
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Firgie ...
Entah mengapa aku tak ingin langsung pulang hari ini, walau hembusan angin malam semakin dalam menusuk kulitku aku masih ingin menikmati indahnya lampu jalan ...
Terus kupacu laju Yarisku hingga kuliat Kawasan Pluncut, kawasan perbukitan sang sangat indah. Tenda-tenda lesehan dan sarang burung dengan lampu menjadi perhatianku dikejauhan, sepertinya asik sambil minum wedang jahe menikmati alam dan lampu rumah warga laksana bintang yang yang berkilauan. Akupun menepikan Yarisku akhirnya.
Sungguh lebih indah melebihi imajinasiku ternyata saat kuberjalan semakin masuk kedalam kawasan Pluncut tersebut.
Hingga setelah beberapa saat berjalan, aku memilih 1 tenda disana, kupesan wedang jahe dan singkong keju untuk menemani kesendirianku.
Baru kutahu ada tempat seperti ini. Shifaa pasti senang jika kuajak kemari. Anak polos itu, ia sangat apa adanya, tak terbayang responnya melihat keindahan ini. Usianya tak jauh dengan usia Lyra kala itu. Sama-sama wanita yang baik, iapun berhijab, walau Lyra tak seterbuka Shifa. Lyra akan menimbang semua yang keluar dimulutnya. Ia senang menyimpan semua sendiri dalam otaknya dan mengeluarkannya disaat ia ingin.
Lyra, sesak dadaku selalu tatkala mengingatmu. Andai musibah itu tak terjadi hari itu, mungkin saat ini kita sudah bersama. Keluarga kecil dengan anak-anak lucu dan menggemaskan. Astagfirulloh ... Apa yang aku fikirkan, Lyra pasti sudah bahagia kini. Dimas pasti telah memberi kebahagiaan untuknya.
Mengapa otakku seakan selalu tak menerima kenyataan itu. Aku rindu padamu Lyra, tinggal dimana kau sekarang? Ingin sekali melihatmu walau hanya di kejauhan, memastikan kau bahagia lebih tepatnya.
Dan dalam kesunyian malam, aku kembali teringat masa-masaku dulu bersama Lyra-ku. Pertemuan pertama yang aneh, entah mengapa pula saat itu aku mengiyakan ajakan Dewi yang menginginkanku datang keacaranya dengan anak buahnya. Hal yg kurang masuk akal kurasa kini, aku tertemu dan berbincang dengan orang yang baru sesaat bertemu.
Dan di acara Dewi, rekan-rekan Lyra meledekku ada hubungan spesial dengan Lyra kala itu. Hahh, sesuatu yang bodoh, bahkan aku tak banyak mengenal gadis yang datang bersamaku, yang kutahu hanya satu, wajah dan sikapnya menarik hatiku. Dan spontan aku ingin terus tersenyum saat ini tatkala mengingatnya, masa-masa indah kala itu.
Kumasukkan potongan singkong ke mulutku saat ini, melihat kesekeliling hanya aku sepertinya yang duduk sendiri tanpa pasangan. Tapi biarkanlah, toh aku disini tak mengganggu orang lain.
Hingga tiba-tiba 2 sejoli tampak sedang berjalan kearahku saat ini. 2 wajah yang tak asing untukku, sang pria terus merangkul bahu sang wanita, dan sang wanita tampak memeluk sebelah lengan sang pria manja. Sesekali kulihat pula sang pria mengecup kening wanitanya. Sesakku mulai terasa, wajah ini sangat tak asing ... Ly-ra dan Di-mas ... mereka tinggal di Bandung juga kah??
Segera kurubah posisi dudukku, tak ingin mereka melihat kehadiranku. Dan mereka tampak berjalan melewatiku seraya terus berbincang. Mereka duduk 2 tenda dariku, dan aku yang berada diatas mereka bisa sangat jelas melihatnya. Beruntung aku memilih tempat bertenda tadi, sehingga wajahku akan samar terlihat dari luar.
●●●●
🌻SENTRA DUTA RESIDENCE
Dimass ...
