang-orang didalamnya?
Mas Fahmi menekan bel saat ini, dan tak menunggu lama pintupun terbuka. Bukan ART yang membuka pintu, melainkan mas Dimas sendiri. Mas Dimas langsung mencari bayangku dan matanya terlihat berbinar menemukan wajahku, mata sayu yang dahulu sering menatapku, masih terlihat sama bahkan sekarang tampak lepas tanpa beban.
Mas Dimas mengarahkan kami keruang keluarga, ruangan luas dengan sofa putih besar berbentuk U mengitari ruangan. 1 sisinya terdapat meja panjang dengan foto-foto berjejer dan beberapa vas bunga kaca yang terkesan minimalis namun terlihat mewah dipandang. Semua masih sama saat 7 tahun lalu aku menginjakkkan kakiku ke ruangan ini. Ruangan yang sangat nyaman, dimana aku bertemu dengan tante Arini saat itu.
"Kalian duduklah dahulu, aku akan memanggil ayah dan ibuku," ujar mas Dimas sebelum akhirnya ia meninggalkan kami.
Tak lama tampak wanita agak tua menghampiri dengan nampan di tangannya, ia langsung meletakkan teh manis hangat dan 2 piring kue keatas meja dihadapan kami.
Setelah beberapa saat berlalu, bayang mas Dimas akhirnya muncul. Ia berjalan di depan diikuti 2 orang paruh baya di belakangnya. Aku, Kak Fida dan Mas Fahmi seketika berdiri melihat kedatangan orang tua mas Dimas.
Tampak orang tua mas Dimas memperhatikan kami satu persatu dikejauhan. Hingga kini 2 sosok tersebut telah sangat dekat dengan kami, mereka masih memperhatikan kami, hingga mata tante Arini akhirnya menangkapku.
"Ly- ra, i-ni Lyra bukan, Dim??" tanya Tante Arini terbata kepada mas Dimas, namun matanya masih menatapku.
Mas Dimas seketika merangkul bahu sang bunda, "Buu ... benar, itu Lyra dia calon istri Dimas?" bisik Dimas di telinga ibunya.
Tante Arini seketika menghampiriku, ia meraih daguku dan mengangkatnya, ia terus menatapku. Entah apa yang difikirnya hingga tiba-tiba ia meraih tubuhku, wanita paruh baya itu memelukku, "Lyraa ... " sapanya lirih di telingaku ....
Kurasakan tangannya terus menyapu bahuku, hingga beberapa saat akhirnya ia melepaskan pelukannya, matanya seakan tak percaya kembali menatapku, kuberikan sebuah senyum kini padanya.
"Buu, apa kalian akan terus berdiri saja?" ujar Dimas melihat sang ibu tak henti menatap gadisnya.
"Ohh, maaf. Mari duduk Lyra," ajak tante Arini dengan wajah semringah.
"Bu, sebelumnya kenalkan ini Fahmi teman Dimas, dan ini Fida istrinya," ucap Dimas pada sang ibu.
"Fahmi, rekanmu saat kuliah itukah?" tanya ayah.
"Benar Yah, setelah sekian lama Dimas dan Fahmi akhirnya bertemu kembali." ujar mas Dimas.
"Oya Yah, Bu ... Fida istri Fahmi adalah sahabat Lyra, dari mereka Dimas bisa bertemu Lyra," mas Dimas tampak menjelaskan dan semua menjawab tanya dalam hati ibu yang belum sempat terucap.
"Benarkah Nak??" ibu kembali memastikan.
__ADS_1
Kak Fida tampak mengangguk kini.
"Lyra bukankah kau telah memiliki putra Nak? Apa kalian berpisah?" dengan perlahan ibu bertanya hal yang ia ketahui dari Budi orang suruhan yang ia minta mencari Lyra beberapa waktu lalu.
Lyra tampak kaget dan menggeleng, "aku belum menikah bu," lirih Lyra.
"Tapi menurut Bud ...
"Ibu ... mengapa bicara hal seperti itu? Lyra belum menikah buu," seketika Dimas menyela ucapan tante Arini.
