Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Pertemuan keluarga


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Wijaya, Mami sudah siap menyambut kedatanganku. Maksudnya kedatangan kami semua. Mami langsung segera memelukku dengan hangat sesaat setelah aku mencium punggung tangannya.


" Mami sangat merindukanmu sayang, " ucap mami saat memelukku lalu melepaskan pelukannya dengan senyuman.


" Rara juga kangen sama mami, " jawabku sambil membalas senyumannya.


"Masuklah dulu dan temui sahabatmu," pinta mami padaku lalu memerintahkan salah satu pelayan yang berjarak paling dekat dengannya untuk mengantarkanku ketempat Yasmin.


"Baiklah mami, " jawabku namun aku tak segera menuruti perintah mami untuk menemui Yasmin, melainkan kusempatkan dahulu untuk menyapa kakak iparku yaitu kak Reina.


"Kamu apa kabar Ra? Lama tak bertemu, " tanya kak Reina berbasa basi sambil memelukku dengan perut buncitnya karena kak Reina sedang hamil anak keduanya, ya calon adiknya Zara. Dan itu artinya aku akan memiliki keponakan baru lagi, selain Zarra yang selalu membuatku gemas.


"Kak, aku temui temanku dulu ya, " ucapku berpamitan pada kak Reina mengikuti pelayan yang membawaku menuju dimana kamar Yasmin berada. Karena jika aku tidak mengikuti pelayan tersebut aku tidak akan pernah tau dimana kamar Yasmin berada. Karena memang rumah keluarga ini yang sangat besar.


'tok, tok, tok'


Pelayan mengetuk pintu salah satu kamar tamu yang ada di lantai dua rumah ini.


"Permisi Nona Yasmin, saya datang mengantarkan Nona Maura. " ucap pelayan memberitahukan maksud kedatangannya.


"Iya, " terdengar suara Yasmin yang langsung muncul dari balik pintu kamar yang ia tempati saat ini, sambil tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.


"Saya permisi dulu Nona Nona, " ucap pelayan meminta izin meninggalkan aku dan Yasmin.


"Baiklah, silahkandan terima kasih telah mengantar sampai kesini, " jawabku seraya berterima kasih. Lalu pelayan tersebut berlalu meninggalkan kami hanya berdua saja, dan Yasmin segera mempersilahkan ku masuk ke dalam kamar yang ditempatinya.


"Apakah mereka sudah datang Ra? " tanya Yasmin padaku sambil menarik lenganku dan mengajakku duduk di ranjang empuk di kamar tersebut.


"Mereka?! " tanyaku penasaran dan sedikit curiga dengan kedatangan keluarganya kemari. Sepertinya Yasmin pun telah mengetahui kedatangan keluarganya kemari.


"Iya Ra, mama dan papaku. " jawabnya santai.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah tau mereka ada disini?! " tanyaku bingung, karena. Sepertinya hanya aku yang terlihat bodoh disini karena tidak tau apa apa.


"Jadi kamu tidak tau jika keluargaku akan ikut kemari bersamamu? " tanya Yasmin padaku dengan wajah bingung.


Aku hanya bisa menggeleng sebagai jawabannya, tanpa berkata apapun. Aku benar benar merasa bodoh karena semua orang tidak memberi tau apapun padaku.


"Suamimu juga tidak memberi tahumu? " tanya Yasmin lagi. Dan lagi lagi aku hanya menggeleng sebagai jawabannya.


"Juga mas Frans? " tanyanya lagi menegaskan.


"Tidak ada yang memberi tahuku apapun, " jawabku pelan karena memang aku tidak tau apapun, juga tak ada yang memberitahuku tentang hal ini.


Yasmin terlihat kesal mendengar jawabanku, lalu ia bangkit dari duduknya dan entah kenapa seketika ia tertunduk seperti sedang melihat hantu di hadapannya sekarang.


"Yas, kamu kenapa? " tanyaku heran, namun Yasmin hanya diam msh dalam keadaan menunduk.


"Ehem! " terdengar deheman seorang lelaki yang tak asing ditelingaku.


"Maaf ya, aku sengaja tak memberitahukan apapun padamu karena aku takut kamu banyak pikiran nantinya." ucap mas Rio bahkan sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut terkait persoalan Yasmin dan Pak Pras.


Aku hanya bisa mengangguk pelan tak berani protes karena pernyataan mas Rio telah menjawab semua pertanyaan yang mengumpul di dalam pikiranku dan hendak meledak saat ini untuk segera ku ungkapkan langsung dihadapannya.


