
Kudengar alarm di ponselku sudah bernyanyi untuk membangunkanku,aku menggeliat dibalik selimutku yang hangat.
Tubuhku terasa begitu letih sekali pagi ini.
Ingin rasanya aku bolos saja dari sekolah hari ini tapi,aku kembali teringat wajah pak Widodo guru matematika yang sudah menjadwalkan ulangan hari ini.
Kutengok tempat mas Rio sudah kosong,sepertinya dia sedang mandi sekarang karena terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
Saat kudengar mas Rio keluar dari kamar mandi,aku sudah selesai mengenakan kimono yang ternyata telah disiapkan mas Rio untukku di dekat tempatku berbaring.
Pakaian yang semalam kukenakan dan sempat bertebaran disana sini juga sudah tak lagi kutemukan.Mungkin mas Rio yang sudah membereskannya dan dimasukkan kedalam keranjang pakaian kotor.
"Selamat pagi.......cepat mandi sana!"
Ucap mas Rio sambil membuka almari pakaiannya dan menggeleng setelah melihat kearahku yang dengan enggan berjalan melewatinya hendak kekamar mandi.
Aku hanya melirik kearahnya dengan tatapan jutek karena kesal dengan perlakuannya padaku semalam yang menyebabkan tubuhku pagi ini penuh dengan jejak keusilannya dimana-mana sedangkan dia hanya menahan tawa sambil sol sibuk memilah baju di almarinya.
Setelah selesai mandi rasanya tubuhku jauh lebih segar dan sudah kembali bersemangat untuk memulai kembali aktivitas hari ini.
Sudah tak kutemukan keberadaan mas Rio di kamar,mungkin dia sudah pergi ke Masjid dekat rumah berasama papa dan kak Rendi.
Pagi ini seperti biasa berangkat kesekolah dengan diantarkan oleh pak Pras yang sudah siap menungguku didepan sambil menyeruput kopi panas buatan bibi sembari menungguku selesai sarapan.
Ada yang berbeda pada pagi ini,mas Rio yang biasa berangkat bersamaku namun dengan mengendarai sepeda motor atau mobil berbeda dibelakang kami atau keluar dari rumah bersama namun kearah tujuan berbeda.Beda halnya dengan kali ini,karena pagi ini mas Rio berangkat bersama satu mobil denganku yang diantarkan oleh pak Pras.
"Lho! mas mau ngapain?"
Tanyaku bingung karena dia tiba-tiba ikut masuk kedalam mobil yang sama denganku.
"Kenapa? tidak boleh!"
Tanyanya sambil menutup pintu mobil dan membetulkan letak duduknya.
"Memangnya hari ini mas mau kemana? kenapa ikut satu mobil bersama kami?"
Aku masih terus bertanya dengan wajah bingung bahkan saat pak Pras mulai melajukan mobil menuju kesekolah.
"Hari ini kepala sekolah memintaku datang ke kantornya!"
Jawabnya sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pras lebih cepat sedikit ya! kita harus sudah sampai disekolah sebelum terlalu banyak orang!"
Perintahnya pada pak Pras yang kini melajukan mobil semakin kencang namun terlihat waspada dan lebih berhati-hati.
"Baik tuan muda,"
__ADS_1
Jawab pak Pras dengan patuh.
Sesampainya disekolah mas Rio meminta pak Pras untuk memarkirkan mobil di dalam tempat parkir sekolah agar kami tak terlalu jauh untuk berjalan masuk kedalam.
Dengan ragu aku keluar dari dalam mobil yang sama dengan mas Rio.
Sekolah masih nampak sepi,baru beberapa murid yang datang lebih awal nampak sedang berbisik ketika melihat kedatangan kami berdua saat turun dari mobil yang sama.
Aku segera berlari menuju jelasku yang jelas-jelas masih nampak begitu sepi karena aku yang datang terlalu awal dari biasanya.
Tak lama setelah aku sendirian duduk di bangkuku,datanglah Medina yang terlihat dengan tergopoh-gopoh berjalan mendekat kearahku.
"Ra,ada gosip tentangmu!"
Ucapnya sambil berusaha mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
"Benarkah?"
Tanyaku padanya dengan tenang,aku tau ini semua pasti karena ulah pak Mario yang seperti sengaja ingin menciptakan gosip tentangku disekolah.
