
Tok.. tok...
Kugeser perlahan ke sisi kanan pintu di depanku.
Tampak seorang wanita paruh baya duduk anggun disana, wanita yang cukup cantik diusianya yang tak lagi muda. Jilbab cream yang menggantung di kepalanya disertai hiasan tipis di wajahnya menambah kecantikan yang terpancar natural. Mungkin tak akan ada yang menyadari wanita itu sebetulnya memiliki sebuah penyakit. Wanita itu seketika memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah...
Tak lama ia tersenyum, "masuklah Lyra..."
***
Secangkir teh kembali mendarat dibibirnya saat gadis yang di tunggu tak jua datang. Sebuah buku kembali ia baca dengan serius disana.
Hingga sesaat kemudian..
Tok.. Tok..
Tampak suara ketukan dari luar.
Tak lama pintupun terbuka.
Dilihatnya gadis cantik yang tampak natural dengan lipstik nude berdiri disana. Tubuh tinggi dan ramping dengan balutan hijab softpink menutupi kepalanya. Tunik kotak berbahan flanel longgar dengan variasi warna pink, hitam dan abu-abu dengan model pinguin panjang selutut di bagian belakang tampak cantik di pakainya. Celana bahan model pensil berwarna abu-abu di sertai sepatu kets putih melengkapi perpaduan cantik sang gadis. Gadis yang pandai memadukan pakaian, batin sang ibu.
***
Perlahan kudekati wanita yang sedang duduk di sofa cantik berbentuk L disana. Restoran dengan ruangan seperti ini, baru ku ketahui. Ruangan besar yang sangat nyaman untuk mengistirahatkan diri lebih tepat seperti sebuah kamar hotel. Sangat berbeda dengan kesan rumah makan formal yang ku lihat di bagian depan tadi. Terdapat hiasan dinding yang indah di setiap sisi ruangan tersebut, beberapa kaligrafi dan lukisan berbentuk panorama alam terpajang disana. Dan beberapa meter dari tempat kami duduk terdapat pintu kaca yang mengarah pada sebuah taman dan kolam renang disana. Terdapat pula ranjang besar di sudut kanan kami berada.
"Kemari Lyra, duduklah.." ujarnya wanita itu menyadarkan keterpakuanku.
Kududukkan diriku di sisi kanan tempatnya duduk.
"Namamu Lyra?" tanya sang ibu memastikan.
Kuanggukan kepalaku dengan senyum kecilku.
"Kenalkan aku Arini, ibunda Dimas." Kami sama-sama mengangguk sebagai tanda perkenalan kami.
"Berapa usiamu?" tanyanya lagi.
"19 tahun bu. Oh ma - af tantee..." jawabku terbata.
Ia tersenyum melihatku..
2 pelayan tak lama masuk membawa beberapa menu makanan dan di letakkannya di meja di hadapan kami.
"Kita makan dulu ya Lyra!" ajak tante Arini sambil terus menatapku.
Kuanggukan kembali kepalaku.
Aku dan tante Arini ternyata mengambil menu yang sama dari meja, kamipun saling bertatap dan tersenyum. Kami makan saat itu dalam keheningan. Kulirik Tante Arini makan dengan sangat anggun tanpa suara di bibir maupun sendoknya, sangat tenang dan hening.
Hingga makanan di piring kami habis. Ia masih terus memperhatikanku, kutundukkan wajahku...
__ADS_1
"Kau sudah sholat Lyra? jika belum kau bisa sholat dulu disana" tanya Tante Arini sambil menunjuk kearah pintu di samping ranjang besar berada.
"Sudah tante, tadi saya mampir sholat di mushola Mall XX" jawabku.
Tante Arini pun mengangguk.
"Oke Lyra kita langsung saja... Heni pasti telah memberitahu semuanya, tentang kondisi Dimas saat ini."
Aku kembali menunduk mendengar nama mas Dimas disebut. Dan saat tante Arini membahas kondisi mas Dimas, dadaku sangat sesak. Merasa akulah yang menyebabkan ia seperti sekarang...
"Aku turut sedih mendengar kondisi mas Dimas tante.." lirihku.
"Henipun pasti telah memberitahumu tentang haparanku, agar kau bisa menemui Dimas. Apa kau bersedia Lyra?" tampak tatapan pengharapan di mata Tante Arini saat ini.
"Tante, aku dan mas Dimas sudah berpisah. Bukankah akan sangat tidak baik jika kami bertemu" ujarku.
