Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Bersiap


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


04:00 seperti biasa alarm tubuhku membuatku terjaga. Kutatap seketika pria yang sangat pulas tertidur disisiku. Kusapu kepalanya dan ku rekatkan pipiku kepipinya, memeluk wajahnya sangat menyamankanku. Seraya kuselipkan do'a semoga kebersamaan kami tak akan berakhir, semoga kami sekeluarga selalu sehat dan tak ada hal buruk lagi menimpa kekuarga kami. Tetesan air entah mengapa memaksa keluar saat ini.


Kuangkat tubuhku seketika dan bergegas ke kamar mandi, kukucurkan air ke tubuhku dan segera kutunaikan sholat malamku. Kulantunkan pula do'a-do'a terbaik untuk seluruh keluargaku dan keluarga besarku. Kusebutkan satu persatu nama orang yang kusayangi juga pengharapanku untuknya. Harapan kebahagiaan yang kurasa semoga kekal hingga ke SyurgaNya, bersatu kelak pula ditempat yang lebih abadi nanti. Bersama seluruh keluargaku.


Kumohon pula agar kami dimudahkan mendidik putra-putriku, menanamkan ilmu agama untuk mereka. Dan membersamai mereka hingga mereka dewasa. Bulir air kembali keluar saat kusadari kelemahanku, tak ada daya upaya diriku tanpa pertolonganNYA.


Hingga kini sholawat di masjid telah didendangkan menandakan azan akan segera tiba setelahnya, suamiku tampak terbangun. Gemericik air terdengar lirih hingga beberapa saat suamiku keluar dari kamar mandi bersamaan lantunan azan yang menyejukkan.


Koko dan sarung telah kusiapkan diatas pembaringan kami, tak lama 2 helai kain itu telah menempel di tubuh suamiku. Hingga semakin jelas kini pesona yang ia miliki.


Setelah meminta izinku ia tak terlihat lagi dihadapanku, masjid memang menjadi saksi perjumpaan dengan Robbnya setiap pagi.


Dan akupun kembali melaksanakan ibadahku, 2 rokaat sebelum subuh mengiringi 2 rokaat subuhku. Hingga kini lantunan ayat cinta Robbku mulai kulantunkan, 2 ayat baru kubacakan, tampak Diyaraku telah meminta haknya.


Akupun menyudahi perjumpaan dengan Robbku. Kuangkat tubuh Diyara kepembaringanku, memberikan hak ASI padanya sambil merebahkan diriku yang mulai terbawa kantuk kembali, hingga kami berdua kembali terpejam.


Kurasakan tangan yang terus mengusap kepalaku saat ini. Kubuka mataku perlahan, aku tertidur rupanya, kutatap Diyara yang masih belum melepaskan pucuk ASIku. Dan kutangkap pula wajah suamiku yang sedang menatapku dalam di samping Diyara. Tangannya masih mengusap kepalaku. Hingga diangkatnya kini tubuhnya, mendekati wajahku dan mengecup keningku.


"Mau sarapan apa pagi ini?" ujarnya seraya tersenyum menatapku.


"Jam berapa ini Mas?" tanyaku menatap jendela yang tampak telah menerang.


"Jam 6 lewat 10."


"Lama juga aku tertidur rupanya," lirihku.


"Biar aku buatkan nasi goreng seperti biasa Mas," lirihku.


"Jangan kau pasti letih setelah perjalanan kemarin. Tidak perlu masuk dapur dahulu," ujarnya.


"Atau kusuruh Bik Lasmi membuatnya bagaimana?" ucapku seraya memasukkan kantung ASIku setelah Diyara melepaskannya.


"Bik Lasmi sedang mencuci, mas suruh mang Diman beli bubur ayam saja ya?"


Akupun kemudian mengangguk.


Beberapa waktu berlalu. Aku yang sedang merapikan seprei dikejutkan dengan kehadiran mas Dimas yang tiba-tiba memijat bahuku.


