
Jesi yang masih diam menatapku dengan bimbang.
"Percuma kita tau pelakunya Ra,dia tidak akan mau bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat padaku!"
"Dari mana kita tau hasilnya,jika kita tidak mencobanya Jes? Dengarkan aku,kita ini sahabat jadi harus saling membantu!"
Ucapku berusaha menenangkan serta meyakinkannya sambil menyeka air mata yang meleleh di pipinya yang sekarang terlihat lebih tirus seiring tubuhnya yang semakin kurus.
"Aku sudah mencobanya,tapi dia menolak dan malah menyuruhku untuk membuang darah dagingnya terserah bagaimana caraku.Begitu ucapannya Ra,aku tidak mau melakukan dosa baru untuk menutupi dosaku yang lain Ra!"
"Siapa dia,dimana dia tinggal sekarang? kita datangi rumahnya,biar orang tuanya tau kelakuan anak mereka Jes!"
Amarahku menggebu ingin rasanya kuluapkan amarahku pada pendosa yang dengan tega menterlantarkan Jesi dan anaknya.
"Roi!"
Ucap Jesi lirih sambil menundukkan wajahnya,suaranya hampir tak terdengar dengan jelas olehku namun samar kudengar nama kak Roi disebut.
"Kak Roi?"
Tanyaku meyakinkan bahwa aku tidak salah dengar.
Jesi mengangguk pelan masih dalam keadaan menunduk.
"Kita kerumah pak Mario sekarang untuk meminta maaf secara pribadi dulu,setelah itu kita kerumah kak Roi."
Aku bangkit dari tempat dudukku saat ini.
"Kamu tau rumahnya kan Jes?"
"Tapi Ra.....bagaimana jika pak Mario tidak mau memaafkanku dan malah memenjarakanku nanti? aku tidak mau mendekam di penjara dalam keadaan seperti ini Ra!"
Jesi memegang lenganku,berusaha mencegahku untuk tidak membawaku pada pak Mario.
Aku duduk kembali sambil menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan supaya tenang.
Bukankah percuma aku membawa Jesi pada pak Mario,pak Mario bahkan tidak ada dirumah sekarang.Bagaimana aku akan memnawa Jesi padanya? dimana dia sekarang saja aku tidak tau.Gumamku sendiri dalam batin.
Tiba-tiba saja hapeku berdering dari dalam tas,saat kuintip pada layar hapeku ternyata nama pak Mario yang tertera di sana.
"Jes,aku angkat telfon sebentar ya!"
Seiring anggukan Jesi,aku melangkah sedikit menjauh sambil menerima panggilan telfon dari mas Rio.
"Halo,assalamu'alaikum...."
Ucapku pada suamiku yang entah berantah kini dia berada.
"Waalaikum salam.....sayang kapan pulang?"
Terdengar begiti renyah suaranya dari jauh disana.
Sayang? dia memanggilku seperti itu saat didekat kak Rendi dan yang lain? dasar tidak tau malu! aku saja yanh dapat panggilan seperti itu merasa malu jika didengar orang lain.
"Sebentar lagi."
Jawabku asal,meski belum tau sampai kapan aku akan menemani Jesi disini.
__ADS_1
"Aku sudah dirumah menunggumu! nanti langsung pulang kerumahku ya! share lokasi biar aku suruh Pras jemput!"
"Eh.... tidak perlu,aku naik taksi online saja! aku sedang bersama Jesi sekarang,rencananya mau mampir kerumah pak Mario salah satu guru disekolah kami."
Ucapku sambil berjalan kembali mendekati Jesi.
"Apa kamu bilang? mau kemari,bersama Jesi?buat apa!"
Tanyanya padaku dengan bingung dan sudah pasti dia akan bingung saat mendengat kata-kataku barusan.
"Ya sudah ya kak,telfonnya Rara tutup dulu soalnya ini sudah mau jalan ke rumah pak Mario" Ucapku pada mas Rio masih berpura-pura sedang bicara dengan kak Rendi.
"Halo Ra, aku belum selesai bicara jangan di tutup dulu!"
Teriak mas Rio padaku dari ujung telfon.
"Maaf ya kak,assalamu'alaikum.....!"
Kuakhiri panggilan dengan mas Rio yang sedari tadi ku panggil kak Rendi untuk memberinya kode bahwa aku dan Jesi akan datang kerumahnya sekarang juga agar Jesi tidak curiga.
