
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Firgie, lelaki itu masih menungguku ternyata.
Akupun segera menjalankan ibadahku setelah berwudhu di toilet sebelumnya.
Ditempat berbeda ...
🌻Sentra Duta Residence
"Heii siapa kauu?? kau pasti maling..!! Pergi.!!! Pergi ..!!! Enyahlah kau dari rumahku," Shifaa tampak memukul-mukul sosok yang tertidur di sofa,"
"Ahh, hentikan..!!! Aku bukan maling," lirih sang pria tanpa balasan.
Seketika Bik Lasmi turun dari lantai atas menyadari ada kericuhan di ruang tamu.
"Mbak, mbak ... hentikan Mbak..!!! itu mas Aldo," bik Lasmi seraya menahan bantal sofa yang lagi-lagi hendak didaratkan ke wajah sang pria.
"Hahh, benarkah??" Shifa seketika menyalakan lampu ruang tamu di sudut dan Ohh, ternyata aku telah salah sangka.
"Maaf, lagian kenapa diam saja kupukul? dan lagi, kenapa tidur di rumahku?" ketus Shifaa membela diri.
"Bagaimana aku mau menjelaskan, kau terus memukul wajahku. Aku disini disuruh mbakmu menjaga kaliam. Puas kau?? Ahh betapa sialnya aku, pagi-pagi sudah dituduh mencuri. Untung kau adik atasanku, kalau tidak ....
"Kalau tidak apa? kau berani memukul wanita kah??" ucap Shifa penuh emosi.
"Siapa juga yang mau memukulmu, ke GR-an. Sudah aku mau bersiap ke masjid," ujar Aldo.
"Mbak, mbak ... sudah jangan berisik..!!! nanti anak-anak terbangun," ucap Bik lasmi lirih.
"Kalau sikembar bangun suruh orang itu yang diemin Bik. Masuk rumah orang gak permisi, jangan salahkan kalau kutuduh maling," ujar Shifa kembali.
"Kau sangat pintar bicara gadis manis,"
"Heii, kau menggodaku yaa? Dengar, aku sudah punya kekasih, kekasihku sangat tampan, ia juga pengusaha, heii ... kau jangan pergi.!!! Kau harus mendengarkan aku ....
Gadis aneh, tak disangka mas Dimas memiliki adik sepertimu, batin Aldo seraya berjalan keluar rumah hendak menuju Masjid.
"Gie, aku mau ke ruang laktasi dibawah," ujarku mengampiri pria yang tengah duduk setelah menjalankan ibadah subuhnya.
*Pagi-pagi begini pasti perawat belum memanggilku*, fikirku.
Firgie yang melihat paper bag dengan banyak botol segera memahami apa yang akan kulakukan. Akupun pergi setelahnya.
30 Menit berlalu, akupun kembali ke lantai 3. Kuterkaget Firgie baru keluar dari ruangan mas Dimas ...
"Kenapa kau masuk kedalam?" ujarku tak bisa membayangkan reaksi mas Dimas melihatnya, padahal semalam aku telah berbohong. Bagaimana ini??
"Tadi perawat memanggil, aku terpaksa masuk, karena perawat berkali-kali kembali memanggil," ujarnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan suamiku?"
"Dini hari tadi suamimu terus merasa sesak. Kau masuklah kedalam, ia mencarimu."
Dan aku seketika masuk ketempat mas Dimas berada. Ia menatapku dengan tatapan sayu namun tak biasa. Apa mas Dimas marah padaku??
"Ibu, darimana saja? Tolong standbye diluar ya, tadi Bapak terus memanggil ibu. Baru saja kami beri obat melalui infusnya, bapak akan tertidur sesaat lagi," panik seorang perawat memotong jalanku.
Mas Dimas masih menatapku penuh makna, diam tanpa kata.
"Mas, kau kenapa? semalam dadamu sakit kah?? Apa sekarang masih sakit?" lirihku.
"Kau darimana?"
"Aku baru saja mem-pump ASI di lantai bawah,"
"Semalam ia bersamamu kah?"
"Kau hanya berdua dengannya?"
"Mas tolong jangan banyak berfikir macam-macam. Ia kekasih Shifaa, tak ak ada urusan denganku," ucapku berusaha menjelaskan tapi keringat terus bercucuran dan terdengar bunyi grafik dari layar kotak yang begitu cepat tak beraturan.
Seketika perawat menghampiriku.
"Ibu keluar dulu yaa..!!!" ucap perawat seketika ia menutup rapat tirai ranjang mas Dimas.
Akupun keluar ruangan, Firgie seketika menghampiriku. "Bagaimana suamimu?"
Aku hanya bisa terdiam dan menggeleng perlahan. Tak lama pintu lift terbuka dan sepasang paruh baya keluar dari sana ...
"Lyraa ...," seketika sang wanita memelukku. Ya mereka adalah orang tua mas Dimas, mereka baru saja sampai saat ini.
__ADS_1
"Ibuuu ...."
"Kenapa Nak?" tanya ibu Arini lirih.
"Mas sedang ditangani ... mas akan baik-baik saja kan Bu??"
"Iya sayang, tenanglah. Ibu yakin Dimas akan baik-baik saja. Ini??" ucapan ibu Arini terhenti tatkala melihat sosok yang terus menatapku.
"Ohh, saya teman Shifaa Tante," ujar Firgie seketika.
"Oh, kau rupanya pria yang sering diceritakan Shifaa. Terima kasih kau bersedia menemani mbaknya Shifa disini."
"Tapi ... apakah kita pernah bertemu sebelumnya? mengapa ibu merasa tak asing akan wajahmu??" ujar ibu kembali.
"Sudahlah Bu, skarang kita fikirkan kondisi Dimas, oya Lyra sudah makan?" ucap ayah seketika mengaburkan fikir ibu.
"Biar saya yang membeli sarapan Bu," ujar Firgie spontan.
"Baiklah, belikan untuk kami juga ya Nak, Tante lihat ada penjual nasi uduk diluar, terima kasih sebelumnya," ucap Ibu.
"Lyra, kau tidak pakai sambal kan?" lirih Firgie padaku.
Akupun mengangguk.
Tampak ibu memperhatikan Firgie yang berbicara memanggil nama padaku. Ibu kemudian mengalihkan tatapannya beberapa saat setelahnya.
Dan aku duduk mematung fokus dengan fikirku atas kondisi suamiku ...
*Semoga tidak terjadi hal buruk pada suamiku ya Robb*, lirih batinku.
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1
🌻Maaf thor lagi mudik agak lama upnya🙏