
Mas Rio segera duduk lalu memeluk kembali tubuhku sambil tangannya usil kesana dan kemari menjahiliku.
"Mas,tolong singkirkan tanganmu! Aku sedang bicara serius!"
Ku singkirkan tangan nakal yang mulai aktif kembali pada setiap apapun yang dia ingini.
"Iya,iya.....kenapa sayangku?"Kini tangannya membelai kepalaku serta di rebahkannya tubuhku diatas dadanya.
"Kalau aku hamil bagaimana?"
Tanyaku lagi merasa kesal karena dia hanya memintaku mengulang pertanyaan yang sama tanpa mendapat jawaban.
"Kalau kamu hamil? ya.....kita akan jadi orang tua!"
Jawabnya dengan asal tanpa rasa khawatir sedikitpun.
Bahkan dia seperti tak menyadari kesalahannya sama sekali.
"Iiiih,kamu nyebelin sekali sih! maksudku bukan itu....!"
Aku benar-benar kesal padanya,kutinggalkan dia yang masih beristirahat di sofa sedangkan aku segera ke kamar mandi untuk mandi dan keramas yang kedua kalinya.
Mas Rio yang masih berada di tempat dalam posisi yang sama saat aku masuk kedalam kamar mandi bahkan hingga aku keluar.
Dipandanginya diriku yang kembali mengenakan handuk diatas kepala dan jubah mandi yang berbeda keluar dari kamar mandi.
Dia hanya tertawa kecil padaku seolah sedang mengejekku karena ulahnya.
"Kemarikan handuknya yang!"
Ucapnya padaku sambil menunjuk handuk yang ada di atas kepalaku.
"Tapi ini bekasku!"
Jawabku sambil mengusap-usap rambut basahku dengan handuk tersebut.
"Tidak apa-apa hanya buat penutup saja,aku khawatir dia akan terbang menghinggapimu lagi jika tidak ditutupi."
Ucapnya sambil kembali tertawa senang melihat wajahku memerah karena malu.
Aku mendekat lalu kuulurkan tanganku memberikan handuk setengah basah padanya.
Bukan hanya handuk saja yang diterimanya,bahkan tangankupun sekalian ditarik olehnya hingga membuatku jatuh terduduk di pangkuannya yang tanpa mengenakan apapun.
"Aduh,mas! sudah,jangan lagi....!"
Ucapku sambil mencubit perutnya yang rata saat bibirnya mulai mendarat lagi di leherku dan menciumiku.
"Sayang nanti kalau kita punya anak,kamu mau di panggil apa?"
Tanyanya mulai berkhayal sambil tangannya masih memelukku yang berada di pangkuannya.
"Aku bahkan belum mau memiliki anak darimu sekarang! aku mau menyelesaikan sekolahku dulu mas!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika itu segera terjadi?"
Pertanyaannya membuatku terdiam sambil menarik nafas panjang melihat keawang-awang.
"Maka aku akan bernasib sama seperti Jesika sekarang!"
Jawanku lirih dengan nafas yang tersengal karena menahan tangis supaya tidak pecah.
"Sayang....aku kan hanya bercanda,hanya berandai-andai saja tidak akan terjadi sekarang!"
Ucapnya berusaha menahanku saat aku bangkit dari pangkuannya.
"Hei,kamu marah?"
Tangannya meraih tanganku lalu segera ku hempaskan hingga terlepas.
"Kalau sampai benar-benar terjadi,itu semua salahmu mas! kamu yang menghancurkan masa depanku! apa bedanya kamu sama kak Roi yang tega menghamili Jesika!"
Tangisanku benar-benar tak dapat kubendung lagi,seketika pecah dan membanjiri kamar yang kami tinggali sekarang.
"Dengarkan aku! jangan panik begitu dong,aku sudah berusaha agar tidak membuatmu hamil,percayalah!"
"Sungguh? bagaimana jika aku tetap hamil? pokoknya semua ini salahmu!"
"Lagipula semalam kamu kan yang menginginkannya? aku sudah berusaha mencegahmu dan menahan diri supaya semua ini tidak terjadi,tapi kamu...."
Mas Rio menghentikan ucapannya,lalu memelukku dengan penuh kasih sayang setelah dia sadar akan perbuatannya yang semakin membuatku sedih.
Usahanya untuk meyakinkanku masih saja tetap gagal,karena aku masih saja merajuk meski sudah tidak lagi menangis.
Benarkah yang diucapkannya? tapi bagaimana jika itu benar akan terjadi? aku benar-benar takut dan tak sanggup membayangkannya.