"Duduklah," ujarnya yang berada dibelakangku.


"Mengendong Diyara pasti membuatmu letih," sesekali kecupan didaratkan mas Dimas dibahuku seraya tangannya terus memijatku. Hingga tiba-tiba tangannya tampak mengunciku. Kurasakan hembusan nafas yang terasa cepat.


"Terima kasih selalu disisi Mas dan mendoakan seluruh keluarga kita," ucapnya.


"Mas mendengar do'aku tadi kah?" Kurasakan anggukan dibahuku.


"Jangan berbalik," ucap mas Dimas seketika saat kuhendak berbalik menghadapnya.


"Aku mendengarnya setiap menjelang subuh, terima kasih Sayang," ucap mas Dimas kembali.


Aku masih terdiam menyimak setiap ucapan mas dimas.


"Mas ingin Lyra selalu sehat untuk anak-anak, dan bisa mendampingi anak-anak hingga besar,"


"Mass,"


"Tolong jangan berbalik, mas suka menghirup wangi tubuhmu," ucap mas Dimas masih menenggelamkan wajahnya ke bahuku.


"Berjanjilah Lyra harus menjaga kesehatan dengan baik, harus kuat dan semangat untuk anak-anak,"


Kenapa aku merasa Mas Dimas bicara agak berlebihan, kupaksakan diriku untuk berbalik kini, "Mass, kau kenapa??" ucapku melihat mata berkaca disana.


Mas Dimas hanya tersenyum menatapku.


"Mas, tentu aku akan sehat untukmu dan anak-anak, dan kita akan mendampingi anak-anak hingga besar, ucapanku benar bukan?" lirihku.


Mas Dimas mengangguk dan terus menatapku.


"Coba lihat, kenapa tanganmu sangat basah Mas, dadamu sedang sakit kah?" tanyaku melihat mas Dimas terlihat berbeda.


"Tidak, mas baik-baik saja Sayang," ucapnya.


"Yakin??"


"Iya tentu saja."

__ADS_1


"Syukurlah jika memang seperti itu ... Oh ya Mas, jika nanti teman Shifa jadi kesini. Aku harus menyajikan apa ya?" tanyaku sambil sesekali ku perhatikan ranjang bayi kembarku.


Kulihat raut wajah aneh Mas Dimas, tatkalaku selesai melontarkan tanyaku.


"Dia hanya main tidak perlu membuatmu repot, nanti Mas akan suruh kurir mengantar cake ke rumah."


"Baiklah, haruskah aku menyajikan makanan berat?" tanyaku kembali.


"Terserah Lyra, yang terpenting jangan membuatmu letih."




"Bund ... Bundaaa, Mayra sudah siap berangkat ke sekolah nih," suara Mayra membuatku seketika berdiri dan membuka pintu yang menghalangi kami.


"Haii, cantiknya Bunda. Hemm, harumnya Kakak Mayra," ucapku seraya merapihkan poninya yang tampak miring.


"Haii Ayah," seketika Mayra memeluk mas Dimas dan dibalas kecupan didaratkan Mas Dimas diwajah putrinya.


"Adik bayi belum bangun Bun? Apa adik bayi semalam rewel dan buat Bunda terus terbangun?"


"Tidak, adik bayi sangat pintar seperti Kak Mayra. Adik hanya masih mengantuk, Ayo kita kebawah untuk sarapan Sayang..!!! Mass ayoo.!!!"


"Lyra duluan saja ya, mas mau ke kamar mandi sebentar,"


"Oh baiklah, jangan lama-lama ya Mas,"


Dibawah aku melihat mbak Dinar sedang menyapu halaman, "Mbak Dinar tolong standbye diatas dulu menunggu si kembar ya.!!" ucapku direspon anggukan oleh mbak Dinar saat ini.


Dan disana Mas Dimas tampak sedang berjalan menuju ruang makan disusul Shifa yang tampak berlari menyusul masnya, "Mas kata temanku, nanti setelah menjemputku ia akan mampir ke rumah," ucap Shifaa ditanggapi anggukan oleh mas Dimas.


