
●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤
●Tolong jangan bosen, please ... pleasee😘
●Menuju ending😊
●Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
🌻Dimass ...
Dan aku kembali lagi ke rumahku, kediaman yang beberapa hari menyimpan sesak bagi kami seluruh penghuninya. Berbagai tragedi terjadi begitu cepat, baru saja kebahagian hendak kukecap setelah operasi jantungku yang mengharu biru. Dan kini tragedi kembali terjadi di keluarga kecil kami.
Pukul 23:00 saat ini. Seharian kubagi aktifitas otakku, setelah pertukaran yang tiba-tiba di batalkan, tragedi kecelakaan yang menewaskan Rendi dan membuat koma Frista, putriku Diyara yang masih juga belum ada jejak keberadaannya, akupun juga harus memantau beberapa cake shop-ku. Tak adil jika tragedi yang keluargaku alami, berimbas pada penghasilan para karyawanku. Oleh karenanya cake shop berjalan normal seakan kami tak ada masalah.
Memasuki rumah menjadi momok yang begitu menyeramkan saat ini untukku, bagaimana tidak? Lagi-lagi aku akan berjumpa dengan istriku yang sangat rapuh saat ini. Tak bisa menatap kesedihannya dan hawatir ia akan menangkap pula kegelisahanku. Lyra-ku yang malang hidup bersamaku seakan membawa derita yang tiada akhir. Tapi aku harus selalu menjagamu, sebab aku telah berjanji bukan hanya di hadapan ayahmu tapi juga dihadapan Robb-ku.
Kubuka pintu besar berwarna putih dihadapanku kini, pintu yang membawaku menuju kepembaringan kami. Kamar yang banyak menoreh kebersamaanku bersama Lyra dan kedua bayi kembarku. Membayangkan bayi kembarku, terlintas kembali sosok Diyara malaikat cantikku yang sejak dilahirkan kepedihan sudah menyertainya. Dimanapun kau kini cinta dan do'a ayah selalu bersamamu Sayang, gejolak batinku.
Kudekati dan kutatap wajah Lyra istriku yang tertidur, wajah ayu yang terlihat polos tanpa dosa saat tertidur. cembung dibawah matanya sudah cukup mengartikan kesedihannya. Andai bisa, akan kuhapus semua cerita tentang sesakmu dalam kisah bersamaku ini. Wajah yang tetap sama walaupun 8 tahun lebih semua kisah ini bermula, wajah polosmu kala itu selalu menari dibenakku. Walau kini, wajah itu telah berubah menjadi wajah kedewasaan walau manja dan lemah sesekali kau tunjukkan.
Lyra-ku ...
Kukecup perlahan kening wanita tercintaku, tak ingin ia terganggu dalam pelukan bunga tidurnya. Kuganti pakaianku dan kurebahkan diriku disisinya, harum tubuhmu selalu menjadi candu untukku, kutempelkan perlahan wajahku di bahu belakangnya yang membelakangiku. Ingin memeluk tubuh istriku, tapi kuurungkan niatku sebab tak ingin ia terbangun.
Pukul 02.00 kuterbangun saat kudengar rintih dan senggukan seorang wanita disisi ranjangku. Kutengok, ternyata Lyraku sedang mengadu pada Robb-nya. Melihat seperti ini sesak kurasa, Lyra sangat sedih ... aku harus bisa mengetahui keberadaan putriku, mengikis sesak Lyraku. Tak bisa aku melihatnya seperti ini.
Lyraku melipat sajadahnya kini, kupura-pura terpejam tak ingin ia menyadari aku memperhatikannya. Lyraku mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya di sofa. Udara Bandung sangat dingin di dini hari seperti ini, kenapa ia tidur disana bahkan tanpa selimut.
Kuangkat tubuhku dan menghampirinya. Kusapu kepalanya, hingga ia menoleh dan terhenyak menyadari aku duduk disisinya.
"Kau sudah bangun Mass?" lirihnya.
"Kenapa tidur disini? Ayo kembali ke ranjang," ujarku dan ditanggapi gelengan kepala oleh Lyraku.
"Ada apa Sayang? tidur di sofa dingin ..." ucapku kembali.