Segera ku pesan taksi online lewat sebuah aplikasi untukku dan Jesi menuju rumah pak Mario.
"Semoga pak Mario ada di rumah ya Jes!"
Ucapku sambil menggenggam jemari Jesi yang terasa sangat dingin.
Kami sudah berada di dalam mobil taksi yang ku pesan secara online,Jesi hanya diam berusaha menutupi perasaan gugupnya.
"Ra....."
Panggilnya padaku.
Tanyaku sambil memandangi nya satu tanganku memegang jemarinya sedangkan satu tangan yang lain memeluk bahunya,aku berusaha menenangkannya sepanjang perjalanan.
"Bagaimana jika Pak Mario tidak mau memaafkanku?"
Hanya itu kata yang terus terucap dari bibir tipisnya,dia benar-benar ketakutan dalam penyesalannya.
"Setidaknya kita sudah berusaha,tenanglah Jes.....kita berdo'a saja ya semoga semuanya akan baik-baik saja."
Jesi mengangguk pelan dan hanya tertunduk sambil salah satu tangannya tak hentinya mengusap perutnya yang masih rata.
Mobil yang kami tumpangi sudah berhenti tepat didepan rumah pak Mario,sesuai titik lokasi pesananku.
"Terima kasih,sudah dibayar pakai aplikasi ya pak!"
Ucapku pada sang driver saat kami turun dari dalam mobil.
Kutuntun Jesi menuju pintu rumah yang sudah pernah kuinapi bersama pemiliknya.
Jari telunjukku dengan cekatan memencet tombol bel yang berada di sisi pintu.
Samuel menampakkan kepalanya dari balik pintu yang baru terbuka sedikit.
"Rara,Jesi? mau bertemu denganku atau....."
"Ketemu pak Mario! Pak Marionya ada Sam?"
__ADS_1
Jawabku memotong perkataan Samuel dengan cepat,lalu berbasa-basi menanyakan keberadaan laki-laki yang pernah mengajar menjadi guru di sekolah kami.
"Silahkan masuk dulu Ra,Jes!"
"Duduk dulu ya,biar kupanggilkan kak Marionya."
"Iya!"
Jawabku singkat karena Samuel juga sudah berlalu pergi meninggalkan kami menuju seseorang yang kami cari.
"Ra...aku takut!"
Jesi melihat wajahku dengan tatapan yang benar-benar dipenuhi rasa kekhawatiran yang berlebih,tangannya yang sedari tadi terasa dingin kini semakin bergetar karena panik.Aku masih terus memeluk bahunya supaya dia jauh lebih tenang.
"Kita pulang saja ya Ra....!"
Bisik Jesi padaku.
"Kita sudah terlanjur disini Jes,kita harus selesaikan apa yang sudah kita mulai."
Jawabku tak kalah berbisik.
"Ehem!"
Terdengar suara deheman dari pak Mario seiring dengan kemunculannya dari balik layar,maksudnya dari balik penyekat ruangan.
Kami berdua segera bangkit dari sofa empuk yang sebenarny masih betah kami duduki.
"Selamat sore pak!"
Sapaku sambil menundukkan kepala.
"Selamat sore! kalian kemari ada keperluan apa?"
Tanya pak Mario terdengar hanya berbasa-basi semata.
"Kedatangan saya kemari untuk menemani Jesika meminta maaf pada bapak."
Ucapku dengan lancang mendahului Jesi yang seharusnya langsung menyampaikan niatnya.
Namun Jesi hanya diam tertunduk dihadapan pak Mario sambil sesenggukan.
"Jes....."
Aku merangkulnya berusaha menenangkan agar dia berhenti menangis.
"Minta maaf untuk apa Jesika?"
Tanya pak Mario pada orang yang hanya sesenggukan disampingku.
"Saya....minta.....maaf.....su...sudah menuduh bapak!"
Ucap Jesi terbata disela isak tangisnya masih dengan menunduk tak berani nenatap langsung pak Mario.
Aku hanya bisa memangdang pak Mario yang sedang duduk santai sambil menggeleng pelan agar jangan membuat Jesi semakin tertekan.
"Kalian silahkan duduk!"
__ADS_1
Ucap pak Mario pada kami.
BERSAMBUNG......