"Tapi kondisi Dimas saat ini mengharuskanku memintamu menemuinya, kau bisakan? Tolonglah Lyra!" lirih tante Arini tampak kesungguhan dimatanya.
"Tantee.. bagaimana jika mbak Friss tau?" ujarku lagi.
"Dia tidak akan tau, aku akan mengurusnya. Jadi, kau bersedia kan?" tante Arini kembali memastikan.
"Boleh aku meminta syarat tante.."
"Syarat? Syarat seperti apa?" tante Arini tampak kaget.
"Mas Dimas tidak boleh tau aku datang, aku akan segera pergi jika ia bangun." lirihku tak terasa butiran air menetes di sudut mataku saat kuberfikir akan bertemu kembali dengan Mas Dimasku dan sesaat kemudian aku harus kembali melupakannya... Segera kuhapus tetesan air mataku tak ingin tante Arini melihatnya.
"Sebetulnya aku ingin membawamu saat ini juga menemui Dimasku, tapi kau pasti letih dan inipun sudah menjelang malam" ujar tante Arini.
"Besok sepulang kerja, aku akan mengirim supir menjemputmu di depan PT. XX nanti aku akan mengenalkanmu pada supir kami" tambahnya.
"Tidak tante, aku akan naik jemputan. Tidak perlu di jemput" sanggahku.
"Tolong kau menurut Lyra! agar kau lebih cepat sampai ke rumah kami" lirihnya.
"Baik tante..." ujarku tak mampu menolak keinginannya.
ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR....
Adzan Maghrib berkumandang.
Tante Arini mengajakku memasuki pintu disisi ranjang besar berada. Tak ku duga disana ada sebuah ruang kerja yang di sekat dengan mushola kecil.. Benar-benar penataan yang sangat indah bukan seperti sebuah restoran yang tampak di depan. Tante Arini sholat terlebih dahulu, aku menunggunya. Ku lihat di sekitar ruang kerja tampak Foto2 bocah kecil yang lucu. Tampak pula foto keluarga dengan bocah kecil tersebut. Aku sangat penasaran, kudekati foto tersebut. Namun tiba-tiba...
"Lyra... aku sudah selesai. Sekarang kau sholatlah" ujar tante Arini.
"Iya tante" jawabku tiba-tiba terkaget.
*Pukul 18:20 saat ini.
Kami berdua telah berada di parkiran restoran tempat kami sebelumnya berbincang.
__ADS_1
"Pak supri, kenalkan ini Lyra. Besok bapak jemput dia di gerbang PT. XX Pukul 15:30" ujar tante Arini.
"Baik bu" jawab Pak supri dengan santun.
Tante Arini pun segera naik ke mobil APV hitam di depannya.
"Lyra, naiklah. Kami akan mengantarmu!" ujar Tante Arini kepadaku.
"Tidak perlu tante, aku akan pulang sendiri" tolakku.
"Ayolah..." desakku.
"Hmm, baiklah" lagi-lagi aku tak mampu menolak keinginan wanita tersebut.
Di mobil, Tante Arini benar-benar memaksaku untuk memberitahu alamatku. Dan sampailah kami tepat di depan gerbang kossanku.
"Di sini tempatmu tinggal Lyra?" tanya Tante Arini tampak heran.
"Iya tante, aku kos di sini" ujarku.
"Aku bisa turun sekarang kah?" ujarku lagi.
"Oh.. tentu. Terima kasih atas waktumu hari ini Lyra. Sampai bertemu esok di rumah." Ujar Tante Arini sebelum aku turun.
Pintu mobil telah terbuka.
Kuraih tangan tante Arini, ku kecup punggung tangannya..
"Assalamu'alaikum tante.." ujarku segera beranjak turun.
"Wa'alaikum salam Ly- ra.." lirih tante tampak kaget dengan yang ku lakukan.
Sesaat kemudian pintu mobil tertutup kembali dan mobilpun berlalu.
*Tanpa ku sadari sepasang mata sejak tadi memperhatikanku.
Sosok lelaki tampak duduk di atas satria merahnya.
Ia menunggu tak jauh dari gerbang kossanku.
"Lyra" panggilnya saat ku hendak membuka gerbang.
"Fir- giee....."
****
#Bantu kasih jempol, vote, rate dan komen karya thor yaaa😉
Salam Cinta ❤ dari Thor....
#Happy Reading😍
__ADS_1