"Memangnya benar,jika tadi kamu datang bersama pak Mario?"
Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya padaku,seakan ingin melihat ekspresi wajahki secara laangsung dan lebih dekat dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Kamu tau dari mana Din?"
"Sahabatku sekarang mulai menghianatiku! mereka mulai main rahasia-rahasiaan padaku! huh,kesal!"
Ucapnya sambil membuang muka dan membalikkan badannya kearah depan membelakangiku.
Perlahan kelas mulai ramai oleh kedatangan teman-teman sekelasku yang lain,hampir semia mata melihat kearahku sejak mereka baru masuk kedalam kelas.
Kudengar beberapa diantara mereka mulai berbisik membicarakanku.
Ingin rasanya aku segera keluar dari dalam kelas atau jika aku di beri kesempatan ingin rasanya sejenak aku menghilang saja agar tak ada yang dapat melihatku disini.
Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi,Samuel dengan tergopoh-gopoh memasuki kelas dengan nafas terengah-engah.
"Hufh! untung,kelas belum dimulai....."
Ucapnya sambil memandangku dan Medina yang hanya saling diam tidak seperti biasanya.
"Kalian lagi pada kenapa?"
Tanyanya pada kami berdua yang masih saling diam,sedangkan aku hanya memandangnya sejenak lalu kualihkan pandanganku kearah lain.
Tak lama setelah bel berbunyi masuklah pak Widodo,guru matematika kami yang akan mengisi jadwal jam pertama pagi ini dengan ulangan yang sudah di woro-worokan sejak minggu lalu.
__ADS_1
"Selamat pagi.....sudah siap untuk ulangan hari ini?"
Tanyanya setelah menyapa kami,dan serempak semua menjawab sapaannya.
"Memangnya hari ini ulangan ya pak?"
Tanya salah seorang temanku yang bernama Aldo,dia terkenal lumayan badung di kelas kami.
"Kalau kamu tidak siap silahkan keluar!"
Jawab pak Widodo dengan santai sambil membagikan kertas ulangan pada setiap anak yang berada pada meja bagian paling depan untuk membagikannya kembali pada teman-teman yang ada dibelakangnya.
Baru saja aku hendak memberi naka pada kertas lembar jawabanku,terdengar suara ketukan pada pintu kelas kami.
Setelah pak Widodo menjawab dan mempersilahkan seseorang di balik pintu.
Ternyata pak Mario yang langsung mendekat kearah pak Widodo,sekilas mereka saling berbisik lalu tak kuhiraukan lagi karena aku lebih memilih fokus pada kertas ulangan di hadapanku saat ini.
Kudengar suara riuh ramai dari teman-teman sekelasku yang menyita perhatianku hingga membuatku pecah konsentrasi dan mencoba melihat sekitar karena penasaran dengan apa yang kini tengah terjadi hingga membuat semua begitu bersemangat untuk seberisik ini.
Aku bergitu terkejut bahkan hampir saja tubuhku terjungkal dari kursi tempatku duduk karena kehadiran pak Mario yang secara tiba-tiba mendekat kearahku.
"Ikut denganku sebentar,sekarang!"
Bisiknya sambil memegang tanganku yang masih memegang kertas soal ulangan matematikaku.
Aku hanya diam melotot kearahnya tanpa berani menatap sekeliling,bahkan aku hanya bisa menundukkan kepalaku saat pak Mario memegang tanganku dan menggandengku untuk segera keluar dari kelas setelah meminta izin pada pak Widodo.
"Kita mau kemana sih!"
Tanyaku sambil mengibaskan tangaku agar telepas darinya.
"Ayo,ikut saja! ada yang mau bicara padamu!"
Ucapnya pelan sambil kembali menggandeng tanganku menuju depan ruang kepala sekolah.
"Ngapain kita kesini?"
Tanyaku dengan berbisik penuh curiga saat kami sudah sampai di depan ruang kepala sekolah.
'Tok,tok,tok'
Pak Mario mengetuk pintu ruang kepala sekolah lalu membukanya perlahan.
Didalam sudah ada Jesika beserta kedua orang tuanya dan juga bapak Kepala Sekolah. Semuanya langsung berdiri saat kami datang memasuki ruangan dengan tatapan bingung.
BERSAMBUNG......
__ADS_1