Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Jangan Membahas Ini


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like,komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Disebuah rumah besar bercat putih.


"Bagaimana, anak buahmu sudah mendapat kabar tentang gadis di foto yang kuberikan padamu Bud?" tampak seorang ibu dengan kecemasannya.


"Maaf belum ada kabar Bu," jawab pria berkepala plontos yang merupakan orang kepercayaan sang Ibu.


"Kau ini bagaimana? Aku kan sudah bilang, kau harus bergerak cepat mendapat alamat gadis itu. Aku tidak ingin gadis itu sampai menikah dengan pria lain," ujar kembali sang Ibu penuh harap.


"Apa Ibu tidak ada jejak orang yang mengenal gadis itu kah? kita bisa menanyakan langsung padanya, saya rasa itu cara yang lebih cepat dan efisien," tanya pria bernama Budi itu.


"Coba nanti aku fikirkan? kau pergilah kembali ke tempat kos yang kuberikan alamatnya padamu, mungkin masih ada penghuni lama dan tahu keberadaan gadis itu," perintah Ibu.


"Baik Bu," segera pergi dan berlalu.


Kemana gadis itu, hanya dia yang bisa membahagiakan putraku. Tinggal seminggu lagi putra dan cucuku akan kembali ke Bekasi. Dia gadis yang baik, aku hanya ingin dia yang bersanding dengan putraku. Hanya dia pula yang pasti bisa menyayangi cucuku dengan baik. Setidaknya ini adalah cara menebus kesalahan terhadap putraku dimasa lalu.


Heni ... Ya, dia satu-satunya orang yang kukenal dan mengenal gadis itu. Mungkin saja gadis itu masih bekerja di PT yang lama. Ya, semoga saja..


Segera mengambil ponsel dan menghubungi kontak Heni. Semoga Heni tidak mengubah nomer ponselnya, batin sang Ibu.


Tut tut tut *telepon sibuk ...


Ibu mencoba beberapa kali tapi tetap sama,


Hingga kemudian ...


Tuutttt ... Tuutttt ... Tuuttt ... telepon tidak lagi sibuk tapi belum ada yang mengangkat.


Ibu masih sabar menunggu. Hingga akhirnya,


"Assalamu'alaikum, dengan siapa ini?" terdengar suara dari balik ponsel yang dipegang Sang Ibu.


"Wa'alaikum salam, benar ini Heni?" ujar Sang Ibu.


"Be- nar, i- ni siapa, ya?" tanya wanita bernama Heni tampak bingung.


"Saya Arini, ibunda Dimas," ujarnya.


"Ohh, Tan- te Ari- ni? apa kabar, Tante? Lama tidak berkabar, Tante sehatkah?" tanya Heni.


"Saya masih seperti dulu. Hen, saya butuh bantuanmu," ucap Tante Arini.

__ADS_1


"Bantuan? Apa yang bisa saya bantu Tante?" masih terdengar ragu dan bingung dalam kalimatnya.


"Kau masih bekerja di PT. XX Hen?" tanya Tante Arini.


"Saya resign 2 tahun lalu, Tante? Memangnya ada apa ya?" ia semakin bingung.


"Hen, kau ingat Lyra kekasih Dimas dulu?" tanya tante Arini sungguh-sungguh.


"Iya, ingat Tante, ada apa dengan Lyra? Kenapa Tante menanyakannya?" Heni berusaha mengira tapi tak bisa menerka apa dalam benak Tante Arini.


"Saat kau resign apa Lyra masih bekerja di sana?" Heni, mulai paham tante Arini mencari Lyra. Ada apa sebetulnya, apa ada hal yang terjadi pada Dimas seperti dulu kah?


"Lyra masih di PT Tante, bahkan ia sekarang sudah menjadi leader," ujar Heni.


"Oya, kau memiliki kontaknya? Apa Ly-ra sudah menikah, Hen?" tante Arini semakin bertanya detail pada Heni. Tampak kebahagiaan terpancar dari wajah tante Arini, merasa ada titik cerah terhadap apa yang diharapkannya.


"Kami beda bagian jadi saya tidak tahu kontak Lyra, ada nomer Lyra yang lama tapi sepertinya Lyra sudah tidak menggunakan nomer itu lagi. Soal menikah, sepertinya belum Tante, tapi itu 2 tahun lalu. Saya tidak tahu kalau sekarang," ucap Heni.


"Apa kau punya kontak seorang temanmu yang masih bekerja di PT.XX, Hen?"


