
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻Pukul 10:00
Kakiku baru saya turun dari mobil saat ini, namun mas Dimas seketika langsung menghambur melihat 2 pastisi dari bambu yang tampak berjejer berdiri di satu sisi ruko. Ia mengecek sangat teliti partisi tersebut, satu persatu bambu di ceknya, apakah sudah benar-benar halus bambu tersebut, pengecatannya rata kah dan yang terakhir apakah veener yang membuat mengkilat sisi luarnya sudah benar-benar kering. Setelah semua dirasa oke. Mas Dimas memanggil Pak Suryo saat ini dan mereka tampak berbincang sambil mengarahkan langkah pada pengerjaan tukang-tukang tersebut.
"Jadi, hari ini semua pengerjaan bisa selesai kan Pak?" ujar mas Dimas sambil menatap tegas pria paruh baya dengan topi laksana sutradara film tersebut.
"In syaa Alloh Pak," ujarnya penuh kemantapan.
"Saya lihat di plafon sebelah sana (menunjuk suatusudut ruangan) ada bagian yang belum tercat Pak."
"Oh, memang bagian-bagian tepi dan sudut ada yang belum Pak, rencananya hari ini akan dikerjakan."
"Oya, dibagian dapur juga dindingnya agak berminyak apa bisa di siasati Pak?" ujar mas Dimas kembali, sambil sesekali melirikku yang juga sedang memperhatikannya tampak duduk di sudut ruangan. Sedang Mayra telihat sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Tentu bisa Pak, bagian dinding yang berminyak nanti akan saya bersihkan dengan campuran detergen dan air terlebih dahulu atau bisa juga menggunakan cairan TSP kemudian baru saya bilas dengan air. Setelah benar-benar kering baru akan saya cat kembali."
"Oke bagus lakukan seperti itu, jika semua selesai malam ini, besok tinggal pemasangan partisi dan siap memasukkan furniture."
"Siap Pak."
"Maaf apa kamar mandi sudah bisa saya pakai?" terlihat mas Dimas menutupi bibirnya dengan sebagian punggung tangannya.
"Oh, bisa Pak. Silahkan!!"
"Permisi," seketika mas Dimas terlihat menghambur ke kamar mandi dan tampak muntah disana.
Sedang Pak Surya kembali mengontrol anak buahnya, sambil skilas berempati terhadap bosnya yang sepertinya sedang kurang sehat tersebut.
Akupun seketika menyusul mas Dimas.
"Mass," lirihku, kubalurkan kembali minyak penghangat di area perut dan punggungnya.
"Mencium bau cat, tiba-tiba saja aku mual Sayang," lirih mas Dimas.
"Aku tidak tega melihatmu seperti ini, pokoknya kita harus kedokter sekarang!!" tegasku.
Setelah berpamitan dengan para pekerja, kami mengarahkan kaki ke mobil saat ini. Dan dengan cepat mas Dimas menggerakkan kemudinya keluar lintasan parkir rukonya.
Bukannya ke Rumah sakit, mas Dimas membelokkan mobilnya ke kedai cuanki yang bertempat di Jalan Serayu tersebut.
"Makan cuanki sepertinya enak," mas Dimas berujar sambil menarik alisnya keatas menghadapku.
Akupun mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa gambarnya seperti bakso ya?" ujarku.
"Sajiannya memang mirip bakso Malang Sayang. Dalam satu porsi cuanki terdiri dari aci, siomay, bakso, pangsit rebus, pangsit goreng dan bakso goreng. Isinya lebih bervariasi dari bakso," mas Dimas tampak menjelaskan.
"Mayla suka cuanki."
"Iya Sayangg," mas Dimas lantas mencubit lembut pipi gadis kecilnya.
"Oke, ayo kita keluar sekarang!!"
"Mas, tapi setelah makan kita berobat yaa," pintaku pada mas Dimas.
"Iya terserah kau saja," bisiknya.
°°30 menit sudah kami duduk di kedai cuanki dan makanan di mangkuk kami telah habis, bahkan mas Dimas sempat minta tambah tadi.
"Sekarang waktunya kita memeriksakan ayah," ucapku.
"Iya Sayang," mas Dimas menarik kepalaku dan mengecupnya.
●●●●
🌻Setelah melalui serangkaian cek tensi dan penimbangan berat badan. Kami duduk di kursi, tepatnya di muka ruangan dokter dengan tanda POLI UMUM tersebut.
Hingga seorang suster keluar dan memanggil nama mas Dimas saat ini, dan kamipun segera masuk kedalam.
"Bapak Dimas, anda yang sakit?" dokter memastikan setelah melihat draf pemeriksaan dengan nama mas Dimas tersebut.
"Keluhan apa yang anda rasakan, Pak?"
"2 hari ini saya sering mual Dok, terutama saat pagi hari, badan saya terasa pegal dan ada sedikit sesak area dada."
