
Sepertinya sedang terjadi kesalah pahaman disini,mungkin kak Rendi melihat dari luar mobil ketika mas Rio mendekatkan wajahnya kearahku dengan maksud memasangkan seatbelt untukku.
"Kami nggak ngapa-ngapain,emang kenapa?"
"Tadi aku lihat dia
"Kak tadi cuma pasangin seatbelt doang,liat nih."
Mas Rio hanya terdiam nampak menahan tawa sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
"Udah? kami pamit dulu kak."
"Iya,ati-ati. Awas kalo kamu berani macem-macem!"
"Tenang,aman."
Jawab mas Rio,lalu mulai melajukan mobil setelah kak Rendi menjauh dari mobil mas Rio dan tentu saja kaca mobil juga telah di tutup kembali.
"Kayaknya kakakmu tadi salah paham."
"Iya,maaf tadi kak Rendi sudah mikir yang aneh-aneh ke mas Rio."
"Kayaknya kakakmu cemburu liat kita,kamu sudah bicara padanya soal mantan pacarnya si.......siapa namanya?"
"Kak Rosa."
"Iya itu."
"Sudah."
"Bagaimana responnya?"
"Kayak udah nggak peduli gitu,emangnya kalau sudah jadi mantan gitu ya? padahal waktu pacaran mereka kelihatan mesra banget."
"Emang iya?"
"He'em."
"Mesra gimana?"Tanyanya sambil melirik kearahku mencuri pandang.
"Emang harus dijelasin?"
__ADS_1
Bukannya jawaban yang aku dapatkan,mas Rio justru hanya menoleh kearahku sambil sesekali melihat jalanan yang kami lewati.
"Hari ini siapa yang dandani kamu seperti ini?"
"Mama,kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Saya kelihatan aneh ya?"
"Nggak."
"Cantik?"
Tanyaku,bukannya di jawab justru mas Rio hanya diam dan nampak salah tingkah mendengar pertanyaanku.
"Kenapa?"
Tanyaku lagi.
"Nggak apa-apa!"
Nada bicara dan mimik wajah yang seperti sudah di setting seperti biasa kembali,datar dan dingin.
Bisikku sambil membelai rambut Zarra yang kembali terlelap di pangkuanku.
"Apa? kamu bilang apa tadi?"
Tanya mas Rio sambil kembali memandangku.
"Nggak apa-apa!"
Jawabku merasa menang karena telah berhasil membalasnya dengan kata-kata yang sama.
Mas Rio memarkirkan mobilnya di halaman tepat didepan pintu masuk rumahnya.
"Ra."
"Ssssst,pelan-pelan bicaranya nanti Zarra kebangun lagi!"
Bisikku agar tak membuat Zarra terbangun.
__ADS_1
"Aku bantu lepaskan seatbeltnya ya?"
Tanya mas Rio yang juga ikutan berbisik.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.Mas Rio segera membantuku melepaskan seatbelt dengan sangat hati-hati membuatku jadi salah tingkah saat dia kembali mendekat kearahku.
Mas Rio segera turun dan membukakan pintu untukku.
Dengan sangat hati-hati aku turun dari mobil dan berjalan dengan sangat perlahan sambil membawa Zarra dalam gendonganku.
Mas Rio segera membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk.
"Aku kasih tau kakak duluan ya,nanti kamu ikutin aku pelan-pelan aja dari belakang."
Bisik mas Rio padaku.
"Iya."
Jawabku yang ikutan berbisik sambil berjalan pelan jauh dibelakang mas Rio yang sedang menuju kamar kakaknya.
Tak lama setelah itu kak Reina dan kak Aldi muncul dari dalam kamar mempersilahkanku masuk.
Kak Aldi keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga dengan mas Rio,sedangkan kak Reina masuk kembali ke kamar mambantuku menyiapkan tempat tidur untuk si kecil Zarra.
"Terima kasih ya Ra...."
Kak Reina berbisik padaku.
"Sama-sama kak."
Jawabku.
"Bukan sola Zarra,tapi soal lamaran keluarga kami padamu untuk Rio."
"Kak....."
"Semoga dilancarkan segalany ya dan kamu jadi yang terakhir buat Rio."
Aku hanya tersenyum dan segera pamit keluar dari kamar kak Reina karen takut jika berlama-lama didalam kamar justru akan membangunkan Zarra dan aku akan susah untuk pulang.
Kak Reina sempat memelukku sebelum aku keluar dari kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....