"Hemm, siapa ya Te? Oiya, aku masih menyimpan nomer hp leaderku dulu. Mungkin tante ingin mencoba menghubunginya," ucap Mbak Heni.


"Boleh, kau kirim nomer hp leadermu itu ke nomer tante ini, ya!" ujar tante Arini lagi bersemangat.


"Tante, maaf ... sebenarnya apa ada hal yang serius yang terjadi? kenapa Tante mencari Lyra," Heni memberanikan diri untuk bertanya.


"Untuk alasannya, mohon maaf saya belum bisa memberitahumu soal ini," ucap Tante Arini.


"Iya sama-sama Tante, wa'alaaikumsalam,"


Merekapun mengakhiri panggilannya.


Dimas, Ibu berharap kau bisa memperoleh cintamu kembali, Nak, maafkan Ibu dan ayah yang pernah begitu egois padamu, lirih Ibu Arini.


●●●●


🌻"Heiii, makannya pelan-pelan ya, Nak!!" teriak Lyra melihat Irsya berlari menjauh ke ruang TV.


Dan tampak seorang wanita dengan perut buncitnya terus menggeleng-geleng menatap Lyra.


"Kau lihatkan! itulah akibat kau selalu memanjakannya, Ly, ia akan mudah meminta ini dan itu darimu," ujar wanita tersebut.


"Tidak apa, Kak, akupun senang melakukannya?" ujarku.


"Lyra, menurutku kau seharusnya memberi jarak pada Irsya," ujarnya.


"Lho kenapa?" heranku.

__ADS_1


"Karena kau masih sendiri, Sayang, jika ada pemuda yang menyukaimu, ia pasti akan kabur karena disangkanya Irsya benar-benar anakmu," jelas wanita itu.


Ya, memang aku sudah seperti ibu kedua untuk Irsya, sejak kelahirannya 4 tahun lalu. Aku sering bersamanya. Karena memang kondisi Kak Fida yang kurang baik, dan harus sering cek up. Alhasil Kak Fida sering menitipkannya di akhir pekan padaku, sering pula Irsya kuajak ke taklim Umi Hasna. Aku senang karena Irsya memang bukan sosok yang rewel. Asal aku bawakan sekantong snack, ia pasti akan tenang duduk di sudut menikmati makanannya.


"Biar saja kabur, lagi pula memang Irsya kesayanganku kok," ujarku berdalih.


"Hushh ... kok bicara begitu sih,"


Aku pun tersenyum.


"Kak Fidaku yang cantik, kau kan akan memiliki malaikat kecil lagi. Bolehlah Irsya untukku," gumamku.


"Sudah diam, ngaco deh Lyy ...," gumam Kak Fid.


"Iya Kak," jawabku.


"Jadi kapan kau siap menikah? nanti aku carikan teman mas Fahmi untukmu, gimana?"


Kak Fida kembali membahas hal yang aku tak suka, membuat moodku memburuk.


"Sudah jam 5 aku pulang Kak, aku lupa belum sholat Ashar," ujarku berpaling.


"Lyra, cukup! lagi-lagi kau menghindar setiap kali aku membahas masalah pasangan, kau jangan lupa, kau sudah 25 tahun Ly, orang tuamu juga sudah sering menanyakannya, kan?" Kak Fida semakin menamparku dengan kata-katanya.


"Makasih ya Kak atas perhatianmu, tapi kurasa belum untuk saat ini," lirihku.


Kulihat Kak Fida kembali kecewa dengan jawabku.


"Irsyaa, bunda pulang, ya?" teriakku memanggil bocah lelaki kecilku.


Dan kulihat lelaki kecilku berlari dari arah dalam kearahku.


"Unda mau te mana?" tanyanya.


"Bunda mau pulang sayang, kau mau ikut?"


"Mau undaa, ichaa mau main ke lumah Unda," rengeknya.


"Bolek kan, Kak, aku membawa Irsya?" ujarku meminta izin.


"Ya sudah, tapi sebelum Isya sudah kau antar, ya!!" ujarnya kemudian.


"Yeaaa, ayo anak ganteng bunda. kita bersiap ke rumah Bunda," ujarku pada bocah yang sangat imut di hadapanku kini.


Dan kamipun segera berlalu saat ini.


🌷🌷🌷

__ADS_1


●Happy reading❤


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya🐾, Thor sangat menunggu komentar-komentar kalian😊


__ADS_2