Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Menyibukkan diri


__ADS_3

Sesampainya didalam kelas segera aku disambut oleh Medina,sahabatku satu ini paling mengerti sekali tentang apa yang sedang kurasakan.


Baru saja aku duduk dibangkuku dia segera menghampiri dan memelukku untuk memberikan dukungan serta menyemangatiku.


"Selamat pagi Maura...!"


Ledek Samuel tersenyum kearahku sambil duduk di bangkunya sendiri,sedangkan Medina sudah kembali ketempat duduknya sendiri.


Aku hanya menoleh acuh pada Samuel,entah kenapa pagi ini aku enggan bercanda dan menanggapi candaan teman-temanku.Rasanya pagi ini aku kurang bersemangat untuk melakukan apapun,semoga saja hal ini tidak mempengaruhi semangat belajarku nanti.


"Ra kita mampir jalan dulu yuk....!"


Ajak Medina padaku sambil melirik kearah Samuel yang ada di sebelahku.


"Mau kemana?"


Tanyaku menanyakan arah dan tujuan kami nantinya,karena jika hanya pergi dengan arah serta tujuan yang tak jelas rasanya aku malas aja dan lebih baik dirumah belajar.Batinku.


"Bagaimana kalau kita kunjungi Jesika? Kan kita dah lama nggak ketemu Jesi,emangnya kalian nggak kangen sama dia?"


Usul Samuel,dan terdengar masuk akal juga sih karena aku memang juga sudah lama tidak bertemu Jesi sejak hari pernikahannya.


"Tapi kita kabari Jesi dulu,takutnya nanti Jesi gak dirumah atau ada acara lain kan dia pengantin baru!"


Usulku dengan semangat.


"Oke! brti kita kerumah Jesi ya? kita kabari dulu Jesi baru setelah itu kita minta izin sama orang tua masing-masing."


Ucap Medina tak kalah semangat dariku.


"Aku juga harus gitu izin sama orang tuaku?"


Tanya Samuel dengan wajah lugunya,lalu sesaat tertawa terbahak-bahak bersama kami berdua yang masih duduk-duduk di koridor depan kelas kami.


Aku memang sengaja menyibukan diri selama jauh dari mas Rio dengan belajar bersama teman-teman atau sekedar main keluar dan kadang jalan-jalan supaya tidak bosan karena merasa kesepian semenjak hubungan jarak jauh antara aku dan mas Rio.


Sedampainya dirumah Jesika kami hanya bertemu dengan Jesika karena kebetulan kak Roi masih di kampus,itu jauh lebih baik ketimbang kami harus merasa canggung untuk mengobrol karena keberadaan kak Roi diantara kami.


Jesi terlihat agak kurusan dan kulihat matanya sembab seperti habis menangis,namun dia tetap tersenyum bahagia dan bercanda seperti biasa dengan kami.Mungkin kedatangan kami adalah hiburan tersendiri untuknya atau dia memang diam-diam sedang menyembunyikan kesedihan serta masalahnya dari kami.


Aku,Medina dan juga Samuel hanya bisa saling pandang lalu sejenak saling geleng ketika Jesi meninggalkan kami sejenak ke kamar mandi.Kami seperti sedang saling memberi kode satu sama lain tentang keadaan Jesi untuk tidak membicarakan atau membahas soal Jesi disini.


"Jes bagaimana perkembangan si dedek?"


Tanyaku sambil mengelus perutku sendiri yang masih rata.


"Udah lebih baik Ra,sekarang udah nggak separah kemarin-kemarin mual muntahnya."


Jawab Jesika tersenyum sambil mengelus perut buncitnya dibalik kaos oblong longgar yang ia kenakan.


"Sudah gerak-gerak belum Jes?"


Tanya Medina.

__ADS_1


"Udah salto didalam!"


Jawab Samuel dengan asal sambil tertawa melihat ekspresi wajah Medina.


"Ah,seriusan yang....!"


Medina melirik Jesika meminta penjelasan tentang kebenarannya.


"Belum ada gerakan apapun,kan masih kecil banget."


"Uh,nyebelin! kamu ngerjain aku ya yang! dasar Samuel jelek!"


Gerutu Medina yang nampak marah pada Samuel.


"Kamu bilang apa tadi? Aku jelek,hah! Coba ulangi lagi perkataanmu!"


Ancam samuel sambil mengacak-acak rambut Medina karena merasa tak terima dikatai jelek oleh pacarnya sendiri.


