
Aku masih duduk dibawah pohon rindang sedangkan pak Pras hanya berdiri mengawalku.Berkali-kali kudengar suara dering hape mikiknya yang hanya sesekali dilihat namun tidak berani mengangkatnya.
"Pak Pras tidak capek sedari tadi hanya berdiri disitu saja? Sini duduk!"
Tanyaku sambil menoleh kearahnya lagi.
"Tidak apa-apa nona,saya disini saja."
Jawabnya datar tanpa bergeming dari tempatnya berdiri.
"Kalau misalnya sampai malam kita tidak pulang dan tidak memberi kabar pada mas Rio....."
"Saran saya lebih baik jangan nona!"
Jawab pak Pras dengan cepat bahkan sebelum aku menyelesaikan kata pengandai-andaianku.
"Pak Pras setakut itu sama dia?"
Ejekku padanya sambil tersenyum sengit.
"Maaf nona,saya harap nona jangan membuat tuan muda cemas seperti ini."
Pintanya padaku seperti sedang memohon.
"Baiklah..... sekarang antarkan aku ke mall."
Ajakku dengan santai,aku benar-benar kesal sekarang dan aku ingin menghambur-hamburkan uangnya saat ini utuk meluapkan kekesalanku padanya.
Sesampainya di mall segera aku masuk sebuah outlet pakaian yang lumayan lengkap untuk segala umur.
Hari ini aku ingin membeli banyak pakaian untuk anak-anak panti dan juga untuk Medina sekeluarga.
Setelah puas memborong pakaian,berpindah dari outlet satu ke outlet yang lain tentunya bersama pak Pras yang selalu siap sedia membawakan barang belanjaanku dan kugunakan kartu kredit yang diberikan oleh mas Rio padaku.
Selama menjadi istrinya kartu kredit serta kartu ATM yang berisi jatah bulanan untukku tak pernah sekalipun kugunakan.
Kini aku sudah berada di sebuah toko peralatan sekolh untuk memborong beberapa peralatan sekolah untuk anak-anak panti dan juga untuk kedua adik kembar Medina.
Kubelikan tas model sama dengan warna yang berbeda untuk mereka dan keperluan sekolah yang lain.
Setelah puas belanja aku merasa lapar,aku teringat pada tujuan awalku yang sebenarnya meminta pak Pras mengantarkanku ke cafe milik mas Rio namun justru malah melenceng jauh keluar dari jalur yang dituju.
"Pak Pras setelah ini kita ke cafe ya!"
__ADS_1
"Baik non!"
Jawabnya dengan patuh dan mengantarkanku dengan segera ke cafe milik tuan mudanya yang begitu ia hormati dan segani.
Saat aku memesan makanan untukku sendiri aku jug memesan makanan yang di bungkus alias take away untuk anak-anak panti.
Entah mengapa setelah berbelanja banyak dan menghabiskan begitu banyak uangnya aku merasa dendamku terbalaskan dan hatiku menjadi sedikit lega.
Hari sudah semakin senja saat kami menuju ke panti asuhan yang biasa keluargaku sambangi,tempat dimana ibu kandungku pernah tinggal saat mengandungku dulu.
Kami sempat sholat berjamaah di Panti asuhan dan juga makan bersama-sama setelah membagi-bagikan barang-barang bawaanku untuk mereka.Senyum bahagia tergambar jelas di wajah-wajah polos dan lugu mereka tarkala menerima barang yang kini mereka butuhkan.
Setelah dari Panti aku meminta pak Pras mengantarkanku ke rumah Medina,Medina sedikit terkejut saat melihatku yang tiba-tiba saja datang kerumahnya tanpa memberitahukan kedatanganku lebih dulu.
Medina yang masih merasa kesal padaku akhirnya memaklumi posisiku setekah aku menjelaskan semua padanya.Awalny dia tetao menyalahkanku karena tidak pernah jujur padanya dan juga Jesika selama ini,tapi perlahan dia mulai mengerti alasaku.
Saat aku dan Medina sedang berbincang di teras rumahnya kulihat seperti mobil mas Rio berhenti tepat didepan rumah Medina.