Dan lagi-lagi Lyraku menggeleng. Ia membelakangiku dan memejamkan matanya. Kuangkat tubuh rampingnya hingga ia terkaget.
"Turunkan aku Mass," ujarnya.
"Kita tidur di ranjang!"
"Tidak Mass," dan Lyraku masih bersikeras turun dari gendonganku namun kumenahannya.
Dan sampailah kami kepembaringan, kuturunkan perlahan tubuh Lyraku. "Kau tidak mau tidur didekat Mas?" ujarku mulai memahami yang terjadi.
Lyraku lagi-lagi hanya terdiam.
"Mas yang akan tidur di sofa nanti, Lyra tidurlah disini, mas tidak akan mengganggu." Kututup tubuh istriku dengan selimut dan aku bergegas menuju sofa.
__ADS_1
Kupahami Lyraku yang masih syok dengan segala yang terjadi. Ia merasa bersalah, sebab disaat hilangnya Diyara bahkan kami sedang menikmati malam berdua saat itu, walau semua sebab pengaruh obat yang dimasukkan Rendi dalam orange jus yang kami teguk.
🌻**1 Minggu Kemudian**
"Jadi Friss masih belum sadar?"
"Belum Bu," ucap mas Dimas menjawab tanya ibu sembari sarapan masih dihidangkan Bik Lasmi kehadapan kami. Ibu memang masih *stay* di rumah kami, masih menghawatirkan keberadaan cucunya. Sedang ayah sudah kembali ke Bekasi mengurus usahanya. Dan orang tuaku, sebab kondisi Bapak yang kurang baik hanya bisa mensupportku dengan do'a dan percakapan melalui sambungan telfonku.
"Aku akan ke rumah sakit membawa Mayra," ujarku.
"Mas akan antar," akupun mengangguk.
"Semoga kehadiran Mayra hari ini bisa mengetuk kesadaran Friss," ucap ibu.
"Aamiin Bu, lusa waktu Mayra kubawa ada gerakan kecil di jemari Friss, semoga kedatangan Mayra kedua ini bisa memberi respon lebih, bahkan Lyra harap Friss bisa sadar," lirihku dan mas Dimas seketika menyapu bahuku.
"Sudah ... sudah, kita makan dahulu lanjut mengobrol nanti. Mayra makan yang banyak ya Sayang," ujar ibu menyapu kepala cucu yang duduk disisinya.
"Iya Uti," jawab Mayra seraya memberi senyum yang meneduhkan membuat kami yang melihat terbawa tersenyum pula saat ini.
•
•
Dijam pulang sekolah, aku, mas Dimas dan juga Dirga dalam dekapanku sudah menunggu Mayra di depan kelasnya. Dirga memang sering kubawa kini, aku lebih tenang membawanya kemanapun ku pergi setelah tragedi itu.
__ADS_1
"Bunda, Adik ...," panggil Mayra yang telah keluar kelas seketika menciumi adik kecilnya dalam gendonganku.
"Kau bisa mengerjakan tugasmu tadi Sayang?" tanya mas Dimas kearah sang putri.
"Bisa Ayah, Mayra nomer 1 kumpulkan tugas," jawab polos Mayra.
"Pintar anak Ayah."
"Kita akan menemui ibu Frista lagi kah, Bun?" tanya Mayra kini.
"Iya Sayang," jawabku seraya menyapu kepala yang tertutup hijab dengan tali samping yang membuat Mayra tampak cantik dan menggemaskan tersebut.
Setelah hilangnya Diyara, aku memang lebih terbuka pada Mayra. Walau usianya bahkan belum genap 7 tahun, ia sangat dewasa menyikapi yang terjadi. Bahkan ia terus melontarkan empati dan semangat disaat terpurukku. Mayra teman curhatku jika ayahnya sedang sibuk, kuceritakan pula tentang mbak Friss yang merupakan ibu kandungnya, dan bagaimana kesadaran Mbak Friss akan sangat membantu ditemukan adik kecilnya kembali. Walau untuk Rendi ayah kandungnya, kami menutup rapat hal itu. Cukup Mayra tau mas Dimas adalah satu-satunya ayahnya, tak ingin prilaku buruk Rendi mempengaruhi jiwanya, toh Rendi juga sudah meninggal.