"Ada apa Dek?" tanyaku memastikan sesuatu yang samar kudengar.


"Temanku mbak, nanti malam Insya Alloh ia akan kesini."


"Oya, bagus itu mbak senang mendengarnya, gak sabar deh mbak ketemu pangeranmu," ujarku seraya menarikkan alisku kearah Shifa, menggodanya.


Uhukk... uhukkk ....


"Lho kenapa Mas," seketika kuberikan air putih dihadapanku untuk mas Dimas.


Setelah makan, Mayra dan Mas Dimas tampak izin untuk beraktifitas, sedang Shifaa ke kamar melanjutkan presentasi yang sedang dibuatnya. Akupun langsung naik ke lantai atas hendak merapikan dan menyuapi bayi kembarku.



Pukul 17:00 aku masih di dapur membantu Bik Lasmi menyiapkan soto ayam untuk teman Shifa yang akan datang, dan tak lama Mang Diman tampak masuk membawa bungkusan 2 box Cake yang baru saja di antar dari Cake Shop mas Dimas.



Mbak Dinar tampak memantau Diyara dan Dirga yang sedang berlarian menggunakan *baby walker* mereka. Sedangkan Mayra tampak serius mengerjakan PRnya. Sesekali Mayra menghampiriku untuk menanyakan soal yang tak dimengertinya.



*Kringg ... Kringg* ...



"Mbak tolong angkat telfon ya?" ujarku pada mbak Dinar saat ini.






"Bu, ini dari mbak Shifaa," teriak mbak Dinar kini kearahku.



Akupun segera menghampiri telfon berada. Dan duduk seraya mengangkatnya,



"Haii Dek, ada apa?"



*Pa ... Paa ... Paaa* ... Celoteh Dirga saat ini tampak senang melihat kehadiranku. Tak lama Diyara tampak pula mendekat mengayun-ayunkan tangannya berusaha meraihku.

__ADS_1



*Ta .. Taa ... Taaa* ... teriak Diyara.



"Sebentar ya Sayang, Bunda bicara dengan Anti Shifaa dahulu."



"Mbakk ... Mbak masih disana kan??" ucap Shifa tak kunjung mendengar jawabku.



"Iya maaf, mbak di ganggu sikembar ini, ada apa Shif?"



"Mbak buat makanan gak?" tanya Shifa.



"Mbak buat soto di rumah," jawabku.



"Oh yasudah, kirain mbak gak buat apa-apa tadinya Masku mau bawain ketopak," ucap Shifaa kembali.



"Gak usah Shif, lagipula mbak juga lagi gak pengen ketoprak," ujarku.



"Oke deh, kira-kira jam 7 kami sampai Mbak, mampir sholat magrib di masjid dulu soalnya."



"Iya, mbak tunggu di rumah ya ...," ujarku.



"Mbak, jangan lupa ingetin Mas suruh pulang cepet, mas kan orangnya suka lupa,"



"Iya ... iyaa ...," segera kuletakkan telfon kini.



Tut Tut Tut ....


Kenapa nggak diangkat-angkat sih??


Setelah beberapa saat kucoba hubungi kembali ponsel mas Dimas,


Tut Tut Tut ....


Masih tidak ada jawaan ...


Coba telfon Aldo deh,


Tut ... Tut ... Tut ....


"Asslaamu'alaikumm Mbak,"


"Wa'alaikumsalam Al,"


"Apa mas Dimas bersamamu Al? Mbak menelepon polsel mas Dimas tapi tidak juga diangkat?" ujarku.


"Mbakk ...Ma-s Di- masss ...


"Ada apa Al? bicara yang jelas.!!!" tanyaku dengan nada sedikit meninggi.


"Mas tadi ping-san mbak, sekarang kami di Rumah Sakit daerah Dago."


Share alamatnya mbak akan kesana ..!!!!


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤

__ADS_1


__ADS_2