Aku dan Jesika yang melihat adegan kedua pasangan tak jelas itu hanya bisa tertawa.


Hari sudah semakin sore dan kami harus pulang kerumah masing-masing.


Aku membonceng Samuel mengantarkan Medina sampai didepan rumahnya,setelah mengantar Medina dengan aman sampai dia masuk kedalam rumah barulah Samuel tancap gas untuk mengantarkanku pulang.


Baru saja Samuel menjalankan motornya beberapa meter tak jauh dari rumah Medina,tiba-tiba saja motornya berhenti di tepi jalan.


"Bentar Ra,ada telfon."


Ucapnya memberitahuku alasannya tiba-tiba saja berhenti.


Jawabku tanpa turun dari motornya,Samuel menarik standar motornya dengan salah satu kakinya lalu mengusap layar ponselnya untuk menerima panggilan.


"Halo kak aku lagi dijalan."


"Ini Rara lagi sama aku,iya iya .....tenang saja,aman kok!"


"Ok,iya nanti aku sampein.Siap bos!"


Kudengar percakapan Samuel dengan seseorang yang dipanggilnya kak dan dia sempat menyebut namaku.Sepertinya itu telfon dari mas Rio,jika aku tak salah tebak.


"Dari mas Rio?"


Tanyaku penasaran dan mulai menebak saat Samuel memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong jaket yang di kenakannya.


"Betul sekali,kok kamu tau? Insting suami istri memang luar biasa ya,tajam! hehehe."


Ledek Samuel padaku sambil nyengir.


"Siapa lagi kalo bukan dia,telfon pakai nanyain aku.Kalo kak Aldi kan juga gak mungkin!"


"Hehehe,iya kak Rio tadi yang telfn katanya hape kamu di telfon gak kamu angkat!"


Ucap Sam sambil kembali menstater motornya lalu melajukan motornya kembali ketengah jalanan yang ramai karena hari sudah semakin sore.

__ADS_1


Beberapa motor dan mobil mulai memadati jalanan yang kami lalui,karena memang sudah jam pulang kantor.


"Ra,tadi kak Rio pesan katanya kamu suruh telfon balik kalo sdh smpe rumah!"


Ucap Sam saat aku baru saja turun dari motornya ketika sampai di halaman depan rumahku.


"Iya,nanti aku telfon.Makasih ya Sam sudah nganterin sampe rumah."


Ucapku sambil mengembalikan helm yang sejak tadi ku kenakan di atas kepalaku pada pemilik aslinya.


"Iya sama-sama kakak,hahahaha....!"


Ledeknya padaku dan hanya ku balas dengan dengusan pelan karena malas meladeni ledekannya.


"Udah sana cepetan pulang! Udah sore!"


"Eh! Kamu ngusir aku? Nggak di suruh mampir dulu gitu,kasih makan atau minum gitu kek!"


"Nggak.....! Suamiku nggak ada di rumah,jadi gak boleh terima tamu laki-laki yang bukan muhrim!"


Jawabku dengan kesal.


"Lha,kan dirumah juga ada banyak orang Ra.....nggak bakal jadi fitnah juga kan?"


Seolah masih enggan untuk pulang, Samuel masih saja merayuku agar aku memintanya mampir.


"Kenapa,kamu laper? Bilang aja mau minta makan!"


Langsung dengan cepat dia mengangguk lalu turun dari motor dan berjalan mengikutiku dari belakang masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum....."


Ucapku,disusul juga dengan Samuel yang ikutan mengucap salam.


"Waalaikum salam.....eh sudah pulang sayang? Lho,ada Samuel juga?"


Mama menjawab salam kami,lalu berbasa basi menyapa Sam dan mempersilahkannya langsung masuk ke ruang tengah.


"Sore tante...."


Sapanya sambil menghampiri mama untuk menyalami dan mencium punggung tangannya dengan sopan.


"Sore Sam,kok jam segini baru pada pulang? Kalian sudah makan belum?"


Tanya mama pada kami yang baru saja duduk di sofa ruang tengah.


"Tuh Sam,pas banget kan di tawarin makan! katanya laper tadi? hehehe..."


Ledekku padanya sambil berjalan menuju anak tangga hendak kekamarku.


"Eh,hehehe....jangan di dengerin tante,Rara cuma bercanda saja kok."


Ucap Samuel sambil nyengir kearah mama lalu dengan sekejap melotot kearahku.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2