Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Tidur satu ranjang


__ADS_3

Setelah makan malam,seperti biasa aku kekamar nenek untuk mengucapkan selamat malam lalu kekamarku untuk beristirahat dan bersantai.


Aku hanya menonton tivi sambil rebahan dan memainkan hapeku sekedar berbalas chat dengan teman-temanku.


Hari ini kebetulah sekali Laura mengirim chat balasan padaku,chat yang sudah sekitar beberapa hari lalu sekedar menanyakan kabar dan hari ini baru mendapat balasan.


Sepertinya sahabat lamaku satu ini begitu sibuk dengan dunia selebritasnya sekarang.


Laura lebih banyak menceritakan kesibukannya di dunia modelingnya ketimbang menceritakan tentang kisah asmaranya seperti Yasmin yang sednag bucin-bucinnya dengan Dimas kekasihnya.


Mas Rio lebih memilih mengobrol dengan papa dan mama setelah selesai makan malam bersama keluargaku.


Entah apa yang sedang mereka obrolkan,mungkin tentang rencananya mengajakku pindah kerumahnya.


Entah sudah berapa kali aku mulai menguap karena merasa kantuk,setelah dari kamar mandi melakukan ritualku sebelum tidur segera kumatikan lampu kamarku dan kuganti dengan lampu tidur serta kumatikan tivi yang sedari tadi menemaniku namun tak kuhiraukan karena lebih asyik dengan hapeku.


Baru saja aku bersiap untuk tidur,terdengar ketukan di pintu kamarku.


'tok,tok,tok'


"Sebentar...!"


Jawabku sambil bergegas bangkit dari tempatku berbaring.


Aku baru ingat jika mas Rio malam ini menginap disini,karena sudah terbiasa aku langsung mengunci kamar sebelum tidur.


Segera kuputar kunci yang menggantung di pintu lalu kuputar gagang pintu supaya segera terbuka.

__ADS_1


"Kenapa dikunci? apa aku harus tidur dikamar sebelah?"


Tanya mas Rio sambil nyelonong masuk kedalam kamarku yang hanya disinari cahaya tamaram.


"Maaf! aku lupa kalau mas tidur disini juga,"


Jawabku sambil kembali merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan menutupi tubuhku dengan selimut tebal berwarna lilac dengan gambar bunga mawar besar.


"Dikamarmu kenapa tidak ada sofa?"


Tanya mas Rio yang sedang duduk di kursi depan meja belajarku.


"Nanti jadinya sempit kalau harus ada sofa, kamarku tidak seluas kamar-kamar dirumahmu!"


Jawabku sambil membenahi selimutku.


"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,apakah jika lampunya kunyalakan kembali kamu akan terganggu?"


"Apa pekerjaannya harus dikerjakan sekarang juga?"


Tanyaku padanya sambil duduk diatas tempat tidurku.


"Iya,besok harus sudah selesai!"


Jawabnya sambil menunggu jawaban dariku.


"Huh! baiklah,nyalakan saja lampunya!"

__ADS_1


Ucapku sambil menutupi seluruh tubuhku dengan selimut hingga kekepalaku.


"Apa kamu tidak bisa tidur dengan lampu terang?"


Tanyanya padaku yang sepertinya tau jika aku memang belum tidur.


Kubuka selimut tebal yang menutup rapat hingga keseluruh tubuhku.


"Iya,"


Jawabku dengan suara serak,sebenarnya aku sudah sangat mengantuk namun mata ini begitu sulit terpejam saat lampu terang benderang.Meski sudah kupaksakan terpejam tetap saja tidak mau terlelap.


Mas Rio menutup laptopnya lalu bangkit untuk mematikan lampu kamarku yang sebelumnya sudah menyalakan lampu tidur yang berada di dekat tempat tidur.


"Tidurlah!"


Ucapnya padaku lalu berbaring di sampingku.


"Apakah sudah selesai?"


Tanyaku sambil memegang dadaku yang kini berdegup dengan sangat kencang karena untuk pertama kalinya aku tidur sekamar bahkan seranjang dengan lawan jenis.


"Belum,biar kuselesaikan besok setelah sholat subuh."


Jawabnya sambil meletakkan salah satu lengannya dibawah kepala.


Aku hanya berusaha menenangkan diri agar seera terlelap,karena jantung ini rasanya seperti mau lepas dari dalam dadaku.

__ADS_1


Aku hanya takut,saking kencangnya degupan jantungku hingga terdengar oleh telinga mas Rio yang kini berbaring disampingku.


BERSAMBUNG......


__ADS_2