Satu hal yang masih membuatku penasaran hingga sekarang adalah,bagaimana mungkin aku memulai untuk melakukannya padahal selama ini aku selalu menjaga diriku sendiri dengan menolaknya agar tidak terjadi hal yang memang selama ini kutakutkan.
Mas Rio terus berusaha menenangkanku dan meyakinkanku bahwa semua kekhawatiranku tidak akan terjadi.Namun dalam hatiku tetap saja tak mampu menyembunyikan kekhawatiranku.
Semua ini memang salahku,aku yang memulainya tapi justru aku malah menyalahkan mas Rio.
Selama ini aku sudah mati-matian mempertahankan pertahanan terakhirku darinya,bahkan aku tak pernah perdulikan dosa saat menolaknya.
Tapi kenapa semalam.........argh! bodoh....bodoh...bodoh.....! Teriakku pada diriku sendiri dalam hati.
Aku hanya bisa terduduk lemas di tepi tempat tidur,bukan terduduk lemas karena letih atas aktivitasku dengan mas Rio sejak semalam tapi karena menyesali apa yang yang dudah terjadi sejak semalam bahkan sempat kami ulangi kembali pagi tadi.
Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh yang jatuh kedalam lubang yang sama sebanyak dua kali.Bahkan orang bodoh sekalipun tak akan sebodoh diriku sekarang.
"Sayang.....sudahlah,jangan sedih terus! percayalah,aku tidak akan membuatmu hamil sayang."
Bujuk mas Rio berusaha merayuku,dia kembali memelukku.
"Sayang...dengarkan aku! kamu aman karena sejak semalam aku gunakan pengaman,jadi tenang ya...!"Ucapnya sambil memegang kedua tanganku.
Ucapannya bukannya membuatku tenang,justru malah membuatku jadi tambah bingung.
__ADS_1
"Pengaman?"
Tanyaku dengan wajah bingung,sedangkan mas Rio hanya tersenyum sambil membuka laci pada nakas yang ada di sebelah tempat tidur yang sejak semalam menjadi saksi bisu pemersatu dua insan yang sedang dimabuk hasrat diri.
Ditunjukkannya sebuah benda dengan bungkus kecil hampir seperti permen namun sedikit lebih besar yang dia sebut sebagai pengaman.
Aku mulai sedikit lega karena sedikit paham apa maksudnya meski belum begitu mengerti betul.
"Apa sekarang kamu sudah percaya padaku?"
Tanyanya padaku sambil kembali memeluku lagi.
Aku hanya mengangguk pelan menanggapinya tanpa menjawab sepatah katapun.
"Kamu mau kuantarkan kerumah mama sekarang?"
Tanyanya lagi padaku sambil melepaskan pelukannya.
"Biar pak Pras saja yang mengantarkanku,dirumah mama masih ada Jesika."
Aku takut jika nanti Jesika melihat mas Rio mengantarkanku kerumah mama,pasti akan semakin dia curiga padaku nantinya.
Kemarin saja dia sempat menanyakan tentang kecurigaannya padaku dan pak Mario apalagi kalau sampai dia melihatku lagi hanya berdua dengan mas Rio nanti.
Mas Rio akhirnya menyetujuinya,diantarkannya aku sampai benar-benar masuk kedalam mobil dan pak Pras menjalankan perintahnya untuk mengantarkanku dengan selamat sampai kerumah.
Aku sudah menghubungi mama selama dalam perjalanan menuju kerumah mama untuk mencocokkan alasanku nanti ketika didepan Jesika kenapa dari semalam aku tidak pulang kerumah.
"Kamu pulang bersama Rio sayang?"
Tanya mama padaku di ujung telfon.
"Tidak ma,aku pulang sendiri diantar oleh pak Pras.Bagaimana Jesi ma?"
"Jesi baik-baik saja sayang,ini sekarang sedang nemenin mama nonton tivi."
"Hah! ada Jesi di deket mama? kenapa sebut-sebut nama mas Rio didepannya? mama......!"
"Tidak apa-apa sayang."
Jawab mama meyakinkanku agar tidak terlalu khawatir.
"Apa Jesika tau kalau mas Rio itu pak Mario,guru di sekolah kami ma?"
Tanyaku.
"Tidak sayang,tenang saja semuanya baik-baik saja kok.Kamu hati-hati dijalan ya!"
Mama menutup panggilan telfonnya sesaat setelah mengucap salam.
Mama sudah cerita soal mas Rio ke Jesika! aku hanya diam sambik memegang keningku yang sudah tidak lagi pusing.
BERSAMBUNG......
__ADS_1