
Kami bertiga berjalan bersama menuju kantin,entah kenapa rasanya mata ini inginsekali melihat kearah parkiran yang terlihat dari jalanan menuju kekantin.Saat wajahku menengok kearah parkiran,kulihat pak Mario dengan buru-buru mengendarai sepeda motornya menuju jalan keluar dari gerbang sekolah.
Hmmmm,mau kemana ya pak Mario? batinku.
"Maura! kamu liatin apa sih?"
Tanya Jesika padaku lalu menarik lenganku menuju menuju kantin.
Disana sudah sangat ramai,Jesika membawa kami menuju sebuah meja yang tak begitu ramai.Dalam satu meja ada empat kursi dan hanya ada seorang anak laki-laki yang duduk sendirian disana,kami menuju meja dimana anak laki-laki tersebut karena memang hanya meja itu yang masih ada kursi kosong dan kebetulan ada tiga pintu pas buat kami.
Saat kami semakin dekat,tiba-tiba anak laki-laki berkacamata tersebut malah bangkit padahal makanan yang sedari tadi disantap belum habis.
"Lho,kamu mau kemana?kan makanannya belum habis."
Kataku padanya yang terlihat sangat aneh,gelagatnya seperti sedang ketakutan.
Kuhalangi langkahnya agar tidak melanjutkan langkahnya,kuajak dia duduk bersama-sama dengan kami.
Meski awalnya menolak akhirnya dia menurut dengan wajah tertunduk di lahap makanannya sampai habis.
"Maaf,kamu kenapa sendirian disini? lalu kenapa kabur waktu kami datang?"
"Ng....nggak .....papa,saya sudah selesai makan,permisi."
Kami bertiga hanya saling pandang dalam diam,dengan perasaan bingung tentunya.
Sambil menunggu pesanan kami datang,kami bertiga saling ngobrol.Entah apa aja yang kami obrolkan,rasanya nyambung aja layaknya kami sudah lama saling kenal.
Dari cerita Jesika,aku tau ternyata Jesika non muslim sedangkan Medina satu keyakinan denganku hanya saja dia belum berhijab sepertiku.
__ADS_1
Disinilah awal persahabatan kami dimulai,persahabatan yang menyatukan perbedaan.
Siang ini aku pulang sekolah dijemput oleh papa dan mama,memang tak biasanya mereka menjemputku pulang sekolah bersamaan gini kecuali memang akan ada acara.
Memang benar adanya,karena sepulang sekolah siang ini aku harus langsung kekantor polisi sesuai undangan yang harus aku hadiri.
"Mau mampir makan dulu nggak Ra?"
Tanya papa padaku,tanpa menoleh padaku dan tetap berkonsentrasi dengan alat kemudi di tangannya.
"Nggak usah pa,tadi udah makan disekolah kok."
"Oiya,gimana di sekolah hari ini Ra?"
Tanya mama sambil menengok kebelakang.
"Ya gitu,gimana maksudnya?"
Tanya papa padaku sambil memarkirkan mobil di sebuah tempat parkir yang sudah tersedia di kantor polisi.
"Kita sudah sampai,kamu siap kan Ra?"
"Iya pa,Insya Allah siap."
Kami turun dari mobil,dan aku masih mengenakan seragam sekolahku saat datang kekantor polisi karena memang kami harus buru-buru.Mengingat waktu di surat undangan yang harusnya jam sembilan tapi sekarang sudah lebih dari tengah hari kami baru datang.
Papa bilang nggak enak kalo kita semakin mengulur waktu,jadi aku begitu pulang sekolah langsung di jemput papa dan mama menuju kantor polisi tempat dimana om Aris bekerja.
Kulihat motor milik pak Mario berada di parkiran sepeda motor yang letaknya berada di seberang parkiran mobil kami,ya pak Mario guru di sekolahku.
__ADS_1
Aku hafal betul sepeda motornya sampai aku hafal nomor plat kepolisiannya.
Kulihat dari kejauhan pak Mario bersalaman dengan om Aris dan meninggalkan kantor polisi dengan terburu-buru.
Kami sempat berpapasan,manun dia menoleh padaku saja tidak.
"Ayo Ra....kamu liat siapa?"
Tanya mama sambil menggandeng lengan tanganku,sementara papa sudah lebih dahulu bertemu dengan om Aris yang kebetulan masih berada di pintu masuk kantor polisi sehabis menyalami pak Mario tadi.
"Eng....anu ma,itu....itu orang yang malam itu nolongin aku."
Jawabku sambil menunjuk tempat parkir sepeda motor.
"Yang mana? nggak ada orang gitu kok di parkiran,kamu yakin liat orang?"
"Itu ma....."
Saat ku menoleh kembali kearah parkiran,tak kulihat siapapun disana,hanya beberapa sepeda motor yang berjajar disana.
"Tuh kan nggak ada."
Mama segera membawaku menuju om Aris dan om Aris segera membawaku kesebuah ruangan tetutup yang tak begitu besar,sedangkan mama dan papaku diminta menunggu diluar tak diperkenankan ikut masuk untuk menemaniku.
Hanya ada aku,salah seorang polisi yang bertugas memberikanku beberapa pertanyaan,seorang polisi yang berada di depan layar laptop,serta om Riyan yang diperbolehkan menemaniku meski seharusnya tidak boleh.
Dengan alasan aku yang masih kecil takut jika nanti merasa tertekan jadi om Riyan diperbolehkan menemaniku didalam.
Bersambung .....
__ADS_1