Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kak Rendi makin menjadi


__ADS_3

Kak Rendi berbalik ketika hampir sampai didepan pintu,kembali berjalan kearahku dan kedua tangannya memegang kedua bahuku.


"Kamu itu milik kakak,tidak ada yang boleh memilikimu selain aku."


Aku hanya terdiam dan terkejut mendengar perkataan kak Rendi,dan yang membuatku jauh lebih terkejut lagi karena Mama sudah berdiri didepan pintu yang sedari tadi terbuka.


Mama hanya terdiam sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.


"Ma....ma....?!"


Spontan ku panggil namanya,kak Rendi segera berbalik badan dan tak kalah terkejutnya dariku ketika melihat sosok Mama yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya sedari tadi.


'Plak!'


Kak Rendi memegang pipi kirinya yang memerah karena bekas tamparan tangan mama,aku segera berlari kearah mama dan bersembunyi dibalik punggungnya.


"Apa yang kamu katakan pada adikmu itu tidaklah pantas Ren! dia itu adikmu!"


"Tapi ma,dia itu


"Diam! jangan teruskan ucapanmu dan jangan ucapkan apapun!"


Mama begitu marah pada kak Rendi.Menurutku mama benar,apa yang kak Rendi lakukan dan katakan padaku tidaklah pantas dan tidak seharusnya.


"Rara,kamu turun dulu ya nak mama mau bicara dengan kakak."


"Iya ma."


Dengan patuh aku segera turun dan menuju meja makan,aku tak tau apa yang mereka bicarakan.Meski sebenarnya aku sangat penasaran namun aku tak berani menguping.Karena kata mama mencuri dengar pembicaraan orang lain yang tidak ada kepentingannya dengan kita itu tidak sopan.

__ADS_1


Sesaat setelah aku turun,mama dan kakak pun turun bersama dan seolah tak ada apapun yang terjadi diantara mereka.Kami sarapan bersama seperti biasa,meski agak sedikit canggung aku berusaha menutupi sikap canggungku pada kak Rendi.


Sejak saat itu aku selalu waspada dengan kakakku,meski hubungan kami baik-baik saja dan seperti tak pernah ada kejadian apapun.


Mama meminta padaku untuk tak menceritakan kejadian tersebut pada siapapun dan mama janji kalo kak Rendi tidak akan mengulangi perlakuan tersebut padaku kedepannya.


Dan sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat kak Rosa datang kerumah atau kak Rendi berpamitan pergi dengan pacar kesayangannya itu,setelah ku tau ternyata mereka sudah putus.Entah karena apa,itu buka urusanku dan aku juga nggak mau tau soal masalah mereka karena itu hanya akan membuatku menyia-nyiakan waktuku untuk memikirkan urusan orang lain.


Sudah seeminggu sejak kejadian pagi itu,setiap hari kak Rendi juga masih mengantar jemput aku kesekolah dan sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam.Entah kenapa kedekatan kami sekarang sudah tak seperti dulu lagi,aku merasa seperti mulai ada dinding kaca tebal yang terlhalang diantara kami.


Dulu setiap kali berdua kak Rendi selalu menggodaku dan mengejekku dengan candaan-candaannya,namun kini kami seperti orang asing yang seolah segan meski hanya untuk sekedar mengobrolkan hal yang nggak pegitu penting.


Setelah sholat ashar sore ini aku bersiap untuk pergi kerumah Jesi,dimana acara ulang tahunnya akan diadakan.


'Tok,tok,tok'


Sahutku dari dalam kamar sambil bembetulkan hijabku didepan cermin.


Saat ku buka pintu ternyata kak Rendi sudah berdiri didepan pintu.


Segera berusaha ku tutup pintu kembali namun aku kalah cepat darinya,daun pintu tak berhasil kututup kaembali karena terganjal oleh kaki kak Rendi.Sepertinya kak Rendi sengaja melakukannya.


"Kakak cuma mau pinjem cas hape dek,kamu nggak usah takut."


"Kakak tunggu disitu aja!"


Jawabku ketus,entah kenapa aku masih trauma jika kak Rendi akan masuk kedalam kamarku.


Segera ku ambil cas hape yang tergeletak diatas meja belajarku lalu kuberikan padanya.

__ADS_1


"Maaf ya dek,kalo kejadian waktu itu membuatmu takut pada kakak."


Aku hanya terdiam sambil menganggukkan kepala.Entah sudah keberapa kalinya kak Rendi meminta maaf padaku soal kejadian itu,namun nyatanya permintaan maaf kak Rendi masih belum bisa membuatku menyingkirkan rasa takutku padanya.


"Kamu dandan cantik kayak gini mau kemana?"


Tanyanya sambil terus memandang kearahku dan justru membuatku merasa risih sendiri oleh pandangannya.


"Mau ke acara ulang tahun temen."


"Boleh kakak anterin?"


"Nggak usah,sudah mau dianterin sama papa kok."


Jawabku sehalus mungkin agar tak membuatnya tersinggung,karena bagaimanapun dia tetaplah kakakku yang sudah seharusnya kuhormati.


"Kamu....masih takut sama kakak ya dek?"


"Ng....nggak."


"Terus kenapa nggak mau dianterin sama kakak?"


Tanyanya sambil berjalan mendekat kearahku.


Seketika kejadian minggu lalu ditempat kejadian yang sama membuatku kembali teringat kembali,seketika kupejamkan mata.


"Stop kak,jangan membuatku semakin takut."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2