🌻Dago Hospital Grub
Diusianya yang masih di bawah 10 tahun, Mayra harusnya tak bisa memasuki kamar isolasi Mbak Friss. Tapi setelah dengan keras kami meyakinkan dokter pendamping mbak Friss, dan pentingnya kehadiran Mayra untuk membuka tabir keberadaan putri kami. Akhirnya dokter mengizinkan dengan resiko kesehatan Mayra pihak keluarga yang akan menanggung.
Dengan menggunakan pakaian steril serta masker yang rapat, Mayra kini disisiku terus menggenggam erat jemari ibunya. Kubiarkan Mayra berucap apapun yang ia ingin. Mayra cukup pintar ia tau pentingnya kehadiran dirinya untuk Frista yang mulai sadar perannya sebagai ibu sebelum kecelakaan itu.
"Ibu Frista, kenapa belum bangun? Ini sudah siang Bu, Mayra mau main dengan ibu .... Apa ibu tidak rindu dengan Mayra? Kata Bunda, dulu Mayra ada di perut ibu Frista, ibu Frista baik sudah menjaga Mayra. Ibu membiarkan Mayra menendang perut ibu, ibu memberikan makanan saat Mayra di perut ibu. Ibuu ... ayo bangun, Mayra akan sayang ibu Frista seperti Mayra menyayangi Bunda Lyra. Mayra senang punya 2 ibu. Ibuuu ...." bisik Mayra perlahan ketelinga mbak Frista seraya terus mencium wajah wanita yang melahirnya itu.
Dan aku hanya bisa menahan tangisku, menatap putriku yang sedang ikut berusaha menemukan adiknya. Mayra ... terima kasih, kau sungguh anugrah yang indah dalam kehidupanku, ucap dalam benakku.
"Bun ... Bunda jangan menangis, Mayra akan coba bangunkan ibu Frista lagi," celoteh Mayraku seraya memelukku. Sayangg ... kubalas pelukan tubuh mungil Mayraku dan aku mengangguk setelahnya.
"Ibu Fristaa ... kata ayah, mata Mayra seperti ibu bulat dan besar. Mayra suka mata Mayra. Dan kata Bunda, senyum Mayra juga manis seperti Ibu Frista. Rambut Mayra juga ikal seperti ibu. Mayra mirip ibu Frista, tapi ibu Frista sekarang marah tidak mau melihat Mayra. Ibuu ... ayo bangunn, ibu boleh tinggal di rumah Mayra kok, iya kan Bunda?" tanya Mayra kearahku kini.
Akupun mengangguk sejadinya.
"Tuhh, Bunda Lyra sudah izinkan Ibu tinggal bersama Mayra, Mayra mau tidur dipeluk Ibu. Ibu mau kan peluk Mayra, seperti saat Mayra bayi. Ibuuu ....
Dan aku mendekati mbak Friss saat ini, "Mbakk, bangunlah! Anakmu telah datang mbak, anakmu juga merindukanmu ibu kandungnya. Kita akan membesarkan Mayra bersama. Bangunlah Mbakk ... kau memiliki tanggung jawab terhadap Mayra, penuhilahh. Berikan kasih sayang yang ingin kau beri selama ini, lakukan setiap hal yang kau ingin lakukan bersama Mayra putrimu. Boleh ... aku mengizinkannya Mbakk. Banguunnnn ... " lirihku, kujatuhkan kepalaku kini ke tepi ranjang mbak Friss dan tersedu disana, berharap besar akan kesadaran mbak Friss.
"Mbakk ... Bangun!! Kembalikan putriku Diyara!! Dimana putriku Diyara? Apa salahku padamu Mbak? Kenapa kau tega pada bayi kecilku ... kau jahat mbakk. Ayo kita pergi Mayra, tak usah perdulikan ibumu lagi ...." Aku mulai kehilangan akalku, aku marah kini. Kutarik lengan Mayra dan menghambur kearah pintu.
Bunda tunggu, i-bu mem-buka mata ...
__ADS_1
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