"Ohh, maafkan ibu Nak," tante Arini tampak menyesal atas ucapannya barusan namun hatinya masih dipenuhi tanya, mengapa Budi bisa membuat kesalahan sebesar ini, apa ia berbohong? batin sang ibu. Namun dibalik itu ia senang jika memang Lyra belum menikah.
"Dimas, tadi kau katakan Lyra calon istrimu, jelaskan apa maksud ucapanmu? atau ibu hanya salah dengar?" ibu bertanya tampak memastikan apakah semua yang terjadi benar-benar nyata.
"Ibu, Ayah, Dimas mohon maaf sebelumnya, telah mengambil langkah tanpa persetujuan kalian lebih dulu, sebetulnya kemarin Dimas membawa Mayra ketempat Lyra Yah, Bu.. Mencari restu kedua orang tua Lyra tepatnya."
"Lalu??" ibu tampak penasaran.
"Dimas sengaja tidak memberitahu kalian, karena jujur ada kehawatiran Dimas akan restu orang tua Lyra melihat status Dimas. Oleh karenanya, Dimas menyimpan sosok Lyra sampai Dimas benar-benar telah diterima keluarga Lyra ....
"Lalu Bagaimana Nak? Apa mereka menerimamu dan Mayra?" ucap ibu lirih penasaran dan penuh kehawatiran pula.
"Mereka awalnya meragukan Dimas Bu, Dimas seorang Duda dan Memiliki anak hasil pernikahan Dimas sebelumnya, Dimas memahami rasa takut orang tua Lyra dengan kegagalan Dimas. Apalagi dimata mereka, mungkin Lyra bisa memperoleh laki-laki yang lebih baik dari Dimas .... * mas Dimas menghentikan katanya dan terus menatapku dalam, iapun memberi senyuman kecil kearahku setelahnya.
.....namun Alhamdulillah Bu, Yah ... setelah beberapa saat kami berbincang dan Dimas berusaha meyakinkan perasaan Dimas terhadap putrinya, akhirnya ibu dan Bapak Lyra mau menerima Dimas."
Tampak rasa yang dalam pada setiap ucapan mas Dimas, ucapan penuh kekhawatiran sangat terlihat menggambarkan kehawatirannya pada saat itu. Ya, akupun melihatnya kemarin di rumah, betapa tegangnya mas Dimas saat berbicara dengan Bapak dan Ibu.
Kenapa tiba-tiba aku teringat peristiwa 7 tahun silam, keadaan mas Dimas yang sangat rapuh hari itu, aku merasakannya kembali dirumah ini, hingga mas Dimas membuat drama hanya untuk bertemu denganku, dan foto-fotoku dilacinya, mas Dimas diam-diam saat itu terus mengikutiku, mencuri gambarku. Mas Dimasku ... apa rasa itu tetap sama di hatimu Mas? apa tidak sedikitpun berubah bahkan setelah pernikahanmu dengan mbak Fris? Apa Mas Dimas selama ini tetap menyimpanku-kah?? bahkan aku sendiri saat itu telah membuka hatiku untuk yang lain ...
Berusaha merasakan kembali setiap rasa mas Dimas, membuat sesak kembali menyelimutiku, rasa kasih dan kasihan yang sangat tipis, dan aku merasa kasihan dengan mas Dimas jika selama ini menyimpan sesaknya atasku.. jika iman tidak membatasiku, aku ingin memelukmu saat ini Mas ...
Tidak ... Cukup Lyra ... Jangan lanjutkan otakmu terus mengembara kemasa lalu, tunggu sampai mas Dimas benar-benar halal untukmu, tunggulah, jangan kotori hatimu Lyra, gemuruh sisi baik dalam benakku saat ini.
Segera kupalingkan wajahku saat butiran-butiran air mulai memaksa keluar dari mataku, segera kuhapus dan kutundukkan wajahku berharap tak ada yang menyadari sesakku.
Setelah beberapa saat kutenangkan diriku, kuangkat wajahku, dan disana ... mata mas Dimas ternyata menangkapku. Oh, apakah kau melihat segalanya? batinku. Segera kupaksakan senyum untuk mas Dimas saat ini dan iapun memberi senyum pula kearahku.
Ibu yang juga turut terlarut dalam setiap ucapan mas Dimas tampak menghapus air matanya. Suasana seketika hening tenggelam dalam fikir masing-masing.
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