Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Suapannya


__ADS_3

Kubawa Zarra berjalan-jalan kemana dia minta yang penting dia anteng dan tidak lagi rewel.


Mas Mario mengikutiku dari belakang sambil membawakan makanan milik Zarra sekalian disuapi,seolah kami ini sudah seperti sepasang suami istri yang sedang menenangkan anaknya yang sedang rewel.


"Mau makan dikamar? biar bisa sambil jaga Zarra."


Usul mas Mario.


"Aku makannya bagaimana? nanti tetap saja susah!"


"Nggak! biar Zarra nggak rewel,mau makan dan kamu juga tetap bisa makan!"


"Caranya?"


"Nanti aku yang suapin!"


"Oke!"Jawabku dengan cepat,karena dalam pikiranku aku akan makan dengan tenang dan dia yang akan menyuapi Zarra nanti.


"Ke kamarku sekarang!"


"Nggak! dikamarku saja!"Jawabku dengan cepat,aku tak mau kejadian serupa di rumah kaca terulang kembali.


"Bukankah sama saja!"


"Sepertinya lebih aman jika dikamarku saja!"


Mas Mario hanya menyunggingkan senyum kecut dibibirnya sambil menggiringku kearah menuju kekamarku.


Sesaat setelah kami masuk kekamarku datang seorang pelayan berseragam karyawan hotel kekamarku membawakan makan siang untukku.


Mas Mario yang membukakan pintu kamar dan menerima makanannya sedangkan aku masih sibuk menyuapi Zarra dengan telaten.

__ADS_1


Mas Mario duduk di dekatku yang sedang sibuk menyuapi Zarra.


Kusodorkan mangkuk berisi makan siang Zarra padanya dan ternyata tangannya sedang menyendok makannan.


"Sini Aaa...!"


Perintahnya.


"Bukankah tadi katanya Zarra anda yang suapi?"


Tanyaku masih sambil mengodorkan mangkuk namun tak kunjung di terima olehnya.


"Siapa bilang? kamu salah paham!"


"Cepat buka mulutmu! atau......?"


Di angkatnya daguku pelan,sontak aku langsung membuka mulutku untuk menerima suapan darinya.


"Jangan lagi panggil aku dengan sebutan anda atau tuan muda lagi,aku tidak suka!"


Tanyaku.


"Apa masih belum jelas penjelasanku? sampai harus kau tanyakan ulang lagi!"


Jawabnya geram sambil mendekatkan wajahnya kedepan wajahku.


"Tolong jangan terlalu dekat seperti itu! aku tidak nyaman dengan sikap anda yang seperti ini."


"Anda lagi!" Ancamnya padaku sambil menyodorkan lagi suapannya kemulutku dan aku hanya menurut saja dengan patuh padanya.


"Iya,iya! Asalkan mas jangan melakukan itu lagi padaku!"

__ADS_1


Ucapku sambil menyuapi Zarra karena tak berani memandang kearah wajahnya.


"Melakukan itu apa!"


Aku menoleh melihat wajahnya dengan sinis.


Bisa-bisanya dia lupa akan hal tidak senonoh yang dia lakukan padaku ketika di rumah kaca Padahal belum genap dua puluh empat jam sejak kejadian,semudah itu dia melupakannya! batinku kesal.


"Kenapa diam! maksudmu kejadian apa?"


Tanyanya sok polos dan pura-pura tidak tahu.


"Saat dirumah kaca!"


Jawabku sambil meletakkan mangkuk makan Zarra yang sudah kosong di meja dekat tempat tidurku,aku bahkan tak berani memandang wajahnya saat menyebutkan rumah kaca padanya.


Mas Mario hanya diam tak menanggapinya lagi,sepertinya dia sangat paham apa maksudku.Bukankah dia jauh lebih dewasa untuk paham apa maksud dari perkataanku,harusnya dia benar-benar paham dan tidak melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari.


"Terima kasih sudah membantuku makan siang!"


Ucapku,karena ternyata seiring kosongnya mangkuk makan siang Zarra ternyata habis pula isi piring makan siangku.


"Hemmmm....."


Jawab mas Mario sambil meletakkan bekas makan siangku ditempat yang sama kuletakkan mangkuk bekas Zarra.


"Untuk kejadian di rumah kaca tadi......"


"Sudah tidak perlu dibahas lagi,yang penting mas paham apa maksudku!"


Jawabku sambil bangkit dari tempatku duduk dan Zarra kini mulai sibuk memainkan hapeku yang sebenarnya sedang tidak dalam keadaan menyala.

__ADS_1


Mas Mario berjalan keluar dari dalam kamarku tanpa sepatah katapun,entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini karena laki-laki macam dia memang selalu susah untuk ditebak.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2