Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kekesalan mas Rio


__ADS_3

Saat dia hendak meraihku terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarku,membuat rona wajah bahagianya tiba-tiba saja berubah menjadi sekumpulan awan hitam.Mungkin sebentar lagi kilat akan menyambar siapapun yang berada didekatnya.


"Mas,ada yang mengetuk pintu!"


Bisikku ditelinganya.


"Sudahlah,abaikan saja! jangan coba-coba mengalihkanku sayang.....!"


Jawabannya ikut berbisik mulai menuruni dadaku.


"Stop dulu,ini serius....!"


Aku menarik wajahnya mendekat kewajahku,dia seperti orang yang sedang mabuk kepayang tak mau mendengarkan apapun yang didengar olehnya.


Perlahan dia seperti mulai tersadar,lalu membenahi dirinya sendiri dan berjalan cepat kekamar mandi sambil kudengar dia mengumpat karena kesal.


Ku rapikan diriku didepan cermin dan kusambar kembali kerudung rumahan yang menggantung di balik pintu.


Segera kubuka pintu kamarku dan ternyata bibi sedang berdiri didepan pintu kamarku,memberitahukan bahwa ada Jesi sedang menungguku dibawah.


Aku sangat terkejut karena kami berencana bertemu nanti malam setelah sholat Isya',tapi kenapa sekarang Jesi sudah datang? bahkan Adzan Maghrib saja belum sempat dikumandangakan.


Aku segera meminta tolong pada bibi untuk memberitahu Jesi supaya menungguku sebentar sampai aku selesai mandi,kusuruh bibi sedikit berbohong untuk memberitahu Jesi bahwa aku sedang mandi sekarang.


'Tok,tok,tok'


Kuketuk pintu kamar mandi,lalu mas Rio keluar sudah mengenakan handuk yang sering kali dililitkan kepinggangnya.


"Mas sudah selesai mandi?"Tanyaku saat melihat tubuhnya yang hanya mengenakan handuk.


"Belum! kenapa? mau menggodaku lagi,"


Jawabnya jutek.


"Kalo begitu aku mandi duluan ya! ada Jesi dibawah!"


Kataku memberitaunya agar berhati-hati untuk tidak gegabah turun dari kamar.


Setelah selesai mandi dan keramas aku segera turun menemui Jesika yang sedang mengobrol dengan mama diruang tengah sambil melihat tivi.


"Nah,itu Rara....kalo gitu,tante tinggal dulu ya Jes!"


Ucap mama saat melihatku menuruni anak tangga dengan mengenakan handuk yang menutupi rambut basahku.


"Sore-sore begini sudah keramas aja neng!Bisik mama meledekku saat kami berpapasan dibawah tangga.


"Ih,mama!"


Ucapku sambil menemui Jesika yang berada di sofa ruang tengah rumahku.


"Maaf ya Ra,aku jadi merepotkan kamu terus sekarang."

__ADS_1


Ucap Jesi padaku sambil menutikan air mata.


"Jes...kita kan sahabat tidak boleh ada kata repot,merepotkan atau direpotkan.Jangan menangis lagi Jes!kasihan yang disini."


Ucapku berusaha menenangkannya.


"Boleh aku menginap disini Ra,semalam saja! sampai aku merasa tenang dan dapat tempat baru untuk kutinggali."


Aku hanya bisa mengangguk sambil memikirkan bagaimana caranya supaya Jesi bisa tetap menginap disini tanpa mengetahui mas Rio jug tinggal di bawah atap yang sama dengannya.


"Aku pribadi tidak masalah ya Jes,tapi aku perlu izin pada orang tuaku dulu.Kamu tidak apa-apa kan?"


Tanyaku padanya untuk meminta izin pad orang tuaku karena Jesi butuh tempat tinggal yang aman dan nyaman sekarang.


Baru saja aku hendak bangkit dari dudukku untuk menemui mama,kini mama sudah berjalan mendekat ketempat kami berada sekarang dengan membawa minuman hangat dan camilan untuk kami.


"Maaf tadi tidak sengaja mama dengar pembicaraan kalian."


Ucap mama sambil meletakkan dua gelas minuman hangat dan toples berisi makanan ringan serta sepiring kue diatas meja yang ada di hadapan kami.


"Iya ma,Jesi sedang ada masalah dengan keluarganya."


Ucapku berusaha menjelaskan pada mama.


