
"Bangun! sejak kapan kamu berani mabuk-mabukan kayak gini Ren!"
Papa menarik tubuh kak Rendi yang masih terbaring diatas tempat tidurku,membangunkan nya dengan paksa dan membawanya menuju kekamar kak Rendi,lalu papa menutup pintu dari dalam.Entah apa yang papa lakukan pada kak Rendi disana,mama membawaku turun menuju kamarnya.
"Malam ini kamu tidur sama mama ya."
Aku hanya mengangguk pelan.
"Ma.....apa lebih baik aku tidak tinggal disini ya ma?"
Tanyaku saat kami hendak berbaring di atas tempat tidur dikamar mama.
"Tidurlah,besok kita bicarakan lagi sama papa ya."
Aku merasa tenang saat mama memelukku,jika aku pergi dari rumah ini apakah masih bisa kurasakan pelukan hangat mama yang begitu menenangkan ini? Aku pasti akan merindukan semua yang ada disini nantinya.
__ADS_1
Jika teringat perlakuan kak Rendi padaku barusan,membuatku semakin tak betah saja tinggal disini.
Kak Rendi barusan bilang kalo aku harus menjadi istrinya,dia ingin aku menikah dengannya seperti janji yang sering kali kuucapkan padanya saat masih kecil dulu.
Meski mataku terpejam namun pikiranku melayang kemana-mana,daya ingatku kembali kemasa lalu dimana saat aku masih kanak-kanak.
Aku teringat kembali saat dimana aku mencoba seragam baruku yang berwarna merah dan atasan putih,kala itu mama bilang kalau aku sudah besar.
Itu adalah masa dimana aku baru mulai masuk bangku sekolah dasar,kak Rendi juga bilang kalau aku sudah semakin besar karena sudah masuk SD.
Spontan aku menjawab dengan perkataan polos khas anak-anak.
Kak Lala adalah keponakan mama dari kakak sepupunya yang kebetulan baru saja menikah.
Saat itu aku melihat kak Lala begitu cantik dengan dandanan khas pengantin jawa serta balutan kebaya yang begitu anggun.
__ADS_1
"Kamu kan masih SD,emangnya mau menikah dengan siapa?"
Tanya mama yang sedang sibuk membantu merapikan seragam yang sedang ku kenakan.
"Menikah sama kak Rendi ma,kan mama sama papa trus aku sama kak Rendi nanti menikahnya."
Jawabku dengan polos,sontak membuat kami semua yang berada disitu tertawa terbahak-bahak dan aku hanya ikutan tertawa meski tak tau hal apa yang lucu hingga membuat semua orang tertawa.
Itu adalah pertama kalinya kukatakan jika aku kelak ingin menikah dengan kak Rendi dan sering kali kuucapkan,namun seiring usiaku yang beranjak semakin besar aku mulai lupa dengan perkataanku tersebut karena aku mulai mengerti bahwa kak Rendi adalah kakak kandungku jadi tidak mungkin aku menikah dengannya.
Namun sekarang semuanya berubah,ternyata kak Rendi sendiri ternyata sudah mengetahui bahwa aku bukanlah adik kandungnya sejak lama.Mungkin karena perbedaan usia kami dengan selisih yang lumayan jauh,yakni tujuh tahun membuatnya mengerti sejak awal bahwa aku bukanlah adik kandungnya.
Malam semakin larut,aku terlelap dalam dekapan mama malam ini dikamar tidur orang tuaku.
Kubuka mata karena sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang,tak kutemukan sosok mama disampingku lagi.Mungkin mama sudah bangun,karena mama selalu bangun lebih awal menyiapkan sarapan pagi untuk kami dengan dibantu oleh bibi.
__ADS_1
Aku segera bangun dan menyusul mama didapur,kulihat papa juga sudah bangun dan bersiap berangkat ke Masjid untuk menunaikan solah subuh berjama'ah.Namun tak kulihat sosok kak Rendi yang biasanya pergi ke Masjid bareng papa.
Bersambung.....