Benar saja mas Rio yang datang dan langsung mendekat kearah pak Pras yang sedang berada di dekat mobil yang kami tumpangi tadi.
Mas Rio langsung mencengkeram kerah leher pak Pras,dari kejauhan bisa kulihat amarah yang memuncak sampai keubun-ubunnya.Aku yang menyadari situasinya dari kejauhan langsung berlari mendekat kearah keduanya.
"Stop!"
Dengan cepat segera dilepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju pak Pras denga kasar,satu tangannya yang lain sudah terkepal seakan siap ditinjukan pada lawan yang ada di hadapannya.
"Maaf ya Din,semua ini harus terjadi disini."
Ucapku pada Medina karena aku benar-benar malu dan merasa tak enak hati pada Medina atas kelakuan mas Rio.
"Iya Ra,tidak apa-apa aku yang salah sudah memberi tahukan keberadaanmu disini pada pak Mario.Aku tidak tau jika keadaannya akan seperti ini Ra,maaf aku tidak tau kalau kalian sedang....."
Aku hanya tersenyum pada Medina dan berpamitan padanya,aku sempatkan juga berpamitan pada keluarga Medina dan kuajak serta mas Rio yang kuperkenalkan pada mereka sebagai pacarku.Aku sengaja mengajak mas Rio untuk menghindari perkelahian atau perdebatannya dengan pak Pras di luar jika kutinggalkan mereka berpamitan nantinya.
"Kamu pulanglah dulu! aku masih ada urusan dengannya!"
Ucap mas Rio pada pak Pras dengan ketus
"Baik tuan muda."
Jawab oak Pras metika melihat tanganku ditarik oleh tuan mudanya untuk segera masuk kedalam mobilnya.Aku hanya bisa menurut apapun kehendaknya agar tidak terjadi perdebatan.
"Terima kasih untuk hari ini pak Pras!"
__ADS_1
Ucapku pada pak Pras saat aku melewatinya hendak masuk kedalam mobil mas Rio.
"Jangan katakan apapun lagi padanya! aku sudah tidak percaya lagi padanya!"
Ucap mas Rio sambil melirik kearah pak Pras yang hany diam sambil menundukkan kepalanya.
Maafkan aku pak Pras,jika karena aku bahkan anda ikut jadi tersangka,gumamku dalam hati.
Sepanjang perjalanan mas Rio hanya diam dengan wajah merah padam dan berasap mengepul keluar dari ubun-ubunnya.Harusnya hari ini aku yang marah sedangkan dia hanya perlu cemas dan khawatir saja padaku,kenapa justru dia marah pada pak Pras?
"Mulai beso aku yang antar dan jemput kamu sekolah sementara menunggu asisten perempuan yang baru untukmu!"
Ucapnya padaku.
"Apa? memangnya kenapa dengan pak Pras?"
Tanyaku heran sekaligus khawatir jika pak Pras akan dipecat hany gara-gara aku.
"Dia tidak pantas mengawalmu,dia sudah tidak bisa lagi dipercaya!"
"Apa pak Pras akan dipecat karena aku?
Mas Rio hanya diam tidak menjawab pertanyaanku yang hanya fokus menyetir.
"Jangan pecat dia,aku hanya memintanya mengantarkanku belanja untuk anak-anak panti hari ini."
Pintaku sambil berusaha menjelaskan kesalah pahaman diantara mereka.
"Lalu kenapa kalian kompak tidak menjawab telfonku? apa yang kalian lakukan seharian selain belanja dan ke panti?"
"Kamu mencurigai kami berdua mas! kamu kira aku ini wanita murahan yang mau dengan semua laki-laki? jahat kamu mas!"
Aku mulai menangis atas apa yang dia tuduhkan padaku dan pak Pras.
"Lalu kenapa kalian tidak menjawab telfonku?"
Kata-katanya mulai melunak ketika aku mulai menangis.
"Karena aku kesal padaku!"
Jawabku sambil memalingkan wajahku kearah jendela mobil.
BERSAMBUNG......
__ADS_1