"Memangnya masalah apa,kalau mama boleh tau? maaf bukannya mau ikut campur urusan anak muda,tapi alangkah baiknya jika komunikasi antar orang tua dan anak bisa berjalan dengan baik."


Mama ikut duduk di sofa yang ada di samping tempatku sekarang duduk bersama Jesi.


Tanyaku pada mama yang kini berada disampingku.


"Iya,boleh."


Jawab mama sambil mengangguk.


"Terima kasih banyak tante,maaf jadi merepotkan tante sekeluarga."


Ucap Jesi tak hentinya berterima kasih padaku dan juga mama.


Aku merasa sepertinya mama sudah sudah curiga dengan gerak-gerik Jesi,namun mama tidak mau bertanya secara langsung karena takut menyinggung perasaan Jesi.


Karena sepertinya mama tau Jesi yang terlihat sedang tidak enak badan,maka mama menyarankan untuk lebih baik Jesi istirahatnya di kamar tamu yang ada dibawah saja.Mungkin mama khawatir akan membuat Jesi mudah lelah jika harus naik turun tangga.


"Bibi sedang menyiapkan kamar untuk Jesi istirahat,tunggu sebentar ya!"


Ucap mama sambil memandangi wajah dan perut Jesi dengan seksama.


"Ra,antarkan Jesi kekamarnya ya!mungkin bibi sudah selesai menyiapkannya."


"Iya ma....."


"Terima kasih banyak tante,maaf merepotkan tante."

__ADS_1


Jesi tiba-tiba memeluk mama,seperti ada kerinduan yang mendalam pada sosok seorang mama terpampang jelas diwajah Jesi.


"Sama-sama sayang,jangan menyimpan masalahmu sendirian.Berbagilah meski itu sulit dan sakit sekalipun supaya bebanmu sedikit berkurang."


Aku mengantar Jesi kekamarnya dan menyuruhnya untuk beristirahat sampai saatnya tiba kami menyusun rencana untuk bertemu kak Roi.


"Ra,maaf jika aku menanyakan hal yang mungkin privasi untukmu."


Ucap Jesi saat kami sampai di dalam kamar yang sudah disiapkan untuk Jesi beristirahat.


"Menanyakan apa Jes?"


Tanyaku tanpa rasa curiga tentang pertanyaan yang akan Jesi tanyakan padaku.


"Apakah ada hubungan spesial antara kamu dan pak Mario?"


Pertanyaan Jesi membuat detak jantungku terasa berhenti dan aliran darah dalam tubuhku mulai melambat hingga aku merasa pusing bagaimana harus menjawabnya.


"Tidak ada kok Jes,kenapa kamu bertanya begitu padaku?"


"Saat mata kalian bertemu kulihat kalian sepertinya begitu dekat,pak Mario tidak pernah menatap perempuan manapun seperti ketika dia menatapmu Ra."


Kata-kata Jesi memang ada benarnya,sast bersamaku perlahan hawa dingin yang selama ini kurasakan saat berpapasan dengannya sekarang mulai hangat jika aku berada di dekatnya.


Bahkan dia yang begitu cuek kini mulai perhatian padaku daaaan dia....mengatakan sayang padaku.


"Ra,kamu baik-baik saja?"


Tanya Jesi padaku saat tanpa kusadari aku tersenyum sendiri mengingat sikap dan perlakuan pak Mario padaku saat ku panggil dia mas Rio.


"Iya Jes....aku baik-baik saja."


Jawabku masih tak bisa menyembunyikan senyuman diwajahku.


"Lalu kenapa kamu malah tersenyum sendiri tidak jelas begitu?"


"Bagaimana aku tidak tersenyum? semua orang pasti juga akan tersenyum saat kamu mempertanyakan pertangaan yang sama pada mereka."


Jawabku pada Jesi yang nampak bingung.


"Maksud kamu pak Mario suka sama gadis ingusan sepertiku Jes? bahkan dia sudah punya tunangan!"


"Iya juga ya Ra?"


Jesi menggaruk kepalanya yang mungkin saja tidak gatal atau memang benar-benar gatal karena belum keramas,bahkan mandi saja mungkin juga belum.


"Sepertinya beban pikiranmu yang terlalu berat membuat daya khayalmu meningkat tinggi Jes!"


Ucapku menggoda Jesi yang justru malah tertawa mendengar ucapanku.Aku bahagia saat melihat tawa Jesi yang mungkin tak pernah ia tampakkan selama beberapa minggu belakangan.


BERSAMBUNG ......

__ADS_1


__ADS_2