"Apa pola makan Bapak teratur?"
"Teratur Pak."
"Coba Bapak rebahkan diri di dalam!" dan dokter terlihat meletakkan stetoskop ke dada mas Dimas sambil menekan-nekan beberapa daerah di tubuhnya.
Merekapun tak lama duduk kembali.
"Apa belakangan Bapak mengalami stress atau memikirkan sesuatu secara berlebihan?"
"Oh, iya Dok. Suami saya memang belakangan ini bekerja hingga larut, apa pengaruh dari itu Dok?" ujarku ikut menjawab tanya Dokter.
"Melalui pengecekan, semua fungsi normal, tensi darah juga bagus. Lambung juga oke. Kemungkinan Bapak, mengalami stress dalam pekerjaannya. Beban pikiran berlebih pada pria dapat menurunkan kadar testosteron dan meningkatkan hormon stres kortisol. Dalam jangka panjang, kelebihan kortisol dapat meningkatkan prolaktin yang dapat menimbulkan gejala seperti yang Bapak alami saat ini, mual, perut kembung, sesak. Atau, bisa jadi karena pengaruh ...." Dokter seketika menghentikan ucapannya dan menatapku.
"Apa kondisi ibu baik?" dokter mengarahkan tanyanya padaku saat ini.
"Maaf kenapa jadi saya yang di tanya Dok, saya tidak sakit," ujarku semakin heran, dan mas Dimas disisiku juga tampak heran.
__ADS_1
"Maaf apa Bapak dan Ibu sedang berupaya mendapatkan momongan? maaf saya bertanya ini, karena dalam beberapa kasus, gejala yang Bapak alami bisa juga disebabkan pengaruh sindrom Couvade, terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Atau yang populer di sebut Kehamilan Simpatik."
"Maksud dokter, istri saya sedang hamilkah?" mas dimas terperangah dan tampak begitu bersemangat.
"Itu hanya opsi kedua Pak. Untuk kebenarannya, silahkan ibu ingat-ingat bagaimana siklus menstruasi ibu, apa semua sampai saat ini normal?"
Dan mas Dimas seketika menatapku.
"2 bulan ini memang menstruasi saya tidak stabil Dok," ujarku.
"Nah, itu lebih berpeluang. Tapi butuh pemeriksaan pada orang yang ahli dibidangnya dalam hal ini, Poli Kebidanan tepatnya. Atau ibu bisa memastikan dengan menggunakan tespack dirumah, baru menegaskannya melalui USG pada poli kebidanaan." Mas Dimas terus mendengarkan dengan seksama disana sambil tangannya terus mengengamku.
"Tapi saya tidak merasakan mual Dok," ujarku kembali.
"Sebagian ibu hamil banyak juga yang tidak mengalami mual, karena tanda kehamilan tidak hanya itu, beberapa di antaranya: adanya perubahan pada payudara, lebih sering buang air kecil, lebih cepat letih, terjadi perubahan suasana hati, kurang nafsu makan, beberapa orang juga mengalami sembelit dikarenakan pencernaan yang melambat."
"Mungin ada diantaranya yang ibu rasakan?"
Aku tampak bingung, sepertinya aku biasa-biasa saja.
"Ada Dok," mas Dimas yang seketika antusias menjawab dan akupun terkaget mendengar penuturannya.
Memang ada Mas? batinku heran.
"Baik Dok, terima kasih. Kami akan melakukan pengecekan terlebih dahulu di rumah," tegas mas Dimas yang seakan menemukan jawab atas tanyanya. Kamipun seketika keluar dari ruangan dokter saat ini.
"Duduklah disini dulu Sayang," mas Dimas mengajakku duduk dikursi antrian saat ini.
"Kemungkinan besar ada calon anak kita saat ini di rahimmu Sayang." Mas Dimas terus mengelus perutku.
"Aku bahkan tidak merasakan tanda yang dokter sebutkan tadi Mas," lirihku.
"Tapi Mas merasakannya, 2 bln ini payudaramu lebih berisi."
"Itu biasa terjadi saat pramenstruasi mas."
"Tapi menstruasimu tidak stabil bukan? dan bulan ini sepertinya tamu bulanmu jg belum datang kan?"
Akupun mengangguk.
"Ayo kita pulang dan mengeceknya di rumah," ujar mas Dimas bersemangat.
"Apa Bunda sakit Ayah?" mayra yang sejak tadi tampak diam memperhatikan ikut bicara kini.
"Tidak Sayang, apa Mayra senang jika punya adik kecil?" mas Dimas berceloteh pada Mayra untuk sesuatu hal yang bahkan belum dipastikan, dan aku hanya bisa menggeleng-geleng menanggapi tingkahnya.
Mungkinkah aku hamil ya Robb ... batinku.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