Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Mas Rio


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pak Mario menceritakan kejadiam beberapa hari yang lalu ketika Jesika mengajak Medina pergi kesuatu tempat sepulang sekolah.


Samuel yang merasa curiga membuntuti mereka berdua sampai disebuah taman yang sepi dan terlihat tak terurus,begitu menurut ceria Samuel yang di ceritakan ulang pak Mario padaku.


"Lalu?"


"Ternyata ada Roi dan teman-temannya disana,mereka sedang pesta miras."


"Pesta miras? dan Jesi kesana?"


"Iya,dengan membawa Medina.Sudah pasti kamu bisa menebak apa yang akan mereka lakukan disana."


"Tapi Medin dan Jesi bukan orang seperti itu."


"Mungkin Medina tidak,tapi Jesi....."


"Jesi membiarkan Roi melecehkan Medina didepan matanya."


"Astagfirullah.....!"


Ku tutup telingaku dengan kedua telapak tanganku sendiri,seolah tak sanggup lagi mendengarkan kelanjutan cerita pak Mario yang menceritakan ulang kejadian yang menimpa Medin sahabatku serta perlakuan Jesi yang selama ini kuanggap sahabat juga.


"Untungnya ada Samuel yang dengan cepat menolong Medina sebelum kejadian buruk terlanjur menimpanya."


Jadi ini alasan Medina tidak bertegur sapa dengan Jesi beberapa hari ini dan ini juga kenapa Sam mengatakan bahwa Jesi bukanlah perempuan baik-baik dan tak pantas mendapatkan pak Mario karena ketidak tulusannya.


"Mas Rio menceritakan ini semua bukan untuk menjelek-jelekkan Jesi kan? bukan karena mas Rio tidak suka Jesi kan?"


Aku masih tak percaya akan cerita pak Mario tentang Jesi yang seolah begitu jahat terhadap Medina yang sama-sama sahabat kami.


"Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja sendiri pada Medina atau Sam."

__ADS_1


Aku hanya diam mempertanyakan semua kebenarannya pada diriku sendiri,tanpa terasa kami sudah dekat dengan jalan menuju komplek menuju rumah.


Pak Mario membukakan pintu mobil untukku saat aku hendak turun dari mobilnya.


"Terima kasih pak,tidak usah repot-repot membukakan pintu untuk saya."


"Pak lagi!"


"Maaf,mas."


Ucapku dengan canggung meralat perkataanku yang belum terbiasa dengan panggilan Mas,ya Mas Rio adalah panggilan baruku untuk pak Mario selain di sekolah.


"Lho kakak belum masuk rumah sejak kami pergi tadi sampai sekarang?"


Tanyaku saat kulihat kak Rendi sedang duduk diteras depan rumah sambil memainkan hapenya.


"Kamu masuk dulu ya de,ada yang mau kakak bicarakan dengan Rio."


Entah apa yang sedang mereka bicarakan karena kak Rendi buru-buru menutup pintu dari luar sedangkan aku yang masih berada diruang tamu berusaha mencuri dengar obrolan mereka justru malah dihampiri oleh mama yang langsung mengajakku masuk kedalam setelah menanyakan keberadaan pak Mario yang sedang berada diluar membicarakan entah apa dengan kak Rendi.


"Sayang,sini sebentar ada hal penting yang mau mama dan papa bicarakan"


Mama menarik lenganku masuk kedalam kamar nenek,disana ternyata sudah ada papa dan om Doni menemani nenek dikamar.


Aku merasa ada yang sedang tidak beres disini,karena semua langsung terdiam sambil memandang kearahku saat aku masuk kedalam kamar nenek.


Aku hanya diam,menunggu seseorang membuka percakapan.Belum sempat ada yang membuka suara sepatah katapun justru malah semua di kejutkan oleh bunyi hape dari dalam tasku,ternyata pak Mario yang telfon.


"Halo,Assalamu'alaikum....."


Ternyata pak Mario sudah selesai bicara dengan kak Rendi dan akan berpamitan pulang.Aku meminta izin pada semuanya untuk kembali kedepan karena mas Rio akan pulang,papa ikut menemaniku kedepan menemui mas Rio.

__ADS_1


Saat aku keluar dari ruang tamu bersama papa,mas Rio keluar dari dalam mobil untuk berpamitan.


"Selamat malam om."


Mas Rio menyalami papa dan mencium punggung tangannya.


"Lho kok buru-buru sekali nak Rio,nggak ngobrol dulu?"


Papa nampak berbasa-basi.


"Maaf om,lain kali saja sekarang sudah malam. Saya pamit pulang dulu ya om,Assalamualaikum."


"WALAIKUM SALAM.."


Jawabku dan papa yang hampir berbarengan.


"Pa....tadi waktu di kamar nenek kenapa semuanya kelihatan tegang? ada apa sih pa?"


Tanyaku sembari berjalan beriringan dengan papa kembali menuju kamar nenek.


"Mungkin ini akan menjadi kabar gembira sekaligus kabar mengejutkan untukmu nak."


Jawab papa sambil melanjutkan langkah kaki kami menuju kamar nenek.


"Duduk lah."


Mama mendudukkanku di sofa dekat tempat tidur nenek bersama mama sedangkan papa dan om Doni lebih nemilih duduk di kursi yang biasanya tidak ada dikamar ini.


"Ra kamu sudah tau ibu kandungmu,namun selama ini belum pernah tau siapa ayah kandungmu.Apakah kamu ada rasa ingin tau tentangnya?"


Tanya nenek sambil menggenggam erat tanganku.

__ADS_1


BERSAMBUNG........


__ADS_2