"Baiklah, silahka kalian lanjutkan saja mengobrolnya."ucap mas Rio berjlan sambil berbalik hendak keluar pintu namun kembali berbalik.


"Tapi ingat jangan terlalu lama karena semua sudah berkumpul di bawah dan menunggu kalian untuk turun." ucapnyaa lagi saat berbalik kearah kami namun hanya sampai di depan pintu kamar Yasmin.


"Sekarang mas? " tanyaku kembali dengan nada datar.


"Hmmm, segeralah turun jika kalian sudah selesai. " lalu mas Rio berlalu begitu saja meninggalkan kami berdua dan ku tuntun Yasmin bersamaku menuruni anak tangga perlahan menuju ruang tengah keluarga Wijaya. Dimana disana semua orang penting tengah berkumpul sepertinya hendak membicarakan hal yg penting disana.


Semua mata tak lepas pandangan dari kami sejak menuruni anak tangga hingga kami terduduk di sofa empuk yang memah hanya tersedia dua tempat duduk di samping mas Rio dan satu lagi tempat duduk yang kosong berada di samping pak Pras yang sepertinya memang sengaja disediakan untuk Yasmin.

__ADS_1


"Ehem! " terdengar suara deheman dari papi Dedi yang memecah keheningan serta suasana ketegang saat ini.


"Maaf semuanya, saya mengumpulkan kalian semua disini. Dan terima kasih untuk waktunya, serta kesediaan kalian semua untuk datang dari jauh kemari. " ucap ayah mertuaku membuka pembicaraan.


Akhirnya papi mengungkapkan niat baiknya selaku wali dari pak Pras mewakili keliarga pak Pras yang telah tiada. Karena memang pak Pras sudah di anggap keluarga di sini dan sudah seperti anak keluarga Wijaya, jadi mereka lah yang sudah seharusnya bertanggung jawab atas apapun yang belun, telah dan akan di lakukan oleh pak Pras kedepannya.


Dan benar saja keluarga Wijaya berniat untuk meminang Yasmin untuk pak Pras peristri, keluarga Yasmin paham betul dengan kondisi Yasmin yang saat ini masih ada pemuda baik hati yang sudi menerimanya tanpa pamrih.


Kami semua menatap habagia pada kearah Yasmin dan pak Pras, pasalnya kedua orang tua Yasmin pun akhirnya menerima naiat baik keluarga Wijaya atas pak Pras yakni menikahi Yasmin sesegera mungkin sebelum perut Yasmin semakin membesar.


Namun berbeda hal dengan Yasmi dan pak Pras yang nampak datar seolah tak ada ekspresi sama sekali, hanya pak Pras yang nampak menyunggingkan senyum tipis saat mendengar jawaban dari kedua orang tua Yasmin yang menyetujui serta merestui niat baik pak Prs untuk menikahi Yasmin.


Apakah Yasmin tidak bahagia dengan rencana pernikahannya? Tanyaku pada diriku sendiri dalam hati, karena tak mungkin aku mengucapkan pertanyaan ini secara terang terangan.


Malam telah tiba, Yasmin dan juga kedua orang tuanya serta keluargaku masih berada di keluarga Wijaya bersiap untuk makan malam bersama.


"Sayang kamu cantik sekali malam ini?! " ucap mas Rio sembari memelukku dari belakang di depan cermin besar yang menempel pada tengah meja rias yang kini kugunakan untuk bercermin mengecek penampilanku.


"Oooooh jadi hanya malam ini akunterlihat cantik?! " tanyaku balik menggoda denga kedua tangan berkacak pinggang berbalik arah menghadap kearahnya.


"Bukan begitu sayang, hanya saja.... "


"Hanya saja, apa?! " tanyaku lagi sebelum mas Rio menyelesaikan perkataannya.


"Aku sangat merindukanmu! " ucapnya sambil memelukku kembali dengan sangat erat, hingga suara ketukan pintu berhasil menyelamatkanku dari keadaan yang mungkin saja akan kembali mengacak acak penampilanku malam ini.


"Maaf tuan muda dan Nona Maura, semua sudah menunggu di meja makan. " ucap salah seorang pelayan dari balik pintu tanpa berani membuka padahal pintu sedang tidak terkunci dan hanya tertutup namun tak begitu rapat hingga kami bisa melihat sosok seorang perempuan berdiri menunduk di balik pintu.


"Iya, kami akan segera menyusul. " jawabku dengan wajah memerah karena malu, sudah pasti pelayan tersebut melihat adegan kami barusan.


BERSAMBUNG,

__ADS_1


__ADS_2