Setelah drama tertangkapnya aku saat sedang meminum tablet jantungku. Akhirnya Lyraku percaya kembali padaku. Walau ada kalimatnya yang menyesakkanku.
Masss, dengar aku ... aku juga akan sakit jika tidak bisa melihat Mas lagi.
Sayang, tentu dalam hati Mas juga tidak ingin meninggalkanmu. Ingin selalu bersamamu. Mas akan membuat harimu penuh dengan warna, setelah sesak kemarin kita lewati. Dan aku telah menemukan tempat yang pasti kau sukai.
Setelah kupastikan jaket di tubuh Lyraku terpasang sempurna, kupasangkan kini helm di kepalanya, kedua sarung tangan juga ku cek sudah terpasang, juga kaos kaki berjempol sebagai menutup auratnya.
Matic tampak sudah siap dihalaman rumah kami, sebab beberapa waktu sebelumnya aku memang meminta mang Diman untuk mengeluarkannya dari bagasi.
Aku siap dengan kemudiku kini, kutarik kedua tangan Lyraku yang tampak malu jika harus memelukku terlebih dahulu. Setelah kupastikan tangannya telah mendekapku sempurna akupun mulai melajukan maticku. Permisi Mang, jangan sampai lengah menjaga rumah, teriakku tatkala melewatinya yang sedang membuka pagar.
__ADS_1
Iya Pak, jawabnya.
~~
Lyra ...
"Jangan mengantuk yaa..!!! Mas mau ngebut, kalau Lyra kedinginan, eratkan saja tangan Lyra," teriak mas Dimas mengiringi sapuan angin yang mulai menggodaku.
"Iyaaa," kujawab dengan teriakanku.
Benar ternyata, semakin kencang laju motor yang dikendarai mas Dimas, semakin menusuk dingin kurasa, lagi-lagi kueratkan tanganku di tubuh suamiku, mencari kehangatan dan kenyamanan disana.
"Mass, kenapa belum sampai-sampai?" teriakku dibahu suamiku, karna memang aku merasa sudah beberapa lampu merah terlewati, pertokoan, berderet kafe, hiasan lampu jalan yang indah. Tapi mas Dimas belum jua menghentikan lajunya.
"Sebentar lagi sampai, sabar yaaa," ujar mas Dimas.
Hingga beberapa saat kemudian, aku terpana. Kawasan perbukitan dengan aneka wahana dan tempat lesehan tertangkap mataku.
"Kita masuk sekarang yukk..!!" ujar mas Dimas setelah memarkirkan maticnya berejer cantik disana.
"Mass ...."
"Hmm???"
Akupun berjinjit untuk menggapai telinga mas dimas, "Aku suka tempat ini," bisikku.
Mas Dimas terus merangkul bahuku sepanjang jalan kami, akupun tak kalah terus mencari kehangatan dari lengan kekarnya. Hingga pemandangan tenda-tenda lesehan menarik mataku.
"Mas aku mau di tenda, lebih private," rengekku seperti Mayra yang sedang meminta sesuatu.
"Iya Sayangg," jawabnya.
Sesekali mas Dimas mengecup keningku, duhh aku dan mas Dimas sudah seperti muda-mudi yang sedang kasmaran saat ini, seakan tempat ini milik kami dan yang lain hanya batu-batu tak terhiraukan. Mohon dimaklumilah sejak menikah yang katanya kami mau pacaran setelah menikah, nyatanya belum sempat kami lakukan. Ujian yang datang dan dilanjut dengan kehamilanku yang membuat gerakku terbatas. Seakan membuat kami tak pernah berfikir untuk menghabiskan waktu keluar bersama.
Dan kami telah di dalam sebuah tenda saat ini. Seorang pelayan tampak menghampiri membawa daftar menu restonya. Tafso Barn adalah nama tempat kuliner yanng kami singgahi saat ini, salah satu wisata kuliner di kawasan Pluncut yang banyak menarik muda-mudi karna terbilang memiliki konsep dan tampilan berbeda, tenda-tenda transparan, saung, sangkar burung hingga rumah pohon menjadi cara menarik pengunjung yang nyatanya cukup ampuh dilihat dari terisi-nya setiap tenda yang kami lewati.
Rujak cireng, strawberry ice cream dan hot lemon tea menjadi sajian malam kami, karena sudah makan pula di rumah sebelumnya. Jadi kami memilih hidangan yang ringan.
Kami saling bersuap ice cream saat ini. Tatapan mata kami saling tak melepas satu sama lain. Bisikan angin seolah menjadi melodi indah dalam kebersamaan kami malam ini. Sesekali mas Dimas mengusap bibirku yang tampak terkena ice cream yang bercecer, kami juga sesekali saling melempar senyum sebagai pancaran kenyamanan kami.
"Mas tau darimana tempat seperti ini?" tanyaku seraya mengambi potongan cireng dihadapanku.
"Dari Aldo. Mas sebelumnya sering melewatinya, tapi belum pernah masuk. Saat Aldo bercerita tempat ini sangat nyaman, Mas jadi penasaran dan mulai searching, dan ternyata benar bahkan lebih dari expectasi Mas."
"Ohh, aku fikir Mas pernah kesini sebelumnya dengan Mbak ...
"Jangan dilanjut," Mas Dimas seketika memotong ucapanku.
Dan mas Dimas merubah posisi duduknya saat ini. Ia duduk di sampingku, dan dengan cepat menarik kepalaku di bahunya.
__ADS_1
"Mas, jangan begini malu, ini tempat umum," lirihku.
"Kau lihat tenda-tenda disekitar kita, mereka juga melakukannya. Bahkan mereka belum tentu halal, mengapa kita yang halal malah malu," ucap mas Dimas.
"Tapi yang lain taunya aku berhijab, dan mereka juga tidak tau kita sudah menikah. Nanti jadi omongan," bisikku.
"Nanti mas suruh pelayan kasih tulisan di tenda kita, Pasangan sudah menikah. Biar tidak ada yang berfikir negatif, kalau perlu kita tulis nama ketiga buah hati kita pula, bagaimana??"
"Ishhh, imajinasi tinggi," ucapku sambil ku kerucutkan bibirku.
"Aduuhh, bibir ini mas jadi gemess pengen ...
"Mas awas jangan macam-macam," potongku sekaligus mulai memberi jarak tubuh kami.
"Siniii, mas juga tau kalau yang itu gak boleh di tempat umum," ujar mas Dimas sambil menarik tubuhku kembali mendekat.
"Lyra sayang Mas kan?"
Akupun mengangguk sambil menatapnya.
"Jangan hanya mengangguk, katakan yang jelas," ujar mas Dimas kemudian seraya mendaratkan kecupan di pelipisku.
"Apa masih perlu diucapkan, bukankah Dirga dan Diyara sudah menjadi buktinya," lirihku berkilah karena malu untukku mengucapkan kata cinta walau kepada suami sendiri.
"Mas mau mendengar ucapan sayang Lyra pada Mas,"
Akupun menggeleng, "Malu Mas," lirihku.
"Hmm, baiklah. Sayanggg ... "
"Hmmm???"
"Mas sangat sayang Lyra, sangat sayangg ... sayang Mayra, Dirga, Diyara, sayang kalian semua. Lyra selalu ingat itu ya.!!"
Dan seketika aku ingin memeluk suamiku, kulingkarkan tanganku di tubuh mas Dimasku, kusembunyikan wajahku kebahunya, merasakan harum tubuh suamiku yang sudah sangat kuhafal, merasakan kehangatannya. Serasa tak ingin melepaskannya. Kurasakan pula tangan kekar suamiku membalas pelukanku.
"Memeluk Mas di tempat umum memang tidak malu??" bisik mas Dimas.
Akupun menggeleng, "Sudah halal," lirihku seraya semakin menenggelamkan kepalaku malu.
"Nakal, sudah yaa ... kita pulang dan lanjutkan di rumah,"
"Ishh Mass," kujauhkan tubuhku dan memberi senyum terbaik untuk suamiku baru setelahnya kami bersiap untuk pulang.
°°Dan di kejauhan ...
Ternyata Lyra sangat berbahagia dengan